BAB 45

1118 Kata
Seminggu sejak Wira mengumumkan akan memperpanjang masa tinggalnya di Jepang akhirnya berakhir. Selama waktu itu, Callista melihat perubahan perilaku suaminya, yang menjadi dingin. Lagi pula, jika biasanya Wira yang selalu menghubungi Callista untuk menanyakan kabarnya dan hari-hari Callista, kini berubah seketika. Wira tidak berinteraksi dengannya selama 3 hari terakhir, jadi dia lebih khawatir. Hingga akhirnya Callista memutuskan untuk bertanya langsung pada Ayu, sekretaris pribadi suaminya yang bersama Wira di Jepang. Tapi jawaban Callista sepertinya tidak seperti yang dia harapkan. Ayu mengatakan Wira sangat sibuk, bahkan Ayu sendiri kesulitan berbicara dengan Wira karena Wira sangat sibuk. Tidak puas dengan jawaban yang diberikan Callista, akhirnya Callista memutuskan untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu. Sambil menunggu Wira menjawab teleponnya, Callista mondar-mandir seperti baja tanpa henti untuk bergerak. Yunita hanya menggelengkan kepalanya setelah mandi dan kembali ke kamarnya untuk merawat anaknya yang masih berjalan dengan ponsel yang terpasang di ponselnya. "Apakah kamu masih mencoba menghubungi Wira?" tanya Yunita. Ia melepas ponsel yang semula menempel di telinga Callista, Callista terus menatap ibunya, “Apa yang harus aku lakukan? Belakangan ini Mas Wira pun susah dihubungi. Aku benar-benar tidak mengerti ada apa dengan tangan itu Bu, bisik Callista. Setelah bergerak, wanita itu akhirnya duduk di tempat tidurnya sambil menggigit kukunya. Yunita yang sudah tahu putrinya akan menggigit kukunya jika khawatir, akhirnya menghampiri Callista dan duduk di sebelah putrinya. “Mungkin suamimu sibuk, Nak. Kemarin sekretaris memberitahunya bahwa Wira sedang sibuk. Tolong mengerti istrimu,' kata Yunita. Callista akhirnya memeluk Yunita dengan erat. Perasaannya campur aduk, di satu sisi ingin memahami keadaan istrinya. Namun di sisi lain, ia juga membutuhkan istrinya. Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, kesenangannya menjadi populer, baik karena kelahirannya yang akan datang atau sesuatu yang lain. Yang jelas, Callista sangat ingin diperhatikan oleh Wira. Selain itu, Wira yang tiba-tiba menghilang dan sering berhenti menghubunginya membuat Callista bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di Jepang. "Bu," panggil Callista sambil memeluk ibunya. Yunita melepaskan pelukan putranya dan menatap wajah anak tunggal itu. "Apa ini?" dia membalas. 'Mas Wira tidak mungkin penipu, kan?' tanya Callista tiba-tiba. "Heh! Itu bahasamu! Suamimu bekerja untuk mencari nafkah untukmu dan anakmu, kenapa menurutmu itu tidak benar? Kalau seperti itu, ibu tidak akan diam, oke, Callista," Yunita. menjawab Ini benar jika kata-katanya tampak konyol dan tidak logis. Tapi setiap wanita pasti akan berpikir begitu. Apalagi jika istrinya bersama wanita lain selama berbulan-bulan. 'Tapi bagaimana jika itu benar? Mas Wira sudah sebulan dengan sekretarisnya, Bu,” kata Callista. Yunita meraih bahu Callista dan mengelusnya, "Aku tahu. Aku tahu betul, kamu harus khawatir tentang lelakimu. Tapi percayalah padanya jika dia bisa menjaga perasaannya. Jangan terlalu banyak mengambil keputusan, pikirkan dua kali... akhirnya menyesal, Nak," kata Yunita. Callista menghela nafas. Yunita merasa harus menyerahkan putranya. "Apakah kamu menginginkan Ayah?" tanya Yunita. Callista segera menjawab dengan kaget. "Saya suka Mas Wira," jawab Callista. “Nak, kamu belum makan dari pagi. Ini jam sebelas siang, tidakkah kamu merasa kasihan pada putramu? Atau kamu menginginkan sesuatu? Nanti aku bisa mengirim Eric untuk membawakanmu makanan.' Callista langsung memutar bola matanya dan bangkit dari kursinya saat mendengar ibunya menyebut nama seorang pria yang berdiri sangat dekat dengannya. "Bu! Jangan suruh Eric ke sini. Tidak keberatan kalau Eric datang ke sini hampir setiap malam untuk mengantarkan makanan? Mungkin ini salahku karena aku menginginkan sesuatu dan aku memberi tahu Ibu, tapi tidak perlu pergi," kata Eric. "Benar, Bu?" teriak Callista. "Lagi pula, Eric suka datang ke sini. Ibu tidak memaksa Eric untuk datang ke sini, dia sering menawarkan untuk datang. Dan kebetulan kamu sangat menyukai sesuatu. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?" tanya Yunita. “Malam ini tidak perlu meminta Eric datang ke sini, biarkan dia istirahat. Saya yakin banyak pekerjaannya yang terbengkalai hanya karena membawa cari saluran televisi anak yang bisa menaikkan moodnya yang sedang rusak hari ini. Sebenarnya ia takmenginginkan acara apapun, ia hanya butuh butuh yang setidaknya melupakan keegoisannyamengai keberadaan suaminya. Tangan Callista masih memegang ponsel berlogo apel digigit pada tangan kanannya. Beberapa kali bahkan Callista membocorkan layar ponselnya berharap ada panggilan masuk dari sana. Tiba tiba saja, layar ponsel Callista yang terletak di atas meja menyala, membuat wanita itu segera mengambil ponselnya. Benar saja, nama yang ia tunggu akhirnya muncul di layar ponselnya, Wira. Dengan segera Callista menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya pada daun telinganya. "Halo mba?" sapa callista. "Halo. Maaf aku baru selesai meeting dan ponsel aku matikan. Ada apa?" tanya wira. Rasa sedih seketika menjalar pada tubuhnya, saat ia sama sekali tak mendengar kata sayang yang diucapkan oleh suaminya kepadanya. "Kamu udah makan?" tanya Callista basa basi, berharap suaminya kembali seperti sedia kala. "Sehabis ini aku mau makan dengan rekan yang lain. Kebetulan katanya ada restaurant sushi yang enak dekat sini. Kamu sudah makan?" Tanya Wira Kepada Callista. Mendengar Perhatian Wira yang kembali, Callista pun tersenyum senang. Wanita itu menganggukan kepalanya, tetapi untung saja ia tersadar jika suaminya tak bisa melihat anggukan kepalanya. "Sudah. ​​Eh belum," jawab Callista cepat karena ia tidak memakan apapun sejak pagi. "Jangan lupa makan," Balas Wira. "Iya, Bu." menciptakan suasana yang membingungkan dan terjebak di antara sambungan telepon mereka. Tak biasanya mereka saling berdiam seperti ini dan bahkan Wira sama sekali tidak bertanya lebih dulu kepada Callista seperti yang biasa ia lakukan. "Callista," panggil Wira tiba tiba, memecah keheningan di antara mereka. "Ya?" balas Callista. "Boleh aku minta sesuatu padamu?" tanya wira. "Apa mas?" "Akumenginginkan tes DNA pada anak yang kamu kandung, apa bisa?" tanya wira. Tubuh Callista terasa tersambar oleh petir saat mendengar permintaan Wira. "Apa maksudmu?" "Aku hanya ingin memintanya saja. Apakah dia akan lebih mirip denganku atau kamu," jawab Wira. Callista menaikkan harga alisnya namun ia merasa bukan itu jawaban yang sebenarnya ingin Wira cari tahu. "Kamu curiga padaku?" tanya callista. "Tidak. Bukan mohon-" "Seharusnya aku yang curiga sama kamu dan Ayu, Mas! Kamu bilang gak akan punya kamar hotel bersebalah dengan Ayu, tapi sekarang apa?" "Kok kamu jadi bahas ke situ?" balas wira dengan nada suara memekik. Mendengar Wira yang membentaknya, Callista menjadi sedikit terkejut. matanya bahkan berkaca kaca. "Mas, sepertinya kamu kelelahan. Maaf kalau aku mengganggu kamu. Kamu jangan lupa makan. Maafkan semua ucapanku," ujar Callista. tut. pada Callista mematikan sambungan telepon. Wanita itu tak ingin mendengar ucapan suaminya yang tampak tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut. Memang benar pada hotel pertama Wira dan Ayu memiliki letak kamar yang jauh, tapi mengapa tiba-tiba saja Callista mengetahui kabar dari Aditya jika kamar Wira dan Ayu bersebelahan di hotel yang baru. Tak hanya itu saja, Wira bahkan tampak menutupi hall tersebut dari Callista, membuat Callista semakin curiga. "Tidak, suami tidak mungkin, Callista kamu mendengarkan Ibu, percaya pada suamimu saja," gumam Callista sambil memilih pilihannya meski dalam hati ia juga penasaran mengapa Wira tiba-tiba meminta melakukan tes DNA kepadanya dan juga anak yang sedang ia kandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN