"Tadi ibumu menyuruhku membeli celana.”
Kuawali percakapan malam itu dengan memunggunginya. Perasaan marahku muncul begitu saja, tiap kali ibu mertuaku membandingkan aku dengan kakak perempuan suaamiku.
“Celana apa?”
“Celana rumah seperti milik kakakmu, dia bertanya kenapa aku memakai celanamu.”
“Sudah biarkan saja, tidak perlu kamu pedulikan, toh, celana itu muat untuk kamu pakai. Atau kalau kamu mau beli, pakai uang jajanmu itu.”
Seratus ribu rupiah. Nominal itu rasanya tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan pribadiku. Sekedar membeli bedak pun, tak akan cukup dengan pembersih mukanya.
“Iya,” aku sudah lelah untuk sekedar meminta. Bicara dengannya bukan mendapatkan solusi, tapi sangkalan yang membenarkan setiap opininya. Ya, dia, dia adalah suamiku, namanya Jihan.
Usia pernikahanku dengannya baru menginjak dua bulan. Sebagai pengantin baru, banyak hal yang harus aku sesuaikan. Salah satunya adalah sifat dan sikap di antara aku dan suami. Meski sudah dua tahun kami berpacaran, tapi aku rasa di antara kami berdua masih ada keburukkan yang kami sembunyikan. Kadang untuk memahami dan menyesuaikan satu sama lain pun butuh waktu yang lama, lalu bagaimana ditambah dengan memahami keluarga besarnya.
Adaptasi itu tidak mudah, apalagi tidak adanya sikap saling terbuka. Aku bisa menghitu
Dua tahun rasanya tidak cukup untuk mengenal semua sifat dan sikapnya. Tutur katanya yang lembut, iman yang dia tunjukkan di hadapan mereka, nyatanya hanya sebagai simbol untuk mendapatkan pujian dan keagungan semata dari sesamanya.
“Aku mau ke Jakarta. Kembali bekerja di tempat yang dulu.”
Tangannya berhenti mengelus perutku. Helaan nafasnya terdengar begitu kasar, kurasakan tubuhnya menjauh dariku. Mungkin sekarang posisinya sama denganku, memunggungi.
“Sudah kubilang, jangan sekalipun kamu membahas itu. Kamu sudah menikah dan kamu menjadi tanggung jawab aku, suamimu.”
Aku tersenyum miris, dulu, sewaktu awal menikah kata-kata itu menjadi penyejuk bagiku. Aku yang selama ini hidup susah payah membantu keluargaku keluar dari kubangan kemiskinan kemduian mendapatkan seorang suami yang baik, pekerja keras, tentu saja merasa sangat beruntung. Tapi sayang, itu dulu. Sejalan dengan waktu, ucapan nyatanya tak seindah dengan laku. Anggap saja ucapannya itu seperti pembungkus ponsel yang diberi pernak-pernik kecil yang berkelip, memanjakan mata yang memandangnya, membuat lidah seolah tak tahan untuk tidak memuji.
“Aku mau kita mandiri. Punya masa depan.”
“Mandiri bagaimana, lagi pula masa depan siapa?”
“Hidup mandiri tanpa campur tangan ibumu dan kakakmu.”
“Maksud kamu apa, kamu mau kita tidak nebeng makan sama ibu, kamu mau kita punya dapur sendiri?!” Dia bergerak lagi, mungkin sekarang posisinya dia sedang menatap bagian belakang tubuhku. “Sudahlah, jangan kamu berpikir terlalu jauh, rumah ini nantinya milik aku dan pada akhirnya milik kamu juga. Sawah, kebun, kita sudah punya tinggal kita rawat.”
Aku benci mendengar kata-kata itu, membanggakan warisan orang tua. Aku memang orang tidak punya, tapi aku masih punya harga diri.
“Apa di setiap sujudku, aku harus mendoakan kedua orang tuamu meninggal hanya untuk sekedar mendapatkan rumah dan harta benda milik mereka?”
Dia menarik lenganku, membuatku berbalik dan menghadapnya. “kamu pikir bangun rumah itu gampang? Cukup dengan uang seribu, dua ribu?!” dia menatapku penuh emosi, mungkin ucapanku melukai harga dirinya.
“Dan apa kamu pikir gampang untuk hidup di rumah ini?!” dengan penuh penekanan kutanyakan hal itu padanya. Hal yang tidak pernah dia rasakan. Karena setiap hari yang ia pikirkan hanya mencari uang, dan mencari uang. Uang yang tidak pernah aku tau ke mana dan di mana uang itu. “Setiap pagi aku membereskan rumah, mencuci, memasak, menyiapkan sarapan untukmu dan keluargamu. Lalu dengan santainya kakakmu datang dan menitipkan anaknya. Belum lagi omongan ibumu yang setiap hari bercerita tentang panen cengkih, panen palawija milik kakakmu itu. Apa kamu pikir hatiku tidak sakit?! Aku memang orang tidak punya, aku hanya membawa badan ke rumah ini, tapi bukan berarti kamu dan keluargamu bisa memperlakukanku seenaknya.”
Aku tidak pernah menangis di hadapannya, sekalipun. Tapi, kali ini aku sudah tidak tahan dengan semua sikapnya. Tugas istri memang melayani suami dan tentu orang tua suami, tapi bukan berarti harus dijadikan pembantu.
“Jadi kamu tidak terima dengan itu semua?”
“Yang jelas aku tidak mau dianggap pembantu.”
“lalu mau kamu apa?”
“Aku mau kamu tegas, kamu harus tau kapan kamu berdiri sebagai anak untuk ibumu dan sebagai suami bagiku.”
Dia memang tidak pernah bersikap tegas. Dia selalu menuruti ibunya. Bahkan sekedar untuk mengizinkanku pergi ke rumah orang tuaku, dia bertanya pada ibunya. Lalu apa fungsinya dia sebagai kepala rumah tangga jika ibunya lah yang mengatur semuanya. Mungkin dia hanya menganggapku istri di kala kami berdua tidur seranjang.
~
Suara beduk pertanda waktu subuh di masjid membangunkan tidurku, suamiku masih tertidur pulas. Aku beranjak dari ranjang dan merapikan rambutku yang tergerai. Mata sembab sisa menangis semalam kusembunyikan di balik kacamata.
Aku berjalan menuju dapur, biasanya ayah mertuaku sudah bangun terlebih dahulu. sebuah panci besar berisi air sudah didudukkan di atas kompor, ayah mertuaku yang meletakkannya. Setiap pagi dia merebus air untuk mengisi termos dan teko-teko kecil yang lain.
“Kalau sudah mendidih kamu tuangkan ke termos dan teko, ya.” Ayah mertuaku sudah rapi dengan baju koko, sarung, peci hitam serta sajadah yang ia sampirkan di pundaknya.
“Iya.”
Kukecilkan api kompor itu, lalu meninggalkannya untuk mencuci muka dan mengambil wudlu. Sekembalinya dari kamar mandi, kulihat suamiku masih tertidur pulas.
Biasanya setelah kami bertengkar aku memilih untuk diam, tidak menyapanya. Kali ini mungkin suamiku tak ingin mengalah. Saat dia bangun pun, dia lebih memilih beribadah di ruang tengah, padahal biasanya ia lakukan di kamar, di samping tempat tidur kami.
~
Telur dadar, sambal terasi dan sayur bayam sudah kusajikan di meja. Sepiring nasi hangat kusajikan di atas meja. Ini sudah pukul setengah delapan, biasanya suamiku sudah bersiap untuk sarapan.
Agak lama aku menunggu di meja makan, dia belum juga keluar dari kamar. Aku beranjak dari kursi hendak menyusulnya di kamar.
“Jihan belum sarapan, Kiara?"
Ayah mertuaku muncul dengan membawa sayur mayur yang ia petik dari kebun.
“Belum, Pak. Bapak mau sarapan sekarang?”
“Iya, tolong ambilkan piringnya.”
Satu piring bersih beserta sendok dan garpu kuberikan padanya, dia mulai menyendokkan nasi dan sayur bayam ke dalam piring.
“Itu garamnya kamu kurangin, kan?” dengan nada yang sedikit tegas ibu mertuaku bertanya. Ia dan suamiku datang di saat bersamaan. Entah kenapa hatiku merasa kalau saat ini dia sudah berkhianat. Dia pasti sudah menceritakan semuanya, obrolan kami tadi malam. Curang sekali rasanya.
“Iya, Kiara kurangin, Bu.”
Ibu mertuaku mengambil sendok kecil dan mencicipi kuah sayur bayam itu. “ini keasinan Kiara, berapa sendok garam yang kamu kasih?”
Di saat seperti inilah aku berharap suamiku akan membelaku, namun apa daya dia hanya diam dan duduk menikmati makanannya.
“Sudahlah Bu, aku pun tidak akan mati Cuma karena sayur bayam ini.” Ayah mertuaku menjawabi omelan ibu mertuaku yang masih terus berlanjut.
Kutatap punggung suamiku, rasanya sakit sekali. Aku menikah bukan untuk diperlakukan seperti ini. Jika suamiku saja tidak menghargaiku lalau bagaimana dengan keluarganya yang lain. Apakah aku ini masih dianggap sebagai menantu?
~
“Aku sudah bicara dengan ibu, kamu tidak akan pernah diizinkan ke Jakarta lagi. Jadi kamu jangan coba-coba melawan.”
“Oh, jadi karena Ibu kamu yang kasih makan aku setiap hari di rumah ini, aku harus minta ijin sama Ibu kamu?”
“Jangan jadi istri durhaka, Kiara!”
Kubanting tas kerjanya di atas ranjang. Dia menatapku penuh dengan amarah. “Apa, istri durhaka? Aku Cuma mau kerja di Jakarta dan kamu bilang aku istri durhaka? Harusnya kamu tanya kenapa aku lebih memilih bekerja di luar kota, ketimbang hidup sama kamu!”
“Cukup Kiara!”
“Kamu tidak pernah tau posisi aku gimana. Kamu tidak pernah tau apa yang aku rasain tiap kali kamu tinggalin aku buat kerja. Di rumah ini, Cuma kamu yang bisa aku harapkan, yang bisa bela aku, lindungin aku. Tapi kenyataannya sedikitpun gak ada yang kamu lakuin buat aku. Setiap hari yang kamu pikirin Cuma cari uang dan cari uang! Apa kamu pernah tanya gimana perasaan aku? Gimana keadaan aku? Aku capek.” Aku kembali menangis, perasaan marah yang kupendam sedari tadi seperti keluar begitu saja.
“Kamu tidak terima? Terus kamu mau apa, cerai?”
Gampang sekali kata-kata itu keluar dari mulutnya, seolah tidak ada penyesalan.
Semua kejadian itu teringat saja di benakku, sebuah kegagalan yang membuatku hancur secara mental selama dua tahun terakhir ini.
Arghi, Arghi datang layaknya hujan di tengah kemarau. Dia datang mengetuk pintu hati dengan sebuah kebahagian yang dia janjikan.