Ratusan ribu tahun yang lalu . . .
Sebelum Lacoste terbentuk.
Hiduplah sepasang naga hebat yang terlahir dari kekuatan sihir yang luar biasa. Kedua naga itu bernama Maxim Cassiopeia dan Dakota Margareth.
Mereka hidup bahagia karena di dunia ini hanya ada mereka berdua tanpa diganggu oleh siapapun. Dengan kisah cinta mereka yang luar biasa, Dakota akhirnya berhasil bertelur dan melahirkan 2 naga laki - laki dengan warna yang kontras.
Maxim menatap kedua anaknya yang beranjak tumbuh dewasa, ia pun teringat akan suatu hal.
"Padahal kita berdua memiliki warna hitam, tapi dia berwarna putih dan indah," ujar Maxim saat menatap Evander yang memiliki sisik berwarna putih cerah dan silver yang begitu indah.
Dakota mengangguk, "Benar sekali. Aku pikir dia lemah dan kehilangan warnanya, tapi ternyata tidak. Warna putih itu terlihat seperti sebuah keajaiban," ujar Dakota.
Evander Cassiopeia, naga putih yang cenderung berwarna perak pada seluruh tubuhnya memiliki seorang saudara laki - laki yakni Zander Cassiopeia yang berwarna hitam persis seperti Maxim dan juga Dakota.
Maxim berdiri dan menghampiri kedua anaknya, namun belum sempat ia sampai menghampiri kedua anaknya, tiba - tiba saja Maxim terjatuh dan membuat Dakota sontak berlari ke arah Maxim.
Evander dan Zander yang semula sedang bermain segera menoleh dan ikut berlari ke arah Ayah mereka, Maxim Cassiopeia.
"Maxim! Kau tidak apa - apa?" tanya Dakota khawatir.
Maxim tersenyum dan menoleh ke arah Evander serta Zander bergantian.
"Sepertinya ini sudah waktunya, Dakota," ujar Maxim.
"A - apa maksudmu waktunya?" tanya Dakota.
"Kumohon jangan pergi," pinta Evander.
Zander mendekat ke arah Maxim dan menempelkan kepalanya pada kepala Maxim.
"Aku sudah terlalu tua, begitu juga dengan Dakota. Kalian harus belajar hidup mandiri. Kami sebagai orang tua kalian telah menciptakan sebuah dunia yang bisa kalian kembangkan," ujar Maxim.
Maxim menatap Dakota dan menganggukan kepalanya. Sedangkan Dakota hanya menghela napasnya.
Memang, Maxim dan Dakota sudah hidup dalam waktu yang cukup lama. Mereka berdua hidup dengan harmonis sampai akhirnya memutuskan bertelur dan berkembang biak.
Kini usia Maxim dan Dakota sudah berada di batasnya. Mereka harus pergi, dan Maxim yang akan pergi lebih dahulu.
"Tolong ajarkan pada mereka bagaimana mereka menyalurkan energi mereka," ujar Maxim.
Dakota menitikan air matanya melihat kepergian Maxim kemudian ia pun berubah menjadi butiran cahaya yang menyerap ke dalam tubuh Evander dan Zander.
Evander dan Zander memejamkan mata mereka merasakan energi sihir yang luar biasa besar dari Maxim. Kemudian kembali membuka mata mereka dan menatap Dakota.
"Seperti yang kalian lihat, usiaku juga sebentar lagi. Tak lama lagi aku akan pergi," ujar Dakota.
Setelah kepergian Maxim, Dakota pun mengajak Evander dan juga Zander ke sebuah dunia yang diciptakan oleh Dakota dan juga Maxim.
"Apa ini, Ibu?" tanya Zander.
"Ini adalah sebuah dunia. Dunia yang kami ciptakan dan akan diteruskan kepada kalian," ujar Dakota.
Evander dan Zander tampak melihat dengan seksama. Mereka melihat beberapa makhluk yang ada di antara pohon, air dan bahkan gunung - gunung yang menjulang tinggi.
"Luas sekali," ujar Evander.
"Benar. Namun tempat ini masih kosong. Tak ada makhluk hidup selain para hewan yang kami ciptakan," ujar Dakota.
"Apa kami bisa menciptakan makhluk hidup, Bu?" tanya Zander.
Dakota menoleh, "Tentu bisa. Dengan kemampuan sihir kalian, kalian bisa melakukannya dan bahkan berubah wujud seperti yang sering Maxim tunjukkan kepada kalian," jawab Dakota.
Dakota menatap kedua anaknya.
"Kalau begitu kita akan belajar sekarang," ujar Dakota.
Dakota pun berubah menjadi sesosok manusia lengkap dengan 2 tangan dan kaki serta meninggalkan wujud naga hitamnya. Kemudian tak lama kemudian, Evander dan Zander ikut mencobanya dan berhasil.
Dakota berubah menjadi sosok wanita yang cantik dan anggun sedangkan Zander dan Evander berubah menjadi pria muda yang tampan dan gagah. Evander memiliki rambut berwarna putih sedangkan Zander memiliki rambut hitam persis seperti warna sisik naga mereka.
"Ayo kita berjalan ke sana," ajak Dakota.
Dakota beserta kedua anaknya pun berjalan mengitari tempat itu. Dari mulai sungai, hutan dan pegunungan dikenalkan oleh Dakota.
"Apa nama tempat ini, Bu?" tanya Evander.
"Tempat ini kami namakan dengan Lacoste," jawab Dakota.
"Lacoste?" gumam Zander.
"Iya, artinya pria muda yang penuh dengan cinta. Ini ditujukan sebagai hadiah untuk kalian," balas Dakota kemudian merangkul kedua anaknya.
"Lalu bagaimana kami menciptakan makhluk hidup?" tanya Evander.
Dakota berjalan beberapa langkah di depan Evander dan Zander kemudian mengulurkan tangannya di atas tanah dan . . .
Seettt ! ! !
Whooosshh ! ! !
Crrliingg ! ! !
Sebuah makhluk muncul dari sinar sihir yang muncul dari tangan Dakota.
"Kami mempelajari ini untuk waktu yang cukup lama. Tapi karena kalian berdua adalah keturunan kami, kami yakin kalian lebih cerdas dari kami berdua," ujar Dakota.
Evander melangkah mundur dan menciptakan makhluk hidup, tiba - tiba saja muncul cahaya sinar besar dan sosok hewan seperti naga dengan 3 kepala muncul di hadapan Evander.
Zander membulatkan matanya dan melihatnya dengan takjub.
"Wah besar sekali!" pekik Zander.
Evander tersenyum menatap makhluk ciptaannya, "Kau akan kuberi nama, Hydra," ujar Evander.
Hydra itu menundukan kepalanya untuk memberikan hormat kepada penciptanya. Evander pun mengedarkan pandangannya dan menunjuk ke arah sebuah gunung yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Tinggalah di dalam sana dan jadilah penjaga hutan ini," titah Evander.
"Baik, Tuan," balas Hydra itu.
Evander tersentak mendengar hewan yang ia ciptakan bisa menjawab ucapannya. Dan seperti yang diperintahkan oleh Evander barusan, Hydra kepala 3 itu terbang ke arah gunung dan masuk ke dalam sana kemudian tidur di dalamnya. Hydra itu menjadi penjaga hutan dan gunung di sekitarnya.
"Wah keren. Aku juga mau mencobanya," ujar Zander.
Zander ikut mengulurkan tangannya dan mengeluarkan cahaya. Namun ekspektasi dan harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Seekor ayam justru muncul dari tangan Zander.
"Apa - apaan ini?" keluh Zander.
Hewan yang diciptakan oleh Zander bahkan tidak bisa menjawab ucapannya.
"Tidak apa - apa, sepertinya itu bisa dimakan," ujar Evander.
Zander tampak kesal karena ia tak sehebat Evander.
Di saat ke dua laki - laki itu sibuk dengan eksperimen mereka, tiba - tiba saja Dakota terduduk di atas tanah dan tubuhnya memucat.
Sambil menatap kedua anaknya, Dakota berubah menjadi cahaya, "Rawatlah Lacoste seperti kami membesarkan kalian," ujar Dakota tepat sebelum dirinya benar - benar pergi.
Kini hanya tinggal tersisa Evander dan juga Zander.
Maxim dan Dakota telah pergi untuk selamanya. Namun bedanya Dakota tidak berubah menjadi cahaya yang bisa diserap oleh Evander dan Zander, melainkan cahaya lainnya yang berubah menjadi bunga yang cantik.
"Ibu sudah menjadi bunga yang cantik," puji Evander sambil menatap bunga dengan kelopak merah muda yang sangat indah.
Evander menatap Zander, "Baiklah kalau begitu ayo mulai kita kembangkan dan hidupkan tempat ini," ajak Evander.
Zander mengacuhkan pandangannya, "Kau duluan saja, aku mau tidur," balas Zander.
Zander kembali merubah wujudnya menjadi seekor naga dan pergi ke tempat lain. Sedangkan Evander hanya memperhatikannya dan terus melatih sihirnya untuk menciptakan hewan - hewan lain.
Di saat ia menciptakan hewan, ia pun menyadari jika ada beberapa perbedaan dari makhluk hidup ciptaannya. Yang pertama hewan yang tidak bisa bicara dan juga tidak memiliki kekuatan sihir serta hewan - hewan yang mampu bicara dan memiliki kemampuan sihir walau dalam jumlah kecil.
"Kalian akan dipanggil dengan sebutan Oriel," ujar Evander.
Hewan - hewan ciptaan Evander pun berpencar ke arah lain dan mencari tempat tinggal mereka. Ada yang masuk ke dalam air, ke hutan, bawah tanah dan tempat lainnya.
Sebetulnya Evander merasa sedih karena tak ada Zander bersamanya, bahkan Dakota dan Maxim telah mati.
"Sepertinya aku harus menciptakan makhluk lain untuk mengurus Lacoste," gumam Evander.
Evander pun akhirnya belajar menciptakan makhluk hidup lain yang pertama. Makhluk hidup dengan kekuatan sihir, kulit pucat, daun telinga panjang dan mata kebiruan.
"Bangsa elf," gumam Evander memberikan nama kepada bangsa baru yang akan mengurusi Lacoste.
Evander berpindah dan menciptakan bangsa baru. Kali ini ia menciptakan sesuatu dengan tubuh besar dan kuat, "Bangsa Ogre," ujar Evander.
Kaki Evander kembali berpindah, ia menciptakan makhluk dengan taring dan mata merah, "Bangsa vampire," ujar Evander lagi.
Evander memperhatikan 3 makhluk yang ia ciptakan.
"Sepertinya tambah 1 lagi," gumam Evander kemudian mengulurkan tangannya dan menghadirkan sosok makhluk hidup dengan tubuh kerdil namun pekerja teladan.
"Bangsa Dwarf," ujar Evander.
Setiap makhluk yang Evander ciptakan terdiri dari 2 pasang. Selanjutnya mereka akan berkembang biak dan membuat bangsanya sendiri.
"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Aku mengantuk," ujar Evander.
Evander pun menempatkan setiap bangsa itu di beberapa tempat, membiarkan mereka menempati tempat baru dan tak lupa memberikan nyawa kepada setiap makhluknya.
Setelah menemukan tempat cocok dan memberikan mereka kehidupan, Evander kembali pergi untuk menemui Zander yang sudah meninggalkan lebih dulu.
Sementara itu di sisi lain, Dakota yang mati berubah menjadi bunga cantik dengan kelopak merah muda yang indah. Dakota sengaja memilih menjadi seperti itu agar kedua anaknya bisa menemuinya jika suatu saat merindukan Dakota.