Sudah tidak ada cinta lagi dalam hatiku, yang ada hanya mungkin rasa benci. Arghi benar-benar laki-laki yang tidak tau diri dan pengecut. Kalau memang dia ingin mengakhiri hubungan denganku, seharusnya dia bicara padaku, bukan pada Ana. Ana tau apa soal hubunganku dengannya, apa dia sekarang sedang mencoba mencari pembelaan?
Laki-laki b******k tidak tau diri. Laki-laki pengecut! Apa maksud kamu dengan mengirimi Ana hal-hal seperti itu? Aku tunggu eyikad baik kamu datang ke rumah untuk meminta maaf padaku.
Dengan tangan yang gemetar aku mengetik setiap huruf pada ponselku. Emlsiku sudah di ubun-ubun. Rasanya melihat foto Arghi di profil w******p saja sudah membuatku jijik. Aku ingin sekali menampar wajahnya yang tidak tau malu itu.
Manusia dakjal, manusia yang tidak punya otak. Kenapa aku bisa termakan oleh rayuannya, kenapa aku bisa menyerahkan harga diriku pada laki-laki yang tidak punya pendirian, tidak punya perasaan dan tidak tau malu seperti Arghi.
Apa kamu fikir dengan seperti ini kamu akan menyelesaikan masalah?
Aku kembali mengetikan kata-kata di ponselku dan mengirimkannya pada Arghi. Apa yang akan aku katakan setelah ini pada orangtuaku. Ya Allah kenapa rasanya sakit sekali, kenapa dadaku benar-benar terasa sesak seperti ini? Aku berpaling darimu hanya demi seorang laki-laki munafik dan tidak bertanggungjawab seperti Arghi.
Arghi tak ada bedanya dengan Jihan, sama-sama pengecutnya. Bahkan Arghi rela membawa-bawa ibunya yang sudah terbujur kaku di makam hanya untuk memutuskan hubungannya denganku. Kurang pengecut apa lagi Arghi?
Andaikan aku memutuskannya saat aku tau kalau dia pernah menghamili wanita lain, bukan malah mempertahankan Arghi. Kenapa saat itu aku berpikir kalau Arghi akan berubah.
Seharusnya aku sadar saat Arghi memintaku untuk berhubungan badan sebagai bentuk tanda cinta itu hanyalah bualan semata. Kenapa aku terlalu buta karena cinta. Perasaanku tulus padanya, aku melakukannya agar ia tidak meninggalkanku pada akhirnya sama saja, dia tidak ubahnya laki-laki b******k yang miskin namun ingin menikmati tubuh wanitanya.
Arghi bahkan tidak takut akan murkanya Tuhan, jadi sudah pasti dia tidak akan takut kehilangan perempuan.
* * *
Hampir sepuluh menit aku menunggu Arghi. Emosiku sudah benar-benar di puncak. Saat Arghi tiba dan duduk di hadapanku, rasa benciku padanya kian bertambah. Manusia yang tidak punya tanggung jawab sama sekali.
Sedari rumah aku sudah merancang semuanya, apa yang akan aku katakan dan menunjukan semua bukti-bukti yang sudah aku ambil dari ponsel Ana.
"Kapan kamu akan meminta maaf dengan orangtuaku?"
Arghi terdiam, dia sama sekali tidak menatapku, meski sekarang ini kami sedang duduk berhadapan..
"Apa yang sebenarnya kamu mau? Apa kamu cuma mau tubuhku?"
Arghi masih tetap terdiam.
"Kenapa kamu membicarakan itu semua pada Ana, bukankah kamu menjalin hubungan dengan saya, jadi kenapa kamu harus memutuskan saya lewat Ana?"
"Karena saya takut."
Sudah kuduga, dia memang hanya seorang laki-laki b***t yang tidak punya harga diri dan tanggung jawab.
"Apa sih yang kamu cari? wanita yang bagaimana, di saat saya sudah rela menunggu kamu agar kamu punya kodal untuk menikahi saya, justru kamu malah menjelek-jelekkan saya di depan teman saya sendiri. lalu, apa? Kamu bilang ibu kamu tidak setuju kalau kamu menikah dengan janda? Apa kabar wanita yang kamu hamili itu? bukankah dia janda anak satu?!'
Allah menutupi aibmu Ghi, tapi tidak denganku. Jika dia tidak terima dengan ucapakan dan ingin mengatakan semua hal yang sudah kami berdua lakukan, silahkan saja. Aku tidak takut.
"Manusia macam apa kamu Ghi? Sekarang yang malu adalah keluarga saya, beda dengan kamu, Yatim Piatu tidak tau diri, tidak punya keluarga, apa yang harus ditakutkan. Saya rela menyakiti diri saya sendiri. Menangis setiap malam hanya karena menunggu kabar dan balasan pesan dari kamu. Setiap kali kamu menyakiti, kamu meminta maaf, saya maafkan. Karena saya tulus dengan kamu Ghi. Tapi, sayang sekali orang yang saya cintai nyatanya buta, picek! tidak tau diuntung. Hanya menjadikan saya sebagai pelacurnya, datang di saat h***y saja!"
Aku yakin hatinya terasa sakit, tapi dia tetap diam, entah karena tak ingin ribut atau dia memang tidak berani denganku.
"Harusnya kamu bercermin, mau dapat orang kaya, memangnya kamu anaknya siapa? Oh iya, kamu tidak punya orangtua, aku hampir lupa."
Perasaanku kian mendidih, tapi aku tak ingin memakinya lagi. Aku takut dosa jika terus-terusan menghina seorang yatim piatu.
"Saya menerima semua kekurangan kamu, karena bagi saya tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna termasuk diri saya sendiri. Tapi, nyatanya manusia yang diberi hati kian hari justru kian menyakiti dnegan seenaknya saja. Merasa seolah-olah sedang di atas dan saya sedang berlutut seolah tak punya harga diri. Betapa bodohnya saya yang mau kembali menjalin hubungan dengan manusia b******n seperti kamu. Kalau saya tau akan begini, saya lebih memilih untuk tidak menerima kamu dan mencintai diri saya sendiri dengan sepenuh hati, karena saya tidak akan pernah menghianati diri saya sendiri!"
Arghi masih tetap diam dan itu justru membuatku semakin emosi.
"Kelak kamu akan memgerti Ghi, bahwa memilih pasangan bukan tentang cantik, kaya raya dan cinta. Tapi siapa yang akan menemani ibadah kamu sampai menutup mata."
Dengan segera aku bengkit dari kursi dan meninggalkan Arghi begitu saja. Tuhan, aku tak ingin apa-apa, tapi tolong balaskan rasa sakit hatiku ini. Aku terlalu lemah untuk menghadapi semuanya setelah ini.
* * *
Tak selamanya yang ber-ikrar sebelum akad, akanmengikat hingga pelaminan.
Cukupkan, hentikan, dan lupakan. Karena pada hakikatnya tiada cinta yang harus dipercaya sebelum akad terlaksana. Kisah cinta dua insan manusia dimulai setelah ijab qobul, kalau sebelum itu maka namanya adalah zinah.
Apa itu cinta?
Cinta adalah Abu bakar Ash-shidiq yang rela menahan rasa sakit, menutup lubang ular saat Rasulallah tertidur pulas di paha Abu Bakar. Ia pun berusaha diam dan tidak ingin tidurnya terganggu. Melainkan hanya air mata yang keluar.
Cinta adalah Ali bin Abi Tholib yang rela menggantikan Rasulallah di temoat tidur ketika sekelompok orang kafir ingin membinasakan Rasulallah.
Cinta adalah Zubair yang ketika mendengar kabar wafatnya Rasulallah, lalu diapun keluar dengan menyeret pedangnya di jalan-jalan kota Makkah padahal usianya baru 15 tahun.
Cinta adalah Bilal bin Rabbah yang tidak sanggup mengumandangkan adzan setelah kepergian Rasulallah.
Ketika kita belum mengenal Tuhan kita dengan baik, mungjub seharusnya kita jangan dulu membuka hati kita untuk makhluj ciptaan-Nya.
Ketika Agama saja belum bisa kita cintai sepenuhnya, bagaimana bisa kitau tau cara terbaik mencintai makhluk ciptaan-Nya dengan tepat.
Bukankah kita hanya akan menentukan itu semua berdasarkan perasaan kita sendiri? Perasaan yang di antara benar dan salah pun masih belum bisa kita bedakan dengan benar.
Sehingga mungkin pada akhirnya seorang laki-laki akan binasa karena nafsunya. Dan Seorang wanita akan tenggelam dalam perasaannya ketika agama bukan sebagai pegangan dalam hidupnya.
Seusai salam aku hanya berdiam diri, menutup wajah dengan kedua tanganku. Meresapi sesak yang kembali mendera.
"Di saat dulu aku merasa begitu dekat dengan-Mu.Bisa berceloteh panjang lebar, kini aku hanya bisa terdiam. Malu dengan semua dosa-dosa zinahku."
Aku mulai menangis, mencoba mengeluarkan tekanan yang ada dalam diriku saat ini.
"Lidahku kelu, akibat permohonan yang layaknya
angin, hanya berlalu. Sebab kesalahan yang kujanjikan untuk tidak kulakukan lagi, nyatanya kembali terulang. Imanku begitu lemah Ya Robb, maafkan hambamu yang hina ini Ya Allah."