12

2038 Kata
Takdir itu milik Allah, tetapi usaha dan doa adalah milik kita. Apa yang Hesyam ucapkan selalu membuatku tenang. Meski aku tak pernah bercerita secara spesifik tentang apa yang aku alami atau bagaimana perasaanku saat itu, namun seolah Hesyam bisa membaca situasiku. Entah itu dengan dia mengirimiku pesan, meminta ijin menelfon atau kadang dia mengajakku pergi. Di saat aku mengharapkan Arghi, justru Hesyamlah yang selalu hadir. Hesyam sudah seperti pemadam kebakaran saat pikiran dan hatiku sedang runyam. Di saat aku berharap perasaan cintaku berbunga-bunga, justru yang tumbuh kaktus berduri di tengah gurun. Tapi, sikap Hesyam yang selalu sabar dan tenang seolah menyirami kaktus berduri itu hingga berbunga indah. Sayangnya keindahan itu tidak bisa aku nikmati, aku lebih menikmati duri kaktus yang menusukku dari berbagai sisi. Meski dengan banyak keluhan dan merasa bahwa Allah tidak adil, tapi aku tetap menjalaninya. Arghi adalah sumber pesakitanku, namun Arghi pulalah sumber kebahaianku. Hanya dengan melihat punggung Arghi dari kejauhan saja, aku sudah merasa bahagia. Apalagi jika Arghi lancar membalas kabarku melalui pesan. Aku merasa sangat diinginkan. Ya, memang benar aku diinginkan, diinginkan untuk memuaskan nafsu birahinya. Membuatku seolah merasa kalau aku adalah wanita simpanannya yang hanya ia kunjungi jika burung di celananya mulai berkicau lembut meminta masuk ke dalam sarang. Tapi, harapan yang kita ucapkan dalam doa terkadang begitu menyakitkan. Harapan itulah yang sebenarnya menyakitimu, Ra. Bukan orang lain atau siapapun. Harapan yang kamu ciptakan sendiri. Andai sejak awal aku tau kalau mencintai Arghi akan sesakit ini, mungkin saat Arghi memintaku untuk kembali berhubungan dengannya aku tolak. Aku tidak akan membiarkan hatiku jatuh teralu dalam pada semua ucapqn manis Arghi itu. Bahkan setelah pertengkaran dalam ponsel itupun Arghi sama sekali tidak mencoba meminta maaf langsung padaku, ia bahkan kembali bersikap cuek padaku. Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku rasakan. Aku bahkan sampai menangis, menahan semua rasa sakit akibat cemburuku pada perempuan itu. Apa yang sudah perempuan itu perbuat sampai Arghi tidak bisa melupakannya. Apakah perempuan itu bermain dukun. Astaghfiruallah! Kenapa rasa cinta ini justru membutakanku, membuat otakku tidak bisa berpikir jernih. Andai aku tidak kenal rasa takut, kesepian dan tidak bisa mencintai, aku sudah berhenti. Karena posisinya hanya aku yang mencintai Arghi, sedangkan tidak ada timbal balik dari Arghi sendiri. Hari ini aku mau mengambil notebook di tempat service, kalau kamu mau cerita, kita bisa bertemu dan ngobrol. Pesan Hesyam kembali masuk, andai nama Hesyam itu berubah menjadi Arghi aku pasti akan langsung mengiyakannya. Kenapa aku harus terus memupuk harapan ketika orang yang aku damba saja tidak pernah memikirkanku. Baik, Gi. Kita bertemu di Delizha Kafe. * * * Pukul 15.30 WIB aku segera berangkat menuju kafe Delizha, di mana aku akan bertemu dengan Hesyam. Aku memang tidak menyukai Hesyam, namun anehnya aku selalu setuju untuk mengiyakan ajakannya jika bertemu atau sekedar menemaninya untuk membeli buku atau apapun itu. Suasana kafe tampak begitu lengang, mungkin karena baru saja turun hujan jadi belum banyak yang berkunjung. Sebuah mobil berwarna abu-abu tua terparkir di pelataran kafe, aku hafal betul dengan plat nomor mobil itu. Ya, mobil milik Hesyam. Aku memarkirkan motorku tak jauh dari mobil milik Hesyam, mungkin karena hujan Hesyam membawa mobil untuk mengambil notebook miliknya. "Sudah lama?" Hesyam duduk di pojok sebelah kiri, ia duduk di dekat sebuah jendela besar yang membatasi ruangan ber-AC dan smoking area. "Belum, baru saja. Aku juga belum pesan menu." "Mau aku pesankan?" Karena aku masih berdiri, aku menawari Hesyam untuk kupesankan menu yang bisa kami nikmati berdua sembari mengobrol. "Biar aku saja, kamu duduk tunggu di sini. Kamu mau pesan apa?" Aku menoleh pada papan menu yang terpampang tak jauh dari meja kasir. Suasan dingin begini rasanya lebih cocok menikmati kudapan yang hangat. " Hot chocolate saja, Syam." Heyam segera berdiri dan berjalan menuju meja kasir. Sebenarnya aku tidak enak, jika setiap kali keluar bersama Hesyam, dia selalu mentraktirku untuk setiap makanan / minuman yang aku nikmati. Hesyam tidak bekerja, aku yakin dia tidak memiliki pemasukan. Jadi, kemungkinan besar dia memakai uang saku yang diberikan oleh orangtuanya. * * * Setelah memesan menu, Hesyam kembali duduk di kursi. Dia duduk di hadapanku. "Tempatmu gak hujan, Ra?" "Hujan Syam, makanya aku agak telat karena harus menunggu hujan reda. Kamu bawa mobil?" "Iya, motorku sedang masuk bengkel. Kebetulan ibu tidak membawa mobil ke sekolah, jadi aku bawa saja." Rasanya kalau aku jadi Hesyam, aku juga tidak akan khawatir jika pun tidak bekerja. Toh, semua fasilitas yang diberikan oleh orangtuanya lengkap, bahkan jauh lebih dari cukup. "Oh, begitu. Bagaimana kabar anak-anak? Mereka sudah mulai belajar tentang kerajinan yang dulu kamu bahas itu?" "Sudah, mereka sekarang ada yang mulai belajar membuat tas dari sampah plastik, seperti bungkus kopi instan, jajanan dan aku taruh karya mereka di akun sosial mediaku. Barang kali ada yang berminat." "Lalu, ada yang berminat?" "Lumayan sih Ra, kemarin ada lima buah sepertinya yang sudah terjual." "Wah ... lumayan, selain mengurangi sampah plastik, juga bisa kasih pemasukan buat murid kamu. Harusnya orangtua kamu bangga Syam sama kamu." Hesyam tersenyum kecut mendengar ucapanku barusan, aku juga seolah tidak sadar dengan ucapanku yang mungkin membuat Hesyam merasa tidak enak. "Apa yang bisa dibanggakan? preatasiku jauh jika dibandingkan dengan kakak dan adik perempuanku. Kenapa orangtua harus berekspektasi begitu tinggi pada anak-anaknya? Tanpa tau batas kemampuan anaknya." "Silahkan ..." Pesanan kami berdua datang, satu hot chocolate, dua piring roti bakar dengan selai cokelat dan selai stoberi dan satu botol air mineral tersaji. Bahkan untuk makanan saja, Hesyam lebih paham dibandingkan Arghi. "Terimakasih ..." Aku dan Hesyam sama-sama mengucapkan terimakasih. Setalah selesai menata makanan di atas meja, pelayan itu segera pergi. "Jangan begitu, gak gaik Syam." Aku kembali menanggapi ucapan Hesyam. "Apa kamu pernah tanya kenapa orangtua mengharuskan anak-anaknya untuk membalas budi pada mereka?" Kalau kita merunut pada ajaran Islam maka membalas budi pada orangtua tidak akan pernah bisa terlaksanakan. Sekalipun kita menggendong ibu kita dari rumah sampai Ke Mekkah tidak akan bisa membalas semua jerih payah ibu kita, jangankan jerih payah setiap jeritan saat beliau mengeluarkan kita dari dalam kandungan tidak akan bisa ganti dengan hal apapun di dunia ini. "Itu sudah kewajiban, syam." "Lalu kenapa orangtua seenaknya saja sama kita? Yang satu menyuruh untuk bekerja sebagai progamer, yang satu lagi menyutuh untuk ikut tes CPNS. Jujur ra dari orangtuaku saja aku sudah tidak termotivasi. Hanya duniawi yang mereka pikirkan. Dulu ketika aku semangat mereka patahkan semangatku, mungkin mimpi-mimpiku dulu terlalu tinggi, sampai mengalami banyak kekecewaan." "Untuk sekarang ini kamu mau melakukan apa?" "Tidak ada, aku tidak memiliki motivasi untuk mau melakukan hal apapun. Aku hanya berdoa. Allah yang memberikanku ujian dalam hidup, maka Allah juga yang patsi akan memberikan jalan untukku bisa sembuh. Aku sudah mencoba memaksakan diriku agar semangat, memaksakan diri untuk berpikir, tapi tetap saja yang Kuasa adalah Allah Ra. Aku bisa apa?" Banyak, Syam. Kamu bisa berusaha untuk bangkit. Kamu punya fasilitas, punya kemampuan, bahkan kamu punya ijasah yang mumpuni untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, Syam. "Ya sekarang nungkin kamu harus menata hati dulu, Syam. Pikirkan baik-baik apa yang kamu inginkan." "itu dia, aku belum menemukannya, Ra. Aku masih harus mencari penyemangatku. Yang paling tidak suka adalah sikap Ayahku. Orang terdekatku sendiri." "Memangnya bagaimana?" "Galak, dia selalu memberitahuku untuk melakukan ini itu, semuanya benar-benar membuat pikiranku menjadi runyam. Hesyam membuka air mineralnya, meneguknya dua kali sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Dulu saat aku bekerja di salah satu perusahaan bergengsi di Semarang, aku sangat menikmatinya, bahkan aku merasa nyaman dan senang dalam menjalaninya. Tapi, saat itu juga ayahku bilang kalau kerja ikut orang itu tidak selalu senang terus. Akhirnya aku yang kelimpungan sendiri, pikiranku mulai ke mana-mana." "Sudah terlanjur malas, ya, Syam?" "Iya, malas dengan semua omongan ayahku. Ya ibuku tau, kalau Ayah memang sangat keras, bahkan keluarga dari ibuku pun tau kalau ayah memang keras." "Sabar, mungkin ayah kamu melakukan itu juga karena ingin yang terbaik buat kamu." "Ra, Terkadang di pikiran kamu, pernah gak terbersit satu pikiran negatif tentang kehidupan kamu? kalau memang pernah, bagaimana cara kamu mengatasinya?" "Aku langsung ingat tentang semua keinginanku." Di saat semua orang sibuk mencari pekerjaan untuk memenuhi hidupnya, nyatanya di sini ada manusia yang maish sibuk mencari motivasi untuk hidupnya. Ya, mungkin kalau aku jadi Hesyam aku malah tidak akan mencari motivasi, toh fasilitas yang diberikan oleh orangtuanya saja sudah lebih dari cukup. "Memangnya saat ini apa yang kamu inginkan, Ra?" "Ingin menjalani hidup yang bahagia, apa mungkin karena latar belakang kekuargaku orang yang tidak mampu, jadi yang aku kejar hanya materi. Dari dulu aku hidup tidak berkecukupan." Aku tidak akan munafik, aku tumbuh dari keluarga yang alhamdulillah berkrcukupan, tapi untuk bisa seperti orang lain aku harus bekerja keras. Aku harus mencukupi semua kebutuhanku sendiri. Bahkan bukan hanya kebutuhanku sendiri, tapi kebutuhan di rumah juga. Aku bukan lagi tulang punggung, tapi aku adalah semua bagian dari anggota tubuh untuk tetap bisa tegap berdiri dan tahan banting. Aku tidak mungkin menuntut ayah atau ibuku untuk memenuhi semua keinginanku, di saat aku tau kalau mereka pun terkadang diam-diam harus berhutang hanya demi memenuhi kecukupan hidup kami sekeluarga. "Menurut sudut padangku, orang kaya juga tidak selalu bahagia. Apalagi sampai mengaku menghidupi anak, merasa berhak atas hidup anak. Mengatur segala macamnya, anak harus begini, anak harus begitu. Harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan, jadi hidupnya penuh dengan beban." "Ya, tapi apapun yang kamu inginkan semuanya juga terpenuhi kan? Nah, untuk memenuhi apa yang anak-anaknya minta, orangtua harus bekerja keras semasa mudanya. Bahkan sampai harus menitipkan anak-anaknya pada orang lain. Maka dari itu, orangtua punya ekspektasi lebih pada anak-anaknya, salah satunya punya pekerjaan yang baik." "Iya, pengalaman hidup orang beda-beda, Ra." Dalam diriku seolah tak ada kata mengalah saat aku harus berhadapan dengan Hesyam. Meksi ucapan Hesyam terkadang membuatku tenang, namun tidak sedikit juga ucapan Hesyam membuatku seolah mempertanyakaan tentang betapa tidak adilnya kehidupan ini sampai aku harus menyangkal semua pemikiran tentang Hesyam. Hidup memang tidak melulu tentang uang, tapi semua tentang kehidupan membutuhkan uang. Bukan aku matre, tapi aku hanya bersikap realistis tentang kehidupan ini. Hesyam bisa saja bilang kalau apa yang diinginkan oleh orangtuanya adalah sebuah beban, tapi tidakkah dia berpikir bagaimana pengorbanan orangtuanya dulu untuknya. Saat orang lain tak memiliki motor, Hesyam sudah memilikinya, bukan motor biasa, tapi yang harganya pun mahal. Di saat orang lain mulai memakai motor, Hesyam sudah memiliki mobil, bahkan ia bisa menyetir sendiri. Di saat orang lain berjuang hanya demi agar bisa kuliah, Hesyam hanya perlu memikirkan bagaimana nilai mata kuliahnya. Lalu siapa yang sebenarnya tidak tau diri? "Syam ..." Aku menggenggam tangan Hesyam. "Belajar pelan-pelan, motivasi diri kamu sendiri. Semuanya itu demi kebaikkan masa depan kamu. Memangnya kamu tidak mau menikah?" "Memangnya ada perempuan yang mau denganku di saat keadaanku seperti ini?" Mungkin kalau perempuan itu tidak memikirkan masa depanmu, perempuan itu akan mau Syam untuk menikah dengan kamu. Hidup dari uang orangtua kamu. "Kalau sudah waktunya, memangnya ada orang yang bisa menolak jodoh?" Aku rasa saat ini, aku sedang berhadapan dengan sisi lain dari Hesyam. Hesyam yang penuh dengan penyangkalan dan berpikiran pesimis. Padahal saat aku bertemu dengannya di toko buku tempo hari lalu, Hesyam bersikap sangat bijak dan bahkan mampu membuatku melupakan Arghi. Ah ... Arghi, sejenak aku lupa dengan urusanku. Aku lupa dengan sakit hatiku yang dibuat oleh Arghi, aku ikut sibuk memikirkan bagaimana kehidupan Hesyam. "Kamu harus menikah Syam, hidup pisah dari orangtua kamu. Supaya kamu bisa lepas dari tekanan ayah kamu. Kamu punya masadepan sendiri. Mungkin kamu bisa mengontrak, atau mencari kos-kosan untuk kamu dan istdi kamu tinggal sementara waktu." Lanjutku pada Hesyam. "Kalau nanti aku tidak bisa menikmati perkawinanku dengan istriku bagaimana?" "Maka dari itu, kamu harus memilih calon yang tepat. Agar bisa mengubah sudut pandang kamu terhadap kehidupan, Syam." "Insyaallah, tahun depan aku mau daftar tes CPNS, Ra." Hesyam memgalihkan pembicaraan, aku benar-benar tidak suka.melihat sikap pesimis dari Hesyam ini. Bagaimana bisa dia memikirkan kemungkinan terburuk yang begitu tinggi ketimbang kemungkinan keberhasilannya. Padahal ini adalah soal masa depannya. "Bagus dong, semoga lanca, Syam. Insyaallah aku akan mendoakan yang terbaik untuk kamu." "Terimakasih, Ra. Aku mau daftar lewat jalur disabilitas semiga saja boleh." Kenapa disabilitas, kalau secara fisik dia begitu sempurna. "Memangnya tidak boleh?" "Maksudnya, semoga orangtuaku mengijinkannya, Ra." Memiliki orangtua yang kolot memang tidak merugikan, tapi jika seperti ini pun sepertinya akan menyusahkan anak-anak mereka atas harapan yang begitu tinggi. Di saat seperti ini, terkadang aku merasa bersyukur dilahirkan dari keluarga seorang buruh tani yang sederhana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN