BAB 25

1301 Kata
Istana Twyla, Kerjaan Twyla Kota Adarlan Pulau Velenna, Lacoste * * * * * Makan malam yang telah dipersiapkan oleh keluarga Noblesse akhirnya tiba. William dan Sagira turun dari kamar mereka dan segera menuju ke area ruang makan di Istana Twyla. Kedatangan William dan Sagira pun disambut hangat oleh Ivelle yang sudah menantikan kedatangan Kakek dan Neneknya. "Kakek! Nenek!" pekik Ivelle sambil berlarian ke arah William dan Sagira yang baru saja muncul dari pintu ruang makan. Sontak saja Ivelle berlari dan memeluk Kakek beserta Neneknya. "Ivelle, jangan terlalu bersemangat seperti itu. Kasihan mereka jadi terkejut karenamu," ujar Nikita. Ivelle menoleh ke arah Nikita tanpa melepas pelukannya, "Tapi aku sangat menyayangi Kakek dan Nenekku. Sudah lama sekali aku tak bertemu kalian," ujar Ivelle kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap William serta Sagira bergantian. "Kami juga sangat menyayangimu sayang," balas Sagira kemudian mengusap pipi Ivelle yang lembut. "Ayo kita duduk dan berbincang sambil makan," ajak Ivelle. William dan Sagira pun ikut mengikuti langkahan kaki Ivelle dan mereka bersama - sama duduk di kursi yang telah disediakan oleh Ivelle. "Silakan duduk, Kakek, Nenek," ujar Ivelle sambil membantu Sagira dan William duduk di kursi mereka masing - masing. Setelah membiarkan William dan Sagira duduk dengan nyaman, Ivelle pun berpindah ke sisi lain dan duduk tepat di seberang William dan Sagira, atau tepatnya di samping Nikita. "Aku sangat senang sekali saat mendengar berita kedatangan kalian," ujar Nikita. "Kami juga senang bisa diterima disini," balas William. "Tentu saja Twyla harus menerima kedatangan Kakek dan Nenek. Jika tidak, aku akan menghancurkan gerbang Twyla agar Kakek dan Nenek bisa masuk," sahut Ivelle. Gerhard tertawa mendengar jawaban putrinya yang telah beranjak remaja. "Kalau begitu kita mulai saja makan malamnya selagi makanannya masih hangat. Kebetulan malam ini Nikita dan Ivelle yang menyiapkan semuanya," ujar Gerhard. Sagira dan William menatap makanan yang tertata dengan rapi di atas meja dan tampak menggugah selera. "Sepertinya terlihat sangat enak sekali ya. Mari kita makan sekarang," ujar William. Gerhard mengangguk. Ia pun mengambil beberapa potong makanannya dan memasukan ke dalam piringnya yang kosong. Nikita mengambil beberapa potong daging dan memasukan ke dalam piringnya, begitu juga dengan Ivelle. Ivelle lebih condong memiliki darah sebagai seorang Noblesse dibandingkan dengan vampire milik sang Ibu. "Oh ya, Nikita tidak perlu minum darah?" tanya Sagira yang teringat jika Nikita merupakan setengah vampire dan harus meminum darah untuk mencukupi kebutuhan energinya. Nikita kemudian menunjuk salah satu piring yang berisikan dengan tumisan darah beku buatannya, "Sudah beberapa hari ini saya menyantap darah dengan cara yang berbeda dan lebih efektif, Bu," jawab Nikita. "Oh begitu. Bukankah itu darah beku? Kau memasaknya?" tanya Sagira. "Iya, Bu. Apa Ibu mau mencicipinya?" tanya Nikita. "Apa Nenek akan baik - baik saja jika menyantap darah?" tanya Ivelle yang khawatir dengan Sagira yang manusia namun menyantap makanan vampire yang tak lain adalah makanan milik Ibunya. Sagira tertawa, "Tentu saja baik - baik saja. Darah beku akhir - akhir ini cukup populer untuk menggantikan daging dan bagian dalam tubuh sapi. Rasanya cukup lezat. Ibumu juga memasaknya dengan matang, jadi aku bisa menyantapnya," jawab Sagira. "Oh begitu. Apa aku boleh mencicipinya juga, Bu?" pinta Ivelle. "Tentu saja, sayang," jawab Nikita kemudian mengambilkan beberapa potong darah beku tumis ke dalam piring Ivelle. Ivelle mengambil garpu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Untuk beberapa saat raut wajah Ivelle sulit ditebak karena sibuk mencerna rasa dari darah beku itu. Sejurus kemudian raut wajahnya berubah menjadi lebih cerah, "Ini enak," ujar Ivelle kemudian memasukan potongan lain ke dalam mulutnya. Nikita tersenyum, kemudian memberikan piring berisikan tumisan darah beku buatannya kepada Sagira untuk diambil oleh Sagira. "Ayah, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Gerhard yang akhirnya buka suara karena sedari tadi ia sadar jika William hanya terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu untuk mulai pembicaraan dari mana. William yang sedang mengunyah potongan daging dan kentang di dalam mulutnya mengangguk, ia kemudian mengambil minum dan meneguknya perlahan. "Ada yang mau kami bicarakan," ujar William. "Apa itu?" tanya Gerhard. "Beberapa waktu lalu, terdengar suara gemuruh dan juga guncangan tanah di kaki Gunung Allegra. Aku curiga jika suara itu berasal dari puncak gunung," jawab William. Gerhard meletakkan pisau dan garpunya kemudian menatap William, "Apa Ayah yakin?" "Aku sangat yakin. Sudah beberapa kali terjadi tapi yang tadi itu paling hebat," ujar William. "Benar. Aku bisa merasakannya juga dari rumah," sahut Sagira. Ivelle menatap William dan juga Sagira, "Sepertinya yang dikatakan Kakek dan Nenek benar." Tanpa Ivelle sadari memang Ivelle seperti sebuah alat detektor kebohongan. Wanita itu bisa merasakan emosi dan energi meski dari manusia sekalipun. Wajar saja jika Ivelle tahu apakah seseorang berbohong kepadanya atau tidak. "Bagaimana guncangannya? Apa sangat keras?" tanya Gerhard. "Sebetulnya tidak terlalu keras, tapi cukup lama dan kami merasakan itu. Bahkan para pekerja juga merasakannya," balas William. "Tak mungkin dari ulah manusia atau Gunung Allegra. Gunung itu sudah mati sejak awal terbentuk dan memang hanya berisikan tumpukan batu bara saja," gumam Gerhard. Nikita menoleh ke arah Gerhard yang berdiam sambil berpikir. Ia pun mengulurkan tangaannya dan mengusap tangan Gerhard perlahan. "Apa sebaiknya kita lihat ke atas saja? Jalurnya cukup sulit, sepertinya kami membutuhkan bantuamu, Gerhard," ujar William. "Bisa saja. Kita akan teleportasi ke sana untuk melihat apa yang terjadi," jawab Gerhard. Tok ! ! ! Tok ! ! ! Tok ! ! ! Suara ketukan pintu membuat pembicaraan orang - orang di ruang makan terhenti. Pandangan mata mereka sontak beralih pada sebuah pintu yang terbuka. Tiba - tiba Qurt masuk ke dalam dan berlarian kecil ke arah Gerhard kemudian berbisik kepada Gerhard. "Tuan, ada beberapa mayat manusia jenis kelamin laki - laki di Laut Elara," ujar Qurt. Mata Gerhard seketika membulat, "Apa?" pekik Gerhard. "Bagaimana bisa?" tanya Gerhard. Qurt menatap Nikita, Ivelle, Sagira dan William yang bingung dengan apa yang terjadi. Ia pun kembali berdiri tegak dan berbicara seperti biasanya. "Ada berapa korbannya?" tanya Gerhard. "Ada sekitar 12 orang, Tuan," jawab Qurt. "Korban apa?" tanya Nikita yang penasaran. "Beberapa tim penjaga dari Twyla menemukan mayat manusia dengan jenis kelamin laki - laki di Laut Elara, Nona Nikita," jawab Qurt. Mata Nikita ikut membulat dan begitu juga dengan Sagira, William bahkan Ivelle. "Pembunuhan?" tanya Nikita. "Kami belum tahu pasti. Mereka semua ditemukan tanpa luka. Besar kemungkinan karena tenggelam," ujar Qurt. "Usut kasus ini dengan baik, beritahu kabar keluarga mereka," ujar Gerhard. "Baik, Tuan," balas Qurt kemudian kembali keluar meninggalkan ruang makan. Sagira meringis, "Apa mereka orang - orang Adarlan?" "Sepertinya begitu. Tapi aku harus mengusutnya dan coba menghubungkannya dengan kejadian guncangan tanah di Pegunungan Allegra tadi," ujar Gerhard. Gerhard kemudian menyantap makan malamnya dengan cepat dan beranjak. "Sudah selesai makan?" tanya William. "Mohon maaf Ayah, Ibu, Nikita dan anakku. Aku harus pergi lebih dulu karena harus melihat langsung. Aku akan segera kembali dan membawa informasi yang aku temukan," pamit Gerhard. Belum sempat orang - orang di ruang makan menjawab, Gerhard langsung berteleportasi ke arah pantai untuk bertemu dengan para jenazah yang baru saja ditemukan oleh Qurt barusan. "Apa dia sering melakukan itu?" tanya William kepada Nikita dan Ivelle. Ivelle menggelengkan kepala, sedangkan Nikita mengangguk. Sagira menyenggol pinggang William dengan sikunya, "Kau membuat mereka bingung, William," ujar Sagira. "Maafkan aku. Jika ia sering melakukan itu kepada kalian, aku akan memarahinya," ujar William. "Tidak perlu, Ayah. Gerhard tetap menjaga kami dan sering menghabiskan waktu luangnya. Mungkin hanya saja kali ini ada urusan mendesak," balas Nikita. Ivelle yang duduk di samping Nikita hanya menganggukan kepalanya tanpa tahu harus menjawab apa. Mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka sampai selesai kemudian Nikita menyusul Gerhard, sedangkan Ivelle dan Sagira serta William kembali ke kamar mereka masing - masing untuk beristirahat. Ketika ada hal seperti ini, Ivelle memang tidak diperkenankan untuk ikut campur. Gerhard lebih memilih mengamankan anaknya sampai Ivelle benar - benar dewasa dan bisa melakukannya sendiri. Gerhard tidak ingin kejadian yang dulu terjadi lagi kepada putrinya. Hal itu ia lakukan agar Ivelle tetap terjaga dan tidak akan pernah disakiti oleh siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN