Malam itu, sesuai dengan ucapannya, Rully datang ke rumahku. Ia hendak mengutarakan maksud hatinya untuk melamarku sebagai calon istrinya. Sebulumnya alu sudah mengatakan pada kedua orangtuaku bahwa ada seorang pemuda yang hendak mempersuntingku untuk menjadi istrinya. Awalnya ibuku sempat meragukan ucapanku, sebab Rully memang tidak pernah datang berkunjung ke rumahku. Aku pun tidak pernah menceritakan tentang Rully sebelumnya pada ibu. "Yakin dia mau melamar kamu? La wong Arghi yang sudah bolak-balik datang ke rumah bilangnya mau melamar ujungnya cuma bohong. Malu lagi nanti kamu." Di saat seperti ini ingin rasanya aku meremas kepala Arghi. Akibat tindakannya, bukan hanya trauma yang aku rasa, tapi juga trust issue pada setiap orang yang mencoba dekat denganku. "Makanya, aku bilan

