Memulangkan Balas

1066 Kata
“Apa aku terlahir kembali?” Aruna hanya merasakan sakit yang menjalar dari ulu hatinya yang perih, ia meraba pelan dan menemukan netranya memandangi selang infus yang ada di tangannya. Seloroh punggungnya rapuh dan kaku, serasa tulang ekornya ditarik oleh tangan – tangan jahat. Ia memeluk kakak tirinya, Nalendra Syahrif. Terlebih-lebih ia bangkit hanya untuk tidak menemukan Danu dan Janu yang menungguinya semalam. Ruangan itu juga bukan ruangan rumah sakit yang ia tempati semalam setelah kejadian mengenaskan yang menimpa pewaris Wijaya. “Kakak ada di sini bersamaku!” pekik Aruna senang luar biasa. Aruna otomatis berteriak lantang dengan kesenangan yang nyata. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kakaknya ada di sana? Sang kakak, Lendra langsung mengambil inisiatif dengan membuat adiknya masih setengah berbaring. “Apa kau baik – baik saja? Apa kau terluka, Sayang?” “Kakak!” Aruna meradang dengan tangisan, namun segera tersadarkan oleh selang infus yang masih bertengger di lengannya. Pria itu masih sama, hanya saja lebih muda dengan seragam sekolah menengah atasnya yang keren jaman dulu, digulung lengannya sedikit. Tunggu, Aruna reflek memegangi jantungnya ketika ia menemukan kemulusan dari tangannya. Ia baru saja akan menjawab kakaknya sebelum matanya melihat tanggal yang ada di kalender dinding untuk kedua kalinya. 12/06/13. “Apa kau baik – baik saja?” tanya kakaknya. Lantas tangan Aruna diangkat, mulus seperti sedia kala sebelum kecelakaan. Ada kakaknya di depan matanya, apakah? Apakah? Hal pertama yang bisa dicari adalah di mana ponselnya, ia ingin menemukan kebenaran. Ponsel di tangannya. Jemari Aruna bergetar menemukan perangkat keluaran lama di tangannya, apalagi dengan sandi yang ia hafal saat ia membuka ponsel. Gadis itu memandangi wajah tampan kakaknya yang suram kemudian mencari aplikasi kalender. 12/06/2013. “Apa aku terlahir kembali, Kak?” tanya Aruna tidak percaya. “Apa maksudmu? Kau sudah berulang tahun empat belas tahun dua bulan yang lalu.” Lendra membantah jengkel. “Kau terlalu banyak menonton serial drama.” Air mata Aruna jatuh, tahun-tahun sekarang adalah tahun di mana semuanya dimulai. Tahun pertama ia berkenalan dengan Aish Sandya. Tahun-tahun di mana ia berbahagia dengan keluarganya. Pintu terbuka setelahnya, Danu dan Janu Danadyaksa adalah pengunjung selanjutnya. Si kembar yang sahabat kakaknya itu bahkan masih menggunakan pakaian kurang bahan band ala rock yang nyentrik. Bagaimana jika itu adalah kenyataan? Bagaimana jika itu adalah harapan yang Aruna panjatkan sebelum tidur untuk merubah takdir banyak orang? Apakah Ia benar-benar kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu? “Di mana Ibu?” tanya Aruna. Si Janu menggeleng, sedangkan sulung si kembar Danu menjawab, “Hari ini adalah hari ibu, beliau meresmikan resort di Jeju.” Aruna ingat hari itu, ketika kemarahan membuat ia mendekam di rumah sakit karena ibunya lebih memilih pergi ke Korea untuk bisnis daripada menemaninya. “Tahun berapa sekarang, Kak?” tanya si adik memastikan. Narendra mengernyit tidak paham. “Dua ribu tiga belas.” Aruna masih belum percaya, namun getaran dalam hatinya meyakinkan kenyataan itu. Ia kembali hidup sepuluh tahun yang lalu. “Aku bermimpi buruk,” tuturnya sembari menangis. Ia meraung untuk mencapai kakaknya. Betapa ia merindukan kakaknya itu, terlebih rasa bersalah yang terlampau besar karena mengakibatkan kematian kakaknya. Ia tak terima fakta itu. Ia meraung seperti anak kecil yang kehilangan mainannya hingga membuat si kembar tak yakin jika gadis kecil yang menangis hebat itu adalah Aruna Bakti. Memang benar adik kecil mereka itu sedang mengalami masa pubertas yang menjengkelkan, terlebih dengan pergaulan bebasnya yang tak terkendali di linkungan adiknya. Kembali bersama keadaan Aruna yang luluh lantak oleh emosinya. Kakaknya sigap menerima tangisan itu. “Tenanglah, kakak bersamamu. Ada Ibu, Danu, dan Janu,” bujuk kakaknya. Memang benar kenyataan itu. Begitu adanya namun yang ditanggapi Aruna hanyalah ketakutan akan kematian ibunya dan sosok yang ia peluk erat sekarang. “Aku bermimpi, mimpi buruk.” Aruna memberitakan sembari melepas pelukan. “Tenanglah,” bujuk Danu. “Kakak, aku menikah dengan Arya, kakak tiri Aish, aku hamil dan Ibu meninggal,” ungkap si adik kepada kakaknya dengan deraian air mata. Janu hampir menyemburkan tawanya sebelum melihat raut menyeramkan Aruna yang memegangi dadanya. “Kita kehilangan hotel dan resort karena kebodohanku, lalu Kak Lendra meninggal karena kecelakaan bersamaku.” Janu mendekat menggantikan Lendra. “Semuanya baik – baik saja sekarang. Tidak akan ada yang membuatmu terluka,” timbrung si bungsu Danadyaksa itu. ‘Tidak, aku yang membuat semuanya terluka, rasa penasaranku terhadap cinta menghancurkan kita,' batin satu-satunya tokoh wanita dalam ruangan itu. Aruna menggeleng dan gelengan itu sudah menjadi bukti kuat betapa besarnya rasa takut gadis itu terhadap mimpi buruknya. “Tidak, kita ada di sini, kita hadapi sama-sama, Kakak, Ibu, dan Si Kembar akan melindungimu,” rayu Lendra lagi. Aruna meradang memandangi ketiganya, ia berhenti pada netra Janu. Si bungsu yang mempunyai ikatan emosional lebih terhadapnya. “Aku takut,” raung Aruna. Siapapun bisa membaca nada ketakutan itu. “Tidurlah!” perintah Lendra pada Aruna dengan tegas hingga gadis itu terpaksa berbaring dan menggigit selimutnya. Aruna tak bodoh. Ia tak hanya sekedar bermimpi buruk. Ia mendapat mukjizat untuk menemukan jawaban dari misteri balas dendam. Aruna akan hidup di masa sekarang dengan lebih baik. Ia akan melindungi ibu dan kakaknya, termasuk semua keluarganya. Ia akan melindungi si kembar yang akan sukses menjadi bintang di masa depan itu. Ia akan melindungi Catherine Audrey dari kecacatan akibat kecelakaan yang diperbuat Arya. “Rasanya dadaku sakit, Kak,” desis Aruna kepada Lendra dan membuat ketiga pemuda dengan seragam sekolah itu pergi meninggalkan ruangan untuk memanggil dokter. “Aku akan membalas segala perbuatan Arya dan Aish, aku berjanji akan menebas eksistensi mereka dalam hidupku. Betapa jahat dan kejam pria itu. Aku akan membiarkan Arya merangkak di kakiku dan bersujud di kaki ayah kandungnya. Beraninya Arya meracuni ayahnya sendiri, Pandu Wijaya.” Aruna bersumpah lirih, sarat akan dendam. “Aku akan menikahi Tuan Pandu Wijaya!” pekik Aruna dengan kencang, suaranya penuh dengan tekad yang kuat. “Bagaimanapun caranya aku akan menikahi Tuan Pandu Wijaya agar Arya tidak bisa naik tahta menjadi pewaris selanjutnya. Aku akan menjadi ibu sambung pria b******k itu sesulit apapun caranya. Aku akan membuat semua orang tunduk padaku ketika aku sudah menjadi permaisuri Wijaya,” rayu Aruna pada dirinya sendiri. Orang pertama yang akan menjadi sasaran Aruna ada ibu dari Pandu Wijaya, wanita yang sorot dendamnya berkobar sangat besar saat kematian Tuan Pandu. Kekuatan dengan energi negatif seperti itu akan menjadi bom waktu bagi Arya dan Hera suatu hari nanti. “Arya, menikahi ayahmu adalah ajang balas dendamku!” Aruna Bakti bersumpah pada mantan suaminya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN