BAB 10

1465 Kata
Sementara itu di sisi lain . . . Evander POV * * * * * Evander berhasil kabur dari hadapan Zander dan pergi ke Kota Adarlan. Kota yang belum terjamah oleh bangsa manusia maupun goblin yang merupakan makhluk ciptaan saudari laki - lakinya itu. Tubuh Evander kian melemah namun jauh di dalam alam bawah sadarnya ia masih memiliki kekuatan. "Jika dia berhasil memperalat manusia untuk membunuhku, keseimbangan Lacoste akan berantakan. Aku harus bertindak cepat sebelum dia tahu dimana aku berada," gumam Evander sembari memegangi d**a kirinya. Evander berjalan ke tepi lautan dan ia pun kemudian mengulurkan tangannya. Dengan sisa - sisa kekuatannya, Evander menciptakan makhluk yang menjadi penyeimbang jika saja ada kemungkinan terburuk Evander mati. Syuusshhh ! ! ! Angin kencang bertiup kencang menerbangkan setiap anak rambut Evander. Suara desiran ombak dengan kencang menghantam setiap terumbu karang yang berada di tepi pulau itu. Tangan Evander mulai gemetar, ia terpaksa menggunakan satu tangan lainnya agar makhluk baru yang ia ciptakan terlihat sempurna. Perlahan kaki makhluk baru ciptaannya mulai terlihat, semakin ke atas dan terus ke atas sampai akhirnya rambutnya pun berhasil dibentuk. Di hadapan Evander, berdiri seorang pria gagah dengan mata biru dan rambut putih persis sepertinya miliknya. "Ah s**l, sepertinya aku kehilangan sebagian kekuatanku jadi tidak bisa mewarnai rambutnya," gumam Evander. Evander menatap makhluk majin di hadapannya. Tubuhnya seperti manusia, tidak ada ciri khusus selain mata yang biru dan rambut putih. Bisa dibilang menjadi satu - satunya makhluk terkuat yang memiliki seluruh kekuatan bangsa lain yang pernah diciptakan oleh Evander. "Noblesse," panggil Evander. Makhluk di hadapannya bereaksi, ia benar - benar memiliki sebagian kekuatan milik Evander lainnya. Merasa ada energi yang tersisa di dalam tubuhnya, Evander pun membagi ke seluruhan kekuatannya dalam 7 kristal dengan warna yang indah. 7 kristal itu jika disingkat menjadi LACOSTE. Terdiri dari 7 kristal yang merupakan sebagian lain kekuatan Evander. "Simpanlah kristal ini di tempat aman. Maaf aku akan menghapus ingatanmu karena melihat wajahku, tapi aku akan memberikanmu rasa tanggung jawab yang besar," ujar Evander kepada Noblesse di hadapannya. Noblesse tak bernama itu pun menganggukan kepalanya. Evander tak sempat memberikan pasangan kepada sang Noblesse laki - laki itu. Tetapi yang pasti, Noblesse itu sangat kuat dan berumur panjang, lebih panjang dari makhluk bangsa majin lainnya yang pernah diciptakan oleh Evander. "Jika kau bosan dengan kehidupanmu, carilah pasangan dan jadikan dirinya seorang Noblesse," ujar Evander. Noblesse di hadapannya menganggukan kepalanya mengerti. "Kau juga akan bisa bereinkarnasi. Bisa dibilang kau hidup dalam lingkaran kehidupan. Reinkarnasimu akan berhenti ketika ada Raja Noblesse yang baru yang bisa menguasai ke 7 kristal ini," ujar Evander. Noblesse itu kembali mengangguk. Setelah menerima seluruh perintah Evander, Evander pun menghapus ingatan sosok Noblesse itu. Sang Noblesse yang baru saja diciptakan sempat terdiam untuk beberapa saat. Namun ia mengerti dengan tugasnya. Dengan cepat, Noblesse membangun sebuah Kerajaan megah dengan Istana yang didominasi berwarna putih. Istana Twyla adalah nama tempat itu. Terletak di tepi jurang yang berbatasan langsung dengan ombak hebat yang luar biasa dahysatnya. Setelah itu, Evander ikut masuk ke dalam Istana Twyla dan berpura menjadi salah seorang pelayan. Setiap pelayan yang ada di Twyla pun adalah sosok jiwa yang diciptakan oleh Noblesse. Untuk sementara waktu, Evander akan bersembunyi sampai kekuatannya pulih dan ia bisa menyingkirkan Zander. "Tubuhku terasa lemah sekali," gumam Evander kemudian terduduk di depan pintu dan matanya perlahan tertutup. * * * * * Beberapa tahun kemudian . . . Istana Twyla, Kerajaan Twyla Kota Adarlan, Pulau Velenna * * * * * * Suasana Istana Twyla tampak ramai, terlebih sang Noblesse telah menunjuk salah seorang manusia yang rela berkorban untuknya dan menjadi kekasih hatinya. Sang Noblesse yang semula tak memiliki nama kini memiliki nama yang indah. Ia bernama Azriel Khrysaor dengan kekasih hatinya Ivelle Khrysaor yang memiliki wajah cantik dan kulit seputih kapas. Dalam beberapa tahun terakhir, Evander berhasil bersembunyi dari sosok Zander dan berhasil berkamuflase dalam bentuk pelayan Istana Twyla yang hanya terdiri dari jiwa tanpa raga. "Kekuatan Noblesse berkembang pesat, ditambah dengan kristal itu. Seharusnya Noblesse sudah bisa menciptakan raga untuk para jiwa pelayannya," gumam Evander sembari memperhatikan para pelayan yang berlalu lalang di area taman belakang Istana Twyla. Di tengah Evander yang sedang memperhatikan sekitarnya, tiba - tiba saja Azriel muncul dan menyahuti ucapan Evander barusan. "Aku sedang mencobanya. Kekuatan yang kau berikan akan semakin besar dan terus membesar seiring waktu," ujar Azriel. Evander berbalik dan membulatkan matanya. "Bagaimana kau tahu?" tanya Evander. "Sejujurnya saya tidak mengingat siapa anda, tetapi saya bisa mengenali. Mata biru ini bisa membedakan segalanya," ujar Azriel. Evander membulatkan matanya seolah tak percaya. Majin yang ia ciptakan luar biasa hebat. "Maaf aku menghapus ingatanmu," balas Evander. Azriel mengangguk, "Aku mengerti. Aku juga merasa tugasku adalah menyeimbangkan tempat ini," balas Azriel. "Terima kasih. Sepertinya tak lama lagi dia akan menemukanku." Azriel menaikkan sebelah alisnya, "Dia? Siapa?" "Saudaraku. Dia mengincar kekuatanku tapi aku memilih mengamankannya. Setengah dari kekuatankau ada pada pedang Aerosworn. Jika memang terjadi kemungkinan terburuk kepadaku, jaga Lacoste dengan baik, Azriel," ujar Evander. "Sesuai permintaan anda," balas Azriel. Tiba - tiba saja baik Evander maupun Azriel sang Noblesse, merasakan sesuatu yang datang. Evander langsung mengenali itu berasal dari pedang yang terbuat dari kekuatannya yang diambil secara paksa oleh Zander. "Dia datang," ujar Evander. Bruuugghhh ! ! ! ! Seorang pria dengan pakaian zirah tiba - tiba berdiri di tengah - tengah halaman belakang Istana Twyla. Kedatangannya membuat semua pelayan terkejut dan bahkan menimbulkan kericuhan serta merusak ketenangan. Pria itu memegang sebuah pedang perak yang tak lain adalah Aerosworn yang dimaksud oleh Evander barusan. "Kekuatannya.."gumam Azriel saat merasakan energi yang luar biasa besar dari pedang Aerosworn yang ada di tangan pria di hadapannya. "Ini pertandinganku. Amankan ke 7 kristal itu," titah Evander. Azriel menganggukan kepalanya dan bergegas masuk ke dalam Istana Twyla. Ia pun memasang selubung agar pria yang mengejar Evander tidak akan keluar dari wilayah Istana Twyla dan tidak melukai bangsa lainnya. "Sayang sekali, kau akan mati ditanganku, Evander," ujar pria bernama Henley itu. Henley melepas penutup kepalanya dan tersenyum ke arah Evander. Evander membulatkan matanya saat melihat sosok yang datang bukanlah Zander, melainkan seorang manusia yang tak berdosa. "Zander, kau memperalat seorang manusia rupanya," gumam Evander. Meski belum pulih sepenuhnya, pada akhirnya Evander harus melawan manusia yang memegang pedang Aerosworn. Sriinggg ! ! ! ! Traaangg ! ! ! Braakkkk ! ! ! Buuughhh ! ! ! ! Duuugghhh ! ! ! Rumput hijau yang indah hancur seketika dengan pertarungan antara Evander dan Henley. Sampai akhirnya Evander merasa dirinya tak sanggup lagi menahan serangan Henley dan kekuatan Aerosworn sangatlah luar biasa besar. "Aku tak akan membunuhmu. Tapi kuizinkan kau pergi dan membawa kisah yang sebenarnya," ujar Evander kemudian menyentuh kepada Henley. Pergerakan Henley terhenti seketika saat merasakan energi Evander yang menyentuh tubuhnya. Seluruh kisah asli tentang Evander dan Zander seolah terputar dalam benaknya seperti sebuah rekaman video usang yang sudah lama. Evander tak sanggup lagi. Karena dirinya berdiri di tepi jurang, Evander pun melompat ke lautan dan . . . Byuurrr ! ! ! Bertepatan dengan Evander yang melompat ke lautan, Henley kembali tersadar dan berteriak, "Tidak!" pekik Henley. Henley merasa bersalah atas serangannya pada Evander yang tak lain adalah pemilik dari kekuatan Aerosworn. Tetapi semuanya terlambat. Evander lompat ke dalam lautan dengan ombak yang besar dan jejaknya bahkan tak lagi terlihat. Azriel yang mengamati dari dalam pun ikut tersentak. Ia tak lagi merasakan energi sihir Evander. Henley menangis sejadinya, ia menitikan air mata sambil menatap Aerosworn. "Kau bodoh, kau dibutakan oleh segalanya!" pekik Henley. Henley pun mengarahkan ujung pedang Aerosworn ke dadanya dan kemudian . . . Sreekkk ! ! ! Benda tajam bernama Aerosworn itu menembus dadanya. Tubuh Henley perlahan menghilang seperti debu dan pergi berterbangan bersama dengan angin. Azriel yang melihatnya hanya bernapas. "Sepertinya dia sudah memperkirakan ini akan terjadi," gumam Azriel. * * * * * Hellion Gua terdalam Hellion * * * * * Sementara itu di sisi lain, Henley yang bunuh diri dengan pedang Aerosworn seolah terlempar di dalam sebuah gua yang terletak di Hellion. Jiwa Henley keluar dari dalam Aerosworn dan sesuai perjanjian jiwanya akan dimiliki oleh Aerosworn. Henley menatap sekitarnya yang gelap dan terasa panas. "Tunggu aku, Tuan. Aku akan menemukan seseorang yang tepat untuk menolongmu," gumam Henley kemudian . . . Sreeggghh ! ! ! Henley menancapkan pedangnya di tanah. Seketika tanah berguncang, gunung berapi yang ada di Pulau Hellion aktif dan menyemburkan laharnya dan membuat bangsa elf yang menempati pulau itu terpaksa pergi. Pulau Hellion pun tak lagi bisa ditempati karena kini hanya dipenuhi lahar, pohon tinggi serta aura panas yang mengitari pulaunya. Sedangkan jiwa Henley berkelana ke berbagai tempat untuk menemukan seseorang yang pantas untuk memiliki Aerosworn. Tak lupa, ia pun menyebarkan legenda tentang Aerosworn yang luar biasa kuat dan hebat ke beberapa penduduk sampai para bangsa lainnya mengetahui tentang pedang Aerosworn yang menjadi legenda tersembunyi dan letaknya tak pernah diketahui oleh siapapun kecuali Henley sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN