20

1507 Kata
Pernahkah engkau bertanya, 'Mengapa Tuhan menahan semua hal yang kita inginkan di dunia? Termasuk soal perasaan seseorang.' Membuat semua hal yang kau idam-idamkan tampak begitu sukar dan jauh untuk digapai? Lalu mulai membandingkan hidup kita dengan lainnya. Kenapa dia bisa sedangkan aku tidak? Kenapa semuanya tampak begitu mudah datang di hidupnya? Padahal dia juga memiliki iman yang sama, bahkan mungkin jauh di bawahmu. Namun, Tuhan memberikannya secara berlimpah. Memudahkan segala urusannya, karir dalam pekerjaannya dan urusan jodohnya. Kita sibuk membandingkan, kita sibuk mencari agar memiliki taraf yang sama, mencari celah agar mungkin bisa menjadi pahlawan orang, untuk kemudian di puji-puji. Sibuk mencari jodoh yang tepat, tapi selalu menolak karena dirasa bahwa laki-laki itu belum sepadan. Meyakinkan diri dalam setiap doanya bahwa ada yang lebih baik lagi dari . Sampai akhirnya kita lupa akan kehidupan akhirat kita. Mengapa kita sibuk mencari dunia? berlomba dalam doa yang menyelipkan satu persatu segala hal yang kita inginkan. Sayang, hari ini Allah sedang tidak mau diriku kembali gagal dalam membina rumahtangga. Ia menjawab semua doaku dengan memperlihatkan semua keburukan Argi tepat di hadapanku. Aku memang sudah ikhlas namun aku tetap merasa dikhianati. Aku masih sakit hati. sibuk tidak? Tidak terlalu, sih. Ada apa memangnya? Aku mau bertanya sesuatu Ra...??? Aku menatap pesan milik Hesyam itu dengan seksama. Perasaanku sudah merasa tidak enak saja. Tanya apa Syam? Apa kamu mau aku ajak menikah jika aku sudah punya pekerjaan? Ini bukan kali pertama Hesyam mengajakku menikah, meski Hesyam tau bagaimana jawabanku, dia tetap tidak menyerah. Kamu tau sendiri Syam, jawabanku tetap sama. Aku akan menerima kamu setelah kamu mendapatkan pekerjaan. Apalagi kalau kita sudah menikah nanti, bukan hanya aku yang harus kamu cukupi, ada anak kita. Apa iya, kita harus menunggu jatah sari orangtua kamu Syam? Mau sebanyak apapun uang milik orangtuamu, tentunya akan habis kalau kita nikmati setiap hari untuk mencukupi semua kebutuhan kita. Aku mencoba untuk berdiri di posisi yang senyata mungkin. Mungkin orang akan berpikir kalau aku perempuan matre, tapi begitulah adanya. Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Bukan hanya modal cinta. Kamu betul, Ra. Doakan aku ya, semoga aku segera dapat pekerjaan. Rencananya tahun depan aku mau mendaftar tes CPNS jalur disabilitas, Ra. Apa ayah Hesyam akan menyetujuinya, apalagi lewat jalur disabilitas. Rasanya tidak mungkin karena gengsi orangtua Hesyam begitu tinggi. Apa Ayah Hesyam tidak merasa malu kalau anaknya akan melakukan hal itu. Lalu bagaimana tanggapan orangtua kamu, Syam? Bapak masih diam, taoi ibu mendukungku. Asal aku punya semangat untuk kembali bangkit. Apapun itu, ibu akan mendukungku. Ibunya Hesyam memang tampak begitu penyayang, meski aku sedikit banyak tau tentang ibunya Hesyam yang cukup ambisius soal pangkat dan jabatan. Semoga lancar, semoga dipermudah segalanya, Syam. Bukan aku pemilih dalam hal laki-laki, hanya saja jika laki-laki itu belum punya pekerjaan, apa yang bisa aku harapkan. Aku sendiri pernah mengatakan pada Arghi, bahwa pernikahan tidak hanya dilandasi oleh cinta, kecantikan, harta, nafsu dan duniawi saja. Aku pernah mengikuti sebuah kajian, di sana ustadz membahas tentang