Nadira datang satu jam setelah warung milik Sam dibuka. Ia tanpa rasa bersalah langsung masuk dan membantu menghidangkan pesanan para pelanggan. Di hari kedua ternyata masih seramai kemarin. Kalau terus seperti ini, Nadira yakin tidak ada sebulan uang ruko akan kembali. Bimo sempat mengomel, tapi hanya sebentar karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sedang Sam yang masih belum selesai menumis sayur hanya melotot marah. Entah kenapa Nadira tidak ambil pusing. ia merasa hanya terlambat karena urusan pribadi. "Kita harus bicara nanti," kata Sam menaruh masakan terakhirnya di dalam stainlees kotak. Nadira tidak menyahut, sibuk membuat lima minuman dingin sekaligus. Masa bodoh, cibir gadis itu melengos. Toh tadi dia memang ada urusan pribadi. Siapa yang akan tahu bagaimana leganya Nadira

