Aku berdiri mematung, menatap roda mobil milik Ham yang menjauh dari area pom bensin. Itu Ham, aku yakin kalau itu memang dia. Siluet wajahnya yang sedikit lebih kecil dariku, sangat membekas. Syukurlah kalau dia sudah keluar dari rumah sakit. Aku sempat ingin menengoknya lagi kemarin. "Dia Ham, benar kan?" tanya Nadira menepuk pundakku. Gadis itu terkejut, menutup mulutnya sambil bergumam tidak percaya. "Dia mirip denganmu! Tapi kenapa diam saja? Ayo kejar dia!" seru Nadira menggoyang-nggoyangkan bahuku antusias. Demi apapun, Nadira mirip anak kecil yang kegirangan. Ia berisik dan memancing perhatian semua orang. "Ayo naik." Aku mendorong motorku ke pinggir lalu menstaternya. Nadira menurut, memakai helmnya penuh kemenangan. Dia pikir aku akan benar-benar mengejar, padahal aku men

