2 minggu berlalu tanpa aku sadari. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Callista, karena suaminya akan segera kembali ke Indonesia. Hati Callista tak kuasa menahan rasa senang. Penantiannya untuk bertemu dengan istrinya akhirnya akan terwujud.
Callista membuktikannya hari ini, Yunita dan Eric yang sedang sibuk membersihkan rumah untuk menyambut kedatangan Wira besok. Callista bahkan membeli barang-barang lain yang akan dia gunakan untuk membuat hidangan untuk menyambut suaminya.
"Jangan ambil, serahkan pada Ibu!" teriak Yunita, kaget melihat anaknya mengangkat kursi dari meja makan sendirian.
Yunita yang panik melihat anaknya mengangkat kursi sendirian, langsung berlari ke Callista dan meraih kursi yang tadi diangkat anaknya.
"Apakah kamu tidak tahu kamu akan melahirkan? Kamu akan melahirkan dalam waktu kurang dari 2 minggu, Callista!" kata Yunita memperhatikan anaknya dengan prihatin.
Alih-alih sedih, Callista justru menertawakan ocehan ibunya yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya dan tentu saja dirinya sendiri.
"Tidak sulit kok Bu. Jangan khawatir," kata Callista.
"Mau dipindahkan kemana?" tanya Yunita pada anaknya.
"Di sana. Saya ingin membuat adonan pie di sini. Mas Wira minta dibuatkan kue coklat sesampainya di rumah," jawab Callista sambil menunjuk ke sudut tempat dia akan meletakkan kursi yang akan dia tuju.
Eric yang sedang membersihkan langit-langit segera menghampiri Yunita dan Callista. Sambil tersenyum manis, pria itu langsung mengambil kursi dari tangan Yunita.
"Tinggalkan aku sendiri, Bu," kata Eric, lalu mendorong kursi ke sudut yang ditunjuk Callista.
"Terima kasih, Eric," jawab Yunita.
"Bocah ini benar-benar acak dalam gerakannya. Aku khawatir jika dia terus seperti ini," cibir Yunita kepada putranya.
"Sudah kubilang, Bu, kursinya ringan. Ambil perlahan.'
pelat!
Sebuah pukulan mendarat di bahu kaku Callista.
"Ya ampun, perilakumu jelek. Semoga tidak diturunkan ke cucuku,' cibir Yunita, meninggalkan Callista dan berbalik untuk membersihkan sudut televisi.
Eric menertawakan obrolan Yunita yang tak ada habisnya. Eric hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju Callista.
"Jika Anda butuh sesuatu, hubungi saya," kata Eric.
"Terima kasih. Tapi sekarang sepertinya aku bisa mengatasi diriku sendiri," jawab Callista.
Wanita hamil itu memasuki dapur dan mengeluarkan bahan-bahan yang dia butuhkan untuk membuat kue coklat. Callista kemudian membawa semua bahan dan peralatan ke meja makan dan mulai mencampur di sana.
Callista membuat kue coklat dengan bahan yang sudah jadi, tinggal menambahkan telur dan margarin.
Sambil menunggu Callista membuat kue, Eric kembali membersihkan sudut kamar mandi dan Yunita membersihkan halaman depan Callista.
Setelah berjuang selama 30 menit dengan adonan kue yang telah dia tekan, Callista dengan hati-hati membawa kaleng kue berisi adonan kue ke panggangan. Belum lagi, Callista juga sudah mengatur waktunya menjadi 45 menit, agar kuenya memberikan hasil yang garing di luar dan lembut di dalam, sesuai keinginan Wira.
"Kau sudah selesai dengan kuenya?" Eric bertanya ketika dia melihat Callista berdiri di depan oven memandangi adonan kue yang dia taruh.
"Sudah siap. Tunggu, sudah selesai. Mau mencicipinya? Ini kue kesukaan suamiku," kata Callista.
'Tidak dibutuhkan. Itu milik suamimu.'
"Aku membuat lebih banyak. Tidak apa-apa untuk memakannya," jawab Callista.
Callista kembali ke meja makan dan membersihkan sisa-sisa material yang tidak digunakannya. Kemudian cuci peralatan yang dia gunakan. Setiap gerak-gerik Callista benar-benar diperhatikan oleh Yunita.
45 menit berlalu dan suara oven menandakan bahwa proses memanggang adonan kue Callista telah selesai. Mengenakan sarung tangan tebal, Callista mengeluarkan kaleng kue dari dalam dan meletakkan setiap potongan kue di wadah terpisah.
Tak ketinggalan, Callista juga memilihkan beberapa kue untuk dicicipi Eric dan Yunita.
"Bu, Eric, kue coklat ini sudah siap. Aku akan meletakkannya di sini," kata Callista sambil meletakkan piring kue coklat di atas meja makan.
Eric dan Yunita sama-sama berpandangan, tetapi jawaban mereka bertentangan.
'Apakah kamu lupa bahwa ibu sedang sakit gigi yang parah? Berikan kue itu kepada Eric. Dia pasti butuh snack,' kata Yunita.
"Benarkah? Sayang sekali. Kue coklat Callista terlihat enak," jawab Eric sambil berjalan ke piring kue di atas meja makan.
"Aku mau ke kamarku," kata Callista pamit pada Eric yang sedang menikmati kue hangat buatan Callista.
Callista menghentakkan kakinya a hemal masuk ke dalam kamarnya Seperti biasa, dia duduk di tempat tidur dan memegang ponselnya. Baru saja wanita itu salayak lair selponnya tiba tiba saja sebuah kailan masuk ke dalam selponnya.
Nama Wira tertera di layar telponnya, membuat sikkei kembali kembali majali wajah Callista, "Halo, Mas," sapa Callista sewaktu-waktu sambungan telepon tersambung.
Senyum manis Callista awalnya berubah. Itu smile menghilang dan terganti dengan sebuah raut wajah sadih.
Beberapa menit setelah Callista mematikan telepon, dia bertemu dengan Yunita yang baru saja memasuki ruangan.
"Wajahmu kenapa? Kenapa kelihatan murahan? Ada apa?" tanya Yunita sambil melangkah mendekati Callista.
berdiri tubuh Callista terpincang-pincang dan menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Ibunya. Air mata mengalir deras.
“Hei, ada apa? Ada apa? Ceritakan, Bu,” tanya Yunita yang khawatir karena emosi anaknya yang begitu drastis.
Tangisan Callista perlahan menghilang dan tubuhnya kembali tegak. Kedua tangannya segera menyeka jejak udara di mata nanas.
Sambil tersenyum ia berkata, "Mas Wira tidak bisa pulang besok, Bu," kata Callista.
"Apa sebabnya?" Satuan Palsu.
"Ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. Dan mungkin itu hanya visa merah selama 2 minggu," jawab Callista.
"Apakah dia gila?! Istri saya melahirkan hanya untuk memilih pekerjaannya. Telepon ibu, biarkan dia menelepon suaminya sekarang dan biarkan dia memanggilnya merah."
Yunita langsung mengedarkan nadapannya berusaha mencari lokasi ponselnya, namun dengan cepat Callista menahan Ibunya dan menatap wajah Yunita.
"Bu, tidak perlu. Saya tidak egois karena ini. Selalu merah. Mas Wira tak akan lama. Nanti dia musti akan pulang," Lirih Callista.
"Egois appanya? Itu sudah menjadi hakmu jika kamu membutuhkan suamimu saat melahirkan!"
Yunita mengaku sangat menyesal jika anaknya harus melahirkan tanpa suaminya.
"Bu, sudahlah. Jangan terlalu khawatir, oke? Dia selalu melakukan ini untuk masa depan keluarga dan putranya juga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?"
Yunita terengah-engah dan tidak memikirkan mengapa putranya tidak peduli jika suaminya tidak merawatnya ketika dia melahirkan pertama kali.
"Lalu bagaimana dengan mertuamu? Mereka juga tidak bisa datang kan?" tanya Yunita, yang mulai berjalan ke arah lain.
"Bu. Mertuaku masih di Amerika. Tidak mungkin saya langsung meminta mereka datang. Perjalanannya akan sangat menarik. Ayo," kata Callista.
Meski dalam hatinya ia tidak terima bahwa ia akan melahirkan tanpa ditemani suaminya, ia harus menerimanya. Apa sua Wira di telepon benar-benar benar angang menengaso dan tak bis berbuat apanai demi menjalankan bisnisnya. Satu-satunya hal yang tidak dikorbankan adalah keluarga.
Bukan salah orang lain, Callista juga tidak bisa memungkiri usaha keluarga Wira yang membuatnya hidup dan menjadi ibu kerajaannya. Karena itu, sebagai seorang istri, Callista juga tidak ingin egois dan memanfaatkan suaminya.
Suka tidak suka, mau tidak mau, Callista akan memanar ia nemeramanya.
"Sepertinya kue yang kubuat untuk mas Wira sia sia," gumam Callista sambil meremas tangannya.