19

255 Kata
"Bagaimana Ra?" "Aku putus sama dia," "Yakin?" Aku tersenyum pilu, menertawakan kebodohan dan kenaifanku. Apa harus ditanya lagi soal keyakinanku akan keputusanku ini? "Untuk apalagi aku mempertahankan hubungan ini, kalau nyatanya Arghi tidak punya rasa tanggungjawab, ia bahkan takut dengan ibunya yang sudah terbujur kaku di pemakaman." "Ra ..." "Apa?" "Jangan bawa-bawa almarhumah, ini urusan kalian berdua." Ini adalah salah satu respon orang yang waras dan tau kalau sudah berbeda dunia kenapa harus tetap dibawa-bawa? "Dengan keadaan seperti ini, posisiku yang sangat dirugikan. Apalagi orangtuaku, semua tetangga dan orang-orang di sekitarku sudah mengira kalau aku akan menikah dengan Arghi, eh malah dia melenceng. Dikira aku bukan wanita baik-baik." Ana memegang tanganku, "Dia memang b******k, tapi kamu juga jangan jadi b******k demi untuk bisa melampiaskan semuanya." "Arghi dan Jihan, sama saja. Laki-laki yang tidak punya rasa tanggungjawab. Laki-laki yang masih sembunyi di ketek ibunya." "Kalau Hesyam bagaimana?" Apa yang harus aku bicarakan soal Hesyam, tak ada yang menarik dari diri Hesyam kecuali curhatannya tentang semua tekanan yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Hesyam yang selaly memberikan alasan saat orang lain memberikan semangat agar ia mau memanfaatkan ilmunya untuk hal yang lebih bagus, terutama menabung untuk bisa hidup berumah tangga. "Masih sama." "Hmm ..." Ana membuang nafas kasar, "Padahal dia sarjana sayang banget ya kalo nganggur." Aku tidak menyangka jika aku akan terjebak di sini, kupikir saat Kin pergi semua masalahku sudah selesai dengannya. Tapi dia seperti piring terbang yang dilempar lalu kembali lagi pada sang pelempar. Kenapa harus kembali lagi, kalau hanya untuk mengacaukan keadaan saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN