BAB 35

1015 Kata
Mahawira melewati beberapa karyawan di lobi kantor. Banyak orang tampak bersemangat untuk mengucapkan selamat kepada pria jangkung 189cm yang merupakan CEO Rasendriya Company ini. Dalam 3 tahun terakhir Mahawira menjabat sebagai CEO, ia telah melakukan banyak perubahan pada perusahaan warisan ayahnya. Seperti dress code dan bahkan etiket di tempat kerja, yang menghilang saat Bara perlahan meninggalkan posisinya dan perlahan pindah ke putra sulungnya. Tak hanya itu, Mahawira juga mampu meningkatkan pendapatan perusahaan hingga 300% sehingga menghasilkan keuntungan yang luar biasa. ting! Karena suara lift, seorang wanita yang duduk di mejanya menoleh ke sumber suara. Matanya langsung menangkap sosok pria yang dikenalnya sebagai atasannya dan membuatnya spontan bangkit dari tempat duduknya dan mendekati pria yang baru saja sampai di lantai 13 gedung tersebut. 'Selamat pagi, Pak Wira,' sapa seorang wanita berambut pendek dan berpakaian rapi Mahawira. Mahawira berhenti di depan wanita itu, berbalik dan menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mulutnya ternganga ketika dia menemukannya dalam rok di atas lutut tampak seperti resi, tidak genit. "Berapa kali aku harus memberitahumu?" kata Mahawira yang juga disapa Wira di tempat kerja. Wanita itu tiba-tiba meraih rok biru yang dikenakannya dan mencoba menurunkannya sambil membungkuk. "Permisi tuan!" dia berkata. Namun, Wira tidak mendengar nada penyesalan dalam suaranya: "Ini peringatan ketiga. Apakah kamu datang ke sini untuk bekerja atau main mata dengan seorang pria, Ayu?" tanya Wira, melihat perempuan bernama Ayudisha Gantari itu akhirnya tidak bergeming, ia hanya berjalan melewati perempuan itu menuju kantornya yang sudah dinanti-nantikannya sejak awal. Ayu menghela napas lega saat melihat Wira benar-benar telah melewatinya dan sudah tidak bergerak lagi. Senyum tiba-tiba muncul di sisi mulut wanita itu, begitu Wira memasuki ruang kerjanya, yang terisolasi dari orang lain. "Wanita aneh," gumam Wira sambil meletakkan mantel yang baru saja dibukanya di gantungan yang ada di sudut kamarnya, tidak jauh dari pintu masuk. Kakinya yang panjang melangkah mundur menuju stasiun yang tidak dia kunjungi selama 2 hari terakhir. Matanya tertuju pada dokumen yang dikemas dalam folder cokelat yang diletakkan rapi di mejanya. Dia meraih dokumen itu dan mengeluarkannya dari dalam. "Sore?" Wira terkejut ketika membaca sebuah dokumen tentang kerjasama Perusahaan Rasendriya, yang telah menerima lamaran bisnis dari salah satu perusahaan besar dari negeri Sakura. ketukan! ketukan! ketukan! Ketukan di pintu membangunkan Wira dari konsentrasinya, tenggelam dalam dokumen yang mulai dibacanya. Matanya tertuju pada pintu kantornya yang terbuka, memperlihatkan kepala dengan tangan di pintu. "Ada apa, Ayu?" tanya Wira, menyadari bahwa mengintip dari balik pintu adalah Ayudisha Gantari, sekretaris pribadinya yang baru saja ditegur karena mengenakan rok melewati lutut. “Pak Bara ada telepon, Pak,” kata wanita itu. Wira menoleh ke telepon di sebelah kanan tempat dia duduk, mengangkat telepon dan menempelkannya ke telinganya. Matanya bertemu lagi dengan Ayu dan mengundang wanita itu untuk pergi hanya dengan lambaian tangan yang dia berikan padanya. "Apa kabar?" Wira angkat bicara saat menerima telepon dari Bara Rasendriya, ayahnya. “Akhirnya, pergi ke kantor untuk memeriksa dokumen. Sejak kemarin Ayah sudah meminta kepada Ayu agar bisa segera konfirmasi kedatanganmu di Jepang," ujar Bara dengan suara sambungan telepon dari Amerika Serikat. "Sore?" Pahlawan bertanya. Tangan Wira berpindah ke dokumen di depannya dan memindahkannya ke halaman berikutnya sampai matanya bertemu dengan undangan emas mawar dengan nama tertulis di atasnya. "Apakah kamu membaca, Nak?" tanya Bara. "Saya sedang membaca." Mata Wira dengan seksama membaca setiap kalimat di sana, di mana ia diminta menghadiri rapat resmi perusahaan yang ingin mengajukan kemitraan dan menyuntikkan dana investasi triliunan ke perusahaannya. Wira semakin tercerahkan ketika melihat angka 0 yang terdiri lebih dari 9 buah. "Kenapa tiba-tiba? Besok?" kata Wira, langsung ke telinga Bara. “Seharusnya 1 minggu yang lalu, tapi karena beberapa masalah penyesuaian, itu hanya memberi waktu 3 hari yang lalu. Dan karena Anda baru tiba di kantor, butuh sedikit lebih lama dari yang diharapkan. Bagaimana bisa Anda pergi. Sebenarnya, saya adalah yang pertama pergi, lalu saya katakan kepada Pak saya tidak bisa hadir karena saya di Amerika, jadi saya menunjuk Anda sebagai kepala perusahaan yang baru, "kata Bara, menceritakan kronologi kejadian dari dokumen. “Tapi saya baru menjabat sebentar saja sedangkan nilai perusahaan ini triliunan,” jawab Wira. "3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Kamu juga membuktikannya, Nak. Aku percaya padamu." Pahlawan berhenti dan berpikir. Proposal kerjasama triliunan dolar, tentu saja, membutuhkan waktu lama untuk disiapkan. Omong-omong, acara resminya 7 hari, mungkin Wira hanya ada 14 hari. "Aku akan memberitahu Callista dulu," jawab Wira. 'Jangan bawa istrimu bersamamu. Dia hamil, Mahawira," kata Bara. "tetapi-" 'Sebaiknya Anda memikirkan kesehatan janin. Perjalanan ke Jepang tidaklah singkat dan jika tekanan ketinggian menyentuh kandungan, berakibat fatal bagi keduanya. Pikirkan baik-baik, Wira,' kata Bara cepat. "Nanti saya tanyakan ke dokter kandungan pribadinya," jawab Wira. Setelah percakapan singkat antara ayah dan anak, mereka akhirnya mengakhiri percakapan. Wira tampak berpikir sejenak tentang perjalanan bisnisnya kali ini. Istrinya sedang hamil besar dan perlu menjadi suami yang waspada, bagaimana dia bisa merawat istrinya tanpa dia? Pertanyaan itu terus berulang di kepalanya, tetapi dia tidak bisa menemukan jawabannya. Selain itu, Wira tidak bisa meninggalkan perjalanan bisnis dan menolak. Dia bisa menebak betapa marahnya Bara jika Wira tidak pergi ke Jepang hanya karena keegoisannya. Dia menyalakan telepon yang dia matikan dan menekan kombinasi nomor telepon yang mengarah ke ponsel istrinya. Wira menunggu beberapa saat sampai dia mendengar suara yang familiar di telinganya. "Sayang," teriak Pahlawan. "Kita akan pergi ke dokter kandungan malam ini. Sepertinya perjalanan bisnis ini mengharuskan saya untuk mempertimbangkan beberapa pertimbangan penting untuk Anda dan anak-anak kita,” lanjut Wira. Callista, yang berada di ujung telepon, mengerutkan kening dan hanya melakukan apa yang dikatakan suaminya. "Jika Callista tidak bisa datang, mungkin aku harus memastikan seseorang selalu bisa menjaganya," kata Wira dalam hati setelah sambungan telepon mereka terputus. Dalam hatinya Wira sangat menginginkan Callista untuk ikut tetapi ada sisi dimana dia merasa tidak boleh terlalu egois. "Arrghh!" Wira pun mengerang frutasi karena pekerjaannya sendiri. Mungkin jika pria itu bukanlah CEO dari sebuah perusahaan terkenal dan hanya karyawan biasa, mungkin Mahawira bisa mengambil cuti atau sekedar melewatkan pekerjaannya yang satu ini demi menunggu kelahiran pertama istrinya. Tapi sayangnya nasib berkata lain. Sebagai seorang CEO apalagi anak dari seorang pemilik perusahaan ternama, Mahawira harus mengorbankan segalanya demi perusahaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN