Ham menatap Aira lekat-lekat, mencoba menebak apa yang sebenarnya gadis itu tengah pikirkan. Pelukan eratnya pada Sam kemarin, membuat hati Ham patah menjadi seribu bagian. Tidak, mungkin sudah hancur seperti debu. Sekarang, pertanyaannya, sampai kapan Ham akan melarikan diri? Hasil yang ia dapatkan bahkan jauh lebih buruk. Aira terus memberontak dan berkelas hati. Gadis itu mungkin tidak sadar, ia bisa saja pergi karena tidak tahan diabaikan. "Aku akan coba menemui Sam. Bukan untukku, tapi untukmu." Ham bergumam, membelai rambut Aira yang jatuh di depan kening. Mata legam Aira membulat penuh, seakan tidak percaya dengan pendengarannya. "Tapi bukannya kamu punya gangguan panik? I-itu bisa membuatmu jatuh sakit." Aira terkesan tidak setuju dengan ide itu. Tentu saja, menjadikannya al

