Kejadian tiga hari yang lalu masih begitu hangat di pikiranku, aku bahkan maaih bisa tersenyum saat mengingatnya. Semua celotehan Arghi dan sikap Manis Arghi padaku.
Namun, selama tiga hari itu juga Arghi sama sekali tidak mengabariku. Bahkan pesanku saja tidak ia balas, namun ia masih sempat untuk menulis sebuah status di sosial medianya.
Ibarat anak muda, perasaanku sekarang tidak menentu, aku sedang galau.
* * *
Ana menatapku dengan seksama, tadi sebelum jam kerja ku selesai, dia mengirimiku pesan untuk menunggunya. Dia membawakanku sebungkus soto ayam yang biasa kami nikmati bersama dulu saat masa SMA.
"Makan, jangan sampe gak makan."
Aku hanya terkekeh, menggantungkan soto ayam yang terbungkus rapih di dalam plastik hitam itu di motorku kemudian memotretnya.
*gambar
Pacarku, paling perhatian.
Aku mengetikkan kalimat di bawah gambar sebungkus soto ayam itu di sosial mediaku.
Aku sengaja melakukan ini, berharap Arghi akan pensaran dengan kalimatku itu. Atau lebih lagi dia bisa cemburu, aku pasti akan lebih bahagia.
"Kamu upload?"
"Iya, siapa tau Arghi tanya aku dikasih makanan sama siapa, atau lebih lagi dia cemburu sama apa yang aku tulis. Makasih udah bawain soto buat aku."
"Jangan galau terus, orang udah mau nikah juga. Kenapa kamu masih harus berharap dia cemburu atau tidak Ra, kalau kalian saja sudah pasti akan menikah."
Galau, bagaimana aku tidak galau kalau sikap Arghi seperti ini. Rasanya ini jauh lebih menyakitkan daripada saat aku bersama Jihan dulu. Mungkin karena aku terlalu cinta pada Arghi sehingga membuat posisiku saat ini justru seakan-akan aku yang mengejar Arghi.
"Apa aku gak usah mengharap Arghi lagi, ya, Na?"
"Kenapa? ada apa lagi? bukannya kemarin kalian baru aja manis-manis, malma mingguan bareng, eh sekarang malah mau putus."
"Bingung aja, sikap Arghi benar-benar cuek."
"Cuek?"
"Iya, masa iya ada orang yang betah tidak saling berkirim kabar. Apalagi ini sama pacar sendiri. Tiga hari An dia sama sekali gak nyapa ataupun tanya aku bagaimana. Pesanku juga sama sekali tidak dia balas. Padahal dia juga update status."
"Rumah kalian kan deket, kenapa kamu gak langsung ke rumahnya saja, Ra? Kalau aku jadi kamu, aku sudah samperin dia ke rumahnya."
"Kalau aku datang ke rumahnya, yang ada di makin tambah besar kepala."
"Besar kepala bagaimana?"
"Ya, dia pasti akan berpikir kalau aku sangat menginginkan dia. Dia akan ada di atas angin."
"Kalau mikir gengsi terus, perasaan kamu yang akan jadi korban Ra. Uring-uringan kaya gini."
Andai kamu tau An, kenapa aku tidak mau datang ke rumah Arghi. Di saat aku bersama Arghi aku menjadi sangat lemah, bahkan apa yang sudah aku pikirkan jauh-jauh tidak akan bisa tersampaikan dengan lugas. Pada akhirnya bukan pembicaraan yang kami lakukan. Melainkan kontak fisik yang memang sangat diinginkan oleh Arghi.
Aku seolah-olah hanya pemuas nafsunya saja, di saat dia ingin melakukan kontak fisik, Arghi seolah tak segan menghubungiku, bahkan hujan turunpun ia terabas hanya untuk bisa menemuiku di rumah.
Namun, di saat aku merasa kalau aku membutuhkannya hanya untuk sekedar bercerita, dia selalu menolak ajakanku atau menolak pemrintaanku agar dia datang ke rumah.
Dengan status seperti ini, aku merasa kalau diriku benar-benar tidak ada harganya lagi di mata Arghi.
"Baru kemarin kalian bahagia, jalan bareng, dorong motor bareng, eh . . . sekarang kamu udah sedih lagi, Ra. Udah jangan mikir soal gengsi, datang aja ke rumahnya dia."
"Aku kayak anak ABG lagi, ya Ra?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ngelebihin, Kayaknya dulu kamu kalo pacaran gak pake hati deh. Gampang juga kan kenal sama cowok. Kenapa sekarang sama Arghi kamu sampe kaya gini coba?"
"Gak tau, kali ini aku benar-benar jatuh cinta. Kayak, He's the one, An."
"Lalu kenapa kamu masih ragu gini coba?"
"Kalau hatiku yakin, tapi sikapnya Arghi cuek begitu apa menurut kamu keyakinanku perlahan tidak akan memudar? Tidak ada bedanya sama Jihan juga pada akhirnya, An."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Untuk memutuskan sebuah pemikiran kalau Arghi itu adalah The One pasti bukan karena sikapnya dia yang manisnya cuma sebentar-sebentar kan, lalu bagaimana dengan Jihan? Apa dulu kamu juga merasa kalau Jihan itu The one buat kamu? sampai kamu mengiyakan ajakan menikah Jihan."
"Gak, An." Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapanku. " Aku tidak pernah berpikir kalau Jihan adalah the one and only buat aku. Beda sama perasaanku sekarang ke Arghi."
"Maksud kamu? Jadi kamu tidak cinta pada Jihan?"
"Ya, aku cinta. Tapi beda sama apa yang aku rasain sekarang ke Arghi."
"Kirain kamu gak cinta sama Jihan. Jadi cinta kamu ke Arghi lebih besar gitu?"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Tapi kalau misalnya nih, misalnya ..."
"Apa?"
"Arghi cuek, dia bahkan mencampakkan kamu. Lalu Jihan datang dan mengajak kamu untuk rujuk, bagaimana?"
Aku terdiam sejenak, sama sekali tidak pernah terlintas di benakku tentang rujuk dengan Jihan.
"Rujuk, rasanya tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Ya terlepas dari apa yang sudah terjadi, bagaimanapun kami berdua pernah menjadi sepasang suami istri. Pernah tidur bersama, pernah menjalani hidup bersama, kalau ditanya cinta, ya pasti aku cinta. Apa aku bahagia? iya, aku bahagia. selama dua tahun aku menjalin rumah tangga dengan Jihan, aku juga pernah merasakan bahagia, gak cuma sedihnya aja. Jihan juga memiliki sifat yang baik, mertuaku juga punya sisi baiknya juga. Tapi, mungkin jodoh kami cukup sampai di sini."
"Iya, bener Ra. Jangan mengulang buku dua kali, kalau kita sudah tau bab mana yang paling susah untuk dipecahkan."
"Itu kamu tau."
"Oh, iya, aku dengar Jihan sudah mau menikah lagi, ya?"
Bukan kali ini saja aku mendengar berita ini, beberapa orang juga mengatakan kalau Jihan sudah mendapatkan jodoh dan hendak segera menikah.
"Iya, aku juga dengar begitu. Kamu tau dari mana?"
"Aku kan masih punya sosial medianya, Ra."
Aku turut berbahagia kalau memang benar adanya, aku selalu mendoakan agar Jihan bisa bertemu dengan jodoh yang sepadan dengannya. Sepadan dalam kekayaan ilmunya, sepadan dengan kekayaan materi keluarganya.
"Semoga jodohnya kali ini till jannah An. Smeoga dia bisa berubah, orangtuanya juga berubah."
Salah satu faktor perceraianku dulu adalah karena orangtua Jihan selalu ikut campur dalam berbagai hal yang seharusnya kami putuskan berdua. Seolah aku orang asing, tak dianggap di sana. semua pendaptaku seolah tak ada artinya lagi.
"Oh, iya, si Hesyam itu, bagaimana? kalau memang kamu cocok sama dia, ya, kenapa kamu gak lebih milih sama dia?"
"Bukan masalah cocok Ra, kayaknya sekarang kalau mau nikah juga aku tidak hanya memikirkan cocok atau gaknya, cinta atau gaknya. Tapi yang bisa aku ajak untuk berpatner dalam hidup."
"Memangnya dia gak bisa, Ra?"
"Apa aku sudah pernah cerita kalau dia pernah depresi?"
Ekpresi terkejut Ana tampak begitu nyata, "Yang bener?"
"Iya, dan lagi ibuku kurang setuju kalau aku menjalin hubungan dengan Hesyam."
"Karena dia pernah depresi?"
"Gak, karena dia gak kerja."
"Maksud kamu?"
"Iya, dia pengangguran dengan gelar S2nya itu, An. Dia pernah mengajakku untuk menikah, setelah itu dia mengajakku untuk hidup jauh dari hiruk pikuk dunia. Dia memintaku untuk bercocok tanam bersamanya nanti."
"Jadi petani sawah?"
"Iya. Sawah warisan milik orangtuanya melimpah, dia ingin hidup menjadi petani, bukan pegawai negeri sipil seperti kedua orangtuanya."
"Ya, gak apa-apa kan? selagi halal, bukannya malah mending kalau jadi istri petani? panen berlimpah. Eh ... Tapi jangan deh, kan dia stres gimana kalau pas kalian udah nikah terus tiba-tiba dia stres?"
"Nah ... Pemikiranku juga sampai situ. Dia bilang mungkin kalau dia menikah dia akan sembuh dan mungkin akan mendapat pekerjaan. Tapi, siapa yang akan menjamin kalau setelah menikah dia tidak akan kumat-kumatan lagi dan punya pekerjaan tetap?"
"Iya, juga ya. Ya udah terserah kamu, kamu pasti tau mana yang terbaik buat diri kamu dan masa depan kamu, Ra."
Mempunyai teman seperti Ana mungkin adalah salah satu rejeki luar biasa dalam hidupku. Dia selalu ada di saat aku sedang bersedih, selalu menolongku entah itu secara materi atau hanya sekedar permintaan tolong untuk melakukan sesuatu.
Di saat orang lain bertanya, 'Temanmu itu saja-saja, emangnya gak bosen?'
Daripada teman banyak, tapi saat diminta bantuan tidak ada yang mau membantu.
* * *
Ponselku masih belum menerima pesan dari Arghi. Selesai mandi sore, sembari menunggu maghrib aku membuka akun facebookku. Terkadang saat suntuk aku bisa terhibur dengan beberapa video lucu yang muncul di berandaku.
Telunjukku perlahan mulai menaik-turunkan layar ponselku. Membaca beberapa tulisan di berandaku yang diupdate oleh teman di akunku.
Di jaman sekarang ini banyak sekali orang-orang yang mencurahkan isi hatinya di sosial media mereka. Entah itu perihal percintaan atau bahkan kehidupan. Tak jarang para ibu-ibu yang berkeluh kesah tentang kehidupan rumahtangganya. Suaminya yang nakal, atau bahkan perekonomian yang menghimpit kehidupan runahtangga mereka. Entah apa tujuan sebemarnya dari itu semua, apakah mereka ingin mencari popularitas atau celah agar orang lain bisa masuk dan menjadi perusak hubungan.
Ada juga yang mengeluh tentang kehidupannya bersama mertuanya. Menjelek-jelekkan mertuanya. Dulu mungkin aku alan berkomentar, "seharusnya kalau kamu cinta sama anaknya, kamu.juga harus bisa menerima ibunya yang cerewet itu." Tapi, sekarang aku tidak akan mungkin berkata seperti itu karena aku pernah merasakan hidup bersama mertua.
Mau sebaik apapun mertua kita, sekuat apapun ucapan "kalian sudah menikah, maka ibu suamimu adalah ibumu, dan ibumu adalah ibu suamimu" tidak akan merubah kenyataan kalau mertua dan menantu tidak akan pernah bisa menyatu.
Aku jadi teringat akan ucapan atasanku dulu, kalau kita menikah sesudah menikah nanti kalau bisa jangan tinggal dengan mertua. Mau banyak uang atau tidak, kalian harus hidup berpisah dari keluarga kalian masing-masing. Kalian harus memikirkan rasanya memenuhi kebutuhan hidup.
Tidak harus langsung memiliki rumah, mungkin dengan cara mengontrak terlebih dahulu. Kita harus merasakan rasanya membayar listrik, uang air, membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Di saat itu semua dilakukan seiring berjalannya waktu, pasti rasa kasih sayang akan tumbuh semakin kuat. Rasa takut kehilangan juga akan semakin kuat. Yang paling utama adalah membangun dasar kehidupan berdua, antara suami-istri. Jika pondasinya sudah kuat, maka sebesar apapun badai datang, tidak akan mampu menggoyahkan biduk rumahtangga kita. Karena kunci utamanya bukan hanya cinta, tapi banyak hal lainnya lagi.
Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan.
Mataku berkali membaca status itu. Ya, status itu ditulis Arghi tiga menit yang lalu. Apa maksudnya, siapa yang hendak ia temui? Apakah mantan kekasihnya?
Siapa yang mau kamu temui? Apa kamu baru saja bertemu dengan mantan kekasihmu itu?
Aku segera mengetikan pesan itu pada Arghi. Aku masih berpikir waras untuk tidak menuliskannya di kolom komentar Arghi, andai api cemburu sudah membakar akal sehatku aku pasti sudah menulis berbagai macam kalimat di kolom komentar AArghi.
Gak, aku gak habis ketemu sama dia. Aku cuma nulis doang.
Oh, Jadi kamu masih berharap kalau kamu akan bertemu dengan dia?
Tidak, bukan begitu. Ya, bisa saja nanti kami bertemu saat kita menikah nanti dia datang dan kondangan.
Apa aku harus percaya dengan ucapan Arghi ini, kenapa semakin ke sini justru semua ucapan Arghi semaki mirip dengan buaya darat yang tidak punya tanggungjawab dalam hidupnya. Hanya bualan semata untuk menenangkan suasana.
Tolonglah, jangan seperti ini. Kita sudah jarang bertemu, bahkan kita jarang bertukar pesan. Lalu kamu malah menulis hal sepwrti iyu yang membuatku berpikir negatif. Aku sudah mencoba untuk memahami semua sikap kamu, memahami kalau, oh ... mungkin kamu sibuk, tidak ada waktu untuk membalas pesan aku. Tapi, sikap kamu sendiri yang justru meruntuhkan semua pertahananku Ghi.
Kamu jangan salah paham, Ra. Aku gak bertemu sama dia.
Dia masih tidak paham bagaimana posisinya saat ini. Kenapa dia masih merasa kalau ini adalah masalah yang sepele?
Di saat aku berharap dia mengupload fotoku, atau menggubris semua keluh kesahku di sosial media, dia justru bersikap cuek. Dan dengan terang-terangan dia menulis sebuah status kalau dia masih berharap untuk bertemu dengan perempuan itu.
Iya, kamu memang tidak bertemu dengan dia, tapi kamu masih berharap akan pertemuan itu! Kalau kamu masih berharap, itu artinya suatu saat jika memang ada kesempatan kamu pasti akan melakukannya.
Apa resikonya terlalu berat kalau orang-orang yang mengenal Arghi tau tentang hubungan kami? sampai-sampai dia harus mem-private hubungan kami ini. Bahkan untuk sekedar meng-upload foto sedang bergandengan tangan saja Arghi langsung menghapusnya.
Dengan sikapnya yang cuek seperti itu apa aku bisa yakin dengan semua janji manis yang arghi ucapkan padaku?
Aku minta maaf, aku salah.
Bahkan aku tidak bisa merasakan ketulusan dari apa yang Arghi tulis itu.
Sekarang aku masih bisa berpura-pura bodoh Ghi. Berpura-pura kalau apa yang kamu katakan adalah sebuah kejujuran. Tapi, sekarang yang jadi pasangan kamu adalah aku Ghi, bukan dia. Di manapun kamu berada, harusnya kamu selalu ingat akan itu semua Ghi!