BAB 34

1226 Kata
setelah 2 tahun... Seorang wanita dengan perut bundar terlihat keren saat mengaduk telur di wajan di atas kompor. matanya tertuju pada tangan yang bergerak, sesuai dengan tingkat kontrol yang dia cari. Puas, wanita itu meletakkan telur orak-arik di kedua piring sosis dan keripik yang sudah dimasak sebelumnya. "Oke, itu saja," gumamnya sambil mengangkat dua piring di depannya dan meletakkannya dengan rapi di atas garpu dan meja siap saji. Setelah piring-piring diatur dan peralatan makan diatur dengan benar, wanita itu pergi ke tempat lain dan mengambil dua gelas kosong dan meletakkannya di sebelah setiap piring dan bejana logam. Seorang wanita yang kembali dari kehidupan yang sibuk terus menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Ketika sarapan sudah siap, dia kembali ke kamarnya untuk memulai. memukul! memukul! memukul! Wanita itu menempelkan telinganya dengan lembut ke daun pintu dan mengetuk pintu putih di depannya dengan lembut. Setelah menunggu jawaban dari seseorang, biarkan mereka masuk. "Memasuki!" kata seorang pria sedikit meninggikan suaranya, jadi wanita itu mengetuk pintu kamar tidur untuk melakukannya. Tangan wanita itu meraih kenop pintu, menekannya pelan hingga pintu tertutup, hingga ia melihat sebuah lubang yang mengeluarkan bau aneh dari kamar, lalu ia membuka sangkar masuk ke dalam kamar. Pria itu menutup pintu kamar dan menuntun gadis baru itu ke kamar tidurnya, berjalan perlahan ke arahnya. "Bantu aku," kata wanita itu, lalu perlahan membuka ikatan dasi pria itu. Tangannya yang melengkung dan elegan lebih bersih dari sebelumnya, yang mengejutkannya saat dia fokus pada dasi di depannya. "Selesai," kata wanita itu, memperlihatkan suaminya yang lebih tinggi, yang sedikit mendongak untuk melihatnya. "Terima kasih, Callista sayang," kata pria bernama Mahawira itu sambil mencium kening istrinya yang berusia delapan bulan. Callista tersenyum hangat saat menerima perlakuan hangat dari suaminya, "Ayo pergi dulu. Aku akan segera kembali," kata Callista kepada suaminya yang mengenakan setelan jas sewarna dengan celana yang dikenakannya. Mahawira menoleh ke Callista dan memeluknya erat, meletakkan dagunya di bahu kirinya dan mengeluh, "Aku terlalu malas untuk bekerja. Aku ingin tinggal di rumah bersamamu." Memang benar Mahawira lebih banyak tinggal di rumah sejak Callista hamil. Waktu yang kita habiskan bersama pada liburan yang bertujuan tidak ada habisnya. Mahawira beruntung karena dia memiliki CEO, dia tentu saja tangguh dan tidak memiliki bos untuk dimarahi. Mahawira Rasendriya, laki-laki berusia 30 tahun, merupakan anak pertama dari pasangan Rasendriya. Setelah Ayah dan Ibu berusia 60 tahun, Ayah dan Ibu memutuskan untuk mengakhiri penuaan mereka di AS sambil membantu putra bungsu mereka, Mahesa Rasendriya, menyelesaikan studi PhD-nya di universitas. Tidak hanya itu, Bara Rasendriya, pemilik Perusahaan Rasendriya, memutuskan untuk mengalihkan seluruh tanggung jawab perusahaan kepada Mahawira. Bara sangat mempercayai putranya sehingga untuk pertama kalinya dia tampak membebani pria yang akan menjadi seorang ayah. Bara bisa dikatakan beruntung memiliki 2 anak yang cantik dan siap mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan usaha yang ia mulai 42 tahun lalu. Padahal, keduanya terlahir dengan kecerdasan di atas rata-rata. Hal ini dibuktikan oleh Mahawira, yang memiliki gelar master di bidang administrasi bisnis dari universitas ternama di wilayah Depok Indonesia, dan putra bungsunya Mahesa, yang saat ini bergelar PhD di bidang administrasi bisnis dari sebuah universitas di Amerika Serikat. Mahawira telah menikah selama 2 tahun dengan gadis yang dicintainya sejak kuliah, Callista Evanora. Bisa dibilang wajah Callista polos, cantik dan seksi sekaligus untuk Mahawira. Setelah 3 tahun berpacaran, Mahawira memutuskan untuk menikahi Callista dan melupakan pelatihan dokter yang ditawarkan kepadanya oleh Bara. Namun, Mahawira masih memiliki keterampilan bisnis yang melebihi keinginan ayahnya. "Apakah tingkat kematangan telur sudah cukup?" Callista bertanya kepada Mahawira siapa yang mencicipi makanannya. Mahawira tampak mengangguk, lalu menggerakkan tangan kanannya dan mengambil gelas berisi air mineral istrinya. "Sungguh, aku menyukainya. Terima kasih sayang," kata Mahawira dan kembali melanjutkan sarapannya memakan sosis dan kentang yang telah dimasak Callista. Callista merasa senang dengan pria seperti Mahawira. Tak hanya tampan dan pintar, pria itu juga menghargai semua yang diberikan Callista. Meski terkadang Callista tahu, Mahawira tidak menyukai makanan tertentu. Namun Callista tidak menunda, dia akan membuat makanan apa saja yang disukai Mahawira dan menjadi alasan suaminya pulang karena rindu masakannya. Pasangan ini memutuskan untuk tinggal di rumah sederhana yang jauh dari kemewahan. Tidak seperti kebanyakan CEO perusahaan yang memiliki rumah hingga 4 lantai bahkan puluhan mobil di dalamnya. Kehidupan Mahawira dan Callista seperti kehidupan orang lain, yang tidak kaya asalkan cukup untuk semua orang. Sebenarnya Bara sudah menyiapkan rumah untuk anaknya, namun Mahawira menolak dan ingin membelikan rumah untuk Callista yang dibelinya dengan penghasilan sendiri. Adapun Callista, tentu saja senang dengan pemberian Mahawira yang luar biasa untuknya. Setiap detik dalam hidup mereka selalu memiliki senyum dan kehangatan di dalamnya. "Apakah kamu ada rapat hari ini?" tanya Callista setelah sarapan sambil melihat Mahawira menyeka bibirnya dengan tisu. "Ada. Sepertinya ada proyek baru, tapi saya tidak cek karena Ayu meletakkannya di meja saya," jawab Mahawira sambil meletakkan tisu yang dia gunakan tadi di piring kosong. "Perjalanan bisnis apa lagi?" Callista bertanya lagi. "Mungkin." "Bisakah saya bergabung?" “Tentu saja, tapi seperti biasa kita akan ke bidan dulu sebelum kita berangkat,” kata Mahawira yang sebenarnya tidak ingin melarang istrinya datang, namun dalam hatinya ia sering khawatir ketika istri dan anak-anaknya lelah. dan apa -apa. tak terduga terjadi. terjadi dalam perjalanan bisnis dengannya. Selama 2 tahun menikah, Callista kerap menemani Mahawira saat sang pria melakukan perjalanan bisnis. Baik antar kota atau antar negara, Callista selalu menemani Mahawira tanpa melewatkan satu pun perjalanan bisnis. Hingga semua rekan kerja Mahawira mengetahui apakah istrinya, Callista, menjadi wanita idaman kebanyakan pria yang bekerja di sana. "Oh!" Callista tiba-tiba menjerit dan merasakan perutnya mengeras dan sedikit sakit karena anaknya dalam kandungan bergerak dan menendang dengan kuat. Mendengar Callista merintih kesakitan, Mahawira langsung berdiri dan berlari ke arah Callista yang masih duduk di kursinya. "Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Mahawira cemas. Ekspresi Callista yang semula cemberut berangsur-angsur berubah saat merasakan tangan kuat Mahawira mengelus perutnya yang sakit. Entah kenapa, setiap kali suaminya mengusap perutnya, dia merasa lebih tenang dan rileks. Bahkan bayi dalam perutnya terkadang tidak agresif seperti dulu. "Aku baik-baik saja sayang. Tapi sepertinya anak laki-laki di sana itu semakin tua, dia semakin banyak bergerak. Tendangannya bahkan lebih keras dari sebelumnya," kata Callista sambil mengelus perutnya. "Mungkin dia akan menjadi pesepakbola ketika dia besar nanti," jawab Mahawira sambil tertawa. "Tentu," kata Callista. Setelah merasa anaknya lebih tenang, Mahawira melepaskan perut Callista dan berdiri lagi: 'Haruskah kita mencari pembantu saja? Perutmu terlalu besar dan aku takut terjadi apa-apa jika kamu masih melakukan semua pekerjaan rumah, sayang," kata Mahawira. Callista memegang tangan Mahawira dan menatap pria itu dengan saksama: 'Saya bisa melakukannya. Selain itu, Ibu sering membantu saya di sini. Jadi kamu tidak perlu khawatir, sayang," jawab Callista, dia tidak ingin suaminya mengkhawatirkannya. "Apa kamu yakin?" Wanita itu dengan cepat mengangguk sambil tersenyum manis pada suaminya, "Ya, tentu saja," jawabnya cepat. Mahawira mengecup lembut puncak kepala Callista, “Oke. Kalau begitu aku pergi dulu, jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu, hubungi aku segera. Anda adalah prioritas saya, Callista,' katanya. Callista bangkit perlahan dari kursinya dengan tangan di bawah perutnya dan mengikuti langkah kaki Mahawira saat mereka berjalan ke pintu. Pria itu berbalik sebelum meninggalkan pintu dan melambaikan tangannya sampai akhirnya dia pergi dan sosoknya menghilang di balik daun pintu. Suasana tenang menyelimuti rumah lagi, Callista menoleh ke perutnya dan dengan lembut membelai perutnya: 'Kamu harus melahirkan dan tumbuh dengan cepat, Nak. Kami pasti akan dengan senang hati menyambut Anda dan Anda akan membuat rumah ini menjadi suasana yang hidup dan tidak menyedihkan,” bisik Callista.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN