Pegunungan Allegra
Desa Solandis, Kota Adarlan
* * * * *
Seorang pria dengan pakaian serba hitam, rambut hitam dan bola mata berwarna hitam berjalan dengan wajah yang sulit ditebak. Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian menyunggingkan senyumannya seolah memahami apa yang ada di sekitarnya.
Salah seorang pekerja dari Pegunungan Allegra melihat pria yang sedari tadi hanya melihat ke sana dan kemari kemudian mengedarkan pandangannya tanpa maksud bekerja sama sekali. Orang itu pun menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari posisi duduknya semula.
"Hey!" pekik pria itu kepada pria berpakaian hitam sambil melangkahkan kakinya.
Mendengar ia seperti memanggil orang, beberapa pekerja di pertambangan itu menoleh ke arah pria berpakaian putih yang berjalan ke seorang pria yang sedari tadi hanya diam. Sampai akhirnya pria itu berhenti di depan pria berpakaian hitam dan menatap matanya.
"Apa kau pekerja disini? Jika kau sudah selesai beristirahat, sebaiknya kau segera melanjutkan pekerjaanmu sebeluam Pak William kemari," ujar pria itu.
Memang beberapa waktu yang lalu William memutuskan untuk pergi dan sepertinya pulang lebih dulu dan lebih awal dari pada jam kerja biasanya. Pria berpakaian putih yang bernama Sean itu pun menerima amanah dan tanggung jawab dari William.
Banyak juga orang - orang yang percaya jika Sean akan menjadi penerus William dan menjadi pemimpin sebelumnya setelah sebelumnya pernah dipegang oleh Nico Caelum yang meninggal puluhan tahun yang lalu kemudian sekarang kembali diisi lagi oleh sang pria tua legendaris yang tak lain adalah William Alastair.
Sean menyentuh bahu pria berpakaian hitam itu dan mengerenyitkan dahinya, "Sepertinya aku baru melihatmu. Kau pekerja baru atau siapa?" tanya Sean.
Pria berpakaian hitam yang tak lain adalah Zander dalam wujud manusianya itu tersentak. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian melihat sekitarnya, memperhatikan orang - orang yang justru menatap ke arahnya.
"Kau siapa?" tanya Zander.
"Sudah kuduga kau pekerja baru, aku Sean," jawab Sean sambil mengulurkan tangannya.
Namuan Zander hanya melihatnya, sampai Sean menggulung tangannya lagi dan menariknya dengan kaku.
"Kenapa kau tampak seperti orang linglung begitu? Kau mencari seseorang?" tanya Sean lagi.
"Ya. Aku mencari sosok pria yang pernah bertemu dengan siren yang berubah menjadi manusia," ujar Zander.
"Siren?" tanya Sean yang tak mengenali nama itu.
"Ya, makhluk setengah manusia setengah ikan," jawab Zander.
Sean pun teringat dengan sosok salah satu pekerja yang beberapa waktu lalu mengatakan habis melihat sosok ikan besar yang berubah menjadi manusia.
"Oh itu Ivor. Dia sepertinya sedang menuju ke pantai dekat Kerajaan Twyla," ujar Sean.
"Pantai dekat kerjaaan Twyla? Di mana?" tanya Zander.
Sean berbalik dan menunjuk arah, "Ke arah selatan sana dan lurus. Ketika di Hutan Viltarin sebelum keluar, belok kiri di persimpangan kemudian ikuti jalur sampai mendengar suara ombak. Sepertinya Ivor tidak menyerah untuk menemukan ikan besar itu," ujar Sean.
Zander terdiam, ia pun menyunggingkan senyumannya dan merencanakan sesuatu.
"Baiklah kalau begitu terima kasih," balas Zander kemudian berlari ke arah yang dituju oleh Sean barusan.
Sean yang melihat Zander berlari hendak memanggilnya lagi tapi percuma saja, langkahan kaki Zander yang besar dan kuat dengan cepat meninggalkan area pertambangan dan pria itu pun menjauh seketika dari pandangan Sean.
"Pria aneh," gumam Sean.
Sean kembali duduk ke tempatnya semula sambil berpikir dan mengingat Zander, "Sepertinya aku belum pernah melihatnya. Atau dia tersesat?" gumam Sean lagi kemudian mengambil gelas kopinya dan meneguknya sampai habis dan kembali bekerja.
Zander yang berlari, terus berlari tanpa henti seolah energi dan rasa lelahnya sudah dihabiskan dalam tidur panjangnya selama ratusan ribu tahun. Bahkan pria itu dilihat dan diperhatikan oleh banyak penduduk Desa Solandis karena cara berpakaiannya yang aneh. Mulai dari pakaian serba hitam, tanpa alas kaki dan juga mata hitam yang senada dan sama gelapnya dengan rambutnya.
"Aku tidak ingat di dekat gunung sekarang banyak perumahan," gumam Zander sambil berlari.
Lalu tiba - tiba saja saat Zander memperhatikan rumah - rumah yang ia lewati, Zander menabrak seorang pria dan wanita yang sedang membawa tas dan berjalan menuju ke halte Styx terdekat.
Bruuukkk ! ! ! !
Suara tabrakan antara Zander dengan sebuah tas besar menimbulkan suara yang keras hingga menimbulkan tatapan dari banyak orang yang ada di sana.
Sontak saja sang pemilik tas itu melompat dan memastikan Zander baik - baik saja.
"Tuan, apa anda baik - baik saja?" tanya pria tua itu yang tak lain adalah William Alastair.
Sagira juga terkejut karena Zander tiba - tiba menabrak tas dengan keras sampai tubuhnya terjatuh ke tanah.
Zander memegangi lututnya yang terasa sakit namun rasa sakit itu hilang saat mendengar Sagira yang juga mengkahawatirkannya.
"Apa anda terluka? Mau kami antarkan ke tempat kesehatan untuk berobat?" tanya Sagira.
Zander mendongakan kepalanya dan menatap Sagira serta William bergantian, ia sadar jika makhluk di hadapannya ini adalah manusia yang pernah ia ciptakan. Ia tak menyangka jika ciptaannya memiliki banyak keragaman segarang.
Pria itu pun berusaha bangkit dari posisinya meski lututnya terluka, "Saya baik - baik saja. Tidak perlu khawatir," ujar Zander.
William melirik ke arah kaki Zander yang kotor dan meninggalkan noda darah, "Apa anda tidak mengenakan alas kaki?" tanya William.
Sagira pun juga melihat ke arah kaki Zander dan membulatkan matanya.
"Ya ampun kakimu bisa terluka jika berlari tanpa alas kaki," ujar Sagira.
Zander memperhatikan kakinya kemudian melihat kaki orang - orang yang mengenakan sejenis alas kaki dengan tali di antara jempolnya.
"Tidak. Tertinggal di belakang," jawab Zander kaku.
William pun membuka tasnya dan mengeluarkan sepasang alas kaki untuk digunakan oleh Zander, "Ini. Pakailah," ujar William.
Untuk sesaat Zander terdiam karena ia tak tahu cara menggunakannya. Ia pun mengambil alas kaki itu dari tangan William dan meletakkan di atas tanah. Perlahan, kaki Zander masuk ke sela - sela sandal dan mengenakannya.
"Terlihat pas," ujar Sagira.
Zander menatap kakinya dan melihat kakinya yang sekarang sudah menggunakan alas kaki, "Padahal dulu aku terbiasa berlari di antara rumput, kenapa di antara tanah saja aku terluka?" gumam Zander sambil menatap kakinya.
"Oh ya kau mau pergi kemana? Sepertinya tadi kau berlari dan buru - buru," tanya Sagira.
"Ke pantai dekat Kerajaan Twyla," ujar Zander.
"Pantai?" sahut William.
"Iya. Pantai. Aku ada urusan sesuatu di sana."
"Kalau begitu, ikutlah dengan kami," ujar Sagira menawarkan bantuan.
"Bagaimana?" tanya Zander.
Sejujurnya bisa dibilang Zander sangat ketinggalan jaman. Terlebih ia sudah tidur dalam waktu lama dan tidak tahu tentang perkembangan Lacoste.
Tiba - tiba sebuah Styx berhenti di depan halte.
"Itu, kita naik itu," ujar William menunjuk Styx yang baru saja berhenti.
"Tenang saja, biar kami yang bayarkan ongkosnya, Bagaimana?" tanya Sagira.
Zander masih tak mengerti ongkos? Entah apa itu tapi Zander hanya mengangguk.
William pun memasukkan tas besar bawaan miliknya dan juga Sagira ke tempat barang khusus dan mengajak Zander naik ke dalam Styx. Sagira pun juga ikut masuk setelah membayar biaya masuk Styx.
"Anggap saja ini sebagai ganti rugi karena suamiku meletakkan tasnya sembarang," ujar Sagira.
Meski Sagira tahu ittu adalah kesalahan Zander menabrak tasnya, namun karena Zander terluka, Sagira tidak mampu menyalahkan Zander apalagi bermaksud meminta ganti rugi kepada pria itu.
Setelah para penumpang dari Desa Solandis berangkat, Styx yang sudah dipenuhi dengan para penumpang itu akhirnya berjalan meninggalkan tempat halte.
Zander sempat tersentak saat benda yang ia naiki berjalan kemudian terbiasa dan tersenyum, ia menyadari perkembangan manusia jauh lebih cepat dan lebih baik dari perkiraannya.
"Buatanku tidak begitu buruk," gumam Zander sambil menatap ke arah jendela.
Styx itu pun masuk ke dalam Hutan Viltarin dan seketika cahaya sinar matahari terblokir dan Styx menyalakan lampu agar orang - orang yang ada di dalam tidak perlu khawatir pada kegelapan.