15

1161 Kata
Tanganku terus menscrooll layar ponsel milik Ana. Sepulang dari Semarang, Ana memintaku untuk bertemu. Dia bilang ada hal penting yang ingin ia bicarakan, tapi tidak bisa dibicarakan secara langsung. "Jangan emosi dulu." Ana sudah mewanti-wanti aku agar tidak emosi. Ana paham betul bagaimana sikap dan sifatku. Aku adalah tipe orang yang gampang tersulut emosi, tidak pandang bulu dengan siapapun itu. An, boleh tau Kiara ke Semarang ada keperluan apa? Aku mebaca salah satu pesan yang dikirimkan oleh Arghi ke ponsel Ana. "Kenapa dia tanya sama kamu?" Ana hanya mengendikan bahunya, aku kembali membaca pesan selanjutnya. Memangnya Ana tidak memberitahu kamu, Ghi? Aku saja tidak tau Ana pergi ke Semarang, dia sama sekali tidak mengabariku. "Apa maksudnya? Jelas-jelas aku bilang kalau aku mau pergi ke Semarang, bahkan aku berbicara kalau aku akan melakukan interview kerja." Hatiku sudah benar-benar mendidih melihat pesan milik Arghi itu. "Jadi kamu bilang kalau kamu mau pergi ke Semarang? Kenapa Arghi bertanya padaku?" Apa kalian sedang ada masalah? Aku jadi ragu dengan Kiara, hal seperti ini saja dia tidak membicarakannya denganku. Dia sama sekali tidak berbicara padaku. "Apa ini?!" Aku benar-benar ingin menampar Arghi, apa maksudnya dia melakukan hal seperti ini pada Ana? Apa dia sedang memcari muka di hadapan Ana? "Demi Allah, An, aku berbicara padanya. Aku ngobrol sama dia di kafe, An." Sebenarnya, almarhumah ibuku juga tidak mengijinkan jika aku menikah dengan janda/ lanjar. Almarhumah menyuruhku untuk menikah dengan seorang perawan- Arghi Aku ingin tertawa terbahak melihat pesan yang dikirim oleh Arghi tersebut, apa katanya dia ingin mendapatkan seorang perawan? Apa kabarnya dengan janda yang sudah dia hamili? oh ... pantas saja, Arghi menyuruh janda itu untuk memggugurkannya karena Arghi memang tidak punya tanggung jawab. Dia hanya berani berbuat, tapi tidak untuk bertanggungjawab. Lho ... Bukannya kamu sama kakak kamu mau datang setelah lebaran nanti?- Ana Itu atas suruhan kakakku. Ya, memang salahku mengatakan hal itu pada Kiara. Sebenarnya aku tidak mau menikahi dia. Hatiku rasanya seperti diremas-remas. Kenapa dia begitu teganya menyakitiku. Bahkan setelah apa yang dia lakukan padaku. Apa selama ini rasa cintanya padaku hanya sebatas agar aku mau untuk ditiduri olehnya? "Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa ini adalah yang terbaik, bahwa ini yang terakhir. Berkali-kali juga meyakinkan diri bahwa punya pasangan itu saling menggenapi, Tanpa harus saling menuntut. Tapi, apa kamu tau An patah hati yang paling sakit itu apa?" Aku tertawa tipis, menertawakan diriku yang begitu naifnya. "Saat hati kamu sudah yakin dengannya, namun sikapnya mematahkan keyakinanmu." "Ra ... sudahlah. Arghi bukan laki-laki yang baik untuk kamu." "Tapi, masalahnya An- ucapanku terhenti, aku tak yakin untuk mengatakan pada Ana soal kejadian di hotel itu. Bagaimana reaksi Ana nanti saat mendengar ceritaku kalau Arghi sudah meniduriku. "Apa? sudahlah. Coba kamu fikir, kalau memang dia laki-laki yang baik. Tiba-tiba dia WA seperti itu, menjelek-jelekkan kamu. Mencari pembelaan supaya kamu terlihat salah. Dia bukan laki-laki yang gentleman, Ra. Seharusnya dia mengatakan itu lansung di depan kamu. Bukan malah lewat aku, apa maksudnya?" "Aku minta maaf An, kalau kamu merasa terganggu. Seharusnya aku menyelesaikan masalah aku sendiri, ini malah melibatkan kamu." "Bukan begitu Kiara. Yang bermasalah itu dia, bukan kamu. Kamu terlalu tulus sama Arghi, sampai kamu tidak sadar kalau selama ini hanya kamu yang mencoba mempertahankan Arghi. Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri. Berulang kali Arghi menyakiti kamu, bersikap dingin sama kamu, tapi ujungnya saat dia kembali kamu tetap menerimanya, meskipun kamu tau Arghi tetap akan mengulanginya lagi." Semua yang Ana ucapkan adalah kebenaran, mau bagaimana lagi aku untuk menyangkalnya. Aku hanya bisa memelasi diri sendiri atas semua yang sudah terjadi karena kebodohanku ini. "Pada niatnya, Arghi mungkin ingin menikahi kamu. Tapi dengan kedangkalan imannya, Arghi lebih memilih bertoleransi dengan dosa setiap harinya. Ganteng doang kalo gak punya akhlak percuma Ra. Gak ada manfaatnya, kalau dia selalu mengajak kamu untuk terus bermaksiat. Menikah itu mudah, asal punya niat." * * * Kenapa Tuhan kembali mempertemukanku dengan laki-laki yang sama seperti Jihan, tidak bertanggungjawab. Bahkan saat ada masalah malah sibuk mencari pembelaan di sana sini. Kenapa saya harus jatuh cinta pada laki-laki yang jelas selalu menyepelekan perkara dosa. Contohnya saja berzinah, sampai hamil. Lalu rela menggugurkan kandungan si psangan hanya karena sebuah alasan pertidak setujuan dari orangtuanya. Seharusnya saya sadar, ketika dia memang tidak peduli dengan bagaimana keadaan saya. Dia tidak pernah bertanya saya akan ke mana, pergi dengan siapa, berangkat kapan, bqgaimana di jalan, sudah pulang atau belum, sudah makan atau belum, kenapa murung, kenapa tidak ada kabar. Sekalipun dia tidak pernah menanyakan itu. Dan dia juga hamoir tidak punya waktu untuk saya. Dia menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dengan teman-teman dan keluarganya saja, seolah tidak butuh saya. Dia datang kepada saya di saat syahwatnya sedang berada di puncak. Menjadikan saya p*****r di hidupnya. Kenapa saya tidak pergi dari dulu kalau saya tau pada akhirnya saya akan ditinggalkan seperti ini? Assalamualaikum Syam. Aku mengetikkan pesan untuk Hesyam. Waalaikumsalam, Ra. Tumben, ada apa? Apakah kamu sedang sibuk? . Tidak, saya mau ke rumah baca, An. Mau ikut? Boleh? Iya, boleh. Kita bertemu saja di Rumah baca. Bukan aku menjadikan Hesyam sebagai pelampiasan, hanya saja aku ingin membuang fikiran negatifku dan meminta saran pada Hesyam soal masalah ini. Dalam hati kecilku aku masih berharap kalau ada kesempatan untuk bisa memperbaiki hubungan ini. Kalau memang Arghi meminta maaf padaku, aku akan memaafkannya. * * * Tiga puluh menit berkendara, aku sudah sampai di rumah baca milik Hesyam. Hesyam tampaknya masih sibuk dengan anak-anak yang sedang belajar melukis dan mewarnai. Sesekali aku melihat Hesyam bercanda dengan anak-anak itu. Andaikan hatiku mudah untuk menerima Hesyam, aku pasti sudah bahagia dengan Hesyam. "Assalamualaikum, Ra." "Oh, Syam Wa'alikumsalam. Sudah selesai?" "Sudah, kenapa tadi gak langsung masuk aja?" "Takut ganggu." "Gak lah, ayo masuk Ra. Kita ngobrol di depan saja." Aku dan Hesyam menuju teras rumah baca itu, mencari tempat yang bisa untuk kami mengobrol. "Duduk, Ra." "Terimakasih Syam." "Hari ini kamu gak kerja?" "Aku sudah Resign dari tempat bekerjaku yang dulu. Tapi, aku sudah melamar lagi di Semarang." "Alhamdulillah, semoga keterima, ya, Ra. Aku jadi malu." "Kenapa?" "Aku masih belum mendapat pekerjaan, entahlah aku masih belum bisa mendapatkan kembali semangatku." Begitulah Hesyam, dia masih mencari alasan untuk bertahan hidup. Untuk "Sabar, semua pasti datang di waktu yang tepat Syam." "Aamiin Ya Allah. Ada hal penting Ra sampai kamu ke sini?" "Ah ... aku cuma mau saja Syam. Sepertinya di rumah baca ini tidak ada kesedihan, setidaknya aku bisa lupa dengan masalahku sebentar." "Masalah, ada apa memangnya Ra? Apa aku harus menceritakan semuanya pada Hesyam, tapi rasanya aku tidak tega kalau harus membuat Hesyam ikut sakit kepala karena masalahku ini. Hesyam saja sudah depresi dengan masalahnya sendiri, bagaimana kalau dia harus mendengar ceritaku ini. "Aku juga sedang bingung, Ra." Hesyam kembali berbicara saat aku tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. "Ada apa?" "Bapak bilang kalau dia akan menjodohkanku dengan anak perempuan dari orang yang selama ini mengurus sawah dan kebunku." "Lalu?" Mendengar ucapan Hesyam seolah membuatku tidak rela kalau menikah dengan wanita lain. "Ya kamu tau sendiri teman-temanku saja menjauhiku hanya karena aku pernah depresi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN