BAB 26

2017 Kata
Palung Laut Elara Lacoste * * * * * Seekor siren dengan terburu - buru berenang menuju ke dasar palung saat mendengar sebuah berita dari salah satu kawanan bangsanya. Siapa lagi jika bukan Meira, sang Ratu Siren. Meira berenang dan terus berenang sampai akhirnya ia tiba di depan sebuah gua yang gelap, tempat dimana Evander dikurung. Wanita itu pun berenang perlahan, berharap ia tak mengganggu sosok Evander yang sedang beristirahat di dalam sana. "Tuan," panggil Meira perlahan sambil berenang masuk ke dalam. Ekornya berhenti bergerak saat dirinya berada tepat di depan sosok Evander yang besar dan sedang menutup mata. Seolah mengetahui kedatangan Meira, Evander pun membuka matanya perlahan. "Ada apa, Meira?" tanya Evander. "Aku baru saja mendapatkan berita dari salah satu kawanan siren yang berenang di dekat Pantai Elara." ujar Meira. "Apa itu?" "Kawanan kami diganggu oleh para manusia." Evander membuka matanya lebih lebar, kali ini kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, "Diganggu bagaimana maksudmu?" tanya Evander. "Tiba - tiba saja ada beberapa perahu yang berenang di atas Elara, awalnya kami tak menghampirinya dan berpikir itu hanyalah para manusia yang akan menangkap ikan. Lalu salah satu dari mereka mulai menyanyikan lagu kami," ujar Meira. "Lagu? Bagaimana bisa?" tanya Evander lagi. Bangsa siren memang memiliki sebuah lagu yang khas. Lagu itu diibaratkan seperti lagu pemanggil mereka karena dianggap suci. "Kami tidak tahu. Lalu para siren bermunculan ke permukaan dan mereka pun tergoda dengan kami," ujar Meira. "Lalu apa lagi yang terjadi setelahnya?" tanya Evander yang semakin tidak sabar ingin tahu lebih jauh cerita yang disampaikan oleh Meira kepadanya. "Salah satu kawanan kami ditarik ke atas perahu, lalu dibius. Satu perahu berhasil kabur, namun 3 perahu sisanya berhasil kami lumpuhkan. Mereka semua meninggal diperairan dan terikat oleh rumput laut yang sangat kuat. Ada beberapa juga yang berhasil mengambang di permukaan," ujar Meira. Evander terdiam seolah berpikir kemudian menatap Meira lagi, "Apa jasad mereka sudah ditemukan?" "Salah satu bawahan Tuan Gerhard turun ke laut dan sepertinya sudah mengeluarkan mereka semua," jawab Meira. "Pasti Gerhard akan salah paham. Sebaiknya aku menemui Gerhard sekarang." "Apa tidak sebaiknya besok pagi saja, Tuan? Sekarang sudah larut. Beberapa anak buah Tuan Gerhard sudah kembali ke daratan." Evander kembali terdiam dan berpikir. Dia dilema, apakah ia harus naik sekarang atau menunggu esok pagi. "Baiklah. Jika apa yang kau katakan benar, akan kusampaikan kepada Gerhard besok. Sebaiknya kau ikut, Meira. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara bangsa siren dengan noblesse," ujar Evander. "Baik, Tuan," balas Meira. Akhirnya Meira pun kembali berenang menjauhi gua dan meninggalkan Evander seorang diri. Sedangkan Evander berpikir, mengapa para manusia itu mengetahui nyanyi lagu bangsa siren dan apa tujuan mereka datang dan mengganggu bangsa siren yang padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali mengusik bangsa manusia. * * * * * Keesokan harinya . . . . . Tepat setelah matahari terbit . . . Pantai Elara, Hutan Viltarin Kota Adarlan, Lacoste * * * * * Beberapa pengawal dan pelayan dari Kerajaan Twyla tampak memenuhi Pantai Elara. Beberapa dari mereka berpakaian lengkap dan langsung memeriksa lokasi sekitar untuk mengetahui apakah ada korban lainnya yang tidak diketahui. Gerhard bersama dengan Nikita juga turut datang ke pantai dan memeriksa secara langsung. "Bagaimana?" tanya Gerhard kepada Conan yang kebetulan bertugas sebagai penanggung jawab dalam kejadian ini. "Sepertinya tidak ada korban lain, Tuan. Hanya 12 orang itu saja," jawab Conan. "Apa kau sudah mendapatkan data - data korban?" Conan menganggukan kepalanya, "Para korban adalah orang - orang yang bekerja di pertambangan Desa Solandis, Pegunungan Allegra. Sepertinya mereka mengenal satu sama lain." "Apa ada hal lain yang kau temukan?" tanya Gerhard lagi. "Sejauh ini belum, tapi ada besar dugaan, kejadian ini berkaitan erat dengan bangsa siren. Banyak luka bekas gesekan sisik pada tubuh korban yang tenggelam. Terlebih ada juga yang kakinya terikat di dasar laut." Nikita meringis, "Kasihan sekali para manusia itu," gumam Nikita. "Bangsa siren sebenarnya bangsa yang berbahaya, jika bertemu dengannya di malam hari, mereka akan lebih tampak menakutkan. Apa lagi jika sudah menunjukan sisi kejamnya," ujar Gerhard. "Aku kasihan kepada keluarga mereka. Jika mereka adalah seorang pekerja, bukan kah itu berarti mereka seperti orang yang menjadi tulang punggung keluarga?" ujar Nikita. "Bisa jadi saja, Nona. Kami akan mengumpulkan informasi lagi dan bekerjasama dengan para manusia yang terlibat," balas Conan. "Kalau begitu, data nama - nama wali keluarga mereka. Aku akan berikan bantuan jika tak ada lagi pencari uang di keluarganya," titah Gerhard kepada Conan. Conan pun menganggukan kepalanya, "Baik, Tuan." Conan pun pergi meninggalkan Gerhard dan juga Nikita untuk meminta beberapa pelayan dari Istana Twyla pergi ke Desa Solandis dan menemui keluarga para mendiang korban dalam kejadian itu. Setelah kepergian Conan, tiba - tiba saja Qurt datang dari arah lain dan langsung menghampiri Gerhard. "Tuan," panggil Qurt. Gerhard menoleh, "Ya, ada apa Qurt?" "Tuan Evander ada di Istana," ujar Qurt. "Baiklah aku akan segera kesana," balas Gerhard kemudian menggandeng tangan Nikita dan bersama - sama melakukan teleportasi menuju ke Istana Twyla, atau lebih tepatnya taman belakang Istana Twyla, tempat biasa dimana Evander dan Gerhard menghabiskan waktu mereka. Whoooshh ! ! ! Angin kencang langsung bertiup diikuti dengan kemunculan Gerhard dan juga Nikita. Gerhard sempat membulatkan mata dan terkejut saat melihat Evander yang dengan santai berbicara dengan William. "Kalian sudah bertemu rupanya," ujar Gerhard sambil berjalan melangkah ke arah Evander dan William yang sedang asik berbincang. Sementara itu Nikita pergi ke arah berlawanan untuk menyiapkan sajian dan hidangan untuk tamu mereka. "Sudah menunggu lama?" tanya Gerhard. Evander pun menoleh ke arah Gerhard, "Aku baru tiba dan kebetulan ada Ayahmu. Sepertinya dia tak terkejut sama sekali saat pertama kali melihatku," ujar Evander. "Ayahku sudah terbiasa dengan majin. Dia bahkan jauh lebih biasa dari pada aku," ujar Gerhard. William tertawa pelan mendengarnya, "Bukannya biasa saja, hanya saja aku bingung harus merespon seperti apa," balas William. Gerhard duduk di salah satu kursi yang ada di taman, tepatnya di seberang Evander duduk. "Kau sudah dengar beritanya?" tanya Gerhard kepada Evander. Evander menoleh ke arah Gerhard lalu mengangguk, "Sebaiknya Ratunya langsung yang memberikan penjelasan kepadamu." "Ratu?" tanya Gerhard sambil mengangkat sebelah alisnya. Tiba - tiba terdengar suara air yang cukup kencang dari arah belakang, seolah menghantam batu dengan keras. Gerhard berbalik, begitu juga dengan William yang menoleh ke arah sumber suara yang sama. Sosok Meira muncul dengan gaun khasnya yang berwarna biru, seolah mewakili lautan. "Maaf mengganggu dan datang tiba - tiba kemari tanpa pemberitahuan," ujar Meira kepada Gerhard kemudian memberikan salamnya kepada Gerhard. Meira menatap ke arah William dan langsung meringis saat merasakan energi manusia dari William. "Santai saja, jangan begitu. Pria ini adalah orang tua dari Gerhard," ujar Evander yang tahu jika Meira sepertinya menjadi tidak terlalu menyukai manusia karena kejadian tadi malam. Meira langsung merubah raut wajahnya seperti biasa, "Maafkan saya, Tuan, karena tidak mengenali siapa anda," ujar Meira. "Tidak perlu seperti itu. Aku baik - baik saja," balas William. "Jadi, ada perlu apa kemari? Apakah ada keterlibatan bangsamu dengan kejadian bangsa manusia itu?" tanya Gerhard kepada Meira. Meira berjalan mendekati Gerhard dan mengangguk, "Benar , Tuan," balas Meira. "Kau ini apa sebenarnya?" tanya William yang masih tidak mengenali siapa Meira. "Dia adalah siren. Manusia setengah ikan, seluruh bangsanya terdiri dari wanita. Mereka berkembang biak dan memperbanyak bangsanya dengan menikah dengan manusia. Mereka juga mampu melakukan hipnotis," jawab Evander. Di tengah perbincangan mereka, Nikita pun datang dengan membawa beberapa cangkir minuman ke hadapan Gerhard, William dan juga Evander. "Silakan dinikmati. Kue ini kebetulan baru saja matang," ujar Nikita sambil meletakkan toples kaca berisikan kue madu. Evander menatap kue dalam toples kaca itu dan terdiam seolah mengingat sesuatu, yang tak lain adalah makanan yang sama dengan yang ada di kamar Rosa. Setelah memberikan kue dan minuman, Nikita pun pamit pergi dan meninggalkan ke 4 orang itu untuk melanjutkan perbincangan mereka yang sebelumnya sempat tertunda. "Jadi bagaimana, Meira? Bisa kau jelaskan kenapa hal ini bisa terjadi?" tanya Gerhard sambil mengangkat cangkirnya dan menyesap tehnya perlahan. Meira pun mulai bercerita bagaimana hal ini bisa terjadi. Setelah ceritanya berakhir, William membulatkan matanya seolah tak percaya. "Sepertinya aku pernah mendengar tentangmu. Kau adalah wanita yang berubah dari ekor menjadi kaki, bukan?" tanya William kepada Meira. Meira mengangguk, "Benar. Saya memiliki kemampuan seperti itu. Kami memang bangsa yang kejam dan enggan terlihat, tapi kami punya hati. Kami tidak akan memulai jika para manusia itu tidak mengganggu kami," ujar Meira. "Sekarang aku mengerti. Hal ini bermula karena para pria itu tahu tentang nyanyian kalian?" tanya Gerhard. "Benar, Tuan Gerhard," balas Meira. "Nyanyian?" tanya William. "Di bangsa siren, ada sebuah nyanyian untuk mengumpulkan kawanan bangsa siren yang tersebar di beberapa lautan yang luas. Mereka semua akan berkumpul ketika salah seorang menyanyikan lagu itu. Biasanya dinyanyikan ketika berkumpul atau meminta pertolongan," jawab Evander kemudian menyantap kembali kue madu itu ke dalam mulutnya. Mata Evander bahkan sampai berbinar saat merasakan kue madu yang sangat enak itu. "Aneh sekali mereka mengetahuinya. Berarti ada seseorang yang tahu tentang bangsa siren," ujar Gerhard. Evander mengangguk, "Aku juga beranggapan yang sama. Tapi bangsa siren tertutup. Jika orang itu tidak bisa dihipnotis, pasti adalah dari Raja atau Ratu bangsa majin atau bisa saja..." Ucapan Evander tiba - tiba berhenti saat ia teringat akan sesuatu. "Ada apa?" tanya Gerhard. "Zander," ujar Evander. "Zander?" tanya Gerhard, sedangkan Meira justru tampak membulatkan matanya. "Zander adalah saudaraku, kau tahu itu bukan? Mungkin dia selama ini mencari tahu tentang siren," ujar Evander. "Bagaimana bisa? Bukankah selama ini dia tidak terlihat?" tanya Meira. "Bisa jadi saja dia mencari tahu diam - diam. Zander lebih jago menyamar dari pada aku," ujar Evander. Meira terdiam, begitu juga dengan yang lainnya. Kemudian, Conan pun datang di tengah keheningan. "Tuan," panggil Conan kepada Gerhard. Gerhard menoleh, "Ya ada apa, Conan?" "Berikut daftar keluarga korban. Mereka semua adalah pekerja di pertambangan Pegunungan Allegra," ujar Conan. "Apa?!" pekik William. William berdiri dan menghampiri Conan dengan wajah terkejut, "Mereka? Pekerja di pertambanganku?" tanya William. "Benar, Tuan. Semuanya ditemukan meninggal," ujar Conan. "Tidak semua," sahut Meira. Evander dan Gerhard menoleh ke arah Meira, begitu juga dengan William. "Ada 1 perahu yang berhasil lolos dan membawa salah seorang kawananku," ujar Meira. "Berapa orang yang ada di perahu itu?" tanya Gerhard. "3 orang," jawab Meira. "Kalau begitu kita akan mencari kawanan bangsa sirenmu yang dibawa oleh mereka," ujar Gerhard. William yang masih terkejut pun sampai terduduk kembali, ia tersentak karena para korban itu rupanya adalah bawahan pekerjanya sendiri. "Sepertinya aku harus pulang," ujar William. Gerhard menoleh, "Sebaiknya Ayah disini dulu. Kondisi Desa Solandis masih berantakan. Terlebih ada seorang bangsa siren yang bisa saja melukai Ayah," ujar Gerhard. "Aku tidak bisa tenang, Gerhard. Aku khawatir dengan mereka. Mereka pasti memiliki anak yang masih kecil dan istri yang mungkin saja sedang mengandung," ujar William. "Tenang saja, aku sudah memberikan bantuan kepada para keluarga korban," balas Gerhard. William menggelengkan kepalanya, "Perasaanku tidak tenang. Aku harus pulang." Gerhard menyerah untuk membujuk Ayahnya, ia pun akhirnya menganggukan kepalanya dan menghela napasnya. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa membiarkan Ayah begitu saja," ujar Gerhard. Gerhard kemudian menjentikan jarinya dan tiba - tiba saja Abraxas muncul seketika. "Aku akan meminta Conan dan Abraxas untuk menemani Ayah," ujar Gerhard. "Apa? Lalu bagaimana denganmu?" tanya William. "Jangan khawatirkan aku. Keselamatan kalian lah yang terpenting untukku, Ayah," ujar Gerhard. Gerhard sangat takut jika terjadi sesuatu kepada William dan Sagira. Terlebih hanya mereka berdua keluarga Gerhard yang ada. Azriel sudah pergi karena menyelamatkannya sedangkan Ibunya memilih bunuh diri dari pada harus kembali hidup sebagai noblesse. William berdiri dari duduknya dan menepuk bahu Gerhard, "Anakku, jangan terlalu terburu - buru dalam mencari tahu dalang dari kejadian ini. Kau tahu harus apa? Lakukan dengan tenang. Sekalipun pelakunya tak terduga, sebaiknya dengarkan lebih dulu alasannya," ujar William. Mendengar hal itu, Evander justru ikut terdiam. Bahkan ia sampai berhenti mengunyah kue madu di dalam mulutnya. "Baik Ayah. Aku akan melakukannya," ujar Gerhard. "Kalau begitu aku dan Ibumu pamit," pamit William. Gerhard berdiri dan memeluk sang Ayah, "Hati - hati di jalan. Mereka berdua akan menjaga Ayah dan Ibu sepanjang malam. Jika terjadi sesuatu, cukup panggil namaku. Aku bisa mendengar Ayah," ujar Gerhard. William pun pergi bersama dengan Abraxas dan Conan. Pria itu langsung menjemput Sagira yang kebetulan sedang bersama dengan Ivelle untuk bertukar pikiran. Sementara itu, Gerhard kembali berbincang dengan Evander dan Meira untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN