BAB 8

1172 Kata
Beberapa tahun kemudian . . . Lacoste yang dibentuk oleh Maxim dan Dakota perlahan diisi oleh Evander. Bangsa - bangsa seperti elf, vampire dan juga dwarf berkembang pesat. Mereka semua mulai berkembang dan bertambah banyak seiring waktu. Evander yang menciptakan mereka sesekali turun dan menyamar sebagai salah satu dari bangsa mereka untuk memperkenalkan Negeri Lacoste yang indah dan sangat luas itu. Tak hanya bangsa - bangsa majin saja, melainkan juga bangsa Oriel yang merupakan hewan - hewan dengan makhluk magis. Beberapa hewan yang diciptakan Zander juga tak kalah berguna, hewan - hewan itu menjadi santapan dan sumber protein hewani bagi beberapa bangsa salah satunya bangsa vampire yang belajar meminum darah dari hewan - hewan itu. Para bangsa - bangsa majin yang menempati Lacoste pun mulai belajar menyesuaikan diri dan bahkan ikut mengembangkan Lacoste menjadi lebih baik lagi. Hari ini, Evander hendak pergi melihat bangsa elf yang dikabarkan akan segera membentuk koloni yang disebut sebagai kerajaan. "Hari ini aku akan pergi mengunjungi Pulau Hellion," ujar Evander. Zander yang sedang duduk menoleh, "Pulau Hellion?" tanya Zander. "Iya. Sekarang sudah ada beberapa pulau yang memiliki nama. Pulau Hellion untuk bangsa elf, Pulau Katara dan Thorine untuk bangsa dwarf serta Pulau Velenna untuk bangsa vampire," jawab Evander. Zander bangkit dari duduknya. "Kau mau ikut?" tanya Evander. "Tentu saja," jawab Zander. Setelah kedua naga hitam yang menciptakan Lacoste berubah dalam wujud elf, mereka pun berteleportasi menuju ke Pulau Hellion yang merupakan tempat bangsa elf berada. * * * * * Pulau Hellion Tempat tinggal bangsa elf * * * * * Zander serta Evander melangkahkan kaki mereka memasuki perumahan yang ditempati oleh bangsa elf di Pulau Hellion. Evander tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya yang melihat bangsa elf tampak akur dan menikmati kehidupan mereka. "Mereka tampak mulai terbiasa," ujar Zander. Evander menganggukan kepalanya, "Benar. Mereka sudah terbiasa." "Apa mereka juga punya ilmu sihir seperti kita?" tanya Zander. "Punya. Aku menyisipkan sedikit kepada mereka. Tetapi sepertinya itu sudah cukup besar bagi mereka," jawab Evander. Evander melihat beberapa elf yang sedang membangun tempat tinggal serta menggunakan sihir mereka dengan berlatih pada sebuah pohon dan beberapa ranting kayu. Zander terdiam untuk beberapa saat, semua bangsa elf tampak sangat tampan dan cantik. Terlebih setiap bangsa yang diciptakan oleh Evander memiliki kriteria tersendiri. Seperti bangsa vampire yang didominasi dengan warna merah, bangsa elf dengan warna hijau dan juga dwarf yang memiliki tubuh paling berbeda. "Kau hebat," puji Zander. Evander menoleh ke arah Zander dan berhenti berjalan. "Apa kau mau mencobanya juga?" tanya Evander. "Mencoba apa?" tanya Zander balik. "Menciptakan bangsa baru. Masih banyak beberapa wilayah lain yang kosong dan bisa ditempati," ujar Evander. Sejujurnya Zander merasa iri dengan kemampuan Evander. Bahkan makhluk yang setiap kali Zander ciptakan tak jauh dari makhluk yang tak memiliki sihir sekalipun. "Oh ya ngomong - ngomong berapa rata - rata umur bangsa ini?" tanya Zander dan kembali berjalan. Evander pun ikut kembali melangkahkan kakinya dan berjalan di samping kiri Zander, "Mereka bisa berusia ribuan tahun. Mungkin ratusan juga bisa. Tetapi aku menciptakan mereka dengan ilmu sihir yang menjadi patokan umur mereka." "Sihir?" "Iya. Jika energi sihir mereka habis, maka mereka akan mati." Zander hanya menganggukan kepalanya, "Bagaimana dengan bangsa yang lain?" "Vampire akan mati jika tak meminum darah, dwarf akan mati di usia mereka yang ke - 100 dan Ogre akan mati jika rumah mereka hancur karena jiwanya akan bersanding dengan rumah mereka," ujar Evander. "Kau sudah memikirkan sejauh itu?" "Sebenarnya baru - baru ini saja, sih." "Tapi itu cukup menakjubkan." Evander hanya mengangguk. Setelah beberapa jam mengitari Hellion dan melihat bagaimana perkembangan bangsa elf, Zander dan Evander kembali ke tempat mereka berasal. Setibanya di Avidor - tempat tinggal Evander dan Zander yang terletak di atas langit, Evander pun teringat akan sesuatu. "Astaga aku lupa sesuatu," ujar Evander. Zander berbalik dan menatap Evander, "Apa?" "Ada sesuatu yang harus kuurus. Aku pergi lagi, dah." Evander pun langsung melompat dari Avidor ke arah Pulau Hellion dan kembali berubah dalam wujud elf nya. Sedangkan Zander hanya terdiam melihat Evander yang melakukan kegiatannya dengan lancar. Dalam hati Zander merasa ingin melakukan sesuatu, ia pun kembali melompat dari Avidor dan pergi ke arah Pulau Amadea dimana bangsa vampire berada. * * * * * Pulau Amadea Tempat tinggal bangsa vampire * * * * * Zander merubah rupanya menjadi bangsa vampire dan berjalan ke arah hutan. Di dalam hutan itu, ia melihat sekitarnya yang tampak gelap karena sinar cahaya yang terhalang pohon - pohon tinggi. "Sepertinya di sisi sini belum terjamah oleh makhluk buatan Evander," gumam Zander. Zander mengulurkan tangannya dan mengeluarkan cahaya untuk menciptakan bangsa baru yang berbeda dengan milik Evander. "Akan kumusnahkan bangsa buatan Evander dengan buatanku," ujar Zander. Beberapa detik kemudian, sebuah cahaya kecokelatan keluar dari tangannya dan munculah sosok makhluk majin pertama buatan Zander. Zander mengangkat sebelah alisnya karena makhluk buatannya yang dengan maksud akan menyerupai bangsa elf dicampur bangsa vampire justru terlihat aneh. "Kenapa jadi pendek dengan kulit keriput seperti ini?" gumam Zander saat melihat makhluk majin di depannya. Makluk dengan tubuh pendek dan kulit keriput serta mata besar dan daun telinga memanjang ke atas seperti bangsa elf. "Karena aku terlanjur menciptakanmu, akan kuberi nama kau bangsa goblin," ujar Zander. Zander mengedarkan pandangannya dan berusaha mencari inspirasi. Ia pun teringat dengan bangsa vampire yang memiliki tubuh ramping dan tak berdaun telinga panjang seperti bangsa elf. "Bagaimana jika aku ciptakan tanpa taring?" gumam Zander. Tangan Zander kembali terulur dan mengeluarkan cahaya berwarna kuning dari tangannya. Perlahan kaki, tubuh mulai terbentuk sampai akhirnya wajah yang cantik dan rupawan berhasil diciptakan oleh Zander. "Sempurna," gumam Zander saat melihat makhluk buatannya. Zander mengitari bangsa baru buatannya namun ia merasakan sesuatu yang aneh, "Kenapa aku tidak merasakan aura sihir?" gumam Zander. Ia pun menyadari ia menciptakan makhluk non majin lagi dan kali ini dengan bentuk sempurna. "Aarrghhh !" Zander merasa kesal karena selalu gagal dan kalah dari Evander. Padahal Zander selalu berbangga diri sejak dulu karena ia memiliki warna yang sama dengan Maxim dan Dakota tapi nyatanya sekarang Evander justru lebih unggul. "Tak akan kubiarkan si putih itu menang dariku!" pekik Zander. Zander berjalan bolak balik sembari berpikir sampai sebesit pikiran melintas dari pikirannya. "Jika aku tidak bisa menciptakan makhluk yang bisa menandingi ciptaannya, aku akan menghancurkan miliknya dengan caraku," gumam Zander sembari menyunggingkan senyuman liciknya. Ia pun mulai memberikan kehidupan kepada goblin dan manusia di hadapannya. Dan sesuai rencananya, ia mulai menyusun taktik untuk menghancurkan bangsa elf, bangsa vampire, ogre serta dwarf. "Apapun caranya, aku harus selalu berada di atasmu, Evander," gumam Zander. Makhluk ciptaan Zander yakni manusia dan goblin pergi keluar dari hutan, dan mulai menciptakan kehidupan mereka sendiri. Sedangkan Zander kembali ke Avidor dan tidur sebelum Evander kembali ke sana dan menyadari jika Zander menciptakan makhluk jelek lagi. Meski Evander tak pernah mencemooh ciptaan Zander yang tak pernah lebih hebat darinya, tetap saja rasa keinginan untuk lebih unggul dan menang dari Evander selalu meluap dalam hati Zander. Terlebih setelah hampir 100 tahun berlalu, Evander berhasil mengembangkan bangsa elf, bangsa vampire, bangsa ogre dan bangsa dwarf tanpa kesulitan apapun. Serta menciptakan Oriel dengan kekuatan luar biasa yang menempati setiap sudut Lacoste.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN