Assalamualaikum Kiara, kamu ada waktu hari ini? saya mau bertemu sama kamu.
Sudah dua jam yang lalu Hesyam mengirimiku pesan itu, aku belum mau membalasnya. Aku masih merasa tidak enak hati dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
Rasa benciku untuk Arghi masih begitu membara, bahkan di setiap sholatku, aku masih terus menangis merasakan sakit hati yang luar biasa akibat ulah Arghi. Rasanya kebahagiaan yang dia berikan padaku tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia ciptakan untukku.
Hesyam memanggil ...
Aku menatap ponsel, aku tak berniat mengangkat telfon dari Hesyam itu. Namun, satu sisiku merasa kalau perlakuanku ini tidak benar. Hesyam tidak tau apa-apa tentang masalahku dengan Arghi.
Tapi, aku juga malas jika mengangkat telfon dari Hesyam, harus berbasa-basi dengan Hesyam, apalagi kalau Hesyam sudah membahas soal jodoh dan memintaku untuk menikah dengannya.
"Assalamu'alaikum, halo, Syam ..."
'Waalikum salam, halo, Ra, apa kamu sedang sibuk?'
Bagaimana ini, apa aku harus jujur atau bagaimana?
"Aku baru selesai kerja, ada apa Syam?"
'Jadi aku tidak mengganggu kamu kan?'
"Iya, ada apa Syam?"
'Nanti sore ada pengajian di rumahku, kamu mau datang gak?'
Pikiranku melayang pada saat Arghi memperingati seribu hari kematian ibunya, ia bahkan tidak memberitahuku atau mengundangku ke rumahnya, padahal posisi hubungan kami saat itu sudah diketahui oleh kedua belah pihak. Arghi tidak menganggapku ada.
Sedangkan Hesyam, dia bahkan menawariku untuk datang ke pengajian rutin di rumahnya.
"InsyaAllah, Syam. Jam berapa?"
'Alhamdulillah, mulainya ba'da ashar. Kamu mau aku jemput?'
Apa aku harus setuju dengan tawaran Hesyam? Bagaimana kalau pada akhirnya aku justru menjadikan Hesyam sebagai pelampiasanku saja. Bukankah aku sama saja dengan Arghi?
"Aku nanti ke sana sendiri saja, gak apa-apa kan?"
'Iya, gak apa-apa. Aku tunggu. Kalau begitu terimakasih ya, Ra? sampai jumpa nanti, Assalamualaikum.'
"Waalaikumsalam."
Ya Allah, kenapa engkau perberat hatiku untuk bisa menerima Hesyam. Hesyam yang begitu baik, Hesyam yang lebih tulus mencintaiku, Hesyam yang jauh lebih dewasa daripada Arghi.
Kenapa engkau justru menenggelamkanku dalam kubangan dosa bersama laki-laki yang pengecut. Sekarang aku malu jika aku harus berpaling pada Hesyam. Setelah apa yang dilakukan oleh Arghi padaku.
* * *
"Sudah, sekarang kamu mau cari yang gimana lagi? Dulu ada Putra, anaknya Pak RT datang, kamu tolak. Jelas-jelas dia orang yang baik."
Tak sepatah katapun dari ibu yang mampu kusangkal, sekarang posisinya memang aku yang dianggap salah. Aku yang terlalu plinplan untuk bisa menentukan mana yang bisa diajak serius dan mana yang hanya memainkan perasaan orang lain.
"Jangan cari gantengnya, yang ganteng cuma nyakitin."
Okongan Ibu kembali menyubit perasaanku, tapi Arghi tak setampan itu. Wajahnya pas-pasan, tapi gayanya selangit.
"Ini kamu mau ke mana?"
"Kiara mau pergi ke tempat teman Kiara, ada pengajian di rumahnya."
"Teman yang mana?"
"Hesyam ..."
"Nah, ini lagi, dia itu gak kerja, kenapa kamu tiap cari laki-laki yang gak jelas, Ra?"
"Bu ..."
"Sudah, jangan pulang malam-malam."
Hesyam, bukan hanya hatiku yang harus kamu runtuhkan tapi juga restu dari ibuku. Kunci dari semuanya adalah kamu harus bekerja, Syam.
* * *
Jalur rumah Hesyam sama dengan jalur menuju rumah Anis, temanku. Aku sempat bercerita pada Anis tentang Hesyam. Dan benar saja, Anis tau tentang keluarga Hesyam. Kakak Hesyam yang seorang pegawai negeri dan sudah menikah dengan irang solo, serta adik perempuan Hesyam yang sudah bekerja di salah satu butik ternama di Semarang sebagai seorang designer.
Pantas saja orangtua Hesyam begitu berharap pada Hesyam, Hesyam anak laki-laki satu-satunya, maka yang diharapkan oleh oramgtuanya adalah Hesyam menjadi sesornag yang lebih dari kakak dan adik perempuannya.
Ini adalah kali pertama aku datang ke rumah Hesyam, aku ingin menolaknya, namun sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk itu. Aku akan mencoba menerima Hesyam, mungkin dengan seperti ini Hesyam pun mau berubah. Ia mau untuk memikirkan masa depannya.
Jika memamg dia cinta seharusnya dia mau, tapi tetap saja cinta itu akan kalah dengan rasa malas.
Aku segera memberi kabar pada Hesyam kalau aku sudah sampai di depan rumahnya. Aku menyuruhnya untuk keluar terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum."
Aku menoleh pada arah suara, Hesyam sudha berdiri di hadapanku. Dia memakai sarung berwarna hitam polos dengan baju koko kekinian. Kalau seperti ini, Arghi pun tak ada apa-apanya.
"Waalaikumsalam ..."
"Ayo masuk,"
Aku turun dari motorku dan mengekor Hesyam, kenapa deg-degannya sama dengan waktu dulu aku diajak main ke rumah Jihan. Seperti hendak bertemu calon mertua.
Di rumah Hesyam sudah ada banyak orang, ya, mungkin itu adalah saudara Hesyam yang bantu-bantu di rumah Hesyam.
"Waduh-waduh, Hesyam bawa siapa ini?"
Seorang perempuan dengan perawakan gemuk datang menghampiriku. Aku segera mengajaknya bersalaman, dia tampak begitu ramah, dengan perlahan-lahan dia mengelus lengan atasku.
Apa dia ibunya Hesyam? Tapi, rasanya tidak mirip.
"Ini teman Hesyam, namanya Kiara Bu lik."
"Kiara Bu Lik." Aku sedikit mengangguk.
"Oalah, Kiara nama yang cantik. Saya bu liknya Hesyam, adik dari mamahnya Hesyam. Cantik sekali kamu, Nak."
Semoga pujian Bu lik Hesyam benar adanya, tidak hanya saat pertama mengenalku saja.
"Terimakasih, bu lik." Aku kembali tersenyum pada Bu liknya Hesyam itu.
"Masuk, ayo, cobain makanan di dalam."
Aku dan Hesyam kembali berjalan masuk ke rumah Hesyam. Rumah Hesyam cukup luas, mungkin ukurannya dua kali dari rumahku.
"Ibu ..."
Seorang wanita menoleh, mengahadap padaku dan Hesyam. Wanita itu tampak masih muda, wajahnya tampak bersih terawat beda dengan ibuku yang hanya seadanya.
"Syam, ada apa?"
Wanita itu kini tersadar ada aku di samling Hesyam, ia segera tersenyum tipis menyapaku.
"Ini Kiara, teman Heyam yang sering Hesyam ceritakan sama ibu."
Aku mengulurkan tangan terlebih dahulu pada ibunya Hesyam.
"Kiara tante."
"Ibunya Hesyam. Ayo duduk dulu."
Kami bertiga berjalan menuju ruang tengah, sepertinya.
"Sudah makan belum, Nak Kiara?"
"Sudah bu, terimakasih."
"Santai saja, jangan terlalu kaku."
Apa di wajahku tampak begitu jelas?
"Terimakasih sudah mau jadi teman baik Hesyam, Hesyam selalu cerita kalau kamu sering ingetin dia buat sholat. Hesyam juga bilang kamu selalu memberikan dia semangat untuk berubah. Untuk menjadi penyemangat Hesyam menatap masa depannya."
Sudah sejauh inikah kamu menceritakan tentang saya pada ibumu Syam?
Kenapa kamu membanggakan saya di hadapan ibu kamu?
Sedangkan saya tidak sebaik itu, saya terkadang lupa dengan kamu, tidak membalas pesan kamu. Dan bahkan saya menyembunyikan hubungan saya dengan Arghi, sampai pada akhirnya saya putus dengan Arghi.
Bagaimana nanti kalau kamu tau saya menjadikan kamu cadangan atas Arghi?
"Saya tidak sebaik itu, Tante."
Aku tidak mau kalau ekspektasi itu justru akhinya membuat aku dan Hesyam terpuruk bersama. Bagaimanapun aku belum bisa memastikan bagaimana perasaanku pada Hesyam.
* * *
Aku berbaur bersama saudara-saudara dari keluarga Hesyam, iya, mereka cukup baik. Sesekali mereka meledekku tentang Hesyam. Menyuruhku agar segera menikah saja dengan Hesyam.
"Sudah jangan tunggu lama-lama, Hesyam sudah siap. Nanti kalau kamu sudah nikah sama Hesyam, kamu di sini temanin orangtuanya Hesyam, urus rumah."
Kenapa omongan orang-orang terdnegar begitu gurih, pada kenyataannya tidak seindah itu.
Bagaimana aku bisa tau?
Jihan sudah menjadi buktinya, di mata orang Jihan adalah laki-laki yang sempurna, penuh tanggung jawab. Tapi, pada kenyataannya, dia jauh dari itu semua.
"Iya, bu lik."
"Hesyam memang belum bekerja, tapi insyaallah kamu tidak akan kekurangan." salah satu perempuan membisikiku.
Iya, aku tidak akan kelaparan karena aku yakin keluarga Hesyam pasti akan memberiku makan. Tapi mau sampai kapan?
Bagaimanapun keadaan ekonomi Hesyam, sebanyak apapun warisan kelaurga Hesyam, kalau memang Hesyam tidak bekerja suatu hari utu semua akan habis begitu saja.
"Nak kiara bisa bantu ibu sebentar?"
Kebetulan sekali ibu Hesyam menyelamatkanku dari orang-orang yang mulutnya begitu lancang ini.
"Iya bu,"
Aku segera menghampiri ibunya Hesyam dan berjalan di belakangnya.
"Bisa antar Ibu ke tempat saudara? ibu mau ambil pesanan kue."
* * *
Di perjalanan, sesekali Ibunya Hesyam mengajakku mengobrol namun aku hanya mengiyakan saja karena sebebamrnya aku tidak bisa mendengar kata-kata dari Ibunya Hesyam itu.
Tak lama kami berdua sudah sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar. Aku diajak untuk turun dari motor dan masuk ke rumah.
Setelah menekan tombol bel rumah, seorang wanita tamoak tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah.
"Masuk mbak, aku kura Hesyam yang ambil."
"Gak, Nur, Hesyam di rumah. Ayo Kiara masuk."
Aku mengekor di belakang Ibunya Hesyam.
"Ini siapa Mbak?"
"Calon mantuku."
Aku terkejut dengan ucapan ibunya Hesyam itu. Jadi dia mengajakku ke sini untuk pamer pada keluarganya, kalau tau begitu aku tidak akan mau ikut dengan ibunya Hesyam.
"Waahhh ... Pacarnya Hesyam toh, Kok Hesyam gak pernah bawa ke rumah, atau main ke sini? siapa namanya?"
"Kiara tante."
Wanita itu tersenyum, "Saya adik dari papahnya Hesyam, ya begini adanya keluarganya Hesyam, jangan malu-malu ya, besok-besok ajak Hesyam main ke sini, biar makin kenal."
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum pada wanita itu.
Syam, keluargamu begitu baik. Tapi, apa mereka akan menerimaku kalau mereka tau aku sudha pernah menikah?
Bagaimana kalau nanti setelah mereka tau, mereka akan melarangku untuk bertemu kamu lagi? Apakah kamu akan bisa merelakannya? Atau justru Depresi akan datang lagi?
* * *
Acara pengajian segera di mulai, aku yang hendak duduk di sebelah dalam, justru diajak oleh ibunya Hesyam untuk duduk di sampingnya.
"Kamu di sini saja, sama ibu."
Aku kembali menurut saja pada ibunya Hesyam.
Sepanjang pengajian aku terkadang tidak fokus, memikirkan bagaimana kalau kejadian hari ini akan dijadikan Hesyam sebagai alasan agar aku mau segera menerima pinangannya.
* * *
Pukul 20.00 WIB acara pengajian baru selesai, aku segera berpamitan untuk pulang sebelum jalanan menjadi sepi. Saat aku berpamitan untuk pulang, ibunya Hesyam menyuruhku untuk menginap saja. Kalau aku menginap apa aku tidak dicambuk oleh ibuku di rumah nanti.
Ibunya Hesyam membawakan hampir semua makanan yang tadi ada di meja tamu. Aku semoat menolaknya namun makanan itu sudah dicantolkan saja di motorku.
"Aku antar sampai pertigaan di depan, Ra."
"Gak ngerepotin kamu?"
Hesyam tersenyum, "Sama sekali gak, aku senang kamu sudah mau datang kemari dan berkenalan dengan keluargaku, Ra."
Jebakan, nasi sudah jadi bubur, apa aku bisa mengubahnya atau lari begitu saja?
"Iya, Syam. Ibu kamu ramah juga."
"Terimakasih, ibu sepertinya cocok sama kamu, Ra."
"Tadi dia megajakku ke rumah bu likmu, ambil kue. Dia bilang kalau aku ini calon mantunya, Syam."
"Oh ya?" Gelak tawa Hesyam terdengar.
Perasaanku menghangat saat mendengar tawa Hesyam. Entah mengapa aku ikut senang melihatnya. Aku seolah orangtua yang bangga melihat anaknya tertawa bahagia.
Syam apa kita bisa bahagia?