“Aku harus membuang semua poster aneh ini dan menggantinya dengan nuansa yang lebih baik.” Putus Aruna setelah memperhatikan kamarnya. Dimulai dari melemparkan seluruh poster band ke kantong sampah, ia membereskan seluruh pakaian yang tidak berguna. Termasuk gaya terbaru yang bahkan belum ia coba. Pakaian seksi yang ia beli bersama Aish juga ia singkirkan.
Sebelah tangan Aruna membuka catatan yang masih baru yang ada di atas mejanya, terbuka buku itu dengan segala umpatan yang disadari bahwa ia sendiri yang menulis tulisan itu. Semua umpatan itu tertuju pada ibunya. Gadis dengan nama belakang Bakti itu meluruhkan tangisnya ketika membaca sumpah dengan pena merah yang tragis.
‘Aku berharap Ibu segera menyusul Ayah.'
“Betapa bodohnya aku termakan hasutan Aish, aku bahkan menyumpahi ibuku meninggal karena mereka …,” desis Aruna, ia menangis pilu menyaksikan kebodohan yang nyata itu. Aruna menarik nafas besar, ia membuang buku itu segera.
“Aku sudah berjanji akan berubah, aku akan pulang sebagai pemenang dalam kehidupan saat ini.” Setelahnya ia membersihkan segala atribut aneh yang ada di kamarnya yang terlampau luas. Jelas selera anak baru beranjak remaja yang sekarang berbeda dengan selera aslinya. Lagipula paham aneh mengenai gaya pakaian itu didapatkan dari Aish dan Ibu Hera.
Aruna meremas salah satu pakaiannya, ia teringat bahwa saat ini adalah tahun pertama ia berurusan dengan Arya. Jantung Aruna menggelap oleh emosi, ia segera membereskan pakaiannya dan memberikan kepada Bibi dan Pak One yang tengah menikmati sarapan paginya di halaman belakang. Benar saja ia temukan raut ketakutan dan sungkan dari sepasang suami istri itu. Aruna segera merasa bersalah, ia dulu selalu memarahi mereka dengan dalih bahwa pembantu tidak layak menerima fasilitas yang baik dari ibunya. Jelas kedatangannya di acara sarapan mereka membuat sepasang suami istri itu ketakutan.
“Nona Muda ingin makan apa untuk sarapan?” tanya Bibi.
Aruna merasa terharu, sejahat-jahatnya ia kepada pasangan itu, Bibi dan pak One adalah satu-satunya orang yang menolongnya bahkan sebelum kedatangan Kak Lendra setelah perceraian. Mereka membalas kejahatan nona mudanya dengan kesetiaan alih-alih meninggalkan Aruna mendekam oleh kesendirian. Namun gadis Bakti yang ceria telah kembali, begitu janji Aruna sendiri pada kedua orang itu.
“Aku ingin makan apapun yang dimasak oleh Bibi, tapi dengan syarat Bibi harus menyuapiku.” Begitulah nada ceria gadis muda mereka telah kembali. Bibi dan Pak One yang telah mengabdi dan menyaksikan kenakalan nona mudanya tampak pias tak percaya.
“Jadi Nona Muda yang manja itu telah kembali?” canda Bibi. Aruna datang untuk berterima kasih kepada wanita itu. “Aku ingin makan dengan abon buatan Bibi.”
Bibi tersenyum dan memeluk gadis cantik itu, ia menenangkan nona mudanya, “Tenang saja, Bibi sudah membuat banyak sekali stok abon jika saja Nona mau makan masakan sederhana seperti dahulu lagi.”
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Aruna pernah membuang kebaikan yang ada dalam hidupnya untuk cinta yang semu. Hanya demi sebuah pengakuan bahwa ia adalah nona muda kaya raya keluarga Bakti dari Aish dan Hera? Bibi dan Pak One pantas mendapatkan yang lebih baik. “Bagaimana kabar Ummed, Bibi? Sudah lama ia tak datang untuk belajar bersamaku.”
Senyum tulus telah pupus dari wanita setengah baya yang cantik itu, Aruna harus meminta maaf kepada Bibi karena pernah memarahi putranya. “Ummed harus datang kemari dan mengajariku belajar,” perintah riang Aruna. Pak One tersenyum sembari memberikan abon di piring anak majikannya, istrinya menyuapi Aruna dengan perlahan.
“Besok mungkin,” jawab Pak One.
Aruna memerah oleh perasaan lega di hatinya, “Benarkah? Aku akan meminta maaf kepada Ummed. Sekarang ia bisa membaca semua buku yang aku punya,” ujar Aruna sungguh-sungguh. Ia tahu jika Ummed akan menjadi seorang pegawai pemerintahan esok hari dan keputusan untuk memusuhi bocah itu akan merugikannya. Lagi pula ia telah berdosa di kehidupan yang kepada anak pembantunya itu karena satu hal.
“Bibi, tolong sumbangkan seluruh pakaian yang ku siapkan.”
***
Kepulangan Kakak yang mengabarinya lewat ponsel membuat Aruna mempersiapkan diri menjemput Ibu di bandara. Ia menaikkan kerah kemeja yang hampir turun dan menemui kakaknya yang sudah bersiap di lantai bawah dengan pakaian yang sungguh sesuai dengan lekuk tubuh pemuda itu. Pemuda itu tampan, sungguh tampan. Tidak salah jika ibunya kekeh menjodohkan keduanya dalam sebuah pernikahan. Aruna merenggut, bagaimana bisa ia memandang kakaknya sebagai seorang pria yang bisa dicintai dan mencintainya sebagai wanita?
Ia tersenyum dan menghambur memeluk kakaknya, “Aku sudah siap, kenapa Kakak lama sekali?”
Nalendra kaget tentu saja, sudah lama adiknya tidak sudi bersentuhan dengannya apalagi bercanda ria seperti itu. Perasaan membuncah itu membuat sebongkah bunga di hatinya muncul, ia malah mencium kening adiknya alih-alih mengelus kepalanya. Tentu Aruna tersipu merah muda, ia adalah gadis empat belas tahun dengan mental dan pengalaman umur dua puluh empat tahun. Tentu Aruna memerah oleh perlakuan kakaknya, ia berlari lebih dulu untuk menghindari kejaran Lendra ke halaman rumah. Yang di mana telah ia temui si kembar dengan sebuah gitar tergeletak di lantai halaman manor. “Janu, bintang rock kita satu ini.” Begitulah ceria nadanya.
Danu sendiri meringis, ia yang sulung ia yang terlupakan. “Lama sekali bersiap, kau ingin menghadiri pagelaran seni, kah?”
“Biarkan saja.”
Aruna merenggut tanpa membalas si sulung, ia menggandeng si bungsu untuk masuk ke mobil yang telah ada Pak One di dalamnya. Oh Tuhan, sungguh bahagianya menjadi diri sendiri. Tanpa ada binaan dan rekomendasi dari Aish dan Hera Sandya. Mereka berempat beserta Pak One telah sampai di bandara, yang mana telah diumumkan bahwa pesawat yang ditumpangi Ibu telah mendarat dengan selamat.
“Ibu!” pekik Aruna kepalang bahagia. Bersegera Aruna jangkau asal dari suasana hatinya yang menjadi melankolis. Akhirnya ia bertemu dengan Ibu. Wanita yang ia sebabkan kematiannya itu pun mengenali sosoknya yang sangat jarang mau berkontribusi dalam menyambutnya. Biasanya putrinya itu akan menjamur di rumah temannya yang bernama Aish Sandya.
“Aku merindukan Ibu.” Adunya sembari menangis terharu. Ibu terperangah oleh sambutan bersejarah itu, ia mencium kening putrinya yang cantik. Sungguh positif aura dari gadis itu, tidak seperti yang sudah-sudah.
“Ibu sangat merindukan Aruna yang manja dan ceria seperti ini.”
“Aku sangat menyayangi Ibu. Aku bersyukur Ibu selamat sampai di rumah.” Syukur Aruna dalam pelukan ibunya. Aruna malah gencar menangis setelah mendengar suara wanita yang telah melahirkannya itu. Acara kerinduan itu berubah sekejap setelah kedatangan sepasang suami istri.
“Aida, apakah itu kamu?” tanya seorang pria yang menepuk bahu ibunya.
Setelah Aruna melihatnya, gadis Bakti itu pias di tempat. Dua orang itu, orang yang menepuk punggung Ibu adalah Malik Wijaya. Seorang lagi wanita di belakangnya, Maharani Wijaya. Aruna terperangah akan pertemuan itu, sedangkan Ibu tersenyum dan membungkuk sopan. Ternyata dunia hanya selebar daun kelor. Aruna meresapi tatapan Maharani Wijaya. Sopan dan penuh kasih sayang. Bagaimana bisa netra seperti itu sanggup menyimpan dendam yang teramat besar sepuluh tahun nanti karena kematian sang putra? Bagaimana juga takdir bisa mempertemukan mereka secepat itu? Seolah-olah akan semesta membantu langkah Aruna untuk menjangkau ibu Tuan Pandu melalui ibunya sendiri.
“Calon mertuaku datang terlalu cepat …,” lirih Aruna tanpa seorangpun tahu.