Aira berjalan gontai ke arah kamar mandi. Panggilan terakhirnya lagi-lagi tidak digublis oleh Ham. Apa boleh buat, ia akan ke rumah Allen nanti. Semalam, Dokter Anis memintanya untuk menaikkan mood Ham bagaimanapun caranya. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya Ham marah. Dulu entah seburuk apapun Aira bersikap, Ham akan selalu bersikap abai dan tidak ambil pusing. Tapi andai aku ada di posisi Ham apa aku juga akan tinggal diam? Rasanya tidak mudah melepas seseorang yang menemani kita selama 15 tahun. Terlebih kami bukan pasangan biasa, batin Aira memainkan air keran yang mengisi bak mandi. Tidak pernah terpikir olehnya kalau ia bisa terpisah dan tidur sendiri di tempat asing. "Aira? Jangan terlalu lama di kamar mandi. Ayo sarapan," panggil Dokter Anis mengetuk pintu. Aira

