Rumah Kediaman Keluarga Alastair
Desa Solandis, Kota Adarlan
* * * * *
Setelah kepulangan William dan Sagira ke rumahnya, mereka pun sekarang ditemani oleh Abraxas dan juga Conan yang ikut bersama mereka untuk menetap selama beberapa hari.
Berulang kali William merasa tak enak kepada 2 pelayan Istana Twyla yang ikut bersamanya karena kejadian ini. Tapi Abraxas dan Conan merasa tak enak lagi jika William dan Sagira tak enak dengan kehadiran mereka padahal ini adalah tugas mereka dalam menjaga William dan Sagira.
Sudah 3 hari berlalu, Abraxas dan Conan juga menempati kamar William dan datang seolah sebagai saudara jauh William dari Wendlyn. Karena di Desa Solandis, rumah - rumah berdekatan, tak heran jika sering ada berita yang mudah menyebar. Maka dari itu, William pun mencari aman jika kedua pria yang tinggal di rumahnya adalah saudaranya dari Wendlyn.
Agar tak ada yang membicarakan Abraxas dan Conan yang dari Twyla, William pun meminta kedua pria itu bersikap biasa saja selagi di rumah, kecuali ada bahaya yang menghadang, barulah mereka boleh berubah seperti sedia kala dengan pakaian mereka yang biasa mereka kenakan sewaktu di Kerajaan Twyla.
Hari ini, William memutuskan untuk mengadakan makan malam bersama di aula pertambangan untuk mengantarkan para korban yang tenggelam di Laut Elara yang dangkal sekaligus menyampaikan rasa duka kepada keluarga korban yang masih dilanda rasa kesedihan sampai detik ini.
"William," panggil Sagira saat melihat suaminya yang sudah rapi dan hendak keluar dari rumah.
William berbalik dan menatap Sagira, "Kamu tidak ikut?" tanya William.
"Aku menyusul nanti dengan Conan. Sebaiknya kamu lebih dulu saja, lagi pula kamu mau menyampaikan beberapa kata kepada mereka kan?" tanya Sagira.
"Iya sih. Kalau begitu aku duluan bersama dengan Abraxas," balas William.
Sagira menganggukan kepalanya, "Hati - hati di jalan, ya," ujar Sagira.
William mengecup kening Sagira kemudian keluar dari rumah bersama dengan Abraxas yang ikut di belakangnya. Karena Abaraxas adalah pelayan dari Istana Twyla yang secara tak langsung adalah bangsa majin dengan rupa manusia, pria itu juga memiliki kemampuan untuk menyembunyikan penampilan aslinya.
Karena mereka akan pergi ke luar, makanya Abraxas menyembunyikan penampilannya dan juga menyembunyikan pedang miliknya jika terjadi sesuatu, Abraxas bisa langsung melindungi William di dalam jubahnya dan melawan musuhnya dengan pedang miliknya yang diberikan oleh Gerhard kepadanya.
Ribuan tahun yang lalu, memang Twyla adalah Istana tunggal tanpa pelayan. Semuanya dikerjakan Azriel seorang diri dan dia akhirnya menikah dengan seorang wanita bernama Ivelle yang sekarang namanya menjadi nama dari cucunya sendiri. Setiap orang yang bekerja dan terikat kontrak dengan Twyla yakni kontrak darah, tanpa sadar menjual statusnya menjadi penghuni Twyla.
Tak hanya Abraxas, Conan dan Qurt saja. Beberapa orang lain yang dulunya manusia dan juga ada yang dari bangsa elf, vampire dan yang lainnya berpindah menjadi pelayan bangsa Noblesse yang memiliki sedikit kecil kemampuan Noblesse dan salah satunya menyamar seperti yang dilakukan oleh Abraxas sekarang. Qurt juga mampu berteleportasi dari satu tempat ke tempat yang lain.
Tapi kekuatan itu hanyalah dalam jumlah kecil, kekuatan jumlah besar, dan paling banyak tentu saja ada pada Rajanya, Gerhard Khrysaor.
"Tuan," panggil Abraxas sambil melangkahkan kakinya bersama dengan William.
"Ya, Abraxas," balas William.
"Apa anda tidak berpikir untuk beristirahat di Twyla? Tuan Gerhard sepertinya khawatir dengan kesehatan anda yang semakin menurun," ujar Abraxas.
William tertawa mendengarnya, "Benar. Dia khawatir kepadaku yang semakin tua. Bahkan usiaku sebentar lagi akan menginjak 100 tahun."
"Lantas kenapa Tuan menolaknya?"
"Sebenarnya aku tidak menolaknya, hanya saja aku menunggu waktu yang tepat. Sekaligus aku mau menunjuk penerusku. Karena Nico temanku tiada, aku jadi bingung harus kemana lagi," ujar William.
Abraxas menoleh ke arah William, "Tuan bisa meminta tolong bangsa pelayan noblesse untuk mnegawasi para pekerja."
"Sebaiknya jangan, mereka bisa jadi takut. Biarkan aku yang menyelesaikannya saja, aku tak ingin merepotkan Gerhard. Sudah cukup masa mudanya direpotkan oleh aku dan Sagira karena saat itu Sagira berubah menjadi batu dan dia tidak bisa merasakan kasih sayang Ibunya sendiri," ujar William dengan nada penuh penyesalan.
Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya mereka tiba di aula yang ada di lokasi pertambangan tempat William bekerja. William dan Abraxas datang dan langsung disambut dengan para pekerja lain yang melihat kedatangannya bersama dengan Abraxas.
"Selamat datang Tuan William," sapa mereka bersamaan.
William melewati mereka dan berkata, "Duduk dan santai saja. Oh ya apakah keluarga korban sudah datang semua?"
"Sudah, Pak, semuanya sudah berkumpul disini," balas salah seorang pekerja.
William pun berdiri di tengah - tengah dan memimpin doa untuk mendoakan para korban yang tenggelam di Laut Elara. Suara isakan tangis juga sempat terdengar namun William meminta kepada keluarga untuk berlapang d**a.
Meski mereka semua mendapatkan bantuan dari Gerhard, namun jika bisa memilih mungkin mereka akan memilih keluarga dari pada uang yang tidak seberapa itu.
"Baiklah, aku harap malam ini, kalian bisa melepas kesedihan dan kepedihan dengan makan bersama," ujar William.
Sesaat setelah William duduk, Sagira pun datang bersama dengan Conan. Sama seperti William, Sagira juga menyapa para keluarga korban dan memberikan bela sungkawa yang ia rasakan.
Di saat William sedang menyantap makanan, tiba - tiba saja ia merasa ada salah seorang pria yang melakukan gerak - gerik aneh sampai William menatapnya beberapa kali namun pria itu selalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Abraxas," panggil William.
"Ya, Tuan," balas Abraxas.
"Apa kau lihat pria dengan topi itu?" tanya William sambil melirik ke arah pria bertopi yang sedang makan.
Abraxas pun mengikuti arah ekor mata William dan mengangguk, "Saya melihatnya Tuan."
"Entah ini hanya perasaanku saja, tapi kenapa dia tampak mencurigakan?"
"Apa mau saya hampiri, Tuan?"
"Tidak perlu, seusai acara biar saya saja yang temui dia. Kau mungkin bisa mengikutinya jika memang dia terasa menutupi sesuatu."
"Baik, Tuan."
Acara makan malam berlanjut sampai larut. Hidangan yang semula menumpuk sangat banyak perlahan berkurang dan beberapa di antaranya ada yang dibawa untuk pulang dan dinikmati di rumah. Karena acara yang cukup besar, tentu saja hidangan yang disediakan juga melimpah.
Sampai akhirnya acara selesai dan satu persatu dari mereka pulang. Seperti yang William katakan tadi, ia pun mengikuti seorang pria dengan topi yang mencurigakan di matanya dan mulai mendekatinya.
Bahkan karena demi mengikuti pria misterius itu, William jadi keluar lebih dulu dan tidak pulang bersama dengan Sagira. Untung saja ada Conan yang bersama Sagira sehingga William sedikit lebih tenang karena istrinya yang dalam pengawasan dan penjagaan ketat.
Pria itu terus berjalan dan semakin cepat. Ketika mulai berlari ke arah tempat gelap, dengan sigap Abraxas melompat ke depan dan pria itu terjatuh ke tanah. Bukan tanpa alasan Abraxas melakukan hal itu, melainkan agar William tidak perlu repot - repot mengejar pria misterius itu dan kelelahan.
Bruukkk ! ! ! !
Tubuh pria itu terjatuh ke tanah dan langsung berbalik seolah tahu jika dirinya diikuti oleh orang lain.
"Oleus?" gumam William yang muncul dari balik kegelapan dan menatap pria dengan topi itu.
Pria bernama Oleus itu tersentak, ia membulatkan matanya dan menutupnya. William pun terkejut karena Oleus bersikap aneh seperti itu.
"Ada apa?" tanya William kemudian berjongkok di depan Oleus.
Olues mengintip dan kembali menutup matanya membuat William kebingungan, "Apa yang terjadi padanya?"
Abraxas mendekati Oleus dan mencium aroma tubuh Oleus, "Sepertinya dia terkena hipnotis siren," ujar Abraxas.
"Siren?" balas William kemudian kembali menatap Oleus yang memang terlihat ketakutan dan tidak seperti biasanya.
Abraxas mengulurkan tangannya kemudian menghisap energi hipnotis siren pada tubuh Oleus sehingga Oleus menjadi lebih tenang dan tersadar.
Oleus bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali saat sadar pria yang ada di depannya adalh William, "Pak William?" ujar Oleus.
"Iya ini aku. Apa terjadi sesuatu kepadamu Oleus?" tanya William.
Oleus mengedarkan pandangannya dan menelan air liurnya kemudian menatap William dengan penuh peluh keringat yang membasahi pelipisnya, "Siren," ujar Oleus.
"Ada apa dengan siren?" balas William yang sebenarnya sudah menduga.
"Kami berhasil mendapatkan siren lalu ia diminta memilih pasangannya, karena tak suka denganku, tiba - tiba aku merasa seperti ini," ujar Oleus.
Abraxas dan William saling melemparkan tatapan kemudian menatap Oleus.
"Dimana siren itu sekarang?" tanya Abraxas.
"Dia ada di-"
Ucapan Oleus terhenti saat tiba - tiba ia merasakan ada sesuatu yang mencekiknya bahkan wajahnya sampai berubah menjadi merah. Sesaat kemudian Oleus kehilangan kesadaran dan membuat William panik.
Abraxas mendekati Oleus dan menatap William setelah menemukan jawaban, "Dia terkena kutukan bangsa siren. Ketika dia hendak mengungkapkan keberadaan siren itu, ia mati, Tuan," ujar Abraxas.
"Apa? Jika begini, sulit melacak dimana siren itu berada dan siapa dalangnya," balas William.
"Kalau begitu biar saya bawa pria ini ke Twyla untuk dilacak baunya. Setidaknya ada jejak di rumah - rumah yang dihampiri olehnya," ujar Abraxas.
"Ya tentu, silakan saja. Aku akan memberi kabar kepada keluarganya," ujar William.
Abraxas mengangguk, ia mengirimkan sinyal kepada Conan untuk menjemput William sedangkan dirinya membawa Oleus ke Istana Twyla untuk jenazahnya di autopsi para pelayan Twyla yang handal dan cekatan.