"Yang udah ngepas bisa berujung lepas. Yang udah cocok bisa saling blok. Yeng sudah membuat history bisa berujung hanya sebatas penonton story. Yang sudah merakit cerita, bisa berujung menderita. Ya, namanya juga hidup alurnya siapa yang bisa nebak." Rully mengepulkan asap rokok yang baru saja ia hisap dalam-dalam. Aku biasanya kurang suka dengan laki-laki yang merokok, namun aku juga tidak bisa egois hanya karena dia perokok lalu aku tidak mau mengenalnya. "Betul," Aku tersenyum sedikit, mengingat kisahku dengan Arghi dulu. "Jangan terlalu berlebihan kalau hanya masih sebatas pacar." "Sudah berpengalaman?" "Tentu, gelarku sudah jauh di atasmu." Aku dan Rully tertawa bersamaan. Sekarang ini aku tak mudah tersinggung dengan statusku sekarang ini. Jika orang-orang menggodaku, mak

