BAB 6

1337 Kata
Ruang Kamar Ivelle Istana Twyla, Kota Adarlan Pulau Velenna * * * * * Nikita datang ke kamar Ivelle dengan membawakan kue madu buatannya. Tok ! Tok ! Tok ! Nikita mengetuk pintu kemudian membuka pintu kamar Ivelle dan masuk ke dalam. Di dalam kamar, rupanya Ivelle sedang memperlihatkan berbagai foto keturunan bangsa Noblesse kepada Rosa dan juga Veza. "Kalian sedang apa?" tanya Nikita sembari berjalan ke arah Ivelle, Rosa dan Veza yang duduk di atas lantai sembari menatap ke album foto yang dipegang oleh Ivelle. Ivelle mendongakan kepalanya dan menatap Nikita yang baru saja masuk, "Ini, mengenai Bangsa Noblesse dahulu, Bu," jawab Ivelle. Nikita berjalan dan duduk di samping Rosa kemudian memberikan kue madu buatannya kepada Rosa dan juga Veza. "Silakan sambil memakan ini. Gerhard sangat suka menyantap kue ini ketika sedang minum teh hijau," ujar Nikita. Rosa menganggukan kepalanya, "Terima kasih Nona Nikita," balas Rosa. Tangan Rosa terulur kemudian mengambil sepotong kue madu yang diberikan oleh Nikita, begitu juga dengan Veza yang ikut mengambil setelahnya. Mata Rosa berbinar saat memakan gigitan pertama kue itu. "Wah ini enak sekali Nona Nikita," ujar Rosa. Veza pun ikut menganggukan kepalanya, "Benar! Ini enak sekali!" ujar Veza. Nikita tersenyum, "Syukurlah kalau kalian suka. Ngomong - ngomong bagaimana dengan foto bangsa Noblesse? Kalian menikmatinya?" tanya Nikita sembari melirik ke arah album foto yang dipegang oleh Ivelle. Ivelle menunjukan salah satu bagian foto kepada Nikita, "Apakah ini Ibu dan Ayah waktu dulu?" tanya Ivelle. Nikita melirik dan mengangguk, "Ini sekitar 200 tahun yang lalu kalau tidak salah," balas Nikita. Uhuk ! Rosa tersedak mendengar jawaban Nikita. Buru - buru ia meminum teh hijau yang ada di cangkir yang terletak di depannya dan meneguknya perlahan. "Maaf saya terkejut mendengarnya padahal saya sudah tahu jika bangsa majin usianya lebih lama dari bangsa manusia," ujar Rosa. "Tidak apa - apa. Wajar saja jika kamu terkejut. 200 tahun yang lalu sangat berbeda dengan masa sekarang, yang jelas masa sekarang lebih maju dan lebih ramai," balas Nikita sembari berusaha mengingat masa - masa 200 tahun yang lalu. Rosa menganggukan kepalanya mengerti. "Bagaimana kehidupan manusia di jaman dahulu?" tanya Rosa. "Aku tidak begitu ingat, tapi yang jelas dahulu manusia sangat sedikit dan selalu menjadi terpojok, tapi sejak ada Kerajaan Odor, manusia mulai bertambah banyak dan satu per satu bangsa majin meninggalkan Velenna," jawab Nikita. Nikita menatap Rosa, ia memastikan kembali energi yang tadi ia rasakan saat berpapasan dengan Rosa di tangga. Energi yang membuatnya penasaran. Tapi justru perasaan itu hilang, energi yang semula terpancar tak lagi terasa. "Nona Nikita, apakah kami teman pertama Nona Ivelle?" tanya Veza. Nikita menoleh ke arah Veza dan tersenyum perlahan, "Iya benar. Kalian teman pertama Ivelle. Aku yakin sepertinya kalian lebih tua dari Ivelle," ujar Nikita. "Usiaku 25 tahun, Veza baru 20 tahun," sahut Rosa. "Kalau begitu berarti Veza seumuran dengan Ivelle," balas Nikita. "Wah benarkah?" pekik Veza. Ivelle menganggukan kepalanya. "Ibu tidak akan menghisap darah mereka kan?" tanya Ivelle yang langsung tersadar jika Ibunya adalah setengah vampire. Nikita menoleh ke arah Ivelle dan tertawa terbahak - bahak sampai Ivelle mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja tidak, sayang. Meski aku setengah vampire, aku hanya meminum darah hewan dan oriel saja. Aku sama sekali tidak tertarik dengan darah manusia, begitu juga dengan keluargaku yang murni vampire yang lain. Kita semua tidak meminum darah manusia apalagi membunuh manusia," ujar Nikita. Rosa dan Veza sama - sama bernapas lega. Sebenarnya sedari awal Rosa dan Veza sempat ketakutan bertemu dengan Nikita, apalagi mata merah Nikita yang terlihat sangat mengintimidasi. "Oh ya kalian lanjutkan saja berbincangnya, aku keluar dahulu karena ada tamu yang akan datang kemari," ujar Nikita kemudian kembali berdiri dan kemudian keluar dari kamar Ivelle. Rosa dan Veza pun kembali melihat beberapa foto lainnya yang terjadi di 200 tahun yang lalu. Meski kebanyakan di antaranya adalah sebuah lukisan samar yang berusaha menyesuaikan dengan kejadian asli. Sejak 200 tahun yang lalu, Istana Twyla adalah Kerajaan ketiga yang terbentuk dan menjadi Kerajaan terkuat. Meski Kerajaan Tessitura lebih awal namun nyatanya Kerajaan Twyla memiliki kekuatan yang lebih besar. Bahkan Kerajaan Nephthys pun tak ada apa - apanya dibandingkan dengan bangsa Noblesse. Bisa dibilang bangsa Noblesse memiliki seluruh kekuatan setiap majin. Mulai dari sihir bahkan kamuflase biasa seperti yang dilakukan oleh beberapa bangsa majin lainnya. Sementara itu, Nikita keluar dari kamar Ivelle dan pergi ke arah taman belakang Istana Twyla yang langsung bersebrangan dengan Lautan luas. Laut Elara adalah lautan luas yang terletak di sisi barat dari Pulau Velenna. Pulau itu terbentang luas bahkan sampai ke Pulau Atreus yang terletak di sebelah utara Pulau Velenna. Laut kebiruan, cantik dan juga dangkal. Tak ada ikan - ikan yang hidup di sana, hanya ada seorang naga putih yang dikurung di bawahnya tanpa seorang pun tahu tentang keberadaannya. Ya dia, pria yang kini sedang bertamu kepada Gerhard yang tak lain adalah sosok penguasa Lacoste yang dikurung oleh saudarinya sendiri, Evander Cassiopeia. * * * * * Beberapa jam setelahnya, langit semakin menggelap dan sinar cahaya matahari perlahan tenggelam. Rosa dan Veza pun kembali bangkit dan segera bersiap untuk pulang. "Sepertinya sudah sore, kami akan segera pulang," ujar Rosa. Ivelle melihat ke luar jendela, "Benar sudah mulai gelap. Bagaimana jika aku mengantarkan kalian? Aku bisa teleportasi!" ujar Ivelle bersemangat. Daisy yang berdiri di sudut ruangan menatap Ivelle dan menggelengkan kepalanya. Karena memang Ivelle tidak pernah berlatih teleportasinya dengan baik bahkan untuk jarak jauh. Terlebih dari Kota Adarlan ke Kota Terassen jaraknya pun cukup jauh. "Kami pulang dengan Styx dan Ciro saja, Ivelle," ujar Rosa. "Tidak bisa. Kalian sudah main ke rumahku. Kalau begitu aku akan meminta Ayahku yang mengirim kalian pulang," ujar Ivelle. Ivelle pun berdiri dan keluar dari kamarnya diikuti dengan Rosa serta Veza, sedangkan Daisy sibuk membersihkan kekacauan dan kamar Ivelle yang berantakan. Ivelle dan ke 2 teman barunya itu turun ke bawah dan segera ke taman belakang. Namun langkahan kaki mereka terhenti saat melihat Gerhard, Nikita dan seorang pria dengan pakaian serba putih yang berbincang bersama. "Sepertinya aku baru melihat orang itu," gumam Ivelle. Mata Rosa membulat saat melihat sisi samping wajah pria yang ada di depan matanya. Pria itu tak lain adalah pria yang ia temui di White Festival. Pria itu menoleh ke arah Rosa dan juga ikut membulatkan matanya bahkan sampai terhenti berbicara dan membuat Gerhard serta Nikita ikut mnoleh dan melihat 3 wanita di belakang mereka. Nikita berjalan menghampiri Ivelle, Rosa dan juga Veza. "Kalian sedang apa?" tanya Nikita. "Aku mau mengantarkan Rosa dan Veza pulang, Bu," ujar Ivelle. Nikita menoleh ke arah Gerhard kemudian menatap Ivelle lagi, "Baiklah biar diantarkan oleh Gerhard ya," ujar Nikita. Rosa kembali melirik ke arah Gerhard namun ia kehilangan sosok pria misterius dengan baju putih. Bahkan Rosa sampai mengedarkan pandangannya. "Ada apa?" tanya Ivelle. Rosa mengedarkan pandangannya, "Ah tidak. Hanya terkejut saja pria tadi menghilang," ujar Rosa. Nikita menoleh ke belakang dan justru hanya melihat Gerhard sendirian sembari menghabiskan tehnya dan kemudian berjalan menghampiri Nikita. "Ayo, biar aku antarkan kalian pulang. Aku harap kalian tidak akan mabuk dan muntah," ujar Gerhard. Ivelle pun menatap Rosa dan Veza kemudian memeluk ke 2 wanita itu, "Kapan - kapan aku akan berkunjung ke sana," ujar Ivelle. "Apa tidak masalah, Nona?" tanya Veza. "Tidak apa - apa. Nanti Daisy bisa menemani Ivelle ke rumah kalian," sahut Nikita. Rosa dan Veza pun berdiri dan berjalan ke arah Gerhard yang sudah siap berdiri di tengah taman sembari bersiap. "Sudah siap?" tanya Gerhard. Rosa dan Veza mengangguk. "Aku antarkan mereka pulang dahulu. Kalian bisa lebih dulu ke ruang makan," ujar Gerhard. Ivelle dan Nikita menganggukan kepala dan sejurus kemudian . . . Whooosshhh ! ! ! Angin kencang menerpa rumput sekitar dengan kencang bahkan sampai rambut panjang kemerahan Nikita berterbangan. Setelah kepergian Gerhard, Rosa dan juga Veza, Nikita pun mengajak Ivelle masuk ke dalam. "Bu, yang tadi itu siapa?" tanya Ivelle. "Tadi? Dia Evander. Kelak kamu akan berkenalan dengannya," jawab Nikita. "Apa dia seorang majin?" "Bisa dibilang begitu. Ayo kita masuk ke dalam. Kita siapkan makan malam sebelum Ayahmu pulang," ajak Nikita. Ivelle hanya menuruti ucapan Ibunya dan mereka pun masuk ke dalam Istana Twyla kemudian menuju ke ruang makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN