Nadira menapakkan kakinya di depan butik Aira. Suasana masih sepi, mungkin karena terlalu pagi. Biasanya jam operasional toko sekitar pukul sepuluh, sekarang belum ada jam delapan. Ah, masih terlalu pagi, batin Nadira membuang permen karetnya sembarangan. Hari ini ia berencana memastikan sesuatu. Ya, paling tidak Nadira harus membuat hatinya sedikit lega. Penolakan Sam semalam cukup menyakitkan. Daripada dongkol, lebih baik melihat langsung seperti apa Aira, gadis yang dicintai Sam. "Pagi Mbak, mau lihat-lihat gaun pengantin?" tanya seorang pegawai yang baru saja memarkir motornya di depan. Nadira menoleh, pura-pura antusias. "Ah, iya. Apa saya kepagian?" kata Nadira tersenyum kecil. "Biasanya jam 10 baru buka, tapi karena ada pesanan buat besok, saya bertugas membukanya lebih

