Dendam yang berkobar

1884 Kata
“Jadi ini adalah sebab Ibu terkena serangan jantung? Karena kau memindahkan sahamnya ke Arya?” pekik Lendra di akhir kalimat, sedangkan yang merasa dimarahi sedang berada di titik paling rendah dalam hidupnya. “Aku tidak tahu akan seperti ini akhirnya,” tampik Aruna dan Lendra membalas, “Jika kau setuju menikah denganku seperti yang diharapkan Ibu, semua ini tidak akan terjadi. Ibu pasti masih bersama kita dengan hotel dan resort, Aruna.” “Aku mencintai Arya, Kak,” bantah si adik tidak mau mengalah. Lendra menyentak adiknya dengan keras, pria dengan setelan mewah itu bangkit dan berujar, “Kakak memang hanyalah anak angkat seperti yang kau anggap, tapi niatku tulus dengan dirimu dan Ibu. sekarang semua hal yang diperjuangkan beliau sudah musnah, kita tidak bisa mengakuisisi saham hotel kembali.” “Kenapa? Para direksi meragukan Arya karena kasus perselingkuhannya. Kita juga sudah menyebarkan aib itu, lagipula wanita itu telah keguguran,” tantang Aruna pada kakaknya. “Arya adalah anak kandung dari masa lalu Tuan Pandu Wijaya, seorang pewaris Wijaya adalah dukungan yang solid, Aruna. Kau tidak bisa melewati tembok sekokoh itu karena kau sendiri yang menandatangani surat pemindahan saham,” jawab Lendra tegas. “Tuan Pandu Wijaya memiliki Arya di masa SMA. Kakak mengira bahwa dia sendiri tidak tahu bahwa Arya berhasil lahir dari kesalahannya. Seorang pemegang saham berkata bahwa Tuhan Pandu hanya memerintahkan sekretarisnya mendukung Arya dari balik layar,” jelas Lendra. “Arya tidak akan diakui di keluarga itu, mungkin hal ini adalah alasan Tuan Pandu memberikan dukungan pada putranya mengkudeta kita agar puas dan tidak mengganggu eksistensi Wijaya,” jelas si kakak, pria itu kembali duduk dan berujar, “Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengambil hak kita jika Tuan Pandu sudah memveto, termasuk menyerang Arya dengan rumor dan isu di berita online. Nona Catherine tidak akan bisa menyebarkan berita jika ada blokade dari pihak Wijaya.” “Jadi aku akhirnya dibuang dan dicampakkan seperti ini? Sungguh sakit hatiku, Kak,” raung Aruna dengan berderai air mata. “Suamiku meninggalkanku dan berselingkuh dengan sahabatku sendiri lalu harta ibuku diambil. b******k seperti mereka seharusnya pergi ke neraka.” “Tenanglah, kau sedang hamil, tak baik untuk kesehatanmu,” bujuk sang kakak tiri, akhirnya pria itu membantu adiknya ke kamar untuk beristirahat. “Besok kita akan memeriksakan kandunganmu.” Lendra memutuskan. Paginya Aruna terpaksa bangun untuk bersiap ke klinik kandungan yang telah dipesan jam periksa oleh kakaknya. Mereka berangkat bersama dengan wartawan yang cantik, Catherine Audrey. Pemeriksaan berjalan lancar, Aruna mengelus perutnya sayang. Kendati demikian ia juga sedikit banyak membenci jabang bayi yang hidup di dalam perutnya itu. Bayi itu adalah darah daging Arya, seseorang yang ia benci mati-matian. Pulang dari rumah sakit, mereka memilih langsung kembali ke kediaman yang ada di bukit pinggir kota. Sebuah sedan biru gelap membuntuti mereka dan Aruna jelas merasakan keringat dingin karena tahu siapa pemilik sedan itu. Mereka melewati jalanan yang berbukit dan berkelok. Puncak dari kekhawatiran Aruna terbukti ketika melewati sebuah tikungan tajam di mana jalan yang seharusnya mulus dilalui mobil mereka malah terdapat sebuah truk yang parkir. Lendra juga santai saja awalnya, ia membanting setir untuk melewati truk yang parkir sembarangan itu. Namun mereka akhirnya terkejut dengan laju sebuah truk lain yang muncul dadakan hingga menabrak bodi depan mobil. Kuda besi itu berputar dua kali sebelum menggantung pada pembatas jalan, ketiga orang di dalamnya sudah membeku oleh tatapan malaikat maut. Apalagi seorang wanita yang duduk di belakang, Aruna melihat kilat seorang pria dari dalam mobil sedan biru tua yang menabrak bodi belakang mobilnya. Akhirnya kendaraan mewah keluarga Bakti itu melayang sebelum terjerumus ke dalam jurang yang dasarnya danau hijau pekat. Satu hal yang diingat oleh Aruna sebelum berpamitan dengan dunia adalah sorot mata penuh dendam dari pria yang mengemudi sedan biru tua. Arya Danti. *** Hal pertama yang Aruna lihat adalah si kembar, sahabat kakaknya setelah bangun dari tidur panjangnya. Aruna lalu sadar bahwa ia selamat dari kecelakaan maut yang diprakarsai oleh Arya, mantan suaminya. “Di mana Kak Lendra?” tanya Aruna. Sebagai si sulung kembar, Danu menjawab, “Dia sudah bersama dengan ibu.” Demi mendengar kebenaran itu Aruna memerah oleh emosi. “Tidak mungkin dia meninggalkanku, dia tidak mungkin meninggalkanku,” jerit si wanita yang tengah berbadan dua, ia meraba perutnya dan menemukan bahwa ada bekas jahitan yang melintang di sana. “Apa yang terjadi dengan bayiku?” Danu menjawab lagi, “Bayimu terpaksa dikeluarkan karena henti jantung jauh sebelum kamu sampai di sini.” “Tidak! Jangan bercanda, Kak Danu, bayiku tidak mungkin meninggalkanku juga. Kenapa semua orang pergi dariku? Apa salahku?” pekik Aruna dan mengamuk, ia tidak peduli dengan dengan jahitannya yang bisa saja terbuka dan hampir melepas selang infusnya. “Apa salahku Tuhan, kenapa kau merampas orang-orang yang aku sayangi?” “Ibu, Kak Lendra, dan bayiku, apa salahku hingga ditinggalkan seperti ini?” raungnya emosi. Wanita yang baru saja terlepas dari masa komanya itu langsung membabi buta dengan emosi. Aruna tidak menyangka bahwa ia akan berada di titik serendah itu. “Arya Danti, Aish Sandya kalian akan mati ditanganku!” Aruna bersumpah hingga dokter datang dan menyuntikan sesuatu ke lengannya yang membuat wanita yang kehilangan segalanya itu lemas dan jatuh tertidur. Berhari-hari Aruna dan si kembar habiskan di rumah sakit, ketiganya juga belum bisa menerima duka yang merenggut Lendra dan Ibu Aida dalam waktu dua minggu saja. Apalagi dengan proses perceraian dan pemindahan saham yang diderita kerugiannya oleh Aruna jelas membuat wanita itu stress berat. Setiap sorenya mereka selalu menyempatkan waktunya untuk jalan-jalan di sekitaran lorong-lorong rumah sakit. Seperti saat ini, mereka berhenti di sebuah pojokan lorong, tanpa ketiganya sadari di sebelah lorong terjadi sebuah negosiasi. “Sahabatku hanyalah gadis lugu yang kau perdayai, ia membunuh dirinya sendiri setelah melahirkan putramu di umur 15 tahun,” ruah seorang wanita di seberang. Aruna hampir berteriak ketika menyadari siapa entitas wanita yang bercengkrama itu. Hera Sandya, mantan ibu mertuanya, ibu kandung Aish Sandya dan ibu angkat Arya. “Sekarang, Arya sedang tertimpa masalah, kau harus membantunya,” pinta Hera. “Sarkara datang padaku dengan sengaja, itu pilihan yang ia tempuh karena mengakhiri hidupnya,” jawab seorang pria yang dugaan Aruna dan si kembar yakini adalah Pandu Wijaya. “Jika saja ia masih hidup, kau harus menikah dengannya agar ia tidak bunuh diri setelah melahirkan, kau harus membantu putranya, putramu juga,” suruh Hera. “Arya adalah akibat dari keusilan bocah lima belas tahun dengan obat perangsang yang menjadikan kita berdua sebagai korban setelah Sarkara membunuh dirinya sendiri,” komentar Pandu Wijaya. Hera tampak marah dari suaranya ketika berucap, “Tuan Pandu, betapapun dingin darahmu, darah dagingmu sedang mendekam di penjara, kau harus membantunya.” “Jika kau mau tahu, aku adalah orang yang melaporkan kecelakaan keluarga Bakti ke polisi karena putramu yang d***o itu berani menghancurkan keluarga baik seperti mereka,” singkap si pria. “Apa? Kejamnya engkau?” “Urusanku dengan Sarkara biar Tuhan yang mengadili, jangan ikut campur jika kau masih mau menyelamatkan dirimu sendiri,” perintah si pria, lantas terdengar suara pijakan kaki yang menjauh. Buru-buru si sulung Danu membawa ketiga rombongannya meninggalkan tempat pembicaraan itu. *** “Apa kemungkinan yang dilakukan Ibu Hera untuk membantu Arya?” tanya Aruna yang mendapat sindiran dari si kembar. “Memangnya, apa bisa mantan mertuamu itu merogoh tenggorokan keluarga Wijaya jika mereka masih memiliki pewaris setangguh tuan Pandu?” sindir si sulung kembar. “Jika kematian pewaris menjadi jalan, itu yang bisa dilakukan wanita ular itu,” kritik si bungsu. Detik itu juga Aruna dan Danu terkejut oleh balasan yang sangat masuk akal. Lalu ketika malam semakin larut, Danu menyelimuti Aruna dan bergabung bersama adiknya di sofa untuk tidur. Lama setelahnya keheningan yang merayap, Aruna mengangkat suara, “Apakah kita bisa keluar? Aku merindukan ibu, aku ingin menghirup udara segar.” Si kembar menuruti keinginan wanita yang mereka anggap sebagai adik itu, mereka menelusuri lorong yang ternyata ketiganya datangi siang tadi. Tempat di mana pesohor Wijaya berada sore tadi berbincang dengan Hera. “Kenapa kita berjalan kemari?” tanya Danu, adiknya menjawab, “Aku tidak tahu.” Ternyata lorong itu adalah lorong VVIP yang dijaga beberapa bodyguard. Salah seorang dokter datang dan mempersilahkan rombongan Aruna pergi dari lorong. Janu membelokkan kursi ke arah toilet wanita yang berada tepat di samping ruangan itu, mereka berdiam di sana hanya untuk menemui suara sepatu gerombolan puluhan Bodyguard berjalan lesu menjauh. Ternyata dokter itu juga mengarahkan penjaga untuk beristirahat. Mereka mendekat untuk melihat kamar ruang inap yang mereka yakini berisi anggota miliarder. Dari pintu kaca yang lebar itu, mereka menemukan sosok Pandu Wijaya. Dokter yang mengusir mereka ada di sana juga sedang menyuntikkan sesuatu di infus. Tepat setelah dokter itu undur diri, membuat si kembar kewalahan menyeret kursi Aruna menuju toilet. Mereka keluar dari kamar mandi menuju kamar yang sudah ditinggalkan oleh dokter lalu mereka menemukan tuan Pandu tiba-tiba kejang. Si kembar lantas mencoba membuka pintu yang sialnya terkunci dengan sandi. “Tuan Pandu, tenanglah!” saran Janu. Kepanikan merayap dalam lorong ketika Danu berlari ke arah lorong untuk meminta pertolongan, begitu juga Janu yang melempar kursi tunggu di pintu kaca itu. Ternyata pintu kaca tersebut anti peluru. Pandu Wijaya di dalam ruangan jatuh dari ranjang brankar dengan mulut berbusa. Janu berteriak untuk mencoba memanggil pria yang masih sekarat di lantai dan berbusa. “Tolong pertahankan kesadaran Anda sampai petugas datang!” perintah Janu. Mereka bertiga akhirnya menyingkir ketika bantuan datang. Tergopoh selusin penjaga dan dokter serta perawat menyelamatkan sosok di dalam ruangan. Tangisan dan tangan yang pilu memecah kesunyian yang sepi sebagai tanda bahwa dokter telah menyerah. Ibu dari pria yang tidak selamat dari ajal itu meluruh di lantai dan meraup amarah. “Pandu, putraku, sadarlah!” Ibu Wijaya menangis meraung. “Akan ku bunuh semua orang yang terlibat mengambil putraku,” kelakar si ibu sambil memangku jasad puteranya. “Akan ku binasakan semua orang yang membuat putraku pergi!” Aruna tentu paham dengan amarah wanita yang ditinggal mati putranya itu, ia juga menyadari bahwa pembunuhan itu adalah ulah Hera dan Arya lewat dokter tadi. Sungguh b***t kelakuan Arya. Namun bisa apa Aruna mencegahnya? ia kembali bersama si kembar setelah melihat banyak orang dengan setelan jas berkumpul di lorong. Setelah melewati malam dan hari-hari yang panjang akhirnya Aruna bisa tidur dengan nyenyak tanpa teringat duka kematian ibu dan kakaknya. Paginya ia terbangun tanpa si kembar dan ia merasa tubuhnya sudah lebih baik dari kemarin, jauh lebih bugar. Ia menyadari bahwa ruangannya sudah pindah dan suasananya juga sudah berubah. “Kakak!” pekik Aruna ketika seorang pria datang dari luar kamarnya. Itu adalah Lendra, kakak tirinya yang telah meninggal. “Kak Lendra!” beo Aruna lagi dan berlari memeluk pemuda itu. Tidak percaya bahwa kakaknya ada di hadapannya. Sepasang kakak adik itu berpelukan dengan tangisan Aruna, karena si adik yakin jika ia membuka matanya lagi, ia akan kehilangan kakaknya lagi. “Sudah sadar? Gurumu memanggil Kakak karena kamu pingsan di sekolah?” tanya Lendra. Demi mendengar nama guru, alis Aruna mengkerut. Ia sudah lulus kuliah setahun yang lalu. Dalam keheranan itu Aruna tidak sengaja melihat angka yang tertera di kalender dinding rumah sakit. 12/06/13. Itu kalender sepuluh tahun yang lalu, desainnya juga sudah bentukan lawas. Tangan Aruna bergetar menampar dirinya sendiri dan merasakan sakit yang intens. Semua kesakitan di pipinya tidaklah sebuah mimpi. Bola matanya membola dan ia menyadari sesuatu. “Apa aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN