Dasar Laut Elara
Palung terdalam di Lacoste
Sebelah utara Pulau Velenna
* * * * *
Suara gelembung udara menyadarkan sosok Evander dalam tubuh aslinya yang semula kehilangan kesadaran kembali membuka matanya.
Setelah keputusannya untuk melompat ke dalam Laut Elara yang terletak di sebelah barat Pulau Velenna, Evander pun tenggelam ke dasar palung yang dalam dan bahkan tak ada satu pun makhluk hidup di sana.
Tubuh Evander sebagai seekor naga putih yang begitu besar memenuhi sebuah gua yang ada di dasar palung tersebut.
Kreekkk ! ! ! ! !
Evander membulatkan matanya saat ia menyadari dirinya diikat oleh rantai besar yang diselimuti dengan sihir. Evander pun meluruskan pandangannya dan melihat mata kuning yang merupakan mata dari Zander, saudaranya.
Kreekkkk ! ! ! !
Evander kembali menggerakan tubuhnya namun usahanya sia - sia. Kekuatan sihirnya bahkan tak mampu membuka setiap rantai yang terikat pada keempat kaki, ekor dan juga tubuhnya.
"Sudah bangun rupanya. Bagaimana dengan tempat barumu, apa kau menyukainya?" tanya Zander.
Zander rupanya juga berwujudkan seekor naga hitam. Mereka tak perlu khawatir karena tidak akan ada bangsa manapun yang bisa masuk ke dasar palung dan menemukan mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau lakukan ini kepadaku?" tanya Evander.
Zander tertawa terbahak - bahak mendengarnya.
"Apa kau masih bertanya lagi setelah apa yang kau lakukan?" tanya Zander.
"Kau iri kepadaku karena aku bisa menciptakan majin yang lebih hebat darimu, kan?"
Zander membulatkan matanya, kaki depannya memukul jeruji besi besar yang menghalangi akses jalan keluar dan masuk Evander.
Traannggg ! ! ! ! !
"Diam kau! Kau sekarang sudah tak lebih dari sekedar sampah. Di dasar laut ini, aku mengikatmu dengan sihir terhebatku dan hanya aku yang bisa membukanya," ujar Zander.
Evander tahu Zander memiliki rasa iri yang membuatnya kini gelap mata bahkan sampai mengurung Evander dan mengeluarkan seluruh energi sihirnya dari tubuh Evander.
"Aku sudah mengambil seluruh energi sihirmu. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Tunggu saja, kematian akan menjemputmu," ujar Zander.
Memang mereka berada di dasar air, mungkin karena kekuatan naga mereka dan kemampuan mereka sebagai naga, bahkan di dalam air dan di dasar palung yang minim oksigen, baik Evander maupun Zander mereka sama - sama bisa bernapas di dalam air.
"Kau sudah gila!" pekik Evander.
Zander kembali tertawa keras. Ia pun berenang mundur dan menatap Evander.
"Selamat tinggal, saudaraku," ujar Zander kemudian pergi dari hadapan Evander.
Kini tinggal tersisa Evander sendirian di dasar palung yang dalam dan gelap. Tak akan ada yang bisa menghampirinya dan membebaskannya. Bahkan Azriel sekalipun yang merupakan seorang Noblesse pasti tak akan tahu jika dirinya dikurung di dasar palung terdalam.
"Mungkin Azriel akan berpikir aku sudah mati sekarang," gumam Evander.
Perasaan Evander meredup, ia putus asa. Mungkin hanya tinggal waktu yang bisa berputar dan dia bisa mendapatkan kekuatannya lagi.
Di tengah rasa putus asa Evander, tiba - tiba datang segerombolan ikan ke arah Evander. Evander memicingkan matanya. Semakin ikan - ikan itu mendekat Evander semakin yakin jika makhluk yang mendatanginya bukanlah sosok ikan. Terlebih tubuhnya lebih besar dari pada ikan kebanyakan.
"Siapa kau?" tanya Evander.
Salah satu dari mereka berenang maju dan menghampiri Evander.
Evander tersentak saat melihat sosok manusia setengah ikan yang hidup bergerombol. Terlebih mereka semua adalah wanita.
"Kalian siapa?" tanya Evander.
Wanita yang tadi berenang mendekatinya menundukan kepalanya dan memberikan salam kepada Evander.
"Kami adalah salah satu makhluk ciptaan anda yang tidak sengaja bertambah banyak dan membentuk bangsa sendiri," ujar wanita itu.
Evander mengangkat kepalanya dan melihat wanita setengah ikan yang lain, "Ciptaanku? Bagaimana bisa?"
"Kami dibuat karena ketidak sengajaanmu, Tuan," ujar wanita itu.
Evander kemudian teringat jika ia hendak menciptakan wanita cantik dan kala itu melihat seekor ikan yang indah. Alhasil Evander menciptakan manusia setengah ikan yang memiliki ekor cantik berwarna merah muda.
"Kami bangsa siren," ujar mereka.
"Siren ya? Aku bahkan tak ingat pernah menciptakan kalian, maafkan aku," balas Evander.
Salah satu wanita itu mendekati Evander lagi dan mengusap kepala Evander lembut. Meski tangannya hanya bisa menyentuh sebagian kecil kepalanya tapi Evander bisa merasakan ketulusan makhluk bernama siren itu.
"Aku Nina Milou. Aku adalah Ratu Siren," ujar Nina.
"Aku Evander," balas Evander memperkenalkan dirinya.
Nina berenang mundur dan menatap Evander.
"Sebenarnya kami bisa dibilang bangsa yang berbahaya. Kami terlihat cantik tapi di sisi lain kami bisa berubah menjadi monster yang menakutkan. Kami biasa berjemur di terumbu karang dekat Pulau Amadea, tapi sejak ada Istana Twyla kami berpindah ke tempat lain," ujar Nina.
"Maaf aku membuat kalian jadi kehilangan tempat untuk bersantai."
"Tidak apa. Aku mengerti alasanmu, Tuan," balas Nina.
Evander setuju, wajah Nina tampak cantik dan lugu. Tapi siapa sangka jika siren bisa menghipnotis, berubah jadi monster dan bahkan mencelakai bangsa lain.
"Kami adalah penguasa lautan. Seluruh lautan di Lacoste dikuasai oleh bangsa siren. Kami juga sudah berkeliling tempat ini," ujar Nina.
"Kalian hebat," puji Evander.
"Terima kasih, Tuan."
Evander kemudian terdiam. Ia menciptakan makhluk - makhluk hebat akan tetapi dia sendiri dikurung di dasar palung dalam yang gelap dan tanpa ada seorang pun yang tahu.
"Kami mungkin tidak bisa melepaskanmu dari sini karena segel sihir yang dibuat oleh Zander sangat luar biasa kuat. Tapi kami bisa memberikan opsi lainnya," ujar Nina.
Evander yang semula murung mulai bersemangat dan mendengarkan saran dari Nina dengan seksama.
"Tuan bisa berubah menjadi manusia dengan sihir kami. Tapi sembari menjadi manusia, Tuan bisa mengumpulkan energi dari manusia yang mudah didapatkan," ujar Nina.
"Energi? Manusia? Bagaimana caranya?" tanya Evander.
"Masuklah ke dalam mimpi setiap manusia terutama para wanita, mereka akan mudah ditakuti dan dengan begitu Tuan bisa menyerap energi yang bisa digunakan untuk Tuan sendiri," jawab Nina.
Ide dari Nina cukup bagus, Evander pun memikirkan hal itu kemudian menganggukan kepalanya.
"Tunjukan kepadaku," pinta Evander.
"Jiwa Tuan Evander bisa terbagi menjadi 2, yang asli akan tetap disini sedangkan yang 1 nya di daratan mencari mangsa. Bagaimana Tuan?"
"Baiklah aku setuju."
Tanpa berpikir panjang, Evander menyentujui usul dari Nina. Meski ia tak ingin menyakiti manusia, namun tak ada salahnya mengumpulkan energi dari rasa takut mereka melalui sebuah mimpi kan?
* * * * *
Pegunungan Allegra, Desa Solandis
Kota Adarlan
Pulau Velenna
* * * * *
Setelah mengurung Evander dengan kekuatan sihir terakhirnya, nyatanya Zander juga mengalami hal serupa. Dirinya kehilangan kekuatan dan terdampar di tengah hutan bangsa vampire.
"s****n!" pekik Zander.
Zander kembali merubah bentuk tubuhnya seperti bangsa vampire agar tak mudah dikenali namun sia - sia saja. Energi sihirnya tak lagi bisa digunakan untuk bertransformasi.
Kaki Zander terus melangkah sampai akhirnya ia menemukan sebuah sungai yang menjadi sumber mata air dari gunung tinggi dan hijau. Gunung yang cukup besar itu berisikan bebatuan kehitaman.
Tepat pada sebrang dari bagian gunung itu, adalah sebuah lautan luas yang terbentang bernama Laut Vyora. Laut yang terbentang luas dan menjadi pembatas antara Pulau Velenna dengan Pulau Amadea yang menjadi tempat tinggal bagi bangsa elf.
Zander pun berjalan ke atasnya dan membuat sebuah celah untuk dirinya beristirahat. Sebisa mungkin Zander memposisikan dirinya agar tak terlihat.
Untung saja warna tubuh Zander sama persis dengan warna bebatuan di gunung itu. Sehingga Zander tak perlu susah payah berkamuflase.
"Aku akan tidur disini. Aku lelah sekali," gumam Zander.
Beberapa saat kemudian, Zander pun terlelap.
Tahun demi tahun terlewati, Zander yang terlelap di atas gunung mulai ditutupi dengan bebatuan dan pasir lainnya yang membuat tubuhnya semakin tersamarkan dan menyatu dengan Gunung Allegra.