14

1070 Kata
Selama tiga hari aku menginap di tempat saudaraku di Semarang. Aku ke sini untuk melakukan interview di sebuah perusahaan. Sebelum pergi aku sudah bercerita pada Arghi soal interview pekerjaan ini, dia seolah tidak peduli. Dia hanya mengiyakan dan tidak tertarik sama sekali. Tadinya aku berharap kalau Arghi akan menawarkan diri untuk memgantarku ke semarang menggunakan motornya, tapi sepertinya tidak bisa. Arghi memang selalu menolak ajakanku, apalagi kalau itu untuk urusan main atau sekedar berjalan-jalan bersama. Mau lergi ke mana? menjadi alasan andalan Arghi untuk menolak secara halus pemrintaanku itu. Sudah tiga hari Arghi pun tidak mengabariku sama sekali, sekedar bertanya apakah aku sudah sampai atau bagaimana saja dia seolah tidak ingin tau. Apa aku sedih? Sedih, aku seperti tidak dianggap, aku seperti diacuhkan. Bahkan pesan yang kukirim padanya sama sekali tidak ia buka. Tapi, ia selalu mengupdate statusnya di sosial media. Ponselku berdering, tanda panggilan masuk. Nama Ana terpampang di layar ponselku. kebetulan aku sedang membereskan beberapa bajuku karena sore nanti akau akan beramgkat pulang ke rumah. "Assalamu'alaikum, halo, An ..." "Wa'alaikum salam, Ra, gimana?" "Apanya yang gimana?" Terdengar dengusan halus dari sebrang telepon, "Yo, kerjaanmu, to. Sudah ada keputusan?" "Belum, nanti katanya seminggu lagi dikabarin An kalau memang aku lolos." "Oh ... gitu. Terus kamu mau di situ, atau pulang?" "Pulang, An. aku gak enak di sini lama-lama. Cuma aku bingung," "Bingung kenapa?" "Sekarang masih ada PPKM akibat COVID, apa ada kendaraan umum dari sini ke rumah, ya?" Pasalnya kemarin aku pergi bersama saudaraku, ia membawa mobil pribadinya sehingga aku bisa menumpang, ikut bersamanya. "Ah kalau itu aku kurang tau, kenapa gak minta Arghi jemput saja?" "WAku yang kemarin saja belum dia balas An, selama tiga hari di sini, aku sama sekali tidak menghubungi Arghi, bahkan Arghi pun tidak membalas pesanku." "Sudahlah, jangan pikirkan lagi laki-laki b******k itu, Ra. Kamu berhak bahagia, akan ada orang yang jauh lebih baik buat jodoh kamu itu." Aku sedikit heran kenapa Ana mengatakan hal seperti itu. Biasanya ia akan sedikit membela Arghi dengan segala kemungkinan yang ada dalam pikirannya. "Kenapa An?" "Apanya yang kenapa?" "Tumben saja kamu bilang seperti itu tentang Arghi." "Ya, betulkan yang aku bilang kalau Arghi itu brengsek." * * * Ucapan Ana membuatku kian penasaran..Kenapa Ana sampai semarah itu pada Arghi. Biasanya Ana yang selalu meredam emosiku saat aku marah ataupun kecewa pada Arghi. Dan lagi, Arghi belum membalas pesanku sejak tiga hari yang lalu. Perasaanku benat-benar risau. Arghi sungguh membuatku gila. Astagfiruallah, kenapa aku sebegitu dibutakannya oleh cinta. Arghi tidak membalas pesanku saja, sudah membuatku galau seperti ini. Aku sampai tidak berpikir lagi kalau ini mungkin salah satu dari godaan syaiton. Aku harus membiasakan diriku untuk menjadi sesorang yang terlupakan. Mungkin dengan seperti ini aku akan belajar untuk ikhlas. Karena pada hakikatnya tidak ada satupun orang patut untuk diperjuangkan di dunia ini sebelum ada ikatan halal. Karena seyogyanya hubungan apapun sebelum pernikahan adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan oleh Allah Subhannahuwata'ala. Daripada memperjuangkan hal yang bahkan dilarang oleh Tuhan dan agama lebih baik memperdalam ilmu, mengejar cita-cita dan bahagiakan orangtua baru setelah itu melakukan perintah Allah dan sunah Rasulallah menikah dengan seornag pasangan yang layak secara imannya. Karena buat apa mengejar dati sekarang kalau Qodo dan Qodar telah tertulis di lauhul mahfudz, begitulah isi nasihat dati salah satu ustadz