Ham selalu ingin menyalahkan Sam atas segala hal yang terjadi padanya. Kakaknya ia anggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya. Padahal, sudah sejak lama Ham sadar kalau saling menyalahkan tidak akan membuatnya lega. Kebencian yang Ham pupuk serupa tanah tanpa air. Lebih sering tandus dan menghasilkan kematian. Terbukti setelah bertatapan langsung, justru rindu Ham lebih kuat dari kebencian itu sendiri. "Ham? Maafkan aku," kata Sam menahan napasnya yang sesak oleh perasaan rindu. Ia ingin memeluk adiknya, tapi takut ditolak. Tatapan tajam Ham sudah lebih dari cukup menggambarkan kalau pria itu tidak ingin diganggu. "Aku benci padamu. Sebesar apapun rasa bersalahmu, aku tetap membencimu. Sam, pergilah. Aira memilikiku dan aku tidak membutuhkan apapun darimu. Kedat

