Istana Twyla, Kerajaan Twyla
Kota Adarlan, Pulau Velenna
Lacoste
* * * * *
Jenazah Oleus yang ditemukan meninggal tepat di depan William dan Abraxas akhirnya dibawah oleh Abaraxas ke Istana Twyla untuk dilihat lebih lanjut.
Whooshhh ! ! ! !
Kedatangan Abraxas langsung dihampiri beberapa pelayan lain yang langsung membawa tubuh Oleus ke dalam ruangan yang sudah ditentukan oleh Gerhard sebelumnya.
"Tuan Gerhard ada di dalam?" tanya Abraxas.
Elgald, salah satu pelayan di Istana Twyla berbalik dan menatap Abraxas yang berdiri di belakangnya, "Sudah ada di dalam setelah menerima kabar darimu," ujar Elgald.
"Kalau begitu aku ikut," balas Abraxas dan ikut berjalan di belakang Elgald menuju salah satu ruangan tempat dimana Oleus berada.
Setibanya di dalam ruangan, Oleus diletakan di atas sebuah tempat seperti meja yang bercahaya dan mengeluarkan asap yang membuat suhu tubuhnya tetap hangat dan tidak membusuk selama pemeriksaan.
Gerhard maju melangkah tepat setelah Oleus diletakkan ke atas meja dan mendekat menyentuh tubuhnya perlahan, "Dia baru meninggal barusan?" tanya Gerhard lalu menoleh ke arah Abraxas.
Abraxas menganggukan kepalanya, "Iya Tuan."
Seorang wanita tiba - tiba ikut mendekati meja dan membuat Abraxas membulatkan matanya karena wanita itu bukanlah orang Twyla, melainkan bangsa siren bernama Ocienta.
"Aku bisa merasakan sihir seorang bangsa siren melalui tubuh manusia ini," ujar Ocienta sambil merasakan energi sihir yang memancar dari tubuh Oleus yang sudah mati.
"Apa kau mengenali milik siapa sihir ini?" tanya Gerhard.
Ocienta memejamkan matanya seolah merasakan dan mengingat sihir yang mengalir melalui tangannya, sesaat kemudian ia membuka matanya dan teringat sesuatu, "Hera," ujar Ocienta.
"Hera? Apa dia juga hilang dari kawanan siren?" tanya Gerhard.
"Aku tidak terlalu mengenalnya dan tak sadar jika dia tak ada di kawanan, tapi aku pernah merasakan energi sihir ini adalah milik Hera. Dia adalah siren paling cantik di antara kawanan kami," ujar Ocienta.
Gerhard menyentuh dagunya dengan tangan kanannya, mencoba berpikir, kemudian menatap Abraxas, "Apa ada pria lain selain dia?" tanya Gerhard pada Abraxas.
"Saya tidak begitu mengetahuinya, Tuan. Namun jika memang dia bersama dengan pria lain, pasti dia akan bersembunyi. Tapi saya ingat dia seperti mengucapkan kata - kata seolah - olah dia memang tak sendiri mengetahui siren yang mereka ambil ada dimana," jawab Abraxas.
"Kalau begitu tolong bungkus dia dengan rapi, sebaiknya dia kita kembalikan kepada keluarganya," ujar Gerhard.
"Tapi, Tuan. Bukankah kita harus mencari tahu milik siapa energi sihir ini?" tanya Elgald.
"Benar, tapi sudah jelas jika ini perbuatan siren. Kutukan siren itu sangat kuat dan manusia adalah makhluk paling lemah di antara yang lain. Jadi kita sudahi, keluarganya pasti menunggunya," ujar Gerhard.
Ocienta ikut menatap jasad Oleus yang tak bernyawa. Ia bisa merasakan hawa sihir dari tubuh Oleus yang sudah tak bernyawa.
"Apa perlu saya pergi ke Kota Adarlan?" tanya Ocienta.
"Kau yakin? Kau tidak seperti Meira yang mampu bertahan di daratan begitu lama," ujar Gerhard.
"Kalau begitu saya akan sesekali ke daratan, semoga saja siren yang diculik itu meninggalkan jejak. Kami juga akan secara bergantian ke daratan untuk mencari jejak siren yang diculik," balas Ocienta.
Jasad Oleus pun dibungkus dengan menggunakan kain berwarna putih dengan cap Kerajaan Twyla di atasnya. Setelah terbungkus rapi, tubuhnya dikembalikan kepada Abraxas yang memang membawanya.
"Hantarkan pria ini ke rumahnya dengan selamat dan secara terhormat. Jika keluarganya bertanya, katakan saja dia salah satu korban yang tenggelam di Laut Elara," titah Gerhard kepada Abraxas.
Abraxas menganggukan kepalanya, "Kalau begitu saya akan mengantarkannya dengan kereta kuda saja, Tuan," balas Abraxas.
"Ya, kau atur saja."
Abraxas pun pamit dari hadapan Gerhard dan pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Ocienta juga berpamitan pada Gerhard dan hendak kembali ke lautan karena memang dia sudah seharusnya kembali ke laut.
Kekutatan Ocienta tidak seperti Meira yang sanggup berada di daratan selama beberapa hari. Dia hanya mampu menahan paling lama selama 12 jam. Itu pun dia sudah menunggu cukup lama di Kerajaan Twyla jika terjadi sesuatu dan menemukan kawanan sirennya.
Meski kawanan sirennya yang hilang diculik belum ditemukan, tetapi setidaknya dia tahu dan membenarkan jika salah satu kawanan nya benar diculik dan masih hidup dengan merasakan energi sihir kutukan yang terpancar dari tubuh manusia bernama Oleus tadi.
Siren memang memiliki wajah cantik dan suara indah, tapi jangan salah. Dibalik kecantikan parasanya, siren memiliki kekuatan mengerikan dan mampu membunuh musuhnya. Nyanyiannya bisa menghipnotis makhluk yang lebih lemah seperti manusia. Bahkan jika mengikat perjanjian dengan siren, siren bisa saja berkhianat dan melayangkan kutukan kepada orang yang bertemu dengannya.
Sama seperti halnya yang dilakukan oleh Hera. Wanita itu memberikan kutukan pada pria yang tidak ia pilih yaitu Oleus. Merikh dan Achar masih dalam pengawasannya. Hera memang dikurung dan bertindak seolah tak berdaya, padahal ia sedang merencanakan sesuatu.
* * * * *
Sementara itu di sisi lain . . .
Kediaman rumah Achar
Tempat Hera di sekap
* * * * *
Hera duduk memejamkan matanya. Ia sepenuhnya telah berganti pakaian selayaknya manusia. Dengan kaus dan juga celana sampai selutut. Ia terduduk di kursi ruang tengah sambil memejamkan matanya.
Hari ini, ia akan menentukan keputusannya akan memilih Achar atau Merikh yang berhak menikahinya. Memang pernah ada legenda jika seorang pria menikah dengan wanita cantik setengah ikan dan itu bukanlah legenda biasa di Adarlan melainkan kisah nyata yakni Ibu dari Meira yang menikah dan memiliki anak bersama manusia kemudian melahirkan Meira dan membawanya ke laut sehingga sekarang ia menjadi Ratu yang bisa hidup di antara alam siren dan dunia manusia.
"Hera," panggil Achar sambil membawakan beberapa potong ikan mentah yang merupakan makanan kesukaan bangsa siren terutama kesukaan Hera.
Hera yang semula sedang memejamkan matanya kemudian membukanya perlahan dan menatap kedatangan Achar.
"Silakan dimakan, kau belum makan sejak tadi malam," ujar Achar sambil meletakkan piring berisikan potongan ikan segar di hadapan Hera.
Hera menatap Achar, "Kau tahu kan aku belum tentu memilihmu meski kau baik kepadaku?" ujar Hera.
Achar menganggukan kepalanya, "Ya aku tahu. Aku tidak bemaksud menyogokmu untuk memilihku juga. Hanya saja kau benar - benar harus makan. Kau pasti lapar kan?" tanya Achar.
Hera terdiam sambil tetap menatap Achar kemudian menatap potongan ikan di hadapannya dengan pandangan kosong.
"Oleus sudah mati," ujar Hera dengan nada datar.
Seolah sudah tahu apa yang akan terjadi pada Oleus setelah dibuang oleh Hera dan keluar dari rumah Achar, Achar pun hanya terdiam.
"Kau tidak berduka?" tanya Hera.
"Menangis tak akan menyelesaikan masalah," jawab Achar.
Hera menatap Achar lagi kemudian menatap mata Achar dengan lekat sampai keduanya bertatapan dalam waktu yang cukup lama.
"Kau tidak mau makan?" tanya Achar.
Bukannya menjawab, Hera justru menatap ke arah lain dan seorang pria lain baru saja keluar dari kamar. Sontak saja Achar juga menoleh ke arah yang sama dan berbalik.
"Merikh," panggil Achar.
Merikh yang baru saja bangun keluar dari kamar dan menatap Achar serta Hera bergantian.
"Kalian sedang apa?" tanya Merikh.
"Memberikan makan untuk Hera," ujar Achar.
"Kau tidak bermaksud memintanya untuk memilihmu kan?" tanya Merikh.
Achar menggelengkan kepalanya, "Hera keras kepala. Sekali pun aku tawarkan berlian, dia tak akan memilihku."
Merikh tersenyum, "Baguslah. Kalau begitu bisa bantu aku? Sepertinya aliran air di kamar mandimu bocor dan harus diperbaiki," ujar Merikh.
"Benarkah? Aku tak tahu jika itu akan bocor lagi," ujar Achar.
Achar kemudian menatap Hera, "Silakan dimakan. Aku akan ke belakang dahulu bersama dengan Merikh," ujar Achar kemudian berbalik dan menghampiri Merikh.
Kedua pria itu pun pergi meninggalkan Hera yang sedang terduduk di ruang tengah. Setelah kepergian Merikh dan Achar, tiba - tiba Hera berdiri dan mengedarkan pandangannya seolah mencari sesuatu.
Hera mendatangi beberapa sudut, mencari - cari sesuatu sampai akhirnya menemukan sebuah benda berwarna perak berukuran kecil dengan gerigi kecil pada salah satu sisinya.
"Ini benda ajaib untuk membuka pintu kan?" gumam Hera kemudian membawa benda yang disembunyikan di balik pot bunga dan membawanya ke arah pintu keluar dan memasukan ke dalam lubang pintu persis seperti yang ia lihat sebelumnya.
Saat kepergian Oleus, seolah Hera memang merencanakannya. Ia melihat bagaimana Oleus keluar dari rumah yang sesak dan terasa sempit bagi Hera yang terbiasa hidup di lautan luas tanpa batasan. Dari situ dia mempelajari semuanya dan kini . . . .
Ckrekkk ! ! !
Pintu pun terbuka tiba - tiba dan Hera segera berlari keluar dengan perlahan - lahan tanpa menimbulkan suara agar Achar dan Merikh tidak sadar dengan kepergiannya.
Bertepatan dengan kepergian Hera, Achar kembali ke ruang tengah untuk mengambil sesuatu tapi tak menemukan sosok Hera. Achar juga melihat ke arah piring berisikan potongan ikan yang masih kosong.
"Dia kemana? Tidak makan?" gumam Achar lalu ia pun menyadari jika pintu rumahnya terbuka.
Sontak saja matanya membulat. Ia berkeliling rumahnya mencari sosok Hera namun tak kunjung menemukan wanita itu. Ia berteriak memanggil nama Hera tetapi justru Merikh lah yang datang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Merikh.
"Hera," ujar Achar.
"Ada apa dengan Hera?"
"Dia berhasil kabur," ujar Achar sambil menatap ke arah pintu rumahnya yang sedikit terbuka dengan kunci pintu yang menggantung pada lubangnya.
Merikh sontak saja langsung berlari ke luar dan menatap ke sekelilingnya namun tak menemukan Hera, "s****n! Dia sudah berlari kabur sangat jauh!" pekik Merikh.
Merikh kembali masuk ke dalam dan mengambil sepatunya kemudian mengenakannya.
"Kau mau kemana?" tanya Achar.
"Apa lagi? Tentu saja mencari wanita s****n itu," jawab Merikh lalu berlari ke luar rumah untuk menyusul Hera dan mencari keberadaan wanita itu yang semoga saja belum jauh dari rumah.
Sementara itu, Hera berlari tanpa mengenakan alas kaki sampai kakinya terluka. Ia berlari secepat mungkin dan melupakan rasa lelahnya. Terus berlari sampai akhirnya dia tiba di tempat yang sangat ramai dan dipenuhi dengan para penjual dan pedagang.
Langkahan kaki Hera berhenti, ia merasakan perutnya yang sangat lapar karena ia melewatkan makanannya sebelum pergi tadi dan memilih kabur dari rumah Achar.
Sambil memegangi perutnya yang berbunyi, Hera berkeliling pasar dan melihat beberapa penjual yang menawarkan barang dagangan mereka mulai dari barang, pakaian, makanan hingga minuman.
"Seharusnya aku makan dahulu tadi," ujar Hera.
Langkahan kaki Hera berhenti pada seorang pedangan ikan segar yang tampak menggugah selera Hera. Wanita itu menyukai ikan itu, bahkan bisa dibilang itu adalah ikan laut yang paling ia sukai.
Tangannya terulur dengan matanya yang memandang ke arah ikan, tiba - tiba saja seorang menepis tangannya sampai Hera terjatuh.
Ctaasss ! ! ! !
"Jangan sentuh ikanku, nanti akan busuk!" pekik seorang pria yang tak lain adalah seorang penjual ikan segar itu.
Hera menautkan dahinya dan kembali berdiri, "Apa - apaan! Kau juga menangkapnya dari laut! Ikan itu bukan milikmu!" pekik Hera.
"Dasar wanita gila kurang ajar. Aku yang mendapatkan ikan ini dan mencarinya, berani - beraninya kau berusaha mencuri!" ujar pria itu lagi.
"Mencuri? Aku hanya mengambil barang gratis!" pekik Hera tak mau kalah dari pria di hadapannya.
Pria itu pun mengangkat tangannya dan hendak melayangkan pukulan pada wanita yang berteriak kepadanya, namun tiba - tiba saja . . .
"Tunggu!" pekik salah seorang wanita lalu berlari ke arah sumber keributan. Wanita dengan pakaian rapi dan berbeda jauh dengan para penjual serta pembeli di Desa Solandis itu datang dengan memberikan uang kepada sang penjual ikan.
"Silakan ambil uang ini. Semoga saja cukup untuk membeli beberapa potong ikan milikmu," ujar Rosa, yang datang bak pahlawan dan berdiri memasang tubuhnya di depan Hera agar tak dipukuli.
Pria itu mengambil uang yang diberikan oleh Rosa dan menghitung jumlahnya. Lalu mengambil sebuah kantong plastik dan memasukan 3 potong ikan ke dalamnya.
"Ambil ini dan jangan pernah kembali. Kau beruntung, karena ada wanita cantik dan waras yang menolongmu," ujar pria itu lalu memberikan ikan itu kepada Rosa.
Rosa berbalik dan menatap Hera kemudian memberikan plastik itu kepada Hera.
"Ini, ambilah," ujar Rosa.
Hera menerimanya dan membuka isinya. Perutnya semakin bergejolak dan rasanya ingin segera memakan ikan segar itu.
"Terima kasih," ujar Rosa lalu kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Seorang wanita pun datang ke arah Rosa yang tak lain adalah Veza, pelayan pribadinya.
Melihat kepergian Rosa, Hera pun menyadari kepergian Rosa dari sisinya. Ia segera berlari menghampiri Rosa. Disaat ia hendak berlari, tiba - tiba ia sadar jika Merikh datang dan juga mencarinya. Hera berlari dengan cepat sampai menabrak tubuh Veza, membuat Rosa membulatkan matanya.
"Kau?" ujar Rosa.
"Tolong aku," pinta Hera.
Rosa menatap ke arah Hera menatap dengan ketakutan kemudian melihat seorang pria yang tampak sedang mencari seseorang. Seolah mengerti jika Hera menghindari pria itu bahkan saat menatap ke bawah, Rosa terkejut karena Hera tak menggunakan alas kaki sampai kakinya terluka dan berdarah.
Tanpa berpikir panjang, Rosa melepaskan jubah miliknya yang melindungi wajahnya ketika berpergian karena ia seorang bangsawan dari Terassen. Lalu memasangkannya pada Hera.
"Nona? Apa yang Nona lakukan?" tanya Veza yang membulatkan matanya karena Rosa tiba - tiba saja menolong wanita yang bahkan tak mereka kenal.
"Ayo kita jalan," ajak Rosa sambil memeluk tubuh Hera dan berjalan melewati Merikh yang mencari keberadaan Hera di antara kerumunan orang - orang.