BAB 33

1002 Kata
Callista dan Mahawira akhirnya mengakhiri pernikahan mereka dengan kelelahan yang menyiksa setelah serangkaian pernikahan yang berlangsung sekitar 5 jam. Baik Callista maupun Mahawira merasakan sakit di daerah bahu dan sakit parah di daerah kaki, apalagi Callista memakai sepatu hak 4cm di pesta pernikahan. Dikarenakan jumlah tamu yang bisa dibilang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan yang dijalankan Mahawira saat ini, mereka harus menyapa semua tamu yang datang dan senyuman mereka tidak boleh berkurang. "Apakah kamu ingin aku membantumu?" Mahawira bertanya siapa yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyeka sisa keringat ketika melihat Callista di belakangnya yang tampak berjuang untuk membuka kancing bajunya. Callista memandang Mahawira dari bayangannya dan mengangguk sambil tersenyum, "Buka," pintanya lembut. Suara merdu Callista seolah menarik perhatiannya, sekaligus menjadi ketagihan Mahawira setiap kali mendengar suara merdu wanita yang kini berganti nama menjadi istrinya. "Ya," jawab Mahawira sambil melepas gaun pengantin Callista. "Terima kasih banyak," kata Callista, duduk di meja rias, menatap Mahawira dalam bayangannya di cermin di depannya. Pada akhirnya, Callista dan Mahawira memutuskan untuk menginap di hotel tempat mereka akan menikah, karena malam ini mungkin adalah malam yang paling dinanti bagi pengantin baru untuk tidur bersama untuk pertama kalinya. tempat tidur . Terletak di jantung kota Jakarta, hotel bintang 5 ini menawarkan pemandangan malam yang spektakuler. Mereka juga menawarkan kamar pribadi yang tampaknya dirancang untuk pasangan muda untuk menikmati romansa. "Apakah kamu ingin mandi sekarang?" tanya Mahawira sambil memegangi bahu istrinya. Callista mengangguk, dengan satu tangan memegang kapas kotor untuk menghapus riasan, menunjuk ke tempat sampah dan membuang kapas itu. Akhirnya, riasan yang dikenakannya selama hampir satu hari benar-benar terhapus. Meski Callista menghapus riasannya, dia tetap terlihat nyaman. Mahawira berkata, "Biarkan aku menyiapkan air hangat, oke? Sepertinya kamu harus mandi air hangat. Aku sangat suka garam laut di dalamnya untuk menghilangkan rasa lelah." "Apa kamu tidak lelah?" tanyanya pada Callista yang tidak ingin diganggu suaminya. "Biar aku siap-siap," kata Mahawira, langsung pergi ke kamar mandi. Meskipun pria itu masih mengenakan pakaian yang belum dibuka dan rambutnya masih basah. Callista yakin pria itu sama lelahnya dengan dirinya, tapi Mahawira menjaganya dan tidak ingin Callista lelah. Mahawira yang masuk ke kamar mandi lebih dulu, menoleh dan menatap istrinya melalui pantulannya: “Aku sudah selesai. Saya tinggal menunggu airnya penuh,” kata Mahawira sambil menuang. garam laut untuk wanita itu. mandi istri Wanita itu mendengar air mengalir dari bak mandi yang disiapkan untuknya. "Terima kasih," kata Callista. Wajah Mahawira yang dulu ramah tiba-tiba berubah dan dia melangkah mendekati Callista. "Kenapa dia?" Mahawira bertanya dengan jelas, dan kali ini nadanya berbeda dari yang terakhir kali. Callista terkejut ketika Mahawira mendengar suaranya berubah dalam hitungan detik: "Apa maksudmu?" 'Erik. Bukankah seharusnya ibumu membawamu bersamamu?' Mahavira bertanya lagi. Callista pun paham bahwa pertanyaan suaminya itu ditujukan kepada Eric Bastian, teman masa kecilnya. "Karena itu laki-laki yang mempekerjakanmu, Sayang. Jangan khawatir, kamu paling tahu aku dan apa hubunganmu dengan Eric," jawab Callista, lalu bangkit dari kursinya, duduk, berbalik dan berjalan ke Mahawira. . Kedua tangannya terjulur dan menyentuh wajah Mahawira yang menatapnya lekat. "Aku hanya mencintaimu, kau tahu itu, kan?" Callista berbicara lagi. Mata tajam Mahawira berangsur-angsur berubah. Pria itu segera memeluk wanita di depannya dan membenamkan wajahnya di luka di leher Callista. “Maafkan kecemburuanku. Aku hanya tidak suka saat kamu bersama orang lain selain aku.' Callista mendorong tubuh Mahawira menyebabkan pria itu menatapnya, "Aku mencintaimu." Tangan Mahawira terulur dan menarik pinggang Callista lebih dekat dengannya, menutup jarak di antara mereka dan mengikat mereka menjadi satu. “Aku juga mencintaimu,” jawab Mahawira sambil mencium bibir Callista, membuat sang wanita memejamkan mata dan pria yang berganti identitas membalas ciuman di bibir. Mahawira perlahan melepaskan bibirnya, menatap Callista dan mencium keningnya, "Kamu harus mandi. Aku tidak mau tidur dengan wanita yang berkeringat," kata Mahawira, pipi Callista merona. . "Apa yang kamu katakan?!" "tanya Callista. Mahawira hanya tersenyum, mencium bibir Callista dan mengikutinya ke kamar mandi. “Aku akan menunggumu,” kata Mahawira kepada istrinya dengan senyum nakal. Callista dan Mahawira bukanlah anak laki-laki naif yang tidak tahu harus berbuat apa di malam pertama mereka sebagai pengantin. Bukankah itu datang secara alami kepada mereka? “Tunggu, aku akan membasuh keringat di tubuhku,” kata Callista sambil mengangguk kepada Mahawira. Setelah membawa istrinya ke kamar mandi, Mahawira berbalik dan pergi ke kopernya. Dia sedang mencari pakaian untuk mempersiapkan dirinya menginap di hotel. Sungguh percuma karena malam ini keduanya akan terlihat polos dan tidak ada ikatan di tubuh mereka. ting! Dering telepon di meja rias Callista membuat Mahawira menoleh ke arah telepon yang terbuka. Tangannya yang semula sedang mengatur pakaian, berhenti dan dia mengalihkan perhatiannya ke ponsel Callista. Mahawira juga ikut menoleh ke arah ponsel Callista yang berdenting seolah ingin mengetahui apa yang terjadi dan dari siapa pesan itu berasal. "Dari siapa?" tanya Mahawira. "Kita akan segera tahu," jawab Callista. Kakinya menuju ke ponsel Callista. Saat sampai di meja rias, dia mengulurkan tangan untuk melihat pesan yang baru saja masuk ke ponsel suaminya. Matanya terbelalak saat melihat sebuah pesan teks baru saja masuk ke ponsel suaminya. Pesan itu dari Eric, pria yang tidak disukai Mahawira karena terlalu dekat dengan istrinya. Meskipun dia tahu Eric dan Callista sudah saling kenal sejak bertemu suaminya, dia masih cemburu ketika Eric menunjukkan minat pada suaminya. Kali ini, di tengah malam pernikahannya dengan Callista, ia mendapati Eric dengan santai berusaha mengingatkan Callista untuk tidak melewatkan makan malam dan meminum vitamin yang rupanya sudah diberikan kepada Callista dua hari sebelumnya. Mata Mahawira memanas dan kepalanya menoleh ke vitamin yang Eric bicarakan. Setelah mengobarkan emosinya, Mahawira segera mengunci ponsel Callista, mendekati pil vitamin, dan membuangnya. Segera setelah melempar smoothie, pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sosok Callista yang mengenakan jubah mandi. Emosinya turun lagi ketika dia menemukan Callista sangat menarik baginya. "Apa ini ? " tanyanya pada Callista yang bingung. “Tidak ada,” jawab Mahawira cepat, lalu berjalan ke arah Callista. Pada akhirnya, kedua pengantin baru menghabiskan malam pertama mereka dalam panas. Meski Mahawira tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya pada Eric, dia merasa berjaya ketika akhirnya menikahi Callista, menjadikan Callista satu-satunya wanita yang pernah dicintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN