Aku bisa menyembunyikan luka di balik senyumku. Aku bisa memaksakan tawa meski hatiku hancur berkeping-keping.
Tapi semua perkataan Arghi yang ia ketik dalam pesan yang ia kirimkan pada Ana benar-benar tajam. Aku tak bisa bertahan lagi, semua perkataan Arghi benar-benar membuatku murka.
Semua perkataannya terus terngiang, menusuk hatiku, begitu menyakitkan. Dia yang memintaku untuk menunggunya, menerimanya lalu kenapa dia sendiri yang meninggalkanku, bahkan memfitnahku dengan semua perkataannya yang berbalik dengan fakta. Dia memposisikanku sebagai seorang wanita yang seolah-olah haus akan cumbuan, janda tanpa hargadiri!
Ya Allah, betapa sakit hati ini hanya karena seorang hamba ciptaanMu. Mungkin ini adalah jawaban atas semua doaku selama ini, jawaban atas semua ketakutanku. Seharusnya aku tetap pada pendirianku, berani menolak atas apa yang Arghi minta dari diriku.
Aku tidak ubahnya p*****r, aku jijik dengan diriku saat ini. Rasanya aku benar-benar tak memiliki harga diri lagi.
Kenapa balasanMu begitu nyata Ya Tuhan, aku lebih memilih dunia, aku lebih takut kehilangan ciptaanMu ketimbang RidhoMu, ternyata balasannya begitu menyakitkan. Membuatku justru kehilangan segalanya karena laki-laki b******k itu.
Sanggupkah diriku bertahan atas takdir yang sudah Allah gariskan untukku. Begitu berat, begitu menyiksa bahkan dadaku terasa sesak rasanya. Seolah tak ada rongga untuk udara masuk. Sanggupkah diriku keluar dari kubangan ini, kubangan kekecewaan.
Membalikan Hati tak semudah membalikan telapak tangan, menghapus masalalu tak semudah menghapus jawaban di lembar Ujian.