Toni berdiri sejenak di ambang pintu sebelum akhirnya mengetuk pintu kayu di hadapannya. Mendadak semua jadwal yang sudah di atur olehnya begitu sempurna untuk Zahir agar pertemuan klien minggu depan berjalan lancar harus gagal seketika sebab Zahir memutuskan untuk terbang ke Dubai menemui Prima. "Ada yang bisa saya bantu, bos?" "Bang Toni boleh balik ke Indo lagi, saya akan menangani semua ini dengan Prima." "Urusan pekerjaan di sini sudah hampir selesai tanpa anda, Prima pasti bekerja dengan baik." Zahir menatap lekat-lekat kearah Toni, senyum tipis begitu dingin kepada lelaki itu penuh arti. "Abang tampak lucu bila bersikap sok polos begini." Toni mengerutkan alis, ia memang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Zahir. "Apa maksud anda?" Zahir meraih dokumen di atas laci