yang ceramahnya sering aku dengarkan di salah satu platform digital. Karena bagaimanapun manusia tidak akan bisa menentukan takdir. Yang sudah pas, bisa saja lepas. Yang sudah cocok bisa saling saja saling blok. Yang membuat history bisa berujung story. Yang sudah merakit cerita, bisa berujung menderita. Begitulah hidup, banyak plot twistnya. "Ya Allah, untuk apapun yang telah terjadi hari ini dan akan terjadi di kemudian hari, lapangkanlah hatiku untuk menerimanya. Jika esok hari keadaannya lebih buruk daripada hari ini, tolong cukupkan diri ini untuk tidak menyalahkan siapapun. Aku percaya apapun yang terjadi sekarang dan nanti semua adalah kehendak-Mu. Dan untuk bahagia yang masih diselimuti tanda tanya, aku percaya ada sesuatu yang lebih besar dan lebih baik telah Allah persiapkan untukku." * * * Karena sedang PPKM, aku tidak bisa pulang menggunakan kendaraan umum. Sebenarnya tempatku melamar kerja saat ini tak bgitu jauh dari tempat tinggalku. Karena bingung aku menuliskan status di salah satu media sosialku, berniat untuk bertanya dan mencari informasi jika memang ada kendaraan umum yang masih bisa melintas ke daerah tempat tinggalku. Minta jemput dong! Aku membaca pesan masuk dari salah satu temanku. Namanya adalah safa, dia adalah teman dari istri kakaknya Arghi. Jemput siapa?- balasku padanya. Yo, Mas pacar to. Aku terkekeh, bagaimana bisa aku memintanya untuk menjemputku kalau pesanku saja sudah berhari-hari tidak dia balas. Kerjalah, sibuk dia- Aku mencoba untuk menutupi kegalauan hatiku. Halah, masa buat pacar sibuk. Kemarin kan aku ketemu dia, aku ledekin dia, wah ditinggal ke Semarang, gak kangen Ghi? Dia jawabnya, memangnya ke Semarang, ya? Aku gak tau, dia bilang gitu. Astagfituallah, kenapa Arghi bilang seperti itu. Padahal pada kenyataannya aku memdiakusikannya dengan Arghi, tapi dia sama sekali tidak menanggapinya. Kenapa dia menjelek-jelekkanku di belakang. Hehe, entahlah pesanku saja sudha behari-hari tidak dibalas olehnya. Aku bisa apa. Saat ini di pikiranku,aku masih mencoba untuk mrnutupi kesalahan Arghi. Bagaimanapun aku mencintainya. Aku tak ingin orang lain beranggapan buruk tentangnya dan justru malah menentang hubunganku dengan Arghi. Aku masih sangat mencintai Arghi. Yang sabar, jangan terlalu dipikirkan. Aku sudah sabar, bahkan lebih dari itu. Aku lebih sabar dibandingkan saat aku menjadi istri Jihan. Se-toxic inikah hubunganku dengan Arghi. Aku yang terlalu berharap dengan semua angan-angan yang diberikan oleh Arghi. Sedangkan Arghi yang kelewat biasa saja bahkan lebihnya cuek. Lihat saja, Arghi bisa mengabaikan pesanku berhari-hari. Seperti, tanpaku dia baik-baik saja, tanpaku dia bisa bahagia. Seharusnya aku sadar kalau dia bisa hidup tanpaku. Dia tidak akan merasakan luka saat kehilangan diriku. Diapun tidak merasa kesepian bahkan mencariku saat aku tidak ada kabar untuknya. Mungkin aku sama sekali tidak berarti untuknya, baginya aku hanya prmbumuh waktu. Bahkan untuk sekedar bilang, "Aku sudah sampai rumah nih." Atau "Maaf baru semoet kasih kabar, karena tadi sibuk banget dan sekarang udah selesai." sama sekali tidak pernah Arghi lakukan padaku. Dia lebih memilih untuk tidak membalasnya. Lebih parahnya lagi, ia mematikan pemberitahuan baca yang ada pada aplikasi pesan itu. Bukankah itu curang? Andaikan dia melakukannya, mungkin akan mengubah negatif thinking menjadi positif thinking. Dua orang yang hubungannya makin dewasa, pasti akan mengurangi kadar drama di dalamnya. Saling terbuka tanpa diminta, saling berbicara tanpa dipaksa, saling melengkapi satu sama lain. Tahu kalau memang saling butuh bukan sibuk untuk saling tuduh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN