“Ponsel ini tidak secanggih di kehidupan masa depan,” keluh Aruna dengan tatapan jengkel. “Aku bahkan tidak bisa menemukan identitas yang lengkap dari Tuan Pandu.”
Pintu tiba-tiba terbuka oleh Lendra dan Janu, di belakangnya ada Danu yang membawa semangkuk bubur. Aruna langsung paham bahwa bubur itu jelas akan dipaksakan kepadanya. Hampir saja Aruna menolak pemberian itu jika ia tidak sadar bahwa tindakannya hanya akan membuat ketiga kakaknya itu mengeluh merawatnya. Ia adalah wanita dengan emosi matang yang kembali ke masa sepuluh tahun ke belakang, ia tahu bahwa semua hal tidak selalu berjalan sesuai keinginannya.
“Aku bahkan yakin kau akan menolaknya tadi,” pungkas Danu dan dihadiahi nada sinis dari satu-satunya gadis di ruangan itu.
“Aku mau makan dengan satu syarat.” Aruna memutuskan sedangkan ketiga pemuda dengan seragam itu mengomel. Janu yang paling keras. “Kau tetaplah menjadi gadis nakal saja, Aruna.”
“Aku tidak!” bentak si gadis. “Aku hanya ingin tahu pengusaha kaya raya Wijaya.”
Danu mengernyit tidak paham, sedangkan kembarannya tambah galak wajahnya kepada Aruna. “Apa setelah pingsan kau mendapat ilham untuk belajar bisnis, Gadis Nakal?” tuduh Janu.
“Aku … aku hanya penasaran,” sangkal Aruna, ia tidak mungkin memberitahu ketiga kakaknya tujuan yang sudah ia susun dengan baik di dalam pikirannya, kan?
“Memangnya apa yang kau ingin tahu? Kaum elit seperti mereka tidak banyak berseliweran di internet atau berita di televisi. Mereka menutup akses kehidupan mereka untuk kepentingannya sendiri,” jelas Lendra. Sebagai yang paling tua ia memberikan sedikit penjelasan. Dalam kehidupan yang lalu, Aruna tahu secara garis besar keluarga Wijaya yang terlahir ningrat. Kaum konglomerat kelas atas dengan ribuan tirani dan induk perusahaan besar di dalam atau di luar negeri. Bisnisnya besar dan mencakup segala aspek kebutuhan masyarakat.
“Rumor yang beredar itu?” singkap si gadis yang masih tiduran dan perlahan menerima suapan bubur dari Lendra. “Rumor bahwa mereka adalah keturunan bangsawan, apakah itu benar?”
Danu menjawab, “Tentu, secara taktis mereka terlahir dari garis darah biru yang diturunkan langsung dari raja-raja negeri ini pada zaman dahulu. Itu bukan rumor, itu sebuah rahasia umum.”
“Kenapa kau sangat penasaran dengan mereka? Keluarga itu hanyalah tirani yang luar biasa kuatnya,” tanya Janu, si bungsu Danadyaksa itu duduk di sofa tunggu ruangan. “Ayah sering memperingatkan kita agar tidak pernah menyentuh siapapun yang berhubungan dengan Wijaya Group.”
Yang dikatakan Janu ada benarnya, dalam kehidupan sepuluh tahun nanti keluarga Wijaya dengan mudah mengakuisisi saham milik Aruna atas nama Arya tanpa kesulitan sama sekali. Sungguh tirani dalam negeri. “Keluarga itu statis dan monoton, tahtanya dilahirkan dari garis keturunan paling unggul dalam negeri ini. Menjadi permaisuri Wijaya sungguh sebuah surga hingga kau bisa melahirkan penerus selanjutnya. Jangan-jangan … Aruna, kau bertanya sebenarnya untuk apa?” cecar Janu, si biang kerok yang selalu Aruna hindari eksistensinya dari dulu.
“Memangnya kenapa?” debat Aruna tak mau kalah. “Menjadi bagian keluarga seperti itu jelas sebuah kehormatan.” Aruna membeo dan gentian memperhatikan Lendra yang loyo. Ia dengan tidak sengaja telah menolak Lendra untuk kedua kalinya semasa ia hidup dalam perkataannya barusan. Namun kembali ke masa saat ini dan memilih hidup dengan Lendra yang dijodohkan dengan ibunya juga bukan pilihan yang terbaik.
“Setiap generasi akan diteruskan darah birunya, kau mungkin masuk dalam daftar menantunya. Namun anggota paling muda mereka telah menikah dan mempunyai anak, Bina Wijaya,” jelas Danu.
“Bukan Bina namun Tuan Pandu Wijaya.” Kekeh Aruna lagi, tidak habis pikir kenapa malah nama orang lain yang dimaksud oleh kakak dari si kembar itu.
“Bina adalah anggota paling muda, ia suksesi ketiga dalam perebutan tahta setelah kakaknya Bara Wijaya dan putra mahkota Pandu Wijaya,” potong Danu lebih jelas. “Namun kau harus membuang keinginan untuk menikahi putra mahkota itu, selisih umur kalian terlalu jauh, hampir delapan belas tahun. Lagipula dia sudah memiliki kekasih seorang pianis dunia, Aurora Bellanca,” tandas si sulung Danadyaksa.
Aruna telah menghabiskan makanannya di tangan Lendra. Pemuda itu tampak loyo dan pergi meninggalkan ruangan. “Aku akan menghubungi Ibu dulu, kalian pastikan Aruna meminum obatnya agar bisa kembali sore nanti.” Pamitnya pergi. Aruna juga mengetahui bahwa kakak tirinya itu menyimpan perasaan padanya, namun apa yang bisa diperbuat jika Lendra bukan tujuan hidupnya saat ini? Tujuan pasti Aruna adalah Pandu Wijaya untuk membalaskan dendamnya kepada Arya karena telah menghancurkan hidupnya. Lagi pula ia hidup untuk menebus segala kesalahan yang telah ia buat. Untuk Ibu, Kakak Lendra, si kembar, anak pembantunya -Ummed- dan seorang yatim piatu, Syahdan. Mereka adalah orang-orang yang telah Aruna korbankan untuk mengecup indahnya cinta yang palsu dari Arya di kehidupan yang lalu. Sekarang hal pertama yang harus ia singkirkan adalah maestro dunia yang sangat terkenal. Cantik dan feminim, cukup membuat seorang Pandu Wijaya mabuk kepayang dengan cinta hingga tidak menyadari bahwa pria itu mempunyai anak di luar nikah yang bernama Arya.
Setelah meminum obatnya, Janu menyusul Lendra dan hanya menyisakan Danu di samping Aruna. Gadis dengan mental dua puluh empat tahun itu memandang pemuda yang tampan di samping kirinya dan mengatakan, “Sekarang istirahatlah! Aku tahu kamu kelelahan.”
Aruna berpura-pura tidur untuk membuat pemuda itu tenang dan pergi menyusul saudaranya keluar ruangan. Kini tinggal Aruna yang masih sibuk dengan pemikirannya. Pertama, hal yang ia harus lakukan adalah melakukan apapun untuk menarik minat keluarga itu agar bisa masuk ke daftar menantunya. Sebelum janur kuning melengkung, Aruna akan berusaha menikahi Tuan Pandu apapun yang terjadi.
“Aku akan mulai dengan memperbaiki hubunganku dengan keluarga dan semua orang yang telah aku rugikan, aku juga akan memutus pertemanan dengan Aish di sekolah dan menutup akses Hera untuk tahu urusanku,” gumamnya pelan.
“Aku telah banyak bersalah dengan Ibu selama ini, ternyata semua yang diajarkan oleh Ibu adalah kebenaran bahwa seorang wanita yang baik tidak hanya wanita yang duduk diam di rumah dan menunggu suaminya pulang. Aku akan meminta maaf dan membahagiakan Ibu, terutama Kak Lendra yang sudah banyak berkorban juga.” Janji Aruna pada dirinya sendiri.
Aruna mencoba mengingat kenangan di kehidupan yang lalu yang bisa saja membantunya, hingga ia mulai menyadari bahwa rencana Arya sudah dimulai dari sekarang. Dimulai dari Aish yang berteman dengannya, kemudian invasi Hera dalam pola pikirnya dan eksekusi di romansa cinta Arya. Semuanya sudah dirancang agar Aruna bisa menjadi pion mereka dalam membalaskan dendam ke Pandu Wijaya. Aruna bahkan yakin ia ingat jika kencannya dengan Arya adalah sebuah pentas di mana Aurora Bellanca tampil dan kalah dalam perlombaan piano internasional. Arya telah membenci Pandu dan kekasihnya hingga di tahap yang serius. Aruna jadi mengingat sesuatu, Aurora Bellanca akan meninggal sehabis konser itu tepatnya lima tahun dari sekarang. Sungguh mudah jalannya menjadi permaisuri Wijaya.