bc

Menikahi Ayahmu, Ajang Balas Dendamku!

book_age18+
306
IKUTI
2.8K
BACA
HE
age gap
heir/heiress
bxg
lighthearted
city
cruel
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana jika kamu harus kembali ke masa 10 tahun yang lalu setelah hidupmu hancur karena dikhianati suamimu?

Aruna harus menerima kenyataan menyakitkan saat memergoki suaminya bercinta dengan sekretarisnya di kantor. Tak hanya itu, dendam karena selingkuhannya mengalami keguguran, suaminya sampai tega menabrak mobil Aruna hingga masuk ke jurang. Namun, saat di rumah sakit hal mengejutkan terjadi di mana suaminya tengah membunuh ayah kandungnya sendiri, Pandu Wijaya. Dalam malam tragis itu Aruna terlempar kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu, masa-masa awal kehancurannya mengenal Arya, suaminya.

Di kehidupan yang sekarang, Aruna berjanji satu hal, yakni membalaskan dendamnya kepada Arya dengan menikahi Pandu Wijaya, mertuanya sendiri. Perjuangan balas dendam Aruna dimulai dari menyingkirkan kekasih tuan Pandu -Aurora Bellanca- dari muka bumi ini. Segala cara Aruna lakukan, mulai dari belajar piano dan mendalami desain pakaian untuk menarik minat pria tua itu. Kemudian semesta menjawab usahanya, Aurora terlibat skandal prostitusi. Sebuah peristiwa yang mengantarkan kedekatannya dengan sang mertua di kehidupan yang lalu.

“Menikahi ayahmu adalah ajang balas dendamku, Arya, dengan begitu kau harus memanggilku ibu.”

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal Mula Klausa ini
“Pak, tolong percepat mobilnya, saya sudah tidak sabar bertemu dengan Arya,” perintah Aruna Bakti. Mobil yang dikendarainya berbelok menuju pelataran hotel mewah untuk memberi kejutan kepada sang suami atas kehamilannya. “Selamat datang, Nyonya, saya bantu bawakan barang bawaan Anda,” tawar resepsionis yang ditolak halus oleh Aruna. Ia menaiki lift untuk sampai pada ruangan paling atas bangunan megah peninggalan ibunya. Bingkisan berwarna biru lembut dipegang erat di tangannya. Seorang sekretaris menghadang jalannya di depan ruangan yang dulu juga ruangan tempat ia bekerja. “Nyonya Aruna, Bapak Direktur sedang tidak bisa diganggu,” tegur sekretaris suaminya. Namun siapa yang bisa menghentikan seorang wanita yang sedang berbunga perasaannya? Aruna tetap kekeh masuk ke dalam ruangan yang sudah menjadi tempat ia bekerja sebelum posisi direktur ia serahkan ke suaminya, Arya Danti. “Arya,” ungkap Aruna bahagia, namun ruangan sepi tidak ada yang menjawab. Di mana suaminya berada di jam-jam sibuk seperti sekarang? Aruna akhirnya menyadari ada yang aneh, terdengar samar rintihan-rintihan suara seorang wanita di dalam ruangan kosong itu. Hingga netra Aruna memancarkan kecurigaan pada sebuah kamar yang ada di pojok kiri ruangan. Pojok tersebut adalah kamar tidur yang ia desain sendiri untuk beristirahat kala penat menyapa. Perlahan ia menuju ke kamar tersebut. Raungan seorang pria yang ia hafal mulai jelas di telinganya, sebuah syahdu yang sering ia bagi dengan sang suami di malam-malam mereka yang hangat. Jelas itu suara Arya yang bersahutan dengan rintihan seorang wanita lain. Tangan Aruna bergetar hebat, diambilnya langkah perlahan dan berhasil membuka pintu mahoni warna cokelat. “Arya!” murka Aruna melihat suaminya tengah b******u dengan wanita lain. Seorang wanita yang ia kenal dengan baik, Aish Sandya. Dalam keterkejutan itu Aruna mundur karena oleng melihat dua orang yang paling ia percaya tengah bersenggama, bingkisannya jatuh ke lantai. Aruna terkejut tak percaya melihat keduanya tengah telanjang bulat dan saling mencumbu. Ia menghambur dan memukuli suaminya. “Arya, beraninya kamu!” Aruna membabi buta oleh emosi, bahkan ia merasakan jantungnya ditikam melihat Arya bangkit dari acara senggama itu. “Beraninya kalian melakukan ini kepadaku?!” teriak wanita yang berbadan dua itu. “Apa yang kalian lakukan? Kalian pikir kalian siapa, hah?” teriak Aruna lagi, ia menuding tangannya dan mundur untuk membiarkan Arya memakai celana, sedangkan Aish masih telentang di kasur dan menyelimuti diri dengan selimut. “Aruna, tenanglah! Tenanglah!” sentak Arya untuk membela diri. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” “Tidak seperti yang aku pikirkan bagaimana? Jelas-jelas kalian berselingkuh di belakangku,” bantah Aruna. “Kalian itu bahkan adik kakak.” “Maafkan aku, Aruna,” pinta Arya dan mencoba menahan pundak istrinya yang tengah emosi, sedangkan yang ditahan tak kuasa dengan kesedihan. Aruna meraung dan marah. Emosi yang baru saja stabil karena berita kehamilannya tadi pagi berhasil membuat duka atas kematian ibunya seminggu yang lalu sirna namun sekarang diperparah oleh perselingkuhan suaminya. “Beraninya kamu, Aish Sandya,” pekik Aruna dan menerjang wanita yang telanjang di ranjang. Ia raih rambutnya dan bawa ke lantai untuk Aruna seret. Namun tindakannya terhenti karena Arya mendorongnya. “Aruna, jangan menyentuh Aish,” tampik Arya dan melindungi Aish di belakang punggungnya. “Begitu? Kau kira aku takut?” Aruna menantang, secara agresif ia mengambil vas bunga dan menghantam pelipis suaminya. “Rasakan ini!” Aruna merangsek lagi pada Aish. Kala itu dengan sungguh-sungguh ia menyeret rambut wanita itu ketika Arya tengah pusing dengan pelipis yang berdarah. “Kurang ajar kamu, Aish, aku sudah menganggap dirimu sebagai saudara.” Aruna memandang wanita yang tengah telanjang itu dengan emosi. “Teganya kamu merebut suamiku, kakak tirimu sendiri,” teriak Aruna lagi. Lorong-lorong kelas atas hotel seketika riuh oleh teriakan manusia yang kepo, pun dengan kemunculan seorang Aruna Bakti yang melempar sekretaris suaminya. Herannya lagi sekretaris itu tengah telanjang, semua pegawai yang ada di sana terkejut. Namun Aruna tetaplah masih yang paling terkejut. “Pelakor sepertimu pantas mati,” gertak Aruna dan melayangkan tangannya ke pipi wanita yang telah menjadi sahabatnya sepuluh tahun belakangan. “Hentikan!” Arya datang dan mendorong Aruna lagi. “Hentikan ini semua, Aruna,” gertak sang suami. “Kenapa? Kau malu? Semua orang sudah tahu perbuatanmu,” bantah Aruna di hadapan banyak orang dan sesuatu terjadi setelahnya. Sebuah pekikan keluar dari bibir Aruna karena tamparan Arya. “Beraninya kamu mempermalukan aku dan Aish selingkuh,” geram Arya. Aruna masih tidak terima, secara impulsif ia membalas suaminya hingga beberapa kali terdorong mundur, semua orang tidak berani melerai kegiatan tu. Hanya sekretaris Arya saja yang berani memberikan jasnya pada Aish yang telanjang bulat. “Jangan menyentuhku, b******k!” Aruna berteriak. “Kalian berdua b******k, apalagi kau p*****r!” “Jangan menghina ibu dari anakku!” Arya gentian emosi dan berteriak kencang. Semua orang terdiam sesaat sebelum tindakan nekat yang dilakukan oleh mantan direktur kepada Aish Sandya. Bintang kita, Aruna telah berani mendorong Aish hingga terjatuh dan menabrak meja. Kegegeran merajalela karena Aish mengeluarkan darah dari sela kakinya. “Aruna! Sudah kubilang jangan menyentuh Aish!” teriak Arya frustasi. “Kau siapa bisa melarang aku? Biar jalang dan anaknya ini mati, Arya,” bantah Aruna tak mau kalah. “Arya, sakit sekali. Tolong aku." lirih Aish dan Arya berniat menghampirinya sebelum diterjang oleh Aruna lagi. “Jangan sentuh p*****r ini! Jangan kau bela dirinya!” Keributan tak tertolong lagi besarnya, akhirnya Arya membiarkan sekretarisnya membawa Aish yang berdarah untuk mendapatkan pertolongan agar ia bisa menghadapi amarah istrinya. Ia membubarkan semua orang kecuali dua petugas keamanan. “Jika sesuatu terjadi dengan Aish, kau tamat di tanganku,” Arya menudingkan jarinya mengancam dan Aruna membalas, “Kalian hanya orang yang beruntung bertemu denganku, jangan beraninya kamu mengancam aku!" “Segera tinggalkan hotel ini!” perintah Aruna dan dibalas dengan tawa yang sumbang dari Arya. “Kau yang harus meninggalkan hotel ini, posisi direktur dan saham sudah ada di tanganku. Kau tidak berhak ikut campur sama sekali dalam urusanku,” hardik Arya. “Kau sudah tidak punya apa-apa lagi, semua harta ini milikku." “Tinggalkan aku, Aruna, keluar dari hotelku! Aku akan mengirimkan surat cerai padamu segera,” murka Arya tepat di depan muka istrinya. Wanita yang berbadan dua itu masih belum bisa terima diperlakukan sekejam saat ini. “Ini harta orang tuaku! Beraninya kamu melakukan semua ini! Teganya kamu!” teriak Aruna tak kalah murka dari Arya, sedangkan si pria yang tengah gundah dengan keadaan kekasihnya memberikan perintah kepada dua pegawai untuk menyeret Aruna keluar. “Jangan menyentuhku! Beraninya kalian menyentuhku!” teriak Aruna tak kalah keras pada kedua penjaga yang menyeretnya keluar dari gedung milik ibunya sendiri. “Arya, b******k kau. Beraninya kau melakukan ini kepadaku. Lepaskan tanganku!” “Ini adalah hotel milikku, kau tidak pantas melakukan ini kepadaku, b******k!” geram Aruna lagi, histeris di tangan kedua penjaga. “Beraninya kau berselingkuh dan mengambil hartaku, Arya Danti!”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook