BAB 23

1250 Kata
Hutan Viltarin Perbatasan antara Desa Solandis dengan bagian Kota Adarlan * * * * * Styx yang ditumpangi oleh keluarga Alastair beserta Zander pun berhenti di persimpangan Hutan Viltarin tepat sebelum matahari tenggelam. Selepas turun dari Styx, William melihat langit, "Sepertinya akan malam, sebaiknya kita segera ke Kerajaan Twyla," ujar William. Zander menoleh ke arah William sembari menaikkan sebelah alisnya, "Kerjaan Twyla?" gumam Zander. "Iya, anak kami tinggal disana. Ngomong - ngomong, kau mau kemana, Pak? Apa tidak masalah jika pergi malam hari ke pantai yang sebentar lagi akan menjadi gelap? Di Hutan Viltarin sendiri tidak begitu aman, karena banyak Aul yang berkeliaran. Seekor Oriel yang memang dalam pengawasan dan pengarahan dari Tuan Gerhard," ujar Sagira. "Saya baik - baik saja, tidak perlu khawatir kepada saya," jawab Zander sembari membuat senyuman di wajahnya yang terasa kaku. Sepanjangan perjalanan memang Zander mencoba beberapa mimik wajah yang ia perhatikan dari beberapa manusia yang ada di dalam Styx dan salah satunya adalah tersenyum dengan manis dan lembut. Dengan cepat Zander pun belajar dan beradaptasi dengan manusia yang lain. "Jika kau mau ke pantai, silakan ikuti jalan setapak di sebelah kiri, kau akan mendengar suara ombak tak jauh dari sini," ujar William sambil menunjuk jalan yang dapat diambil oleh Zander. Zander pun menganggukan kepalanya, "Baiklah. Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya dan kemurahan hati kalian," balas Zander. Setelah berpamitan dengan William dan juga Sagira, Zander pun berjalan lebih dulu di jalan yang sebelah kiri dan menuju ke arah pantai, sedangkan William dan Sagira kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke gerbang Kerajaan Twyla yang berada di sisi kanan. "Ayo kita ke Twyla," ajak William sambil merangkul istrinya. Sepasang suami istri itu pun melanjutkan perjalanan mereka. * * * * * Pantai Laut Elara Kota Adarlan, Pulau Velenna * * * * * Suara desiran ombak yang keras dan menghantam keras terumbu karang terdengar masuk ke telinga Zander ketika pria itu semakin mendekati laut. "Sepertinya aku semakin dekat dengan laut. Bukankah ini adalah laut tempat dimana aku mengurung Evander?" gumam Zander sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak. Sampai akhirnya sayup - sayup ia mendengar suara manusia dan beberapa di antaranya adalah pria dan juga wanita yang berteriak. Zander tersenyum, "Targetku sudah ketemu. Jika mereka menjadi korban para siren, pasti akan semakin bagus, kan?" gumam Zander. Akhirnya Zander pun tiba di tepi pantai dan melihat beberapa laki - laki yang mencari sesuatu di antara terumbu karang. Beberapa dari mereka juga membawa jaring seolah akan menangkap ikan. Zander jalan santai menghampiri salah satu dari mereka dan berdiri di sampingnya. Sadar akan kehadiran Zander, pria itu menoleh dan bertanya, "Kau siapa?" tanya pria itu. "Aku Zander. Aku salah satu orang yang juga melihat wanita cantik setengah ikan di tempat ini," ujar Zander. Pria di samping Zander terkejut dan membulatkan matanya, "Jadi itu benar - benar wanita cantik setengah ikan? Temanku bilang itu adalah ikan yang sangat besar." "Bukan, dia setengah manusia setengah ikan. Bisa dibilang begitu. Wajahnya cantik dengan rambut panjang menutupi punggung dan dadanya, wajah manis, dan senyuman indah. Kau pasti belum pernah melihatnya kan?" tanya Zander sambil memajukan wajahnya menatap pria di sampingnya. "Apa? Jika dia wanita cantik, seharusnya aku menikahinya." "Benar sekali. Kau harus menemukannya dan buat dia terpikat denganmu." "Tapi, bagaimana caranya?" tanyanya. Zander menoleh dan berbalik menatap pria itu, "Kau mau tahu? Aku tahu bagaimana caranya." "Benarkah?" "Iya. Panggil teman - teman laki - lakimu. Para wanita itu sangat menyukai laki - laki tampan dan perkasa." Seolah habis menemukan emas berlimpah dan kesempatan yang luar biasa besar, pria itu tersenyum lebar sampai memperlihatkan jajaran giginya yang berwarna putih. "Baiklah, akan aku panggilkan teman - temanku dan meminta berkumpul di sini," ujarnya. Merasa menang dalam mengelabui manusia, Zander pun mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan. Meski Zander sendiri tidak pernah melihat bangsa siren, tapi ia tahu jika bangsa siren adalah majin yang cukup berbahaya. Dari sejak mendekati pantai Elara saja, Zander bisa merasakan energi sihir yang cukup besar dan aneh. "Jika korban manusia bertambah, dan aku menolong mereka seperti pahlawan. Pasti majin dan seluruh bangsa di Lacoste akan mengikuti perintahku," ujar Zander. Beberapa ratus ribu tahun yang lalu ia memilih Henley sebagai pemegang Aerosworn, namun pria itu mendapatkan kenyataan yang sebenarnya tepat sebelum Evander memilih melompat ke dasar palung dari pada harus membunuh Henley. Dari sana pula, Zander mengendalikan kekuatan gelap lainnya dengan menggunakan buku dark elf dan memancing bangsa dark elf. Kemudian mengutus Ginevra untuk membangun, memperbesar, lalu merusak Kerajaan Odor. Namun ketiga usahanya itu berakhir berantakan. Kini adalah cara akhir, ia akan kembali mengadu domba bangsa majin dan juga manusia kemudian datang sebagai penolong. "Untung saja energi sihirku sudah mulai pulih perlahan, aku bisa menggunakan mereka yang bodoh," gumam Zander sambil mengepalkan tangannya dan menatap para manusia yang menerima pesan yang disampaikan oleh Zander melalui pria yang berdiri di sampingnya barusan. "Kali ini, aku akan bermain peran secara langsung. Tunggu aku, Evander. Aku akan menghancurkan Lacoste, jika aku tak bisa memilikinya," gumam Zander lagi. Kepalan tangan Zander pun semakin mengeras ketika pria itu semakin memikirkan Evander. Pria yang tadi dikumpulkan pun menghampiri Zander dan hendak menerima perintah dari Zander. Zander pun dengan senang hati memperkenalkan dirinya dengan ramah dan mulai memainkan permainannya. "Perkenalkan namaku Zander. Aku pernah mendengar salah satu dari kalian ada yang mengatakan seekor ikan besar berubah menjadi wanita cantik. Apakah benar?" tanya Zander sambil melihat wajah pria di hadapannya satu per satu. Salah seorang pria dengan celana cokelat digulung dan atas kaus berwarna biru mengacungkan tangannya ke udara, "Saya. Nama saya Froy. Saya bersumpah melihat ikan itu menjadi manusia yang cantik dengan rambut panjangnya," ujar pria bernama Froy itu. Zander melangkahkan kakinya mendekati Froy dan memegang dagu Froy kemudian mendekatkan wajahnya sampai deru napasnya terasa di kulit wajah Froy. "Tak perlu bersumpah, karena aku tahu semua tentang Lacoste. Aku juga pernah melihatnya. Tapi sayang sekali, itu bukanlah ikan yang bisa kau makan dan kau santap seperti biasa. Mereka adalah bangsa siren, wanita setengah ikan yang hidup di laut dan menguasai laut," ujar Zander. Tangan Zander melepaskan dagu Froy, sementara Froy seperti terhipnotis dan mengangguk, "Aku ingat. Itu siren," ujar Froy. "Kau mau mendapatkan mereka? Mereka ada banyak, bukankah kau belum menikah dan tak menemukan pujaan hati sampai sekarang?" tanya Zander. Pria yang tadi menyebarkan informasi, bernama Zule mengangkat tangannya dan berjalan mendekati Zander, "Saya juga. Kami semua disini belum menikah. Para wanita itu adalah adik - adik kami," ujar Zule. Zander mengangguk, "Kalian bisa menikahi siren. Mereka akan menjadi manusia jika jatuh cinta." "Bagaimana caranya?" tanya Froy. "Datanglah ke lautan Elara di tengah malam dengan kapal dan sebuah obor. Bernyanyilah dengan indah maka mereka akan datang mendekati kapal dan menunjukan wajah cantik mereka," ujar Zander sembari tersenyum. Froy, Zule dan beberapa pria yang lain mengangguk. "Sepertinya patut untuk dicoba," balas Zule. "Benar. Bagaimana jika kita coba besok?" tanya Froy. "Ide bagus. Besok pun bulan purnama, bangsa siren akan keluar untuk melihat keindahan purnama," ujar Zander. Zander tersenyum, "Dasar manusia bodoh, bangsa siren bisa memangsa kalian, tahu," gumam Zander di dalam hatinya sambil melihat beberapa pria yang saling bercekcok dan beradu argumen memutuskan untuk pergi melaut dengan kapal kapan. Sangat jarang di antara mereka yang pernah melaut, sekali pun pernah, kebanyakan di siang hari, bukan malam hari. "Bagaimana? Aku bisa membuatkan kalian kapal untuk ke tengah laut di malam hari. Kalian hanya perlu siapkan lampunya saja," ujar Zander. Para laki - laki itu setuju. Mereka pun tampak berterima kasih atas bantuan Zander. Bahkan tak sabar meminang wanita cantik yang merupakan bangsa siren yang cantik dan memiliki rambut serta mata yang indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN