10

2069 Kata
"Nanti malam kita jalan." Aku tersadar dari lamunanku saat pesan dari Arghi masuk ke ponselku, malam ini ia mengajakku untuk pergi keluar. Hari ini Arghi sepertinya pulang lebih awal dan lagi besok dia libur kerja. Bagaimana aku bisa tau? Biasanya saat awal bulan Arghi mengirimiku jadwal shiftnya dan juga absennya. Jadi sedikit banyak aku bisa tau kapan dia masuk kerja dan libur kerja. Tapi, hal itu juga yang membuatku terkadang overthinking saat dia tidak membalas pesanku. Habis isya ... Aku segera membalas pesan Arghi, bagaimanapun kesempatan langka seperti ini tak bisa diabaikan begitu saja, kalau perlu aku akan membatalkan semua urusanku. Aku sampai bercerita pada Ana kalau aku ingin sekali diajak pergi oleh Arghi karena biasanya aku yang selalu mengajak Arghi pergi namun ia selalu menolaknya. Oke, sayang. Nanti aku jemput kamu, setelah isya. Arghi adalah orang yang pendiam, dia tipikal laki-laki yang lebih suka menunjukkan aksi daripada kata-kata. Terkadang itu yang membuatku kehabisan topik saat duduk berdua atau sekedar chatingan bersamanya, karena di saat seperti itu akulah yang selalu mencari topik agar kami berdua bisa terus saling mengobrol. Sekilas speerti aku saja bukan yang antusias dengan hubungan ini? Iya, rasanya aku yang terus-terusan mengejar Arghi. "Ra, lagi ngapain?" "Gak lagi ngapa-ngapain bu, ada apa?" "Tolong ambilkan baju di tempat mbak Ida, tadi mbak Ida telfon ibu, katanya udah selesai." Aku baru ingat baju yang dipermak di tempat mbak Ida saat aku pergi melayat ke rumah Anis. Aku belum sempat mengambilnya. "Ya udah, Kiara ambil setelah ini." Aku membereskan laptop dan beberapa buku yang ada di atas meja. Ternyata ibu masih berdiri di ambang pintu sedang menatapku. "Kenapa bu, masih ada yang mau ibu bicarakan lagi? "Gak, cuma soal Arghi. Kapan tepatnya kakaknya mau datang ke sini?" Arghi belum memberiku kepastian soal hal ini, ia juga seolah lupa dengan apa yang sudah dia bicarakan kemarin. Setiap kali aku hendak menyerempet membicarakan hal ini, ia selalu mencoba mengalihkan pembicaraanku. "Nanti Kiara tanyakan lagi bu, katanya Kakaknya masih di luar kota. Belum bisa pulang di waktu dekat ini." Aku tidak berbohong, memang kenyataan, kakaknya masih ada di luar kota, namun aku juga tidak tau kapan kepastian itu akan datang. "Ya ibu cuma tanya aja, kalau memang dia sungguh-sungguh gak usah kebanyakan ini-itu, pesta meriah, cukup ke KUA, yang penting kalian sah. Jangan lama-lama pacarannya, malah jadi omongan orang." Andaikan saja ibu tau perasaanku sekarang, aku jauh lebih menginginkan hal itu. Aku ingin segera disahkan dalam ikatan sebuah pernikahan, tapi itu semua tergantung pada Arghi. "Zinah nanti jatohnya," Perasaanku bergejolak mendengar ucapan Ibu barusan, bu, anakmu sudah banyak melakukan dosa. Bagaimana anakmu ini meminta ampunan pada Allah dan padamu, bu. * * * Rumah Mbak Ida tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya dengan berjalan kaki 5 menit saja, aku sudah sampai di rumah mbak Ida. Dari luar, suasana rumah Mbak Ida tampak begitu ramai. Beberapa motor terpakir di pelataran rumah mbak Ida. Seharusnya aku tidak datang sekarang. "Kenapa tidak jadi masuk?" Aku menoleh saat seorang laki-laki menegurku yang hendak kembali puang. "Oh ... sepertinya ada tamu, nanti saya kembali lagi saja." "Mau ketemu sama Bu de?" laki-laki itu melongok ke arah dalam sebentar, "Bu de lagi jahit, kamu masuk aja." Aku kembali mengurungkan niatku untuk pulang dan melangkah masuk ke rumah mbak Ida. "Mau jahit?" Laki-laki itu kembali bertanya. "Gak, mau ambil jahitan. Permisi, mas." Laki-laki berpawakan tinggi itu sedikit menyingkir dari ambang pintu, memberikan jalan agar aku bisa masuk. "Ra," Mbak Ida menyapaku sebentar kemudian kembali sibuk pada jahitannya. "Celana bapak sudah jadi?" "Sudah, Ra. Mau diambil?" "Iya mbak." "Bahannya sudah rapuh banget, Ra." "Iya, itu dipake terus buat kerja Mbak. Makanya tambalannya juga banyak kan?" "Iya, ini bayar sepuluh ribu saja, Ra." "Oh, iya, mbak. ini." Akau menyerahkan selembar uang sepuluh ribu pada Mbak Ida dan menerima celana bapak yang sudah selesai di permak. "Lagi ada ada acara, ya mbak?" "Gak, itu adik Mbak Ida sama suaminya. Emaknya mbak ida kurang enak badan jadi mereka datang ke sini buat jenguk." Aku menoleh ke arah luar, menatap laki-laki jangkung itu yang kini sudah berjongkok di samping kolam ikan. Sesekali kepulan asap keluar dari mulutnya. "oh, sejak kapan?" "Kemarin, biasa Ra orangtua kalau sudah sepuh ya badannya gampang capek." "Iya, sama saja gak tua gak muda mbak." "Ambil apa bu de?" Suara laki-laki itu menyelak di antara obrolanku dan Mbak Ida. "Permak Rul." "Memangnya Bu de terima permak juga?" "Iya, lah lumayan Rul. oh, ini ponakan mbak Ida Ra, namanya Rully." "Rully ..." Laki-laki itu mengulurkan tangannya. "Kiara ..." Rully tidak segera melepas jabatan tanganku, aku mungkin berbohong kalau bilang Rully tidak tampan. Perawakannya yang tinggi, badannya tidak terlalu kurus, kulitnya yang putih bersih sudah menambah poin plus untuk fisiknya. "Jangan lama-lama salamannya, nanti naksir, dia udah ada yang punya, Rul." tawa mbak Ida memggelegar di ujung kalimatnya tadi. Apa mbak Ida sudah tau soal hubunganku dengan Arghi? "Yang punya doang mah gak apa-apa, selama janur kuning belum.melengkung siapapun boleh mendekati." Apa setelah tau kalau aku adalah Janda tanpa anak, kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu akan tetap bisa ia pertahankan? "Ada-ada saja." Aku segera menarik tanganku dari genggaman Rully. Rully terkekeh, " Aku tinggal masuk dulu." Rully berjalan masuk ke ruang tengah, meninggalkanku dan Mbak Ida di ruang tamu. "Jadi kapan nih?" Begitu Rully sudah menghilang dari peredaran pandangan, Mbak Ida segera bertanya padaku. "Apanya mbak?" Mbak Ida tersenyum padaku, senyum yang seolah menggoda. "Katanya kamu sudah mau menikah dengan dia." "Mbak kata siapa?" "Ah, kabar sudah beredar, sudah lama kalian berpacaran? Gak apa-apa sama dia juga, dia sholeh Ra. Maghrib, isya' dia selalu jamaah di mushola." Ternyata kabar kedekatanku dengan Arghi sudah sampai ke banyak telinga orang. Penilaian orang terhadap Arghi begitu baik, Dia juga terkenal pekerja keras. Anak yang baik, tidak banyak neko-neko. Andai mereka tau bagaimana sifat asli Arghi, mereka pasti akan menolak menerima. Kenyataannya Arghi tidak seperti itu, ia jauh lebih lihai dibandingkn dengan belut sawah. Licin! "Dari sejak awal tahun Mbak, hampir 4 bulan." Aku mulai menjelaskan. "Tapi, belum ada rencana untuk sampai ke tahap itu." "Kenapa?" "Dia masih harus banyak untuk menabung, dia bilang uangnya belum cukup untuk kami berdua melangkah ke jenjang pernikahan. Dia sudah yatim piatu, apa-apa harus dia pikirkan sendiri. Ada kakaknya, mungkin bisa membantu tapi tidak sepenuhnya." "Iya, sabar saja. Doakan semoga dia banyak rejeki, jadi dia bisa cepat melamar kamu, Ra." Tak harus diminta, aku selalu mendoakan Arghi. Menikah itu sebenarnya murah, yang mahal adalah gengsinya. Bagiku, cukup sah di mata agama dan catatan sipil, itu sudah cukup. Tapi, Arghi berkelit, ia memiliki alasan kalau nanti rekan kerja sejawatnya pasti akan tetap datang. Tidak mungkin nanti kalau dia membiarkan tamunya begitu saja. * * * Ba'da isya' aku sudah bersiap-siap. Malam ini Arghi mengajakku untuk pergi, ia bilang ada sesuatu yang harus aku beli. Otakku sudah memikirkan hal yang pastinya akan membahagiakan. Suara motor Arghi terdengar di luar, aku segera merapikan jilbabku dan menenteng tas selempangku. "Siapa di luar?" "Arghi bu, aku berteriak dari dalam kamar." "Kamu mau ke mana?" Aku belum bilang pada Ibu kalau malam ini, aku akan pergi bersama Arghi. Kalau aku bilang dari sore, ibu pasti akan melarangnya. Jadi lebih baik aku bilang dan minta ijin pada ibu saat Arghi sudah menjemputku. "Mau pergi sama Arghi bu, Kiara berangkat dulu, ya, bu. Assalamualaikum." * * * "Mana tangan kamu," Tangan kiri Arghi menengadah ke udara, aku segera meletakkan tanganku di atasnya. "Pegangan, jangan malu-malu. kita kan udah pacaran lama." Aku tersenyum, di saat seperti ini aku sangat menyukainya. Perlakuannya yang manis mampu menciptakan kenangan yang baik di memoriku. "Kita gak pernah bisa pergi berdua ya, Ra." Bukan tidak bisa, tapi kamu selalu menolak saat aku mengajak kamu untuk pergi bahkan sekedar berjalan-jalan ke pantai. 'Kalau mau pergi, memang mau pergi ke mana?' selalu seperti itu. "Iya, Ghi." Arghi mencium punggung tanganku, "kalau besok kita maen gimana?" Ibu pasti tidak akan menyetujuinya, apalagi malam ini aku sudah pergi. Ibu tidak akan memberikan ijin. "Mau ke mana?" "Kalau kita ke pantai bagaimana?" Ini adalah kesempatan yang jarang sekali bisa aku dapatkan. Arghi mengajakku pergi. Biasanya dia akan selalu mengelak dengan mengatakan berbagai macam alasan padaku. "Besok aku kabari lagi, Ghi. Ini sekarang kita mau ke mana?" "Aku mau ajak kamu buat cari sandal, sandalku mulai tipis Ra." "Mau cari di toko atau di mana?" "Kita jalan-jalan dulu aja, keliling. Aku mau habisin waktu sama kamu. Jarang-jarang kita bisa kaya gini." Apa kamu baru sadar Ghi? "Tadi pulang jam berapa Ghi?" "Jam 3, Ra. Tapi sampai di rumah juga sudah sore. Macet di mana-mana." "Iya, memang. Capek pasti Ghi, kamu mesti berebut jalan, nunggu lampu merah padahal cuma satu menit tapi kerasanya bisa tigapuluh menit." "Hahaha ... aku pikir cuma aku yang rasain kaya gitu, Ra." Senang rasanya mendengar Arghi tertawa terbahak, jarang sekali dia bersikap seperti ini. Bahkan di saat seperti ini aku harus bersikap berhati-hati. Otakku sibuk Menyaring topik mana yang harus aku keluarkan agar Arghi tetap pada suasana hatinya. "Kalau kita udah nikah, pasti senang ya, Ra. Aku pulang kerja, kamu udah masak, terus aku nungguin sama anak kita. Gak kaya sekarang, aku pulang yang aku lihat cuma galon air." Khayalan Arghi saja mampu membuatku tak berhenti-hentinya tersenyum. Anganku sudah jauh, Ghi. Bahkan aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita nantinya. "Aamiin, aku doakan semoga kamu selalu dilancarkan jalan rejekinya. Dimudahkan segala urusannya." "Aamiin ..." Arghi kemudian mengecup tangan kiriku. Ya Tuhan, di saat sepert ini sisi mana yang sedang kau tunjukkan padaku. Apakah ini adalah sisi terbaik dari diri Arghi? Atau ini justru sisi seorang buaya yang sedang mencoba mencari celah untuk melancarkan aksinya. * * * Malam minggu, malam yang asyik buat pacaran. Begitulah kata orang. Dan memang benar, di malam minggu ini jalanan begitu ramai. Beberapa tempat makan di restoran maupun di pinggir jalan cukup ramai pengunjung. Kami berdua sudah sampai di depan sebuah toko sepatu yang cukup besar. Aku segera turun dan Arghi memarkirkan motornya. Jujur aku cukup minder jika pergi bersama Arghi seperti ini, keprcayaan diriku entah pergi ke mana. "Ayo," Arghi mengulurkan tangannya. Aku sempat ragu, namun kemudian menyambut uluran tangan Arghi. Baiklah, mari kita tunjukkan pada orang-orang kalau Arghi adalah milikku. Di saat seperti ini aku selalu berpikir, apa Arghi pernah sebangga ini memilikiku? atau hanya aku saja yang bersikap berlebihan seperti ini? Kami berdua berjalan memasuki toko, sepanjang melihat koleksi sandal dan sepatu yang mereka pajang di display toko, Arghi sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya padaku. Lihat aku punya pacar, aku punya gandengan. Aku benar-benar menyombongkan diri. Dengan begini saja aku sudah lupa daratan dan merasa kalau Arghi sepenuhnya sudah milikku. * * * Setelah satu jam kami berdua berkeliling, Arghi pun sudah mendapatkan sepatu yang ia inginkan, aku mengajak Arghi untuk pulang. Dia hendak membelikanku makanan untuk orang rumah, namun aku melarangnya. Akhirnya kami langsung pulang. Arghi sengaja memelankan laju kendaraan motornya, ia juga kembali memegangi tanganku. "Yang ..." "Iya, Ghi." "Kayaknya ban motornya bocor Yang." Arghi menghentikan motornya, ia memeriksa ban motornya dan benar saja, ban motor Arghi bocor. "Di mana ada bemgkel motor ya, jam segini?" "Ini kan udah deket rumahnya Ana, apa aku telfon Ana saja dan pinjam motornya buat kuta pulang? Besok baru kamu balikin sama bawa motor kamu ke bengkel?" Jarak rumah Ana tidak begitu jauh dari jalan di mana kami berdua ada saat ini. "Kamu telfon saja, nanti kamu pulang bawa motornya Ana. Aku biar urus ini." "Gak lah Ghi, aku pergi sama kamu, pulang juga sama kamu." Ibu pasti akan marah kalau aku pulang sendiri, dia juga paati akan berbicara hal yang jelek tentang Arghi. Ana, kamu sudah tidur? aku mau minta tolong. untunglah Ana sedang online. Belum, ada apa? Aku lagi di dekat daerah kamu, aku lagi bareng Arghi. Ban motor Arghi bocor. Boleh kalau aku pinjam motor kamu buat pulang? biar motor Arghi ditaruh di tempat kamu dulu. Kali ini Ana tak langsung membalasnya. "Di rumah?" " Iya di rumah." Oalah . . . Cie yang habis kencan malmingan. Ya udah, ke sini aja. Ambil motornya. Aku tersneyum membaca pesan balasan dari Ana itu. "Kenapa senyum-senyum?" "Ah ... gak, kata Ana kita ke sana aja Yang." * * * Malam itu, mami berdua mendorong motor, berjalan bersama menikmati heningnya malam. Sesekali beberapa motor lewat dan bertanya, kenapa? Kami berdua serempak menjawab ban motornya bocor. "Maaf ya," "kenapa minta maaf?" "Ya ini, sekalinya jalan, ban motornya bocor." Aku tersenyum, "Gak apa-apa biar jadi kenangan nanti buat anak-anak kita. Kalau waktu kencan, kita pernah dorong motor barengan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN