Wira mengendarai mobilnya ke tempat parkir salah satu rumah sakit swasta di ibu kota. Pria itu melihatnya dengan rambut ditata beberapa kali, bersandar di kaca spion di mobilnya sebelum akhirnya turun dari mobilnya.
Kakinya melangkah memasuki area rumah sakit, hingga matanya menangkap sosok wanita hamil tua yang kini tengah sibuk dengan ponselnya di kedua tangannya. Wira tersenyum pada wanita itu sambil berjalan pergi.
'Sayang,' teriak Wira sambil memegang pundak gadis itu.
Callista mengangkat kepalanya, kesedihan masih terlihat jelas di wajahnya yang cantik.
"Sudah mendaftar?" Pahlawan bertanya.
'Tentu saja. Mungkin kita akan masuk setelah ini," kata Callista.
Wira melihat sekeliling, melihat beberapa pasien lain juga mengantri untuk menemui dokter, dan Callista sepertinya satu-satunya yang terlihat hamil di antara pasien lainnya.
Setelah Wira meminta suaminya untuk memeriksakan kandungannya, Callista segera melapor ke dokter kandungan. Apalagi karena Wira harus pergi ke Jepang besok, Callista tidak bisa menahan diri untuk pergi ke dokter di malam hari.
Untungnya, dokter kandungan Callista memiliki jadwal malam, dan setidaknya mereka bisa mendengar hasil apakah Callista bisa pergi ke Jepang bersamanya atau tidak.
Pintu hijau terbuka di depan Callista menyebabkan wanita itu langsung berbalik, begitu juga dengan Wira yang langsung membalikkan badan menghadap pintu yang terbuka. Segera, seorang wanita keluar, diikuti oleh seorang perawat dalam gaun putih dengan map di tangannya.
"Miss Callista," panggilnya meninggikan suaranya agar terdengar, padahal Callista jelas berada di depan ruangan.
Callista segera berdiri. Menyadari seorang wanita hamil langsung berdiri saat menyebut namanya, perawat wanita itu pun langsung menghampiri Callista dengan senyuman manis.
"Biar saya bantu, Bu," katanya.
Wira mengikuti jejak Callista yang masuk ke ruang pemeriksaan tadi bersama suster. Setelah mereka berdua masuk, pintu ruang ujian ditutup. Kini mereka dihadapkan oleh seorang dokter paruh baya yang tak lain adalah Dr. Martin, seorang dokter kandungan Callista.
"Halo Callista, apa kabar? Saya cukup terkejut mengetahui bahwa Miss Callista menginginkan konsultasi kehamilan semalam," katanya sambil membaca catatan medis Callista yang diberikan oleh perawatnya.
'Ya, dokter. Suami saya bersikeras agar saya memeriksa rahim," kata Callista.
Martin menatap Wira, sedangkan Wira hanya mengangkat bahu sambil mengangkat alis.
"Perjalanan bisnis?" Martin curiga.
"Ya, tapi kali ini ke Jepang," jawab Callista singkat.
Wira menoleh ke Callista, "Sayang," bisiknya.
Karena tak ingin melihat pertengkaran kedua pasangan di depannya, Martin pun mengisyaratkan perawatnya untuk menyiapkan alat tes kehamilan.
"Nah, kalau begitu sebaiknya kita periksa dulu rahim Bu Callista. Nanti saya lihat apakah Bu Callista bisa pergi ke Jepang atau tidak," kata Martin.
Wira segera mengulurkan tangan untuk membantu suaminya berdiri. Meski ditolak, Wira tetap membantu Callista yang tampaknya sedang berjuang dengan janin di perutnya yang kini sebesar buah semangka.
"Tenang saja," kata Callista ketika Wira tampak bergegas membantunya.
Perawat itu tidak mengatakan sepatah kata pun, dia juga membantu Callista berbaring di tempat tidur. Dia melepas pakaian yang menutupi perutnya dan mulai menuangkan gel padanya.
"Coba kita lihat," kata Martin, meletakkan sesuatu di perut Callista seperti gel yang digunakan untuk memperjelas penggambaran kondisi bagian rahim Callista, terutama kondisi anaknya yang sedang berada di dalam kandungan.
Callista merasakan janinnya bergerak saat sebuah alat menyentuh kulitnya. Bersamaan dengan rasa dingin yang diciptakan oleh gel yang dituangkan perawat tadi.
Martin fokus pada layar mesin ultrasound, begitu pula Wira dan Callista, yang juga melihat ke arah itu, meski tidak bisa membaca situasi di perut Callista.
"Sejauh ini janinnya sehat, asupan nutrisinya baik. Tapi kalau dilihat dari sisi ini," kata Martin sambil menggeser alat ke sisi lain dan menunjukkan bagian yang bahkan Callista tidak mengerti.
"Saya tahu Bu Callista suka pergi ke Jepang. Selain Jepang negara yang indah, perjalanan bisnis seperti ini akan membuat Pak Wira juga membutuhkan Bu Callista," kata Martin mencoba memahami posisi Callista saat ini.
"Tapi kalau dipaksakan sangat berbahaya pada kehamilan trimester ketiga. Tekanan udara yang tinggi berakibat fatal. Bisa menyebabkan keguguran dan kematian janin," lanjut Martin.
Callista menyeringai ketika dia mendengar apa yang dikatakan Martin. Wanita itu menoleh ke perawat yang berdiri di sebelah kirinya, seolah bertanya apakah yang dikatakan Martin itu benar atau tidak.
"Tolong perhatikan kesehatan janin Anda, Bu," kata perawat itu.
Callista memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Setelah beberapa saat dia merasakan bagian atas kepalanya digosok oleh sesuatu. Dia perlahan membuka matanya dan melihat Wira menatapnya dengan prihatin.
"Maafkan aku," kata Hero.
Callista memiliki senyum pahit di wajahnya. Tetapi wanita itu tidak boleh egois, perawat yang membantunya benar. Dia harus memikirkan janinnya.
'Oke. Saya mengerti, saya akan menunggu Anda kembali dari perjalanan bisnis nanti. Jangan menunggu terlalu lama, Anda tidak ingin saya dan anak ini menunggu Anda dan merindukan Anda?' kata Callista.
Callista menatap Wira, kedua pasangan itu hanya saling tersenyum.
“Tentu saja, sayang. Tentu saja. Apa pun yang Anda inginkan, saya akan melakukannya. Saya akan mencoba untuk kembali dari Jepang segera setelah saya selesai dengan bisnis saya,' jawab Wira.
Perawat yang berdiri di sebelah Callista senang mendengarnya. Setelah memeriksa daging, Martin, seperti biasa, memberi Callista beberapa bahan makanan dan vitamin tambahan.
"Ini, saya akan memberi Anda vitamin tambahan. Selama Pak Wira pergi, saya mungkin perlu lebih sering menghubungi Bu Callista. Sepertinya Pak Wira bukan satu-satunya yang khawatir meninggalkan istrinya yang sedang hamil sendirian." Martin.
"Ayah?" tebak pahlawan
Martin mengangguk, "Benar. Pak Bara baru saja menelepon untuk memberi tahu saya apakah Bu Callista bisa datang atau tidak. Sepertinya dia khawatir," kata Martin.
Pikiran dan kekhawatiran langsung masuk ke kepala Wira. Pria itu bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Callista, yang sedang hamil dan hidup sendiri tanpa dia.
"Jangan khawatir, saya akan benar-benar meminta Inang untuk bergabung dengan saya. Anda pasti akan senang dengan apa yang Anda lakukan," kata Callista.
Baik Martin maupun Wira mengangguk dan merasa lega.
"Sebaiknya kau tinggal bersama kami selama aku pergi," saran Wira.
"Siap Pak," jawab Callista sambil sedikit mengejek Wira, karena tahu pria itu kini tengah diliputi keraguan.
Di satu sisi, Wira ingin tinggal di rumah bersama suaminya dan tidak dalam perjalanan bisnis, tetapi di sisi lain, Wira memaksanya untuk menjalankan bisnis yang dimulai ayahnya. Sebagai anak pertama dari keluarga Rasendriya, tentu saja dia tidak ingin mengecewakan ayahnya yang telah mempercayainya.
Tapi sekarang, untuk saat ini. Setidaknya dia merasa lebih baik karena seseorang akan merawat istrinya. Ia berharap bisa segera menyelesaikan bisnisnya di Jepang sehingga bisa segera kembali ke Indonesia dan bersama istri tercintanya, Callista.