apa itu pernikahan. Jika landasan pernikahanmu hanya bertujuan untuk memuaskan nafsu, maka saat pasanganmu tidak memuaskanmu di atas ranjang, maka bersiaplah engkau akan bertrngkar karena urusan pelayanan di kamar tak memuaskanmu. Jika landasan pernikahan cuma harta, ingin kaya dan hidup enak. Maka bersiaplah engkau akan bercerai saat jatuh miskin. Jika landasan pernikahan hanya karena fisik, menarik dan memuaskan mata. Maka, bersiaplah berpisah saat rambut pasanganmu mulai berubah warna, kulitnya mulai keriput dan badan sudha menjadi gendut atau kurus kerontang. Jika landasan pernikahan hanya karena anak, ingin meneruskan garis keturunan. Maka, bersiaplah saat pasangan mulai mencari alasan untuk berpisah karena anak yang dinantikan tak kunjung datang. Jika landasan pernikahan cuma karena cinta, hati manusia itu tidak tetap dan mudah beralih pada hal-hal yang lebih, karena tetap saja rumput tetangga jauh lebih menggoda. Jika landasan pernikahan cuma karena kepribadian. Maka, bersiaplah berpisah saat pasanganmu berubah perilaku. Namun, jika landasan menikah adalah karena iman dan benar-benar dalam rangka beribadah kepada Allah. Maka, tak ada alasan apapun di dunia yang dapat meretakkan rumahtanggamu kecuali jika pasangan itu durhaka kepada Allah. * * * Siang ini, Ana memberitahuku kalau dia akan datang ke tempatku bekerja. Aku sudah paham dengan Ana, jika dia sampai mau datang ke rumahku, itu artinya ia sedang memiliki masalah. Aku sudah duduk di sebuah kedai makanan tak jauh dari tempatku bekerja, segelas es teh dan teh hangat sudah tersaji di hadapanku. Ana yang janji akan datang pukul 12.30 nyatanya sudah terlambat 15 menit. "Maaf, Jeng, lama." Ana melepas helmnya, dari wajahnya aku bisa tau kalau dia sudah kehausan karena cuaca di luar begitu terik. "Duduk, sudah aku pesankan minum, teh hangat." Ya, Ana memiliki riwayat TBC, meski sudah dua tahun berlalu namun Ana tetap masih menjaga pola makannya. Dia bilang, daripada harus minum obat tanpa henti, ia lebih memilih untuk menghindari beberapa makanan yang mungkin bisa memicu TBCnya kumat kembali. "Sudah makan belum?" "Aku sudah tadi, sama Raihan. Kamu belum makan? atau jangan-jangan kamu nunggu aku bisar makan bareng?" Aku sedikit terkekeh mendengar pertanyaan Ana, aku memang belum makan karena kupikir Ana memgajakku bertemu untuk sekalian makan bersama. "Sudah kok, ada apa?" "hah," ucapan itu diikuti oleh hembusan nafas kasar yang keluar dari hidung Ana, seolah melepaskan semua beban. "Aku heran sama temenmu itu," "Nugi?" "Iya, si Nugi." "Ada apa sama dia? pinjam uang ke kamu lagi?" Nugi adalah teman laki-lakiku, yang kukenalkan pada Ana kurang lebih tiga bulan terakhir ini. Kupikir Nugi hanya berniat untuk berteman saja, tapi sayangnya tidak dia justru memanfaatkan Ana untuk selalu bisa menolong dirinya di saat susah. "Kamu tau kan kalau dia mau nikah?" "Setauku si iya, tapi keluarganya belum ada yang setuju, terutama kakak perempuannya. Mereka bilang keluarga si cewek banyak hutang." Maafkan aku yang menggibah, namun aku harus menjelaskan pada Ana agar ia tidak terpengaruh oleh omongan Nugi. "Dia bilang kalau dia mau nikah, oke aku dengarkan curhatannya dia. Dia tanya berapa banyak yang akubterima dari Raihan, aku hanya menjawab pemberian laki-laki itu ya sesuai kemampuan si laki-lakinya. Bener gak, Ra?" "Bener, An. Terus?" "Pasti banyak, ya? Ah, kalau aku seadanya, tapi nanti kalau misal kurang aku pinjam kamu, Ya An? Masa dia bilang gitu, Ra." "Ujung-ujungnya pinjam uang, lalu kamu jawab apa?" "Aku jawab dengan tigas, Big No! kalau aku jadi kamu, aku mending nikah sederhana, cukup di KUA asal aku pakai uang aku sendiri." "Bener, terus dia jawab apa An?" "Dia malah jawabnya, astaghfiruallah, aku tau kamu orang kaya tapi kamu gak perlu ngomong gitu kalau memang kamu gak mau pinjamin uang buat aku. Untung kamu dapat suami yang kaya, coba kamu dapat suami yang miskin dan gak bisa kasih kamu apa-apa. Coba kamu mikir kalau anak pertama nikah cuma di KUA. oh, lupa kamu kan tidak punya otak." Aku bisa melihat air mata mulai menetes di pipi Ana. "Sabar, An." Dari dulu aku selalu mengingatkan Ana agar berhati-hati dengan Nugi, namun tetap saja dia bersikap baik pada Nugi dengan dalih membantu anak yatim piatu, tapi sekarang sepertinya Ana sadar dengan sendirinya kalau Nugi memanglah manusia yang baik. "Alu sakit hati Ra, kalau tau aku akan di hina seperti ini, aku tidak akan pernah mau untuk membantunya. Coba kamu bayangin, dulu waktu dia bilang mau usaha s**u kedelai, dia pinjam uang ke aku buat pegangan karena uangnya sudah habis digunakan untuk modal. Aku kasih, karena aku kasihan. Tapi setelah aku tau dia begini, mulai sekarang aku gak akan bantu dia lagi." "Nekat sekali dia ya An, berumahtangga hanya bermodalkan nekat saja. Lalu dengan seenaknya dia mau meminjam uang sama kamu buat melamar perempuan lain. Bagaimana nanti saat dia berumahtangga, apa dia tidak mengandalkanmu untuk menjalani hidupnya nanti? Jangan-jangan setiap ada masalah dia akan lari ke kamu buat cari bantuan." Nugi memang belum cukup dewasa, emosinya yang labil masih sangat mempengaruhi semua keputusan yang ia ambil daalam hidupnya, teemasuk menikah. Aku rasa tidak akan ada bedanya dengan Jihan, tapi mungkin istri Nugi tidak akan seperti aku. Bisa saja dia menurut pada Nugi, karena jika memang benar calonnya adalah orang yang sama dengan Nugi maksud dulu, maka dia adalah wanita yang solikhah. "Makanya, emosi dia masih meluap-meluap, apa dia bisa memimpin sebuah keluarga?" "Ya, tidak beda dengan Arghi, menikah hanya karena nafsu. Jadi saat kebutuhan hidup datang mereka lari dari tanggung jawab. Malah mencari bala bantuan yang seharusnya tidak dilibatkan dalam masalah rumah tangga mereka." Rumahtangga itu rumit, tidak seperti pacaran yanv jika sufah bosan bisa diputuskan lalu ditinggalkan. Menikah itu selama-lamanya. "Iya, aku juga bilang sama dia kalau sudah menikah nanti aku ingin menjauh, aku tidak mau kalau nanti justru terseret dalam hubungan pernikahan mereka." "Raihan tau soal ini? Makanya dari dulu aku bilang, jangan terlalu dekat. kamu masih ngotot aja, pake bilang kasihan lah apalah." "Ya, sekarang aku baru tau gimana aslinya dia Ra." "Yang tumbuh bersama, pasti tau cara menghargai. sekalipun marah, mereka justru akan saling mengingatkan. Berbeda dengan yang abru kenal dan hanya tau hasil dari kita berjuang dulu, pasti langsung akan menjudge." Aku berusaha meyakinkan Ana, mengembalikan kepercayaannya lagi seperti sedia kala. Aku tau perkataan Nugi pasti akan membekas di hati Ana. "Sabar, ya , mulai sekarang blokir dia, hapus nomornya, jangan kamu urus lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN