Fukuoka, Jepang
*
Wira pergi ke area restoran tempat dia bertemu dengan orang Indonesia yang akan bekerja untuk perusahaannya. Seperti biasa, Satria membuka diri ke Wira sebelum meninggalkan area restoran sepenuhnya.
'Saya mengucapkan selamat kepada Anda, Pak. Karena sejauh ini rencana pariwisata di Jepang berjalan dengan baik," kata Ayu yang duduk di kursi penumpang depan dan mengalihkan pandangannya ke Wira yang sedang sibuk dengan ponselnya.
'Ya terima kasih. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah membantu saya dengan cepat memenuhi semua kebutuhan dan jadwal saya selama saya di sini, ”jawab Wira, masih melihat ponsel.
Ayu yang duduk di kursi depan juga melihat ke layar ponsel Wira yang terlihat jelas dari tempatnya berada. Matanya menyipit saat melihat layar panggilan di ponsel Wira.
Beberapa saat kemudian, Wira memutuskan untuk mengakhiri panggilan karena penerima sepertinya tidak menerima panggilan tersebut. Wira memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan melihat ke luar jendela. Nikmati setiap pemandangan Kota Fukuoka yang penuh dengan bunga sakura.
"Bunga apa yang ada di sana?" tanya Wira saat melihat sekuntum bunga bergelantungan di pohon lilac.
Satria mencoba melihat bunga yang ditunjuk Wira. "Itu wisteria, Pak," jawabnya.
"Lumayan bagus."
"Tapi itu beracun. Makanya selalu ada tanda di depan pohon yang mengatakan jangan makan bunganya," tambah Satria.
"Sayang sekali," kata Pahlawan.
Meski bisnisnya di Jepang berjalan lancar, Wira tetap khawatir. Apalagi sekarang dia kesulitan berkomunikasi dengan Callista. Dia menelepon beberapa kali, tetapi istrinya tidak menjawab.
“Tuan, sepertinya kita akan check out dari hotel besok dan pergi ke Tokyo. Selebihnya kita ketemu orang di Tokyo,' kata Ayu membangunkan Wira dari mimpinya.
'Ya, perbaiki,' jawab Wira.
"Baik, Pak," kata Ayu.
Saat ini, pria tersebut telah mengidentifikasi sekitar 10 orang yang akan bekerja sebagai penerjemahnya. Pariwisata yang dibangun di Jepang yang menyasar masyarakat Indonesia tampaknya berjalan dengan baik.
Dan jika demikian, mungkin kedepannya Wira juga akan terbuka untuk kunjungan dari negara lain bahkan ikut serta dalam pengembangan bisnis perhotelan dan kuliner di Negeri Sakura.
Setelah perjalanan, Satria akhirnya memasuki area hotel yang ditempati oleh Wira dan Ayu. Mobil yang dikendarainya berhenti tepat di luar lobi hotel. Sesaat sebelum Wira turun, pria itu menanyakan Ayu tentang jadwalnya besok.
"Besok kita check out jam berapa?" tanya Wira pada Ayu.
Sudah jam sembilan, Pak, kata Ayu.
"Maka harus di lobby hotel jam setengah sembilan, Sat. Nanti baru dihitung biaya perjalanannya. Kalau bisa ke Tokyo bisa," kata Wira.
"Baik, Pak," jawab Wira.
Wira langsung turun dari mobil setelah salah satu gadis hotel membukakan pintu mobil. Kakinya segera melangkah ke ruang tamu dengan Ayu mengikutinya.
Saat dia sampai di lift, pria itu beberapa kali melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kanannya.
"Apakah Anda sedang menunggu seseorang, Tuan?" tanya Ayu penasaran dengan apa yang dilakukan sutradara.
'Tidak ada apa-apa. Aku hanya menghitung waktu. Mungkin istri saya sudah tidur, makanya dia tidak menjawab telepon saya,' kata Wira.
ting!
Lift berjalan, beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan keduanya yang menunggu langsung masuk ke dalam.
Ayu segera mengulurkan tangan dan menekan tombol angka 11, lantai yang mereka tempati.
"Apakah Anda ingin saya membantu Anda membereskan barang bawaan Anda besok?" tanya Ayu di tengah keheningan mereka disana.
Wira menoleh dan menatap Ayu dari pantulan kaca di dalamnya, “Tidak perlu. Saya bisa sendiri," jawab Wira sambil melepas dasi yang seolah-olah mencekik lehernya.
Akhirnya mereka sampai di lantai tujuan. Setelah membuka pintu, Wira langsung berbelok ke kanan lalu menoleh ke arah Ayu, "Terima kasih untuk hari ini. Makan malam seperti biasa di restoran hotel," kata Wira.
"Baik tuan."
Berbeda dengan Wira yang berbelok ke kanan, Ayu justru berbelok ke kiri. Meski berada di lantai yang sama, Wira menepati janjinya dengan memilih kamar di luar Ayu.
Saat memasuki ruangan, Wira langsung meletakkan jas yang dikenakannya, beserta ponsel dan jam tangannya. Matanya menyipit saat melihat sebuah amplop cokelat di meja samping tempat tidurnya.
Saat dia berjalan, dia tiba-tiba mendengar bel pintu. Lakukan pria itu segera berbalik dan menghampiri pintu.
Saat dibuka, Ayu berdiri di depan sana dengan telepon yang menempel di telinganya. pintu kamar Wira yang telah terbuka, Ayu pun membalik dan membocorkan Wira.
"Pak, Tuan Bara menelepon anda," ujar Ayu.
"Benarkah? Oh oke," Balas Wira.
"Sudah saya sampaikan, Pak. Sama sama, Pak," balas Ayu pada Bara yang tampaknya sudah berada di sambungan telepon.
"Kalau begitu saya izin, Pak," ujar Ayu kemudian akhirnya pergi dari depan kamar Wira.
Wira segera menutup pintu kamar dan benar-benar saja, teleponnya pun bedering. Mungkin karena Wira sedari tadi berusaha menghubungi Callista, membuat semua panggilan sulit masuk ke ponselnya.
"Lingkaran cahaya?" sapa wira tepat saat sambungan teleponnya terhubung dengan bara yang berada di Amerika.
"Nak, Papa dengar kamu sudah berhasil memenangkan tender di Fukuoka. Lalu selanjutnya bagaimana? Pembangunan hotel?" tanya bara yang segera langsung bertanya pada perkembangan bisnis yang sedang dijalankan oleh anaknya.
Wira kembali menghela napasnya dan melepaskan dasi yang menempel di lehernya. Kakinya pun melangkah ke arah sofa dan segera mendudukan dirinya di atas sana.
"Untuk hotel sepertinya aku tunda dulu. Aku memutuskan untuk melihat melihat turis Jepang. Baru setelahnya bisa membicarakan tentang pembangunan hotel. Untuk izin Pak Hito sudah menyetujuinya," jawab Wira.
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, kau sudah tahu?" tanya baro.
Dahi Wiramengerenyit saat mendengar ucapan Bara, "Ada apa?"
"Sepertinya perjalanan bisnismu di Jepang akan lebih lama yang diperkirakan. Papa yakin sepertinya sempat memberitahumu juga sebelum keberangkatan," ujar Wira.
dasar Wira pun perjalanan mereka pada ucapan Ayu yang mengatakan jika di Jepang akan lebih lama dari yang diperkirakan.
"Apa maksud Papa?"
"Pak Levi tidak bisa hadir di Tokyo besok karena sedang dalam perjalanan juga di China. Tapi Ayu sepertinya sudah memesan hotel di Tokyo. Mungkin baru bisa bertemu lusa."
"Tapi, Pa. Aku harus pulang, Ayu akan segera melahirkan," tolak Wira.
"Atau Papa saja yang ke sana? Papa tidak masalah."
Wira pun sudah diproduksi dengan usia Bara yang lagi muda. Jika harus Bara yang akan datang, tentu akan lebih lama dan biaya.
Akhirnya Wira pun Mengalah, "Sampai kapan?"
"Mungkin tambah 2 minggu lagi," balas Bara.
Hanya bisa membuang napasnya dan kini ia kembali bingung dengan alasan yang harus diberikan pada panggilan karena terlambat kembali. Dan kemungkinan besar ia akan melewatkan momen kelahiran anak pertama yang sudah sangat dinantikan olehnya.