Yunita keluar kamar setelah selesai membersihkan dirinya. Namun, penampilannya berbeda dari biasanya. Yunita hanya mengenakan gaun sederhana, lengkap dengan perhiasan dan tas kecil di bahunya.
Callista dan Eric yang sedang menonton televisi bersama tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke Yunita.
"Ibu mau kemana?" tanya Callista saat melihat Ibunya baru saja keluar dari kamar.
"Ibu disini sebentar dengan teman, Ibu tidak di daerah yang sama. Kamu di rumah dulu dengan Eric," kata Yunita.
Yunita pun menatap Eric dan tersenyum, "Tolong bantu aku Callista sekita ya. Ibu sekita saja kok."
"Ada apa denganku, anak kecil?" protes Callista lalu menyilangkan tangannya di depan ayahnya
Eric yang mendengar ejekan Callista mengangguk dan berbicara dengan lembut ke kepala Callista, "Aku tidak takut padamu, kamu masih gadis kecil yang muntah merengek," jawab Eric.
Ponsel Yunita juga menarik, membuat perhatian ketiga orang yang ada disana tidak akan tersesat lagi. Dengan buru Buru Yunita mengeluarkan ponselnya dari tasnya kemudian menerima panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.
"Halo? Oh, maaf, aku pergi dulu. Tunggu di sana aja ya jeng," jawab Yunita dan langsung mematikan telepon.
"Sudah ya, Ibu beligat dulu. Ibu callista ya, Ric," kata Yunita sambil meninggalkan rumah.
Callista yang melihat Ibunya hidup sebagai sosialita dan suka bergaul dengan teman-temannya, hanya menggelengkan kepala dan mengatur napas. Meski memiliki kepribadian seperti itu, Yunita tampaknya kebalikan dari Callista, yang lebih suka menyendiri dan menolak bersosialisasi.
Meskipun Callista berusia 28 tahun, Callista menolak untuk memiliki banyak teman dan bahkan menghabiskan waktu dengan temannya di luar dirinya. Yang terpenting Callista benar-benar memutuskan untuk berhenti bekerja setelah menyelesaikan S2 dan menikah dengan suaminya sekarang.
"Mau makan ayam gorengnya? Biar aku siap," kata Eric yang duduk di sebelah Callista.
Callista menoleh ke arah Eric dan menganggukkan kepalanya, "Boleh. Apa ada sausnya?"
"Tentu saja. Aku tidak mau menambahkan saus keju pedas ekstra kesukaanmu," jawab Eric lalu bangkit dari duduknya menuju ayam goreng yang masih berada di plastik di atas meja makan.
Eric tampak bingung melihat meja makan dan itu membuat Callista menatap Eric bingung.
"Ada apa?" tanya Callista.
"Sepertinya minyaknya akan mengotori meja jika saya taruh di sini. Apa yang harus saya taruh di sini?" tanya Eric sambil menunjuk kotak ayam goreng yang terlihat berminyak.
Saat Callista hendak bangun, Eric segera menghentikan Callista dan memeluknya, "Biarkan aku sendiri. Tunjukkan saja di mana harus meletakkan cincinnya," kata Eric.
"Di laci atas ke 2 dari kanan," jawab Callista sambil menunjuk ke arah laci dapurnya.
Eric juga mengikuti instruksi yang diberikan oleh Callista dan mengambil piring di tempat yang ditunjukkan Callista. Tak land, Eric juga mengkuk mangkuk kecil untuk mekkan saus keju pedas milik Callista.
Setelah itu, Eric dengan cepat memindahkan ayam goreng dan meletakkannya di piring. Kemudian tuangkan saus keju ke dalam mangkuk kecil yang telah dia siapkan. Bungkus ayam goreng yang lama dibersihkan oleh Eric dengan cara membuangnya ke tempat sampah agar tidak bau.
"Nah ini dia," kata Eric sambil membawakan ayam goreng kesukaan Callista di hadapannya.
Mata sipit Callista berubah seketika. matanya menatap ayam goreng yang tampak menggugah seleranya.
"Wah, ini terlihat sangat bagus," kata Callista.
Satu tangan Callista pun terulur dan mekho sepotong paha ayam goreng. Tangan Callista yang lain mengambil mangkuk kecil berisi saus keju pedas lalu mencelupkan ayam goreng ke dalamnya.
Dengan penuh semangat, Callista langsung menggigit ayam itu dan menikmati setiap suapannya.
"s**l sepertinya aku sudah terlambat makan makanan ini. Teksturnya yang crunchy di luar dan juicy di dalam, membuatku selalu merindukan ayam goreng yang satu ini," kata Callista sambil menikmati ayam gorengnya.
Melihat Callista sangat menikmati ayam gorengnya membuat Eric bersemangat. Pria itu juga ikut nekho ayam goreng di atas piring dan menyantapnya.
"Oh ya. Selama di Maluku, bukankah semuanya baik-baik saja?" Callista bertanya pada Eric.
Beberapa bulan terakhir, Eric ditugaskan oleh kantornya untuk pergi ke Maluku. Dia tidak akan bekerja di bagian Puskesmas untuk membantu meningkatkan kesadaran akan kesehatan masyarakat Maluku.
Untungnya, Callista dan Eric tidak saling bertemu. Bahkan, karena kesibukan Eric, Callista dan Eric kehilangan kontak dan lama tidak saling menghubungi.
“Mari kita mulai. Awalnya mereka tidak menerimaku karena aku memiliki wajah yang sedikit mirip dengan orang Cina mungkin? Meskipun aku asli, aku tidak tahu kenapa aku takut," jawab Eric.
Memang benar, penampilan Eric benar-benar terlihat seperti orang Cina. Dengan kulit putih dan mata sipit, siapapun yang melihatnya akan menganggap Eric sebagai orang China. Padahal pria tersebut keturunan Indonesia dan tidak memiliki sedikit darah Tionghoa.
Mendengar ucapan Eric tentang rasisme membuat Callista tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai tersedak.
"Berteriak!"
Eric yang melihat Callista tersedak, segera mengambil air minum dan memberikannya kepada Callista.
"Makanya jangan menahanku. Lagi pula pada akhirnya mereka percaya padaku. Mereka menyerahkan kesehatannya kepadaku dan sebelum aku merah, mereka mengirim banyak bungkusan makanan agar aku menjadi merah," kata Eric.
Callista langsung meneguk habis air putih yang dakan oleh Eric untuknya.
"Hanya saja kedengarannya lucu bagiku. Bagus jika mereka percaya padamu, kamu selalu baik," jawab Callista sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
"Oh, apa suamimu?" tanya Eric yang belum bisa menemukan keberadaan Wira, padahal raja ini adalah Raja Sabtu, seharusnya Wira ada di rumahnya.
"Mas Wira sedang dalam perjalanan bisnis ke Jepang."
"Sampai kapan?"
"Beberapa raja selalu ia akan merah."
"Bagus. Ia harus ada godaan saat melahirkan. Jika tidak, aku akan mengirimnya ke Jepang dan membawanya sebagai subjek," kata Eric.
Suara telepon juga datang dari arah kamar Callista yang tertutup. Wanita itu berdiri di sana di teras.
Begitu berada di dalam kamar, ia langsung menuju ke ponselnya yang masih terhubung dengan ponsel. matanya memecing saat melihat nomer tak taksikkan saat.
"Halo?" sungai Callista.
"Aditya?" gumamnya
Callista segera memutuskan sambungan telepon dan kemudian berjalan keluar. Dia membuka pintu utama rumahnya sampai seorang pria dengan mantel muncul berdiri di depan rumahnya.
"Maaf Bu Aditya, saya sopir pribadi Pak Wira," kata Aditya.
Aditya menatap Eric yang sedang menikmati makan ayam goreng di ruang tengah. Callista juga berkata, "Oh itu Eric, temanku. Apa kamu mau masuk?"
“Tidak usah Bu. Saya di sini hanya untuk menyerahkannya. Ini akan diambil dari pangkuan dokter, Bu. Kemudian dokter memberi tahu Pak Wira, lalu Pak Wira meminta saya untuk mengambilnya. Ini seperti vitamin," kata Aditya sambil memberikan vitamin kedua kepada Callista. .
Tangan Callista juga meminum vitamin berisi tersebut.
"Dokter Ibu sebagai untuk lebih banyak gembuat tapi jangan mengatan beban berat. Jika sudah merasa segera datang ke Rumah Sakit. Pak Wira sudah reservasi kamar untuk Ibu," kata Aditya lagi.
“Oh begitu. Terima kasih ya,” jawab Callista.
"Sama-sama Bu. Kalau begitu saya pamit izin dulu, Bu. Saya harus segera kembali ke kantor."
"Oh oke oke. Sekali lagi terima kasih banyak."
Aditya pun pergi di depan Callista dan langsung meninggalkan rumah. Callista tampak berpikir sejenak sejak kapan pria itu berdiri di depan pintu? Apa dia mendengarkan seluruh percakapannya dengan Eric. Bahkan Callista tidak mendengarkan suara pintu dibuka seperti sekarang dia yang mendengar suara pintu dibuka saat Aditya keluar dari rumahnya.