Tokyo, Jepang
*
Waktu berlalu. Pelanggan terjadwal Wira berhasil dipenuhi satu per satu dan kesepakatan yang diharapkan Bara tercapai. Tampaknya semua yang direncanakan berjalan tanpa kecuali.
Rasendriya Company, sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Asia Tenggara. Selain bergerak di sektor teknologi, perusahaan yang didirikan 30 tahun lalu itu kini berusaha menjangkau seluruh pasar Asia dan melebarkan sayapnya.
Perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Mahawira Rasendriya ini mencoba peruntungan di industri pariwisata. Seperti yang Bara minta dan impikan selama beberapa tahun dan akhirnya anak pertamanya berlanjut.
Ketua pelaksana, Mahawira Rasendriya, rupanya melewati beberapa gadis hotel yang tampak menyambutnya.
"Selamat siang," sapa mereka dalam bahasa Jepang kepada Wira yang berjalan menuju lift.
Wira menatap asisten yang menyapanya lalu membalas sapaan itu dengan senyuman. Beberapa detik kemudian, pintu lift tertutup kembali. Tangan Wira langsung menekan tombol L yang ada di dalam, dan beberapa saat kemudian benda itu turun dan membawa Wira ke lobby hotel.
Sebuah cermin besar di lift memungkinkan pria di dalam untuk melihat bayangannya dengan jelas. Tangannya bergerak untuk memperbaiki rambutnya yang baru saja dimulai. Setelan biru tua dengan garis putih membuat kesan yang baik pada CEO pria.
ting!
Suara lift terdengar nyaring di telinga Wira. Tak lama kemudian, pintu lift yang ia masuki terbuka. Kakinya yang panjang melangkah keluar dari lift. Hingga akhirnya kakinya berhenti berjalan di depan sebuah sofa dengan seorang wanita berambut ikal sebahu menatap layar ponselnya.
"Ehem!" Wira tersenyum membuat wanita yang sudah menunggunya itu menoleh dan menatap layar ponselnya.
Wanita itu segera berdiri dan menyesuaikan rok pendek yang dikenakannya. 'Selamat siang pak,' sapa Ayu saat melihat Wira berdiri di sampingnya.
"Dimana kita sekarang?" Wira bertanya kepada sekretaris pribadinya tanpa bertanya.
"Hari ini kita ada janji dengan travel agent dari Jepang. Karena Rasendriya mau ke 2 negara sekaligus, kita butuh travel agent di Jepang yang bisa kita percaya," kata Ayu.
Ayu kemudian menyerahkan sebuah berkas ke tangan Wira, membuat pria itu menatap berkas yang diterimanya.
“Ini beberapa orang Indonesia yang sudah 3 tahun tinggal di Jepang. Mereka membuka jasanya sebagai penerjemah berbayar yang akan membantu industri pariwisata turis Indonesia di Jepang,” kata Ayu menjelaskan isi daftar beberapa orang tersebut. dalam file.
'Baiklah. Kami langsung berjalan menuju lokasi. Apakah Anda sudah sarapan?' Pahlawan bertanya.
Ayu mengangguk, "Saya makan roti di kamar, Pak."
"Oke," jawab Wira, mundur dan meninggalkan Ayu.
Sesampainya di pintu masuk utama hotel, petugas hotel tersenyum pada Wira dan membukakan pintu untuknya. Tepat di depan lobby utama terdapat mobil hitam yang biasa mengantar Wira dan Ayu kemana-mana.
Sopir yang membawa mereka segera keluar dan membukakan pintu untuk Wira. Setelah memastikan Wira masuk, perhatikan bahwa pengemudi menutup pintu lagi dan kembali ke kursi pengemudinya.
"Hari ini kita akan ke Shibuya, Tokyo," kata Ayu pada sopirnya.
"Baik," jawabnya dengan anggukan.
Mobil yang ditumpangi Mahawira dan Ayu meninggalkan area hotel. Jalan-jalan di Kota Fukuoka tampak familiar bagi mereka. Selain itu, mereka telah berada di sana selama 1 minggu.
Dengan bantuan Satria yang berasal dari Indonesia dan bekerja di Jepang, Ayu dan Wira entah bagaimana tidak kesulitan berkomunikasi. Satria sendiri sudah lama tinggal di Jepang, bahkan bisa dibilang sudah berganti kewarganegaraan.
Satria bekerja sebagai buruh migran di pabrik tahu di Jepang. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita Jepang dan memutuskan untuk menikah. Sekarang dia bekerja sebagai sopir pribadi yang mengangkut orang Indonesia ke Jepang. Karena kelebihan tersebut, Wira dan Ayu pun membantu para tunanetra untuk mencapai tujuannya.
Setelah beberapa saat, Wira, Ayu dan Satria akhirnya tiba di sebuah restoran di tengah Shibuya. Salah satu restoran mewah yang digunakan untuk pertemuan dan terkenal dengan masakan Jepangnya.
"Satria, ayo makan bersama kami. Karena sepertinya pertemuan ini akan memakan waktu lama," kata Wira sebelum akhirnya turun dari mobil.
Mata Satria dan Ayu bertemu, pria itu bingung karena biasanya Wira tidak mengecewakannya.
"Lakukan saja," usul Ayu.
"Oke," jawab Satria.
Wira melangkah ke area restoran. Ayu yang semula berjalan di belakang Wira, dengan cepat melangkah ke depan Wira untuk memberitahu meja yang sudah dipesannya.
"Ini, Pak," kata Ayu.
Setelah giliran, mereka tiba di kamar pribadi yang dipesan oleh Ayu. Ketika pelayan membuka, ada banyak orang mengenakan pakaian bagus. Sontak semua orang yang ada di ruangan itu bangkit menyambut kehadiran Wira.
"Selamat siang, Pak," sapa mereka bersamaan.
Wira duduk di kursi depan sehingga dia bisa melihat semua orang di sana. Sedangkan Ayu mengikutinya. Satria memutuskan mundur karena tak ingin terlihat mencolok dan mengganggu Wira.
'Maaf menunggu lama,' kata Wira.
Percakapan singkat Wira dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang berjalan lancar. Beberapa dari mereka tampak nyaman berbicara dengan Wira, meskipun mereka tahu Wira adalah seorang direktur yang akan mempekerjakan mereka.
"Dan bagaimana dengan, apakah Anda membaca tawaran itu?" tanya Wira, menembak langsung ke inti.
Seorang wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jepang juga tampak mengacungkan tangan dan meminta izin untuk bertanya. Ayu langsung mengajak wanita itu berbicara.
"Apakah mungkin untuk membatalkan kontrak yang disebutkan di sini kapan saja? Karena saya pikir saya akan kembali ke Indonesia dalam 3 atau 4 tahun," kata wanita itu.
"Tentu saja bisa. Tidak ada denda," kata Wira.
Wira yang awalnya santai, langsung duduk, meletakkan tangannya di atas meja sambil menatap semua orang yang ada di ruangan itu.
"Ingat, karena Rasendriya baru mengenal pariwisata dan mencoba peruntungan, setiap pembayaran tidak dibayarkan setiap bulan, tetapi sesuai dengan jumlah peserta. Jika hanya 10 orang dalam perjalanan, jumlah itu dibayarkan. Lebih banyak, lebih besar. Tentu saja. Tentu saja Karena Jepang adalah negara maju, akan aneh jika menggunakan penerjemah elektronik," kata Wira.
Para pekerja Indonesia itu langsung mengangguk.
"Tapi bukankah itu bertentangan dengan aturan kerja kita?" tanya pria lain.
"Tidak sama sekali. Saya akan mengajukan surat tambahan. Kemarin saya bertemu dengan departemen sumber daya manusia Jepang agar semuanya beres. Semua orang di sini hanya perlu menandatangani kontrak, bekerja dan dibayar. Kami yang mengurus sisanya." "
Mendengar tawaran menggiurkan itu, orang-orang yang ada di ruangan itu langsung menandatangani stempel yang diberikan Ayu.
"Saya dengar sistem ini juga akan bekerja di Indonesia?" tanya seseorang yang sepertinya tertarik dengan perusahaan Wira.
"Ya. Tapi karena lebih banyak turis Indonesia, kami memutuskan untuk mengembangkan di Negeri Sakura dulu sebelum melakukan sebaliknya di Indonesia," kata Wira.
Tiba-tiba pintu kamar yang mereka tempati terbuka. Menunjukkan seorang pelayan dengan kimono yang ingin membawakan makanan untuk mereka.
Orang-orang berjalan di sekitar ruangan sedikit dan meletakkan makanan di atas meja.
"Nikmati makanannya," kata pelayan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
"Terima kasih," kata semua orang serentak.
Wira memandang semua orang di sana sambil tersenyum, dia tidak mengira kontrak sederhana yang dia ajukan begitu mudah diterima dan bahkan mereka sepertinya tidak memikirkan kontrak itu.
'Kalau begitu silahkan makan. Ini sudah jam makan siang,' kata Wira sambil mempersilakan mereka menyantap makanan yang langsung disuguhkan kepada mereka.
Begitu pula dengan Ayu dan Wira yang langsung menyantap sarapan mereka.
Wira merasa tidak nyaman baru memulai makan siangnya, karena dia menyadari bahwa Ayu telah memperhatikannya selama ini.
"Apa ini?" tanya Wira, agak heran Ayu.
Ayu memejamkan mata berulang kali dan tetap diam, "Sudah menghubungi Bu Callista, Pak?" tanya Ay.
Wira mengangkat alis pada Ayu, 'Ya. Aku menghubunginya sebelum aku pergi. Lagi pula, apakah dia sudah dihubungi atau tidak, menurutku itu bukan urusanmu.'
"Maafkan saya, Pak," kata Ayu, segera mengalihkan pandangannya ke makanan di depannya.
Wira bisa melihat dengan jelas tingkah Ayu yang seperti ketahuan mencuri. Namun pria tersebut langsung mengecek ponselnya untuk melihat apakah ada laporan dari istrinya atau tidak. Setelah memastikan tidak ada notifikasi yang terlewat, Wira memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket dan makan pada saat yang bersamaan.