BAB 41

1251 Kata
Jakarta, Indonesia * Mahawira meninggalkan Callista selama beberapa hari bahkan 10 hari, sedang dalam perjalanan bisnis ke Jepang untuk mengembangkan kekuatan bisnisnya di bidang lain. Callista yang terbiasa membersihkan rumahnya sendiri harus membiasakan diri karena Yunita telah mengambil alih semua pekerjaannya. Callista berulang kali menolak dan mencoba untuk mendapatkan pekerjaan, Yunita akhirnya menceramahi Callista dan membawa putranya yang saat ini menghitung minggu sampai kelahirannya. Meski beberapa hal yang dilakukan ibunya seringkali tidak sesuai harapan, Yunita senang memahami obsesi putrinya untuk bersih-bersih, meski harus membersihkan rumah beberapa kali sehari. Sama seperti pagi ini, Yunita menggosok meja makan sebanyak 3 kali untuk memenuhi obsesi Callista terhadap kebersihan. "Apa ini cukup?" Yunita bertanya pada Callista yang sedang duduk di depan televisi sambil memakan makaroni panggang buatannya. Callista menoleh ke arah Yunita, meletakkan makanannya dan berjalan ke arah Yunita yang masih memegang kain merah untuk membersihkan meja makan. Callista menunduk, menatap permukaan meja makan, lalu berdiri lagi, memegangi pinggangnya yang sakit. 'Oke Bu. Bersih," kata Callista. 'Apa kamu yakin? Jika tidak bersih, Ibu akan membersihkannya lagi. Wajahmu tidak mengatakan kalau kamu suka kebersihan di meja makan,' jawab Yunita. Callista terkesiap sambil mengusap perutnya. Itu saja Bu. Itu benar,' jawabnya. Callista tidak benar-benar meminta Yunita untuk membersihkan rumahnya seperti yang diinginkannya. Selain itu, Yunita sering lelah karena obsesinya terhadap kebersihan. "Perutmu sakit lagi?" Tanya Yunita melihat Callista mengusap perutnya beberapa kali, dan wajahnya yang cemberut seolah menandakan perutnya sedang sakit. "Dia menendang beberapa kali. Entah kenapa dia begitu energik," kata Callista sambil mengusap perutnya. "Benarkah itu?" tanya Yunita, lalu meletakkan kain merah yang digunakannya untuk mengelap meja makan dan menghampiri Callista. Tepat saat Yunita hendak mengelus perut Callista, Callista dengan cepat memutar perutnya, memastikan tangan Yunita hanya menyentuh udara. "Tanganmu kotor, kamu harus mandi," kata Callista. 'Astaga. Saya ingin menenangkan anak Anda di sana. Ya, aku akan mandi' jawab Yunita yang langsung bertepuk tangan beberapa kali untuk menghilangkan debu yang menempel di telapak tangannya. Yunita segera berbalik dan hendak berjalan ke kamar mandi, namun langkah kakinya terhenti dan menoleh ke arah Callista. "Berapa minggu kamu jatuh tempo?" tanya Yunita. Callista tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menemukan jawabannya: "3 minggu lagi," jawabnya. "3 minggu lagi? Astaga. Semoga suamimu bisa segera kembali. Kamu bahkan tidak memikirkan nama anakmu," kata Yunita sambil menggelengkan kepalanya karena pasangan itu belum menikah selama 2 tahun. bahkan nama anak pun disiapkan. . Bahkan selama kehamilan Callista, setiap kali mereka pergi ke dokter untuk pemeriksaan kehamilan, mereka menyangkal identitas bayi mereka. Hingga saat ini, Callista, Yunita dan lainnya belum mengetahui jenis kelamin anaknya. "Kamu harus tenang mencari tahu jenis kelaminnya dan biarkan priamu menebaknya," tambah Yunita. "Bu," keluh Callista karena tidak terima dengan apa yang dikatakan Yunita tentang keputusan suaminya. Wira dan Callista sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak mereka. Mereka ingin semua orang terkejut, dan apakah anak itu laki-laki atau perempuan, mereka akan menerima dan mencintainya dengan sepenuh hati. "Baiklah baiklah, itu keputusanmu. Ibu juga akan menerimanya. Tapi aku harap anak itu laki-laki agar dia bisa menjagamu. Suamimu terlalu sibuk dengan pekerjaannya," kata Yunita sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi dan menelepon Callista. pergi sendiri Mata Callista tertuju pada kain merah di atas meja. Juga, itu adalah benda kotor yang digunakan ibunya untuk membersihkan meja makan. Callista segera mengambil kain merah itu dan meletakkannya di tempat lain. Segera cuci tangan di bawah air mengalir di mesin pencuci piring. Callista tersentak mendengar dering telepon yang keras dan segera menyeka lengannya dengan pakaian yang dikenakannya. Kakinya berlari ke meja televisi. Sebuah nama "ibu mertua" muncul di layar ponselnya. Callista segera menjawab panggilan masuk. "Halo, Bu," sapa Callista saat menerima telepon dari Tanisha, ibu mertuanya. "Halo sayang. Apa kabar? Jadi?" Tanis bertanya kepada Callista. Callista mendudukkan tubuh di sofa sementara dia mendapat telepon dari Tanisha yang berada di Amerika Serikat. “Aku baik-baik saja, Bu. Apa kabar? Maaf saya tidak menelepon Ibu.' "Mama, Papa dan Mahesa baik-baik saja di sini. Untungnya kamu sehat. Kalau dihitung-hitung, kamu akan melahirkan dalam 2 minggu, kan?" "Ya ibu." "Pahlawan masih di Jepang." "Ya ibu." 'Sayangnya. Apakah Anda baru saja kembali dari Indonesia?' “Tidak perlu, Bu. Wira akan pulang.' 'Benarkah? Syukurlah untuk itu. Jaga kesehatanmu, sayang. Beritahu saya jika Anda butuh sesuatu.' 'Baik nyonya. Mama menjaga kesehatanmu di sana juga, kan?' "Iya sayang. Nggak apa-apa kalau mama mau tidur terus. Mama tiba-tiba teringat kamu dan bangun jadi mama manggil kamu." Callista melihat jam di dinding rumahnya dan melihat jam sebelas siang. Waktu yang sama menjadi jam 12 di Amerika, tanda di Amerika adalah jam 11. "Tenang, Bu," kata Callista. "Ya sayang." Tut. Saluran telepon terputus. Callista melihat ponselnya dan matanya tertuju pada ikon baterai berwarna merah. "Ya Tuhan, aku tidak mengisi baterainya," gumam Callista, bangkit dari kursinya dan pergi ke kamarnya dan mencolokkan ponselnya ke pengisi daya. Setelah memastikan ponselnya dicolokkan ke pengisi daya, Callista kembali ke kamar. ketukan! ketukan! ketukan! Ketukan di pintu membuat Callista mundur selangkah, apalagi kakinya baru saja meninggalkan ruangan. "Ya, tunggu," teriak Callista. Dia meraih kenop pintu dan menariknya. Ketika pintu terbuka, matanya melebar melihat seorang pria berdiri di depannya. "Erik?" kata Callista. Eric yang semula memunggungi Callista langsung berbalik sambil memegang kantong plastik berisi ayam goreng kesayangan Callista. 'Halo. Aku membawanya,' kata Eric. 'Hai! Apakah Anda sudah kembali ke Maluku?' tanya Callista. "Ya. Sebenarnya, aku kembali kemarin, tapi aku lelah, jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumahmu hari ini. Bagus kan?" tanya Eric. "Tentu saja. Silahkan masuk," kata Callista sambil membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Callista masuk ke rumahnya. Yunita yang baru saja selesai mandi dan mendengar suara anaknya berbicara, langsung keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Eric berdiri di depannya. "Ya Tuhan Eric! Lama tidak bertemu!" Kata Yunita, langsung berlari ke arah Eric untuk memeluknya. "Halo Bu," Eric menyapa sambil membalas pelukan hangat Eric. "Kenapa kamu tidak membiarkan Eric masuk?" Yunita bertanya pada Callista siapa yang ada di pintu, jadi Eric masih berdiri di pintu. 'Baik nyonya. Ibu menghalangi jalan," jawab Callista dengan mata terbelalak. "Oh benarkah? Kalau begitu ayo masuk ke dalam," kata Yunita dan langsung menggandeng tangan Eric dan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam rumah. Setelah Eric duduk di sofa, Yunita langsung menyambar ayam goreng yang dibawakan Eric ke meja makan. "Ayamnya saya taruh di sini. Saya mau ganti baju dulu," kata Yunita sambil meninggalkan Callista dan Eric di ruang tamu. Yunita segera masuk ke kamar. "Apakah kamu ingin minum sesuatu?" tanya Callista. "Hanya air biasa," jawab Eric. Callista langsung pergi ke dapur dan mengambil segelas air untuk Eric. "Ini," kata Callista, menyodorkan air mineral kepada Eric. "Terima kasih," jawab Eric dan segera mengambil gelas dari tangan Callista lalu menelan setengah gelas. "Kupikir kamu akan kembali ke Jakarta pada akhir tahun, seharusnya aku menjemputmu di bandara," kata Callista. Eric meletakkan gelas yang dia gunakan di atas meja dan menatap Callista, "Tidak perlu. Aku sengaja datang secara rahasia untuk mengejutkanmu. Oh ya, bagaimana kabar putramu? Segera, kan? Tidak sabar untuk melihatnya bertemu." Eric yang semula duduk di sofa langsung turun dan mengusap perut Callista. Eric tersenyum dan berkata kepada bayi di sana, "Hei, Nak. Cepat dan jangan sakiti ibumu. Dia wanita yang kuat. Aku akan menjadi paman yang baik untukmu nanti," kata Eric ke perut Callista. Di kejauhan, tepatnya di depan rumah Callista, sebuah mobil hitam tampak berhenti dan memperhatikan pergerakan Callista dan Eric dari kejauhan. Selain itu, pintu rumah Callista yang tidak tertutup memberikan akses lebih bagi orang untuk melihat ke dalam. Setelah beberapa menit hening, mobil mulai berjalan. Callista melihat mobil tersebut berhenti terlebih dahulu dan langsung pergi tanpa mengetahui siapa yang berada di belakang mobil tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN