BAB 24

1130 Kata
Istana Twyla, Kerajaan Twyla Kota Adarlan * * * * * Kedatangan William beserta Sagira disambut dengan hangat oleh Qurt yang sudah menunggu kedatangan kedua orang tua Gerhard di depan gerbang. "Selamat datang, Tuan William dan Nona Sagira," sapa Qurt saat melihat kedatangan William dan Sagira. "Halo, Qurt," balas William. "Halo juga Qurt. Bagaimana kabarmu?" tanya Sagira. "Kabar saya tentu saja baik. Saya semakin sehat dan bugar setiap harinya," jawab Qurt. Qurt langsung menyambar barang bawaan William dan juga Sagira membuat kedua orang itu sempat tersentak. "Tidak perlu, Qurt. Kami bisa membawa barang bawaan kami sendiri," tolak William. "Anggap saja seperti tamu kemari. Sudah menjadi tugas saya untuk melayani anda, Tuan William dan Nona Sagira," balas Qurt. Sagira pun menganggukan kepalanya kepada William yang menoleh ke arahnya. "Baiklah. Maaf sudah merepotkanmu," ujar William sambil memberikan tas dan beberapa barang bawaaannya kepada Qurt. "Dengan senang hati saya membantu anda," balas Qurt kemudian membawa barang bawaan milik William dan juga Sagira. Dari gerbang depan, ketiga orang itu kemudian naik kendaraan yang bergerak menggunakan sihir seperti kereta. Benda itu bergerak dari dari gerbang istana ke gerbang depan istana. "Silakan naik," ujar Qurt mempersilakan William dan Sagira masuk lebih dulu ke dalam kereta. William dan Sagira mengangguk dan tersanjung karena Qurt membantu mereka. Meski sebenarnya setiap kunjungan William dan Sagira selalu diperlakukan seperti tamu yang paling dihormati, tetap saja mereka merasa tak nyaman. Setelah William dan Sagira masuk ke dalam kereta, Qurt pun juga masuk dan meletakkan barang bawaan milik William dan Sagira di bawah kakinya. Kereta dengan 2 roda besar itu pun berjalan ketika pintu tertutup dan perlahan melewati jalanan Istana Twyla yang dipenuhi dengan pohon - pohon besar dan rindang. Beberapa pohon di antaranya hidup dan bahkan bisa berbicara. Seperti pohon tua dengan batang cokelat yang langsung membuka matanya kemudian tersenyum saat kereta istana Twyla melintas di depannya. "Selamat datang di Twyla," sapa pohon itu. Sagira tersenyum melihatnya, "Terima kasih," balas Sagira. "Apakah kebanyakan pohon - pohon disini bisa berbicara seperti itu?" tanya William. "Tidak, juga Tuan. Hanya beberapa saja. Kebanyakan mereka adalah pohon tua yang memang bertugas menjaga Twyla. Jika terjadi sesuatu atau ada ancaman, mereka akan menghalau jalan," jawab Qurt. Beberapa pohon tampak tertidur dan memejamkan mata mereka, namun ada juga yang asik bermain dengan para burung dengan asik kemudian melempar senyumannya kepada Sagira dan William yang melintas. Kereta yang ditumpangi William, Sagira dan Qurt pun akhirnya tiba di depan gerbang utama Istana Twyla. Pintu putih yang besar itu dengan corak keemasan akhirnya terbuka lebar. "Silakan turun, Nona, Tuan," ajak Qurt. Qurt turun lebih dulu kemudian menurunkan barang bawaan milik William dan Sagira. Lalu beberapa pelayan yang lain termasuk juga Abraxas tiba - tiba datang menyambut kedatangan William dan Sagira. "Selamat datang di Twyla, Tuan William, Nona Sagira," sapa Abraxas. "Wah ada Abraxas. Senang bertemu denganmu lagi, Abraxas," sapa Sagira sembari tersenyum. Beberapa pelayan langsung membantu Sagira dan William yang sudah tua berjalan. Kemudian pintu terbuka semakin lebar dan Gerhard pun muncul dari balik pintu. "Ayah! Ibu!" pekik Gerhard sambil berlari dan sontak memeluk kedua orang tuanya dengan erat. "Ya ampun anakku. Kau semakin hari semakin tampan saja," balas Sagira sambil menepuk punggung Gerhard lembut dan merasakan pelukan hangat putranya. Gerhard melepaskan pelukannya dan mencium pipi kedua orang tuanya, "Bagaimana perjalanan kemari? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gerhard. "Tidak ada, sayang. Semuanya berjalan dengan lancar," jawab Sagira. "Kenapa kalian tidak meminta aku saja untuk menjemput kalian? Setidaknya beri kabar agar aku bisa menjemputmu di persimpangan. Dari pada harus berjalan kaki kemari," ujar Gerhard. "Tidak apa - apa. Kami hanya ingin menghirup udara juga. Menyenangkan perjalanan kemari," balas William. Sagira mengedarkan pandangannya dan mencari seseorang, "Istri dan anakmu kemana?" tanya Sagira. "Ah mereka sedang memasak. Saat aku tahu kalian sedang kemari, Nikita dan Ivelle buru - buru memasak untuk kalian. Jadi makan malam hari ini akan sangat luar biasa," ujar Gerhard. "Astaga sepertinya kami merepotkan dengan datang ke tempatmu, Gerhard," jawab William. "Tidak, Tuan. Kami senang kalian datang kemari. Banyak juga yang merindukan kalian. Terutama Nona Ivelle," balas Qurt. William hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Bagaimana kalau kalian membersihkan diri dulu. Tadi aku sudah meminta pelayan menyiapkan kamar dan air hangat untuk kalian," ajak Gerhard. "Benar, Tuan. Kami sudah siapkan semuanya," balas Abraxas. "Qurt, Abraxas, tolong antarkan kedua orang tuaku ke kamarnya. Pastikan air mereka hangat dan tempat tidurnya juga nyaman. Jangan ada debu," titah Gerhard. "Baik, Tuan," balas Abraxas dan Qurt bersamaan. Kemudian William dan juga Sagira masuk ke dalam dan diiringi dengan para pelayan yang dengan sigap membantu kedua orang tua Gerhard yang baru saja datang. "Apa kalian akan menginap selama beberapa minggu di tempatku?" tanya Gerhard sembari melangkahkan kakinya bersama dengan kedua orang tuanya. "Hanya beberapa hari saja, Gerhard. Aku harus kembali bekerja," jawab William. "Mungkin bisa lain kali kami akan menginap disini lebih lama," sahut Sagira. "Tawaranku untuk kalian yang menawarkan untuk tinggal disini masih berlaku. Ivelle dan Nikita juga pasti akan sangat senang dengan kehadiran kalian," ujar Gerhard. Memang beberapa kali juga Gerhard mengajak kedua orang tuanya untuk tinggal bersamanya di Istana Twyla yang megah. Tapi William dan Sagira selalu menolak. "Nanti akan kita bicarakan lagi," balas Sagira. "Baik, Bu," ujar Gerhard. Di tengah Istana Twyla yang megah, Gerhard dan kedua orang tuanya pun berpisah. "Kalau begitu aku sepertinya akan membantu Nikita dan Ivelle di dapur. Ayah dan Ibu silakan ke kamar lebih dulu," ujar Gerhard. "Baiklah. Sampai jumpa makan malam nanti, Gerhard," balas William. Gerhard berbelok ke arah kiri, sedangkan William dan Sagira ditemani dengan Abraxas dan juga Qurt di belakang mereka menaiki tangga di sebelah kanan untuk menuju ke kamar mereka. Di depan William dan Sagira pun terdapat seorang pelayan wanita yang mengarahkan William dan Sagira menuju ke kamar mereka. "Silakan Tuan, Nona. Ini kamar yang telah kami siapkan," ujar sang pelayan saat berhenti di depan sebuah pintu kamar. "Terima kasih ya," ujar Sagira. Cklekkk ! ! ! ! ! Pintu kamar pun langsung terbuka saat William mendekat. Qurt membantu meletakkan barang bawaan William dan Sagira sampai ke dalam. "Untuk air mandinya sudah siap. Jika ada yang kurang bisa panggil kami, seorang pelayan akan berjaga di depan," ujar Abraxas. "Terima kasih banyak Abraxas, Qurt," ujar William. Qurt dan Abraxas hanya mengangguk kemudian keluar dari kamar yang akan ditempati oleh William dan Sagira. "Rasanya aku tidak enak jika harus merepotkan mereka," ujar Sagira. William menoleh menatap Sagira, "Justru mereka akan bersedih jika kita menolak bantuan mereka," ujar William. "Benar juga. Sepertinya makan malam nanti akan menjadi makan malam panjang karena akan membicarakan terkait masalah tadi pagi," ujar Sagira. "Iya, aku harus segera membahasnya dengan Gerhard. Sepertinya harus melakukan pemeriksaan langsung ke atas," balas William. Setelah peerbincangan singkat, William pun mandi lebih dulu kemudian disusul dengan Sagira dan mereka pun bersiap untuk menyantap makan malam di ruang makan bersama dengan Gerhard, Nikita dan juga Ivelle.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN