BAB 9

1630 Kata
Dengan perasaan iri yang sudah memuncak, Zander akhirnya melancarkan aksinya. Zander menggunakan bola kristal peninggalan Maxim yang digunakan sebagai perangkap energi sihir milik Evander. Di samping itu, Zander juga memikirkan bagaimana cara agar Evander mau mengeluarkan sihirnya yang nantinya sihir itu akan terserap ke dalam bola kristal milik Maxim. "Evander," panggil Zander. Evander yang semula sedang mengamati bangsa elf kemudian menoleh ke arah Zander, "Ya?" balas Evander. "Bisa temani hari ini ke Pulau Amadea? Aku sepertinya mau berlatih lagi denganmu. Tapi bisa tolong contohkan terlebih dahulu?" pinta Zander. Wajah Evander tersenyum cerah dan sama sekali tak menunjukan gelagat penolakan. "Baiklah. Ayo," ajak Evander. Evander pun turun lebih dulu dan merubah wujudnya menjadi bangsa manusia seperti yang dilakukan oleh Zander sebelumnya karena tempat itu kini ditinggali oleh beberapa bangsa manusia. Meski jarak terpaut 100 tahun dari bangsa elf, bangsa vampire, bangsa ogre dan bangsa dwarf yang diciptakan. Namun manusia nyatanya lebih pintar dan cerdas meski tak memiliki kemampuan sihir seperti majin lainnya. Setibanya di Pulau Amadea, Evander akhirnya berubah menjadi manusia. "Aku merasa tubuhku jadi lebih berenergi karena tak banyak sihir yang digunakan untuk tubuh ini," ujar Evander. Zander yang baru tiba hanya menganggukan kepalanya, "Benarkah?" "Iya. Ide bagus untukmu karena berhasil menciptakan makhluk seperti ini," puji Evander. Evander kemudian masuk ke dalam hutan, diikuti dengan Zander di belakangnya. Zander berjalan di belakang Evander sembari menyunggingkan senyuman liciknya. Tepat di balik pakaian Zander, Zander menyimpan bola kristal milik Maxim yang akan memerangkap dan menangkap energi sihir Evander. "Bagaimana jika disini?" tanya Evander sembari mengedarkan pandangannya dan tak lagi melihat adanya bangsa manusia dan juga bangsa vampire yang ada di sekitar mereka. "Sudah cukup bagus," jawab Zander. Evander kemudian mengulurkan tangannya, lalu melihat seekor serigala melintas. Ia pun terpikirkan sesuatu jika ia sepertinya bisa menciptakan oriel baru versi dirinya yang menyerupai serigala. Sebuah cahaya keabuan keluar dari tangan Evander dan bertepatan dengan itu, Zander langsung melemparkan bola kristal milik Maxim ke arah Evander. Seketika cahaya keabuan itu sebagian terserap ke dalam kristal yang dilemparkan oleh Zander barusan. Hewan oriel yang dibuat oleh Evander telah terbentuk menyerupai serigala, hewan itu bernama Aul, seekor Aul dengan kemampuan luar biasa yang hidup secara berkelompok. Namun cahaya sihir milik Evander tidak habis sampai disitu, energi sihirnya terus terserap ke dalam bola kristal tanpa henti. Evander mulai panik, ia pun menoleh ke arah Zander. "Bagaimana cara menghentikan ini? Apa ini? Kenapa kau melemparkan ini kepadaku?" tanya Evander. Zander tertawa keras melihat Evander yang panik melihat energinya terserap. Perlahan tubuh Evander terasa lemas dan bahkan ia sampai berlutut di atas tanah dengan kondisi tangannya yang terus mengalirkan energi dalam jumlah besar ke dalam bola kristal. Brukkk ! ! ! Energi sihir milik Evander diserap ke dalam bola kristal. Kini bola kristal yang dilemparkan oleh Zander yang semula tak berwarna berubah menjadi hitam. Zander kemudian mengulurkan tangannya dan merubah bola kristal yang berisikan energi luar biasa itu. "Aku akan menelannya sekarang," ujar Zander. Evander kini mengerti, rupanya Zander mengajaknya untuk mengambil energi sihir miliknya. Terlambat baginya untuk menghindar, karena energi sihirnya dalam jumlah besar diserap oleh bola kristal itu. Dan jika Zander memakannya, maka energi sihir milik Evander akan menjadi milik Zander. "Kenapa kau lakukan ini kepadaku?" tanya Evander yang mulai melemah dan bahkan tak sanggup mengangkat kepalanya untuk menatap Zander. Zander hanya menyunggingkan senyumannya dan di saat ia hendak memakan bola kristal itu, ia pun teringat sesuatu. "Tenang saja saudaraku, aku tak akan membuatmu mati semudah itu," ujar Zander. Zander pun menyerap sebagian kecil energi dalam bola kristal itu kemudian menggunakannya untuk merubah bentuk bola kristal itu menjadi sebuah pedang berwarna perak dengan warna gagangnya yang hitam legam seperti warna sisiknya. Di saat seperti itu, Evander memanfaatkan situasi untuk kabur. Ia pun buru - buru berteleportasi ke arah lain. Yang jelas, Evander tidak bisa teleportasi ke Avidor karena Zander pasti akan mengejarnya. Evander pun berteleportasi ke hutan lain yang ada di Pulau Amadea yang selanjutnya menjadi Kota Adarlan. Setelah pedang perak itu jadi, Zander pun sadar jika ia kehilangan jejak Evander. "Tenang saja, aku tak akan mengejarmu dan aku tak akan membiarkan tanganku kotor. Karena sejarah akan menganggapku semakin jelek. Maka dari itu, akan kuperintahkan siapapun yang menemukan pedang ini akan memiliki kekuatanmu, jiwanya akan menjadi milik pedang ini," ujar Zander sembari menatap pedang itu. Tangan Zander mengangkat pedang itu ke udara kemudian menambahkan ukiran pada bagian besi pedang. A E R O S W O R N Begitulah tulisan itu terukir di sana. Kemudian Zander meninggalkan pedang itu di atas tanah dalam kondisi tergeletak dan tertutupi oleh dedaunan. Sedangkan Zander kembali ke Avidor dan menikmati masa - masa kejayaannya. "Sedikit lagi, Evander akan aku kurung. Tunggu saja," gumam Zander. * * * * * Beberapa tahun kemudian . . . Kota Eyelwe, Pulau Amadea Tempat tinggal bangsa manusia * * * * * Seorang pria, manusia biasa, tanpa kekuatan sihir apapun tampak berjalan mengitari Kota Eyelwe . Pria itu bukan berjalan tanpa tujuan, melainkan ia menginginkan sebuah pekerjaan. Semenjak beberapa tahun yang lalu, di Kota Eyelwe mulai diberlakukan adanya transaksi dengan menggunakan perak. Perak itu digunakan untuk menukar bahan makanan seperti gandum dan lainnya. Itu pun karena ide dari Raja dari Kerajaan Nephthys yang mengusulkannya agar tak terjadi penilaian atas benda tukaran yang biasa dilakukan. Namun untuk mendapatkan pekerjaan adalah hal yang sulit. Banyak pula di antara mereka yang memutuskan untuk kerja dengan bangsa vampire, tapi tak jarang yang memilih hanya untuk bercocok tanam demi bertahan hidup. Pria dengan pakaian lusuh yang sedang menyusuri Kota Eyelwe berharap mendapatkan pekerjaan. Sudah beberapa hari terakhir ia berusaha mencari pekerjaan apapun, namun tak membuahkan hasil. Pada akhirnya ia hanya akan bertemu dengan seorang asing dengan jubah kemerahan yang berdiri di tepi jalan. Mereka adalah bangsa vampire yang sedang mencari pelayan untuk membersihkan Istana mereka yang terlihat usang. "Apakah kau mau bekerja di Kerajaan Nephthys?" tanya seseorang pria dengan jubah kemerahan kepada pria lusuh bernama Henley itu. Henley menoleh dan menggelengkan kepala, "Maaf aku tak berniat bekerja di Kerajaan. Terima kasih atas tawarannya," ujar Henley. Meski sudah muak, namun Henley berusaha sebisa mungkin untuk menolak dengan halus. Karena beberapa waktu lalu, seorang manusia yang menolak dengan kasar pada akhirnya mati dengan cara dipenggal oleh Raja dari Kerajaan Nephthys. Henley merasa dirinya sudah lelah, ia pun akhirnya memutuskan masuk ke dala hutan yang membatasi antara Kota Terassen dengan Kota Eyelwe. Di dalam sana, Hendlyn mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah ia bawa dari rumah. "Sepertinya disini saja," gumam Henley kemudian duduk di atas kayu dan mengeluarkan roti gandumnya yang tampak sudah berjamur karena disimpan di tempat lembab dalam waktu yang cukup lama. Perlahan, Henley mulai menyantap roti gandum di tangannya, tak peduli sudah berjamur, bau, dan basah. Yang ia pikirkan adalah ia akan mengisi perutnya dan energinya kemudian kembali mencari pekerjaan. Paling tidak, dia akan menyusuri hutan dan mencari bahan makanan yang sekiranya bisa ia makan dan ia bawa pulang untuk memberi makan dirinya serta Ibunya yang sudah sakit - sakitan. Ketika makan, tiba - tiba saja Henley merasa mendengarkan sesuatu. Sesuatu yang memanggilnya dengan suara lembut, kuat dan samar. "Siapa disana?" tanya Henley kemudian mengedarkan pandangannya. Takut ada seseorang yang mengganggunya, Henley buru - buru menyantap rotinya dan berdiri. Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih kuat dan Henley pun menyusuri jalanan hutan dan hendak menuju ke arah sumber suara tersebut. Kemarilah jika ingin mendapatkan kekuatan dan hidup yang terjamin. Suara itu semakin terdengar jelas sampai akhirnya Henley menghentikan langkahan kakinya dan terasa menginjak sesuatu. Henley menyingkirkan daun kering yang menutupi sesuatu yang diinjaknya. Mata Henley membulat saat melihat sebuah pedang berwarna perak dengan gagang hitam dan beruliskan A E R O S W O R N pada bagian besinya. "Aerosworn?" gumam Henley. Tiba - tiba tulisan pada besi itu berubah seolah memberikan pesan kepada Henley. Apakah kau mau mendapatkan kehidupan yang terjamin? Henley menganggukan kepalanya, "Tentu saja aku mau." Bagaimana jika kau merubah hidupmu sepenuhnya bersamaku? "Bersamamu? Apa maksudnya?" gumam Henley saat membaca tulisan itu. Sentuh aku, maka kau akan tau maksudku. Henley pun mengulurkan tangannya dan seketika ia mendengar sesuatu yang lebih jelas. Sampai pada akhirnya ia mendapatkan pertanyaan terkahir. Apakah kau bersedia menjadi pengguna Aerosworn, mengurung naga yang berbahaya dan memberikan jiwamu kepadaku sebagai ganti atas kekuatan besar ini? "Naga? Apa maksudnya naga?" gumam Henley. Seolah seperti putaran film, Henley pun melihat bagaimana Lacoste dan beserta makhluknya diciptakan. Sampai ia melihat sesuatu, sesuatu yang indah dan kini sedang sekarat karena kehilangan kekuatannya. "Naga putih?" gumam Henley lagi. Dia adalah targetmu. Bunuh dia. Di sisi lain, suara yang berasal dari Aerosworn itu adalah milik Zander. Ia sengaja memancing Henley yang merupakan makhluk ciptaannya yang memang akan mendengar ucapannya. "Kenapa aku harus membunuhnya?" tanya Henley. Kau akan tahu setelah membunuhnya, Henley. Henley tersentak saat mendengar namanya. "Apa hidupku akan berubah?" tanya Henley. Tentu saja. Semua yang kau inginkan. Sebagai imbalannya, aku hanya menginginkan jiwamu saja jika kau sudah mati nanti. Bagaimana? Henley menganggukan kepala, "Jika itu saja, aku bersedia." Zander tersenyum senang mendengarnya. Ia pun membuat perjanjian antara kekuatan Evander dalam pedang Aerosworn itu dan memasangkannya dengan Henley. Seketika tubuh Henley terasa sakit, Henley bahkan berteriak cukup keras saat merasakan kekuatan luar biasa dahysat yang ia rasakan di dalam tubuhnya ketika perjanjian antara dirinya dengan Aerosworn terbentuk. Pakaian lusuh Henley seketika berubah menjadi zirah hitam. Penampilan Henley berubah seketika. Seolah sudah terhubung dengan sang naga putih yang tak lain adalah Evander, Henley pun bisa merasakan dimana posisi Evander. "Bagus, kau harus seperti itu. Karena aku tak bisa mengotori tanganku, biar kau saja," gumam Zander di balik perbuatannya yang melihat Henley hendak menuju ke arah dimana Evander berada. Karena memang selama beberapa tahun ini Evander dan Zander tak lagi bertemu. Bahkan Zander tak tahu dimana keberadaan Evander berada. Namun dengan pemilik Aerosworn, maka Zander akan dengan mudah menemukan Evander dan Evander bisa enyah dari Lacoste.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN