Istana Twyla, Pulau Velenna
* * * * *
Setelah pertemuan tak terduga antara Rosa dan Veza beserta Ivelle, kedua wanita manusia itu pun diajak ke tempat tinggal Ivelle yang tak lain adalah Istana Twyla.
"Apakah tidak apa - apa kami datang kemari?" tanya Rosa yang ragu - ragu karena ini pertama kalinya dirinya datang ke Istana Twyla tanpa ada maksud dan tujuan tertentu.
Ivelle menoleh ke arah Rosa dan menepuk bahu wanita itu, "Tidak apa - apa. Aku yang mengajak kalian dan mulai sekarang kalian akan menjadi temanku," balas Ivelle.
Pertemuan tak sengaja itu seolah membuahkan hasil bagi Rosa yang selama ini selalu penasaran dengan wajah dari anak Gerhard Khrysaor serta Nikita Talfaern.
Terlebih tidak pernah ada lukisan atau pun foto yang diambil mengenai Ivelle. Gerhard benar - benar merahasiakan sosok anaknya dari umum dan tak ingin menempatkan anaknya dalam bahaya.
"Ayo masuk," ajak Ivelle kemudian menarik tangan Rosa dan juga Veza bersamaan dan mereka pun melewati gerbang utama Istana Twyla.
Kini, kedua wanita itu berada di dalam Istana Twyla yang terkenal luas, indah, menawan dan sejuk. Semua rumor itu benar, Rosa dan Veza bisa merasakan atmosfer yang berbeda pada permukaan Istana Twyla yang sedang ia pijaki sekarang.
"Kita langsung ke kamarku saja, ya," ujar Ivelle kepada Rosa dan juga Veza.
Ivelle kemudian menatap Daisy, "Oh ya tolong bawakan teh dan cemilan ke kamarku ya. Terima kasih," ujar Ivelle.
Daisy hanya menganggukan kepalanya mengerti.
Setelah melewati pintu gerbang utama Istana Twyla, Ivelle segera mengajak Rosa dan Veza berlari ke lantai 3 dengan tangga yang tersedia di dalam sana.
Puluhan anak tangga berhasil mereka lewati, sampai akhirnya langkahan kaki ketiga wanita itu terhenti saat melihat kaki lain yang berada di atas mereka dengan pakaian serba berwarna kebiruan yang berdiri tepat di depan mereka.
Baik Ivelle, Rosa maupun Veza, ketiga wanita itu yang semula menundukan kepalanya langsung mendongakan kepala dan melihat sosok yang menghalangi jalan mereka.
"Ivelle?" panggil wanita itu.
Ivelle membulatkan matanya, "I - ibu," ujar Ivelle kemudian tersenyum kaku memperlihatkan jajaran giginya yang rapi berwarna putih.
Nikita Talfaern, Ibu kandung dari Ivelle yang merupakan seorang Mongrel alias manusia setengah vampire. Kini sedang berdiri di atas anak tangga sembari memperhatikan anaknya yang baru saja tiba dengan 2 orang manusia asing.
"Ma - maafkan aku. Jangan salahkan mereka," ujar Ivelle kemudian menundukan kepalanya.
Nikita melangkah menuruni anak tangga dan menghampiri Rosa. Rosa pun menundukan kepala karena tak berani memandangi wajah sang Ratu Twyla yang kini hanya berjarak beberapa jengkal darinya.
"Kalian baru pertama kali ke sini ya? Nanti akan aku buatkan kue madu apa kalian mau?" tanya Nikita.
Ivelle tersentak, sampai menoleh, begitu juga dengan Rosa dan juga Veza.
"I - iya?" ujar Rosa.
"Kalian kan tamu disini, masa iya aku tidak hidangkan apapun?" balas Nikita.
Rosa menatap Ivelle dengan pandangan tak percaya, begitu juga dengan Rosa.
"Apa Ibu tidak marah?" tanya Ivelle.
Nikita menoleh ke arah anaknya, "Aku marah kepadamu karena kamu lagi - lagi pergi ke pasar tanpa memberitahu kepada Ibu dan bahkan merusak barang dagangan mereka. Kamu pikir kamu bisa lari semudah itu dariku, Ivelle?" tanya Nikita.
Ivelle kembali memperlihatkan giginya melalui senyumannya yang sangat kaku, ia kemudian menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Kalian pasti teman - teman Ivelle kan? Terima kasih sudah mau datang kemari. Biar aku buatkan kue madu untuk kalian," ujar Nikita kemudian akhirnya berjalan melewati Rosa dan Veza lalu menuruni anak tangga.
Ketiga wanita itu tampak kebingungan, padahal sebelum masuk ke Istana, Ivelle sudah memperingatkan beberapa kali takut Ibunya menghisap darah Rosa dan Veza karena bagaimana pun Nikita adalah seorang setengah vampire.
Akhirnya Ivelle dan 2 teman barunya naik ke atas dan berhasil masuk ke dalam kamar Ivelle. Baik Rosa maupun Veza, ke 2 wanita itu sama - sama terpana melihat kamar Ivelle yang luas dan bahkan 5 kali lebih luas dibandingkan dengan kamar milik Rosa.
"Wah," gumam Veza sembari melangkahkan kakinya dan melihat berbagai barang - barang yang ada di sana.
Pandangan mata Rosa teralihkan pada sebuah lukisan indah yang tak lain adalah keluarga Noblesse yang berada di atas tempat tidur Ivelle.
"Maaf soal Ibuku tadi," ujar Ivelle.
Rosa menoleh ke arah Ivelle dan tersenyum, "Tidak apa - apa, kok. Ratu Nikita sangat baik. Aku tidak menyangka beliau akan menawarkan kue madu kepada kami," balas Rosa.
"Benar, Nona. Wajah Nona Nikita juga sangat cantik sekali dari jarak dekat. Selama ini aku hanya melihat melalui foto, lukisan dan dari jauh saja," sahut Veza.
Ivelle duduk di atas tempat tidurnya dan menghela napas, "Aku pikir dia akan marah besar karena melihat kalian," ujar Ivelle.
Rosa berjalan mendekati Ivelle dan duduk di sampingnya, "Jangan bilang kami yang pertama kali kau ajak kemari?" tanya Rosa.
Ivelle menganggukan kepalanya, "Kalian yang pertama. Sebenarnya ini kali ketigaku kabur dari rumah. Ah tidak, kata kabur terlalu kasar. Lebih tepatnya aku pergi keluar tanpa bilang kepada Ibuku karena aku tahu aku tidak akan diizinkan pergi," ujar Ivelle.
"Tapi nyatanya Ratu Nikita mengetahuinya," balas Rosa.
"Benar sekali. Aku lupa Ayahku seorang Noblesse yang bisa melihat beberapa titik terdalam di Lacoste hanya dengan kristalnya saja," ujar Ivelle.
"Kristal?" sahut Veza kemudian ikut menghampiri Ivelle dan menatap wanita di hadapannya.
"Kristal bening yang bisa melihat beberapa titik di Lacoste. Aku belum bisa menggunakannya tapi kelak mungkin bisa karena aku akan menjadi penerus Ayahku," balas Ivelle.
Ivelle kemudian berdiri dan menatap Rosa serta Veza, "Nah karena kalian adalah teman pertamaku, maka aku akan mengajak kalian berkeliling Istana Twyla, bagaimana?" tanya Ivelle.
Rosa dan Veza saling melempar pandangan. Veza kemudian berjalan mendekati Ivelle dan berbisik, "Nona jangan salah paham, aku dan Nona Rosa-"
"Aku tahu kau pelayan pribadinya kan, sama seperti aku dan Daisy," ujar Ivelle.
Veza mengangguk, "Benar seperti itu, Nona Ivelle," balas Veza.
"Veza, jangan seperti itu. Aku sudah bilang kau seperti adikku juga kan? Jadi santai saja dan jangan terlalu kaku begitu," ujar Rosa.
Veza menoleh ke arah Rosa kemudian berlari ke arah Rosa dan memeluknya, "Nonaku baik sekali," puji Veza.
Ivelle tersenyum melihatnya, ini adalah pertama kalinya bagi dirinya mengajak teman pertamanya masuk ke dalam Istana Twyla dan bahkan sampai masuk ke kamarnya.
2 kesempatan kabur Ivelle lainnya sebenarnya Ivelle hanya pergi ke beberapa tempat. Ia bahkan tak bertemu dengan perempuan lain. Ini adalah kali petama Ivelle memiliki teman.
Bahkan Rosa serta Veza bersedia merahasiakan wajah Ivelle yang asli.
* * * * *
Di sisi lain, Gerhard yang sedang duduk menikmati tehnya menoleh melihat kedatangan Nikita dengan kue madu buatannya. Nikita langsung meletakkan piring di hadapan Gerhard dan tersenyum.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" tanya Gerhard.
Nikita duduk di samping Gerhard dan menganggukan kepalanya semangat, "Ivelle membawa teman," ujar Nikita.
"Teman? Oh ya?" tanya Gerhard.
Nikita menganggukan kepalanya.
"Baguslah jika begitu. Sedari awal kita hanya tidak memperkenalkan secara resmi bahwa dia adalah anak kita. Tapi kita tak pernah melarangnya untuk memiliki teman. Dari bangsa mana teman Ivelle?" tanya Gerhard kepada Nikita.
"Manusia. Tapi sepertinya aku merasakan ada energi aneh pada salah satu wanita itu," balas Nikita.
"Energi? Seperti apa?"
Nikita menggidikan bahunya.
"Ya sudah, kalau begitu kau temani saja mereka agar kau bisa tau energi apa itu. Sebentar lagi Evander akan datang kemari, nanti biar aku saja yang menemuinya," ujar Gerhard.
Nikita menganggukan kepala dan kembali berdiri.
Sebelum pergi Nikita mengecup bibir Gerhard kemudian keluar dari ruangan Gerhard. Gerhard hanya tersenyum menatap kepergian istrinya itu dan mulai menikmati kue madu buatan Nikita yang memang merupakan cemilan kesukaannya ketika dimakan bersama dengan teh hijau.