8

1219 Kata
PR terbesarku kali ini adalah pengendalian diri. Sekarang ini aku harus lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, melibatkan-Nya dalam setiap keputusanku. Aku tidak mau kalau emosi dan perasaanku justru menghancurkan segalanya, kembali seperti dulu. Kalau ditanya trauma atau tidak, pastinya ada luka yang membekas. Siapa yang mau pernikahannya harus hancur, semua orang juga ingin yang terbaik, sekali seumur hidup. Dan jika memang harus mengulang untuk kedua kalinya, maka itu juga harus jadi pilihan yang terakhir kalinya. Sedih itu fitrahnya manusia, tapi kesedihan itu memiliki level yang berbeda dalam tiap kehidupan manusia. Ada yang kesedihannya masih di batas kewajaran, ada juga yang berlarut-larut sampai merasakan putus asa. Bentuk dari keputusasaan itupun bermacam-macam, ada yang putus asa lari ke maksiat, ada yang putus asa sampai harus bunuh diri. Astaghfiruallah ... Kenapa hatiku selemah ini menyoal cinta, hatiku begitu rapuh ketika mengingat semua ketidak pedulian yang ditunjukkan oleh seorang laki-laki. Mengapa hatiku mudah kecewa ketika semuanya menyoal tentang tanpa balasan. Padahal jika saat ini aku menengadahkan kedua tanganku di hadapanMu, memohon dalam setiap sujudku, aku tak akan pernah ragu kalau pada saatnya Engkau akan mempertemukanku dengan seorang yang sesuai denganku, cerminan diriku. Ya Allah, Engkau maha membolak-balikkan hati, kuasaMu begitu besar. Engkau yang tau bagaimana perasaan Arghi padaku, Engkau yang mampu mengubah perasaan Arghi menjadi seseorang yang penyayang dan penuh kepedulian padaku. Aku menggantungkan segalanya pada-Mu. Dan lagi, atas kefaliranku ini aku hanya ingin memohon kembali. Kuatkan diriku untuk menghadapi segala masalah yang akan datang nanti. Masalah yang datang dari orangtuaku, lingkunganku dan yang lebih besar lagi adalah kebingunganku. Arghi memang lelaki mapan, pekerjaannya di salah satu minimarket sudah memiliki posisi yang bagus. Untuk rumah, sebagai warisan Arghi sudah berhak atas rumah yang dimilikinya saat ini. Di mata orang-orang, Arghi adalah laki-laki sempurna. Hidupnya yang terlampau lurus, membuat status sosialnya terpandang sebagai anak laki-laki yang baik dan rajin bekerja. Sedangkan diriku, aku hanya anak seorang petani dan janda tanpa anak. Bagi orang, mendapatkan Arghi bagaikan jackpot. Tanpa mereka tau bagaimana sikap Arghi yang sebenarnya. Yang, pesanan ibu kamu sudah ada nih, sini ambil. Pesan dari Arghi masuk. Tadi pagi, Ibu memintaku untuk menitip barang belanjaan yang sedabg diskon di minimarket di mana Arghi bekerja. Nanti malam kamu gak main ke sini? Aku tahu besok adalah jadwal hari libur Arghi dan hari ini ia masuk di shift siang. Hehe, ambil saja ke sini, mumpung di rumah sedang sepi. Membaca pesan seperti ini, aku sudah paham dengan apa yang Arghi maksudkan. Dia pasti ingin melakukan sesuatu pada tubuhku ini. Otakku mencoba menolak ajakan Arghi, namun perasaanku seolah mendorongku untuk mau menerima ajakan Arghi. Ada sisi dalam diriku yang seolah berdiri paling dominan, aku terlalu takut kehilangan Arghi. "Kalo gak sefrekuensi, gak dilanjutin juga gak apa-apa. Don't put too much effort to become someone else. To get others validation of your feeling and who you are." Kata-kata Ana terlintas begitu saja di benakku, aku terlalu menjadi manusia yang selalu mementingkan hati orang lain di banding diri sendiri. Ya sudah, aku ke situ setelah ini. Sekali lagi, perasaanku mengalahkan logika. Aku terlalu diperbudak oleh nafsu dan perasaanku pada Arghi. * * * "Assalamualaikum ..." Pintu rumah Arghi sedikit terbuka, aku menengok sebentar ke sekeliling, takut kalau ada orang yang melihatku. "Assalamualaikum ..." Belum ada jawaban, aku melangkah masuk ke dalam, menciba melongok keadaan rumah. Memang tampak sepi. "Assalamualaikum ..." "Waalaikumsalam, masuk Ra." Dengan hanya memakai celana pendek selutut, berwarna cokelat muda, Arghi keluar dari arah dapur. "Aku masuk, Ghi? gak di luar aja?" "Masuk, gak apa-apa. Adik aku gak ada di rumah ini." Ya, sebenarnya aku tau karena motor adik Arghi tidak ada di rumah. Meski sebenarnya ada perasaan takut dalam diriku. "Aku kangen kamu," Arghi segera menarikku ke pelukannya, ia sengaja memelukku di balik tembok, penyekat antara tuang tamu dan ruang tengah Arghi. Dia mencium pipiku pelan, "Kamu gak kangen aku?" Aku hanya mengangguk dalam pelukannya, kini tangannya mulai meraba punggungku. Mengelusnya pelan. Kali ini aku bisa merasakan sesuatu di bawah sana milik Arghi sudah mulai mengeras. Perlahan ia mulai menggesekkannya ke bagian depan tubuhku. "Pegang coba," Kini tangan Arghi menuntun tanganku untuk mengelusnya. Setelah tanganku mengelusnya, kini tangan Arghi mulai berkeliaran memegangi buah dadaku. Bibirnya mulai melumat bibirku pelan. Kami berdua mulai menikmati semuanya, sentuhan demi sentuhan yang tanpa sengaja sudah saling membalas satu sama lain. Aku benar-benar sudah lupa, melihat Arghi memperlakukanku seperti ini benar-benar membuatku bahagia. Ucapannya yang begitu lembut, membuatku seakan lupa dengan semua perlakuannya yang selalu cuek padaku. "I love You ..." Arghi mengecup keningku pelan, perasaanku kian tak menentu. Aku benar-benar merasa diinginkan oleh Arghi. "Boleh aku buka?" Aku yang memeluknya, kembali hanya mengangguk sebagai tanda mengijinkan Arghi untuk meainkan sesuatu di bawah sana. Apakah nikmat? Aku tidak akan menyangkalnya, mungkin seperti lagu, ini adalah dosa termanis. Sementara jemari Arghi bermain-main di sana, bibir Arghi tak hentinya melumat pucuk buah d**a berwarna cokelat ranum itu. Sesekali lidah basahnya yang menari-nari. Aku lupa daratan, aku lupa akan semua luka yang sudah Arghi torehkan. Aku juga lupa, akan semua ketakutanku untuk kehilangan Arghi. "Yang ... suka gak?" Arghi membisikannya tepat di telingaku. Aku kembali mengangguk dengan terus menciba menahan eranganku. Kini tangannya ia lepaskan dari dalam sana, ia sengaja terus menggerakkan barang miliknya. "Gak apa-apa kan kalo gini?" "Iya, Ghi ..." Aku terjerumus pada lembah hitam yang sedari dulu aku coba untuk hindari. "Bisa kamu kocokin?" Tanganku segera memeganginya, menggenggamnya erart dengan terus menaik-turunkan tanganku. "Enak, tambah lagi kecepatannya." Melihat Arghi yang menikmatinya, membuatku semakin semangat untuk melakukannya. Aku tak sadar jika pakaianku sudah terbuka semuanya karena aku terlalu sibuk menikmati zinah ini. "Boleh gak aku masukin?" "Tidak," Aku menolak dengan tegas, mungkin saat kejadian di hotel itu, aku khilaf. Tapi sekarang, aku tak akan mengijinkan Arghi melakukannya lagi padaku. "Ya sudah, gak apa-apa, tapi terusin naik-turunnya." Arghi kini kembali mengecup keningku, apakah begini cara Arghi mnecintaiku, menginginkanku di saat dirinya sedang merasa b*******h. Dia ingin menemuiku hanya untuk melampiaskan nafusnya begitu saja padaku. * * * Sepulang dari rumah Arghi aku segera mandi, pikiranku selalu seperti ini. Rancu, tak jelas. Setiap kali setelah melakukan dosa bersama Arghi, aku merasa sangat hina. Aku merasa kalau aku sudah tidak punya harga diri lagi. Dan ketakutan itu mulai muncul kembali, ketakutan akan ditinggalkan oleh Arghi. Ya Allah apa ini cara-Mu menghukum orang-orang yang berlumur dosa sepertiku. Hidup dalam ketidaknyamanan dan tanpa ketenangan hati. Setan yang tak kunjung pergi. Terus menggoda untuk selalu melakukan dosa dan kian terjerumus di dalamnya. Untuk menyembuhkan luka, kamu harus berhenti menyentuhnya. Aku menatap nanar pada tulisan yang ditulis pada status milik Hesyam di profil sosial medianya. Apa itu artinya sama, kalau aku ingin terbebas dari dosa, alu harus menjauhi sumber dosanya? Atau aku harus merubah cara pandang Arghi tentang hubungan ini. Bahwasanya pacaran adalah sebuah dosa besar, bahwasanya melakukan zinah adalah dosa yang tak akan pernah bisa diampuni. Bahwasanya zinah akan membawa hidup seseorang ke jurang kehancuran. Bahwasanya zinah akan menenggelamkan kita dalam api neraka yang j*****m. Tapi, apakah aku benar-benar sudah siap untuk melakukan itu semua? Siap jika Arghi pergi meninggalkanku hanya karena aku membawa-bawa agama dalam hubungan kami. Apa aku tidak terlalu munafik jika mengatakan hal itu semua? Padahal aku juga ikut menikmati dosa itu, akulah sumber dosanya. Bagaimana jika kedua orangtua Arghi menangis, melihat anaknya kini tersesat dalam kenikmatan duniawi yang membuatakan hati, mata dan pikiran Arghi. Dan itu semua karena dia berzinah denganku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